Tag Archives: sejarah

Kutukan Penjajahan dan Penjarahan dalam Sejarah Kasultanan Yogyakarta

100_3915

Awal runtuhnya Tanah Jawa telah terjadi pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II. Pengingkaran Sultan HB II atas wasiat ayahandanya, Sultan HB I, menjadikan Kasultanan Yogyakarta mengalami malapetaka. Keraton Yogyakarta diserang dan dijarah habis oleh pasukan Inggris-Sepoy pada 20 Juni 1812, sebagai tanda hadirnya tatanan baru imperialisme Eropa yang lebih perkasa. Upaya melawan “kutukan” itu sempat dilawan oleh Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825 – 1830) dan Sultan HB IX di masa Republik Indonesia. Kini, kutukan itu mungkin akan kembali terulang ketika Sultan HB X melakukan sejumlah pengingkaran terhadap wasiat Sultan HB IX yang tak lain adalah ayahandanya. Continue reading

Advertisements

Pelestarian Jejak Bencana sebagai Pusaka Peradaban

Strategi Pengelolaan Pengetahuan untuk Merawat Kesadaran dan Kesiapsiagaan 

2016 03 - Pusaka dan Bencana

Catatan sejarah kejadian bencana menunjukkan bahwa kejadian itu telah terjadi berulang kali. Generasi-generasi sebelum sekarang telah mengalami kejadian bencana yang ancamannya hingga kini kita rasakan. Namun, pengalaman bencana seolah selalu menjadi pengalaman baru. Walaupun Indonesia sudah beberapa kali dilanda bencana besar seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, atau banjir dalam kurun waktu 30 – 50 tahun terakhir, tetap saja masyarakat kita seperti tak siap ketika bencana besar terjadi kembali. Kejadian seperti gempa dan tsunami di Aceh (2004), gempa bumi Nias (2005), gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah (2006), gempa bumi Sumatera Barat (2007 dan 2009), banjir Aceh (2007), letusan Gunungapi Merapi (2006 dan 2010), hingga Sinabung dan Kelud (2014) yang terjadi dalam dekade terakhir dihadapi dan ditanggapi sebagai pengalaman baru, sehingga korban dan kerugian tetap berjatuhan. Jadi, apakah kita tidak pernah belajar? Continue reading

Arkeologi untuk Masa Depan yang Bermartabat

2014 09 22 - Harta Karun Gondolayu Lor (copy)
Sebagai orang yang pernah belajar ilmu arkeologi, saya melihat para pelaku di ranah ini cenderung mempedulikan dan mengurusi objek arkeologis saja. Objek atau entitas lain akan cenderung diabaikan. Banyak arkeolog dan juga pegawai di ranah arkeologi dalam kerja-kerjanya selalu memilah, ini arkeologis, itu tidak arkeologis; ini cagar budaya, itu tidak cagar budaya. Akibatnya, ilmu ini relatif sulit membumi walaupun memiliki banyak peminat. Ilmu ini dianggap tidak memiliki peran langsung terhadap kehidupan masyarakat, selain soal nilai dan jati diri yang terlalu sering digembar-gemborkan itu. Continue reading

Mesin Waktu Itu Cuma “Lelucon”

Tahu berapa harga pasaran seekor kambing pada tahun 1938? Berapa pula harga iklan kematian di surat kabar pada tahun 1932? Mau tahu berapa biaya untuk mengajukan satu pertanyaan konsultasi hukum kepada seorang pengacara pada tahun 1937? Kelihatannya kita harus mencarinya di laporan-laporan tertulis Pemerintah Hindia Belanda agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, kalau tak menguasai bahasa Belanda, masih ada cara lain untuk mengetahuinya. Syaratnya hanya menguasai bahasa Indonesia, beberapa dialek daerah, dan lebih baik jika bisa membaca aksara serta bahasa Jawa. Hanya itu syarat yang diperlukan untuk membaca lelucon-lelucon kuno.

Ya, lelucon. Coba simak yang di bawah ini!
“Berapa harganya advertensi kematian?”
“Setengah perak satu cm.”
“Tobat… orang yang mati tingginya 175 cm.”

Masih ada lagi yang berikut.
Pedagang ikan : “Permisi, Tuan Pengacara, saya mau bertanya, kalau anjing makan ikan apakah yang punya anjing harus mengganti harga Ikan?”
Advocaat : “ Harus mengganti!”
Pedagang ikan : “ Anjing Tuan yang memakan ikan saya.”
Advocaat : “ Baik, berapa harga ikanmu yang dimakan?”
Pedagang ikan : “ Ikan saya dimakan anjing Tuan habis satu rupiah.”
Advocaat : “ O… iya saya mesti bayar, ini uang satu rupiah.”
Pedagang ikan : “ Terima kasih, Tuan.”
Advocaat : “ Selain dari itu kamu harus membayar rekening tagihan untuk pertanyaanmu tadi dua setengah rupiah!”
Continue reading