Tag Archives: pelestarian pusaka

Langkah Taktis Tanggap Darurat Cagar Budaya Yogyakarta

Catatan Akhir Tahun Inisiatif Pelestarian Cagar Budaya di Daerah Istimewa

20475_222472209194_3497017_n

Pencagarbudayaan sebuah bangunan pusaka (heritage) melalui penetapan formal sebagai cagar budaya ternyata tidak menjamin kelestarian bangunan tersebut. Yogyakarta yang menjadi barometer pelestarian cagar budaya nasional justru sarat dengan praktik buruk dan kegagalan beragam program konservasi. Tahun 2004, Pesanggrahan Ambarrukmo dirusak untuk membangun Ambarrukmo Plaza. Kompleks bersejarah milik Kraton Yogyakarta ini baru dicagarbudayakan sebagai cagar budaya nasional pada tahun 2007. Tahun 2010, SK Menbudpar penetapan kompleks RS Mata dr. YAP sebagai cagar budaya nasional direvisi oleh Dirjen Peninggalan Purbakala demi melancarkan pembangunan YAP Square dengan seizin Kraton Yogyakarta. Tahun 2013, terjadi penghancuran cagar budaya nasional SMA 17 “1” Yogyakarta setelah terjadi sengketa kepemilikan lahan. Tahun 2014, terjadi penghancuran bangunan warisan budaya tingkat kota Tjan Bian Thiong untuk kepentingan pembangunan Hotel Amaris Malioboro. Continue reading

Pertanyaan untuk Peserta dan Panitia Sayembara Malioboro

5334cfaf23dc7

Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Sayembara Penataan Kawasan Malioboro. Hadiah utama sayembara terbuka ini mencapai Rp 100.000.000. Penataan yang diharapkan dapat mencakup wilayah Jl. Pangurakan, Jl. Marga Mulya, Malioboro, dan Jl. Marga Utama. Inisiatif yang tampak baik, tetapi tetap memunculkan pertanyaan besar tentang tujuan dan dampak dari penyelenggaraan sayembara ini. Hari Senin (09/06/2014), lima besar peserta sayembara ini telah melakukan presentasi tertutup di hadapan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Hari Selasa (10/06/2014), kelima desain akan dipresentasikan ke hadapan publik. Malioboro, salah satu kawasan paling ternama di Yogyakarta, juga menjadi salah satu objek penelitian dan perencanaan terbanyak yang tidak kunjung tuntas terkelola hingga saat ini.

Pertanyaan yang perlu diajukan kepada para peserta sayembara meliputi: Continue reading

Dampak Bencana pada Pusaka Yogyakarta

Pendidikan Pusaka untuk Pengurangan Risiko Bencana di Kawasan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya (Bagian 4 – dari 5 Bagian)

 I. Pelestarian pusaka dari kacamata hukum di Indonesia dan di daerah

Konsep pelestarian (atau konservasi) pada awalnya terbatas pada pelestarian atau pengawetan monumen bersejarah. Langkah itu lazim disebut preservasi. Tujuannya adalah berupaya mengembalikan, mengawetkan, atau “membekukan” monumen tersebut persis seperti keadaan semula di masa lampau. Di Indonesia, peraturan terawal yang terkait dengan perlindungan bangunan dan artefak kuno adalah Monumenten Ordonantie Stbl. 238/1931 atau biasa disingkat M.O. 1931 dari masa pemerintahan Hindia – Belanda (Sidharta & Budihardjo, 1989). Dalam M.O. 1931, definisi monumen atau artefak yang layak dilestarikan meliputi: Continue reading

RUU Cagar Budaya Miskin Perspektif Kebudayaan

Cermin Lemah Pemahamaan Budaya Lembaga Negara

Tak ada hal baru, mendasar, dan kuat yang didapatkan ketika membaca Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Cagar Budaya. Dalam paparan yang disampaikan oleh tim Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (Kemenbudpar RI) dan Panitia Kerja (Panja) RUU Cagar Budaya pada Jumat (02/10/2010) lalu, disuratkan ada rencana besar yang digadang-gadang mampu mewujudkan sebuah Undang-Undang (UU) yang utuh mengatur perihal pelestarian melalui cagar budaya. Namun, alih-alih menampilkan wujudnya yang holistik, RUU ini justru terkesan sangat pragmatis. Apakah ini tanda adanya pendekatan yang kompromistis dalam penyusunannya, ataukah memang tanda belum utuhnya pemahaman konsep kebudayaan di dalam tubuh Panja dan Kemenbudpar RI? Continue reading

Kejar Tayang RUU Cagar Budaya

Pertaruhan Besar Pelestarian Pusaka Nusantara

Iring-iringan mobil berwarna hitam dengan pengawalan polisi itu memasuki halaman Dondongan. Saat itu panas terik, belum jauh beranjak dari tengah hari di akhir pekan (02/10/2010). Para penumpang mobil itu turun, hampir semuanya berbaju batik dan dinas resmi; pejabat tampaknya. Beberapa orang warga tetap asyik berkumpul di warung yang berdekatan dengan kedua bangsal di bawah naungan Wringin Sepuh. Mata mereka memperhatikan dan penuh ingin tahu, tapi tak ada yang beranjak. Sebagian lainnya hanya berdiri di balik pintu rumah-rumah kayu nan sederhana yang berderet memagari jalan menuju gapura masuk Masjid Gede Mataram Kotagede. Petugas berseragam berjaga di ujung pagar, di tepi jalan permukiman yang menghubungkan Pasar Legi Kotagede dan kampung-kampung di sebelah selatannya. Continue reading

Pendidikan Pusaka untuk Anak

Membangun Strategi Pelestarian Pusaka melalui Jalur Sekolah¹

oleh: Elanto Wijoyono² dan Laretna T. Adishakti³

”Apresiasi adalah modal bagi konservasi (pelestarian). Tanpa pendidikan maka konservasi akan berhenti. Pendidikan tanpa dasar budaya maka akan tidak punya makna dan warna. Sangat disayangkan, pendidikan di Indonesia saat ini dibangun dan dikembangkan tanpa didasari budaya yang kita miliki sendiri.”

Prof. Wuryadi, Dewan Pendidikan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, menyampaikan pesan itu pada hari keempat Pelatihan Pendidikan Pusaka untuk Guru Sekolah Dasar di Hotel Galuh, Prambanan, pada awal bulan November 2008 lalu. Dalam kesempatan itu beliau menekankan bahwa pelestarian pusaka adalah penting sebagai dasar pembentuk karakter manusia bangsa. Pendidikan pusaka pun menjadi langkah penting, yang dalam penerapannya harus dilakukan dengan pendekatan dan metode yang memungkinkan munculnya apresiasi atas dasar rasa yang kemudian dapat membangun kepahaman. Continue reading

Cultural Heritage is not UNIX !!

Arca Singa di Candi Borobudur (dok. 2009) Arca Singa di Kraton Yogyakarta (dok. 2007)

Do you know that most of our cultural heritage are not UNIQUE. Maybe it is highly unusual or rare, but it is not the single instance. Do not make it as a proprietary heritage. Manage the heritage and its value as shared things. Cultural heritage is not UNIX !!