Tag Archives: komunitas

Bukan ini Ruang Publik yang Yogyakarta Butuhkan

Ajang hura-hura di jalan raya, ruang publik semu tanpa guna

IMG_8332

Hampir tiap hari Minggu, beberapa ruas jalan di Kota Yogyakarta ditutup dan riuh rendah dengan warga yang berkumpul. Ada warga yang berolah raga, ada juga yang menampilkan karya seni. Namun, hal itu tidak terbangun secara organis, melainkan dikemas dalam sebuah event berkonsep “Car Free Day“. Balutan sponsor menjadi bagian wajib dalam setiap penyelenggaraannya. Gelimang hadiah disebar ke banyak peserta pada acara di tengah jalan raya. Namun, ketika hari Minggu berlalu, hilang pula ruang berkumpul itu. Warga harus kembali menghadapi fakta carut-marutnya ruang kota, jalan yang berjejal kendaraan bermotor dan trotoar yang tak berguna. Continue reading

Mencari Identitas dan Strategi Branding untuk Yogyakarta

Jogja

Sebagian dari kita mungkin pernah membaca tulisan karya Selo Soemardjan berjudul “Perubahan Sosial di Yogyakarta”. Penelitian itu menggambarkan dinamika perubahan sosial yang terjadi di Yogyakarta ketika Yogyakarta di bawah pendudukan rezim Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, dan Yogyakarta sejak kemerdekaan Republik Indonesia. Komunitas di Yogyakarta yang sebelumnya hidup di alam sentralistis dan otokratis kemudian mendapati dirinya hidup dalam lingkungan yang desentralis dan demokratis. Dinamika berikutnya, mulai dari runtuhnya Orde Lama dan lahirnya Orde Baru, menyebabkan perubahan selanjutnya. Pada periode ini identitas Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota budaya, kota seni, kota wisata, dan sebagainya mulai lahir dan tumbuh. Era reformasi 1998 dan kejadian gempa bumi besar 2006 menyumbang pengaruh terhadap dinamika perubahan yang lebih kontemporer. Munculnya Undang-Undang No. 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta seolah menjadi tonggak pencarian kembali identitas Yogyakarta untuk masa kini dan masa depan. Lalu, jika ada pertanyaan tentang apakah dan bagaimanakah identitas Yogyakarta saat ini, jawaban seperti apa yang bisa dipaparkan? Mengapa identitas menjadi suatu hal yang penting keberadaannya bagi komunitas dan kota seperti Yogyakarta? Ketika identitas itu ada, bagaimana memaparkannya ke publik, yang antara lain bisa dikemas dengan strategi branding? Continue reading

Antara Dunia Lain dan Sangkar Burung

Perjalanan Memperjuangkan Hak yang Terabaikan

Pintu di sisi utara Jalan Mondorakan itu dari luar hanya tampak seperti pintu garasi dari kayu yang sudah usang. Tidak tampak ada yang menarik dari pintu itu, apa lagi yang berada di balik pintu itu. Pintu kayu lapuk tersebut terdiri dari dua daun pintu yang masing-masing lebarnya sekitar dua meter, cukup besar memang. Pada salah satu daun pintu terdapat sebuah pintu kecil, sehingga tepat jika disebut dengan pintu yang berpintu. Pintu itulah yang digunakan sebgai jalan keluar masuk ketika pintu utama ditutup.

Jika kita mencoba masuk, selepas dari pintu besar tadi terbentang jalan tanah selebar sekitar empat meter yang dibatasi oleh dinding bangunan di kedua sisinya. Jalan itu tidak panjang, sekitar lima belas meter saja, dan di ujungnya telah menanti dengan angkuhnya sebuah menara penerima/penerus sinyal salah satu operator telepon seluler berikut pagar kelilingnya yang begitu masif. Dari ujung jalan ini, untuk terus menuju ke utara harus terlebih dahulu mengitari pagar menara itu. Tepat di sisi utara pagar menara berdiri sebuah rumah tua yang jelas tidak lagi ditinggali.

Rumah tua itu saat ini letaknya memang sudah sangat terbuka. Di samping dan belakangnya langsung berbatasan dengan rumah penduduk, selain bagian depan rumah yang telah berubah menjadi menara tadi (menara itu menempati lahan bekas pendapa rumah tua itu). Namun begitu, terasa nuansa yang lain ketika mencoba mendekati rumah tua itu, apa lagi mencoba masuk ke dalamnya. Memang, menurut warga Kota Gede, rumah yang dikenal dengan nama Rumah Kanthil itu ada “penunggunya” yang dikenal dengan nama Barowo. Keangkeran rumah tua itu sudah begitu dikenal oleh warga kawasan yang sudah sangat akrab dengan organisasi Islam besar bernama Muhammadiyah itu. Continue reading

Geliat Kerajinan Batik Imogiri Pascagempa

Masih pagi, jarum jam belum lagi menunjuk ke angka sembilan. Sekitar tiga puluh orang perempuan duduk melingkar dalam beberapa kelompok saling membelakangi satu sama lain, masing-masing menghadap ke selembar kain mori putih yang belum penuh dengan motif. Sesekali mereka membalikkan badan mencelupkan canting ke dalam wajan berisi malam (lilin untuk membatik) cair yang diletakkan di atas kompor kecil di tengah mereka. Obrolan ringan mengalir sesekali mewarnai suasana di dalam gubug panjang di tepi jalan menuju kompleks makam kerajaan di Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Semua yang membatik di tempat itu adalah perempuan dan sebagian besar sudah separuh baya. Hanya tampak tiga orang berusia muda yang turut membatik. Mereka belum lama lulus sekolah menengah atas. Memang umumnya anak-anak muda di kawasan Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta sudah enggan melanjutkan usaha membatik seperti yang sudah dilakukan oleh keluarga mereka secara turun-temurun. Walaupun batik Imogiri sudah dikenal luas hingga mancanegara, tetapi kondisi di tempat asal batik itu dibuat cukup mengkhawatirkan. Para perajin sendiri khawatir begitu generasi pembatik yang aktif saat ini sudah berlalu maka tradisi batik Imogiri pun akan surut dan kemudian punah.

“Memang di sekolah-sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah di Imogiri ada pelajaran membatik, tapi ya cuma dasar-dasarnya saja”, ujar Ibu Sumarman (53), seorang perajin batik yang mengaku sudah biasa membatik sejak dirinya duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. “Tapi ya cuma untuk sekedar tahu saja, setelah itu tidak banyak juga anak-anak muda yang serius ingin membatik”, lanjutnya. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menjadi bekerja di kota atau pekerjaan lain, tetapi bukan perajin batik. Continue reading

Peran Rakom dalam Manajemen Resiko Bencana

Kamis (16/11) 11am, dua minggu yang lalu, aku ikut acara diskusi publik mengenai penanganan pascabencana di D.I. Yogyakarta. Formatnya diskusi panel, yang ngadain Komisi E DPRD DIY. Tempatnya di kantor DPRD DIY. Yang datang ngga banyak, sktr 20an orang dan hampir separuhnya adalah staf DPRD yang kebetulan ngga ada kerjaan. Peserta lainnya adalah wakil dinas atau badan-badan di Pemda DIY. LSM… hmmm, kelihatannya cuma aku. Undangannya aja per telpon 10am Kamis itu juga.

Ada tiga presentasi… dua bau tanah, ttg geologi, oleh Dr Sunarto (PSBA) dan satu lagi aku lupa (dia aktif di Asian Disaster Preparadness Center). Presentasi ketiga ttg psikologi oleh Prof. Koentjoro (UGM).

Dua presentasi awal yg bau tanah itu menjelaskan potensi kebencanaan yg dikandung oleh DIY. Dijelaskan pula mengenai strategi2 yg dianjurkan utk dikembangkan dalam menghadapi potensi2 bencana tsb; ngga cuma gempa, juga letusan gunung api, hingga ekstremitas cuaca. Pengembangan sistem peringatan dini (EWS) mendapatkan porsi penjelasan yg cukup panjang lebar, disertai dgn contoh2 penerapannya di luar negeri, Aceh, dan Pangandaran. Continue reading

Mata Pisau Informasi dalam Green Map

Dalam salah satu sesi workshop Green Map di Institut Teknologi Bandung (ITB) akhir pekan lalu, terungkap bahwa tidak mustahil sebuah komunitas di suatu kawasan menolak untuk memetakan sumberdaya kawasan tersebut. Ari Nugraha, arsitek dan pegiat Green Map di Bandung, mengalami hal itu ketika mencoba memetakan kawasan sebuah desa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di wilayah Kabupaten Bandung bersama warga setempat dan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal pada tahun 2004.

DAS Citarum

Memang pada awalnya warga cukup antusias dengan kegiatan memetakan kawasan tempat tinggal mereka menjadi sebuah green map. Tidak ada salahnya mencoba menjelajahi isi kampung sendiri kembali. Siapa tahu dengan pendekatan greenmap ini bisa menemukan hal baru di lingkungan keseharian yang mungkin selama ini terlewatkan.

Data dan potensi yang baik dan buruk pun terkumpul. Ketika diskusi, warga semakin tersadar bahwa desa mereka memiliki potensi sumberdaya alam berupa lahan subur, dan yang indah, di beberapa tempat. Justru hal ini yang menyurutkan semangat keterbukaan yang semula ada. Warga khawatir jika informasi tentang potensi alam itu tersebarkan dalam green map yang akan terbit itu maka akan membahayakan kelestarian lahan subur tadi. Alasannya cukup masuk akal, takut informasi yang tersebar akan mengundang datangnya investor tamak yang akan menguasai tanah itu dan mereka akan menderita kehilangan. Ketakutan warga bisa diterima dan diputuskan bahwa green map tersebut tidak akan dicetak dan disebarluaskan, tetapi hanya untuk kegiatan saat itu saja. Rangkaian proses pemetaan dan diskusi pun kemudian tetap bisa dilanjutkan. Continue reading