Tag Archives: kemanusiaan

Ternyata Sama Saja

sama rasa sama rata sama saja

Kemarin lusa, sebuah pertemuan forum lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus pada penanggulangan bencana di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah selatan diadakan di salah satu kantor LSM. Sebelum pertemuan dimulai, yang mundur satu jam dari jadwal di undangan, beberapa teman dengan nada bercanda mengatakan, “Wah, jangan sampai karena ini kantor urusan hak asasi perempuan terus tidak bisa merokok, ya.” Para perokok pun berkumpul di teras, sambil merokok. Namun, ketika pertemuan dimulai, rokok (ter)bawa masuk. Kepulan asap rokok pun turut mengisi rapat serius yang membahas peran LSM dalam penanggulangan bencana, hingga rapat berakhir. Continue reading

Advertisements

Omong Kosong Kemanusiaan, Omong Kosong Kebangsaan

Saya berkata mensitir Gandhi, Gandhi berkata, “My nasionalism is humanity.”
Pidato Presiden Soekarno (1 Juni 1945)

Richard Hermans, Direktur Erfgoed Nederland atau The Netherlands Institute for Heritage, pun beranjak keluar. “Perlu jeda sejenak”, sebuah ungkapan yang kemudian baru dimengerti oleh rekan-rekan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia bahwa dia ingin merokok. Walaupun rapat yang mendiskusikan rencana pengembangan pendidikan heritase pekan lalu itu diadakan di sebuah ruangan semi terbuka, tapi dengan santun dia mohon izin sejenak keluar untuk merokok. Tentu saja para perokok lain yang sedari tadi gelisah menahan candu nikotinnya pun turut bergegas menyusulnya. Juga ketika makan malam berlangsung, tradisi membiasakan warga Belanda untuk menikmati cerutu atau rokok dan kopi usai makan besar. Dengan santun, mereka pun mohon izin sejenak meninggalkan meja untuk merokok. Hanya sekali mereka minta izin, dan cukup singkat saja, di sela forum diskusi yang berlangsung seharian.

rokokrokokrokok

Awal pekan ini, sebuah diskusi yang diadakan sebuah majalah seni rupa diadakan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Cukup ramai, dihadiri oleh puluhan perupa, akademisi, dan mahasiswa. Tentu saja karena membahas tema hubungan antara perupa dan kurator. Belum menginjak tengah acara, Yuswantoro Adi, seorang perupa kawakan yang saat itu menjadi salah satu pembicara, mulai menyalakan dan menghisap rokok. Tak ayal, sekaan dikomando, kepulan-kepulan asap dari sela-sela peserta diskusi yang notabene para “junior”nya pun mulai menyusul bermunculan di ruang tertutup dan ber-AC itu. Tak hanya sekali putaran, tetapi seterusnya hingga forum usai yang berlangsung selama tiga jam malam itu. Tidak tahu, mungkin lupa atas anjuran tidak merokok oleh pengelola BBY pada awal acara.

Aichi EXPO 2005, pandangan tertarik memperhatikan salah satu sudut halaman yang luas nan bersih dalam arena Expo internasional tak jauh dari Nagoya, Jepang itu. Sekedar bak sampah. Namun, tak hanya satu, ada sebelas tempat sampah untuk jenis sampah yang berbeda. Ah, mungkin saja itu hanya muncul di arena pameran. Bisa jadi. Namun, sudah menjadi pemandangan umum di Jepang, paling tidak selalu ada tiga atau empat bak untuk menampung sampah dengan jenis sampah yang berbeda. Sampah di sana biasanya dipisahkan dalam kantong tersendiri; jenis bisa dibakar, tidak bisa dibakar, plastik, dan kaleng. Tak hanya tempatnya, jadwal pengumpulannya pun sudah demikian teratur. Sedemikian tertibnya, sebuah artikel di Harian Kompas pernah mengisahkan bingungnya seorang profesor Jepang saat akan membuang sampah di Jakarta, ketika dia hanya menjumpai satu wadah untuk menampung semua sampah.

Recycle bins at Aichi Expo (Pic. Green Map, 2005) Bak Sampah di ITB (2006)

Kampus Institut Teknologi Bandung pun memiliki maksud yang sama untuk mengelola sampah. Paling tidak ada dua atau tiga tempat sampah yang berdampingan, diletakkan di seantero sudut kampus, untuk sampah basah dan sampah kering, atau sampah organik dan anorganik. Hanya ada dua kasus yang tampak, kedua bak terisi penuh dengan sampah yang tercampur atau keduanya justru kosong sama sekali. Pemilihan sampah kering dan basah dengan penyediaan bak sampah yang berbeda seperti itu pun sudah diterapkan di beberapa kota di Indonesia. Kita biasa melihatnya dalam wujud bak sampah warna jingga untuk sampah kering dan biru untuk sampah basah. Jika di luar kampus, kasus yang terjadi pada bak sampah bertambah, selain penuh sampah bercampur dan kosong sama sekali dengan sampah menumpuk di sekelilingnya, sering bak sampahnya sendiri yang justru hilang. Sebuah acara jalan-jalan bersama berhadian mobil yang digelar Partai Golongan Karya di Alun-Alun Selatan Yogyakarta pada awal Maret 2008 lalu pun membuktikan tempat sampah hanya jadi pajangan semata. Kawasan publik dan bersejarah itu ditinggalkan penuh sampah hingga hari berikutnya. Hmm, mengurus acara saja tidak becus, bagaimana bisa bermimpi mengurus negara? Continue reading