Tag Archives: pendidikan

Pelestarian Jejak Bencana sebagai Pusaka Peradaban

Strategi Pengelolaan Pengetahuan untuk Merawat Kesadaran dan Kesiapsiagaan 

2016 03 - Pusaka dan Bencana

Catatan sejarah kejadian bencana menunjukkan bahwa kejadian itu telah terjadi berulang kali. Generasi-generasi sebelum sekarang telah mengalami kejadian bencana yang ancamannya hingga kini kita rasakan. Namun, pengalaman bencana seolah selalu menjadi pengalaman baru. Walaupun Indonesia sudah beberapa kali dilanda bencana besar seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, atau banjir dalam kurun waktu 30 – 50 tahun terakhir, tetap saja masyarakat kita seperti tak siap ketika bencana besar terjadi kembali. Kejadian seperti gempa dan tsunami di Aceh (2004), gempa bumi Nias (2005), gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah (2006), gempa bumi Sumatera Barat (2007 dan 2009), banjir Aceh (2007), letusan Gunungapi Merapi (2006 dan 2010), hingga Sinabung dan Kelud (2014) yang terjadi dalam dekade terakhir dihadapi dan ditanggapi sebagai pengalaman baru, sehingga korban dan kerugian tetap berjatuhan. Jadi, apakah kita tidak pernah belajar? Continue reading

Open Source Bukan Sekedar Gaya Hidup

Menegaskan Peran Pe-Linux Cewek di Indonesia

//layangan.com/tety/kluwek.jpg

“Jika ada cewek yang pandai menggunakan komputer, dan bisa menjadi programmer, itu keren sekali,” begitu sebuah ungkapan yang mengemuka dalam diskusi siang itu. Tiga bulan lalu, sebuah tulisan di Majalah Tempo mewartakan bahwa jumlah wanita dalam dunia teknologi informasi memang sedikit, dan ini sudah gejala global. Dalam Google Summer of Code 2007, hanya ada empat persen perempuan dari sekitar 900 peserta dari 90 negara. Jerman sebagai salah satu negara terdepan dalam teknologi informasi pun mencatat hanya sekitar 15 persen saja jumlah perempuan dari seluruh tenaga kerja di bidang teknologi informasi. Badan Statistik Jerman mencatat pada tahun 2007 hanya sejumlah 17 persen perempuan yang mengambil studi teknik informasi di Jerman.

Namun, menarik, sebuah penelitian kecil pada tahun 2007 dilakukan oleh kelompok mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI) mengenai kecenderungan minat antara mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam bidang teknologi informasi, khususnya sebagai programmer. Penelitian survei sederhana terhadap 60 responden mahasiswa, 30 laki-laki dan 30 perempuan, Fakultas Ilmu Komputer UI angkatan 2003 dan 2004 menunjukkan bahwa kecenderungan mahasiswa perempuan tidak menjadi programmer tidak terbukti. Separuh lebih responden perempuan menyatakan minatnya dalam bidang tersebut, disertai dengan kemampuan pemrograman yang diukur berdasarkan empat parameter.

Pertanyaannya, apakah kecenderungan seperti itu sudah menjadi gambaran umum dalam dunia teknologi informasi? Memang angka melek teknologi informasi di Asia semakin meningkat. Dari 100 orang yang disurvei pada tahun 2000, ada 6 pengguna internet, dan 3 di antaranya berada di Asia. Pada tahun 2006, dari 17 pengguna internet dunia, 11 di antaranya berada di Asia. Sayangnya, di tengah optimisme ini, kaum perempuan tetap kurang tampil, apalagi menduduki posisi penting dalam bidang teknis, termasuk teknologi informasi ini. Siti Nur Aryani (2003) menuliskan hanya ada sekitar 22 persen perempuan Asia yang memanfaatkan internet, Amerika Serikat sekitar 41 persen, Amerika Latin sekitar 38 persen, dan Timur Tengah sekitar 6 persen. Sementara, di Indonesia, menurut kajian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, diperkirakan hanya 24,14 persen perempuan yang memanfaatkan teknologi internet. Padahal, teknologi internet jelas sangat lekat dan diperlukan dalam dunia teknologi informasi open source. Jika seperti ini kondisinya, sekedar pelabelan “keren” kepada pegiat teknologi informasi perempuan tidak akan menyelesaikan masalah. Diskusi akan berakhir! Jelas ada banyak hal penting yang perlu mendapatkan perhatian dan wajib diatasi daripada sekedar pencitraan itu. Continue reading