Tag Archives: kearifan lokal

Pelestarian Jejak Bencana sebagai Pusaka Peradaban

Strategi Pengelolaan Pengetahuan untuk Merawat Kesadaran dan Kesiapsiagaan 

2016 03 - Pusaka dan Bencana

Catatan sejarah kejadian bencana menunjukkan bahwa kejadian itu telah terjadi berulang kali. Generasi-generasi sebelum sekarang telah mengalami kejadian bencana yang ancamannya hingga kini kita rasakan. Namun, pengalaman bencana seolah selalu menjadi pengalaman baru. Walaupun Indonesia sudah beberapa kali dilanda bencana besar seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, atau banjir dalam kurun waktu 30 – 50 tahun terakhir, tetap saja masyarakat kita seperti tak siap ketika bencana besar terjadi kembali. Kejadian seperti gempa dan tsunami di Aceh (2004), gempa bumi Nias (2005), gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah (2006), gempa bumi Sumatera Barat (2007 dan 2009), banjir Aceh (2007), letusan Gunungapi Merapi (2006 dan 2010), hingga Sinabung dan Kelud (2014) yang terjadi dalam dekade terakhir dihadapi dan ditanggapi sebagai pengalaman baru, sehingga korban dan kerugian tetap berjatuhan. Jadi, apakah kita tidak pernah belajar? Continue reading

Dokumentasi dan Diseminasi Pengetahuan Lokal melalui Radio Siaran Komunitas untuk Pengurangan Risiko Bencana Erupsi Gunungapi Merapi

Abstrak untuk CfP EuroSEAS Conference di Lisbon, Portugal, 2 – 5 Juli 2013

Panel 63: Bencana Alam dan Pusaka Budaya (Natural Disaster and Cultural Heritage)

Image

Catatan tentang sejarah erupsi Gunungapi Merapi di Pulau Jawa (Indonesia) sejak tahun 1768 hingga tahun 2006 menerakan jumlah 83 kali erupsi. Erupsi terakhir dan terbesar terjadi pada tahun 2010 lalu. Letusan terakhir ini memakan korban tewas 353 orang dan lebih dari 300.000 penduduk terpaksa mengungsi. Banjir lahar yang mengikuti erupsi juga merusak ratusan rumah penduduk di empat wilayah kabupaten di lingkar Merapi. Dalam setiap kejadian bencana ini, masih selalu timbul korban dan kerugian. Padahal, sejarah erupsi yang berulang sebenarnya dapat terbaca karakternya, sehingga bisa membantu proses mitigasi. Namun, hingga erupsi terakhir di tahun 2010, pemerintah dan sebagian penduduk seolah lupa dengan pengalaman erupsi atau bencana sebelumnya. Jadi, muncul kebutuhan untuk membangun proses pembelajaran terhadap pengalaman dan pengetahuan kebencanaan untuk membangun kesiapsiagaan ke depan. Inisiatif membangun proses belajar berdasarkan pengalaman dan pengetahuan lokal pun berjalan. Continue reading

Mencari Bentuk Sejati Kearifan Lokal

Sebuah Catatan Kecil dari Dieng

dieng1 dieng2

Hampir tidak ada perasaan istimewa sedikit pun yang muncul ketika turun dari bus dan pertama kali menginjakkan kaki di tanah kawasan Dieng. Hal itu semakin menjadi ketika melintasi taman di kawasan kompleks Candi Arjuna. Aura kawasan yang telah begitu mendunia ini muncul dalam bentuk yang jauh dari yang terbayangkan semula. Kawasan ini telah menjelma menjadi kawasan yang unik dan lucu. Kompleks percandian kuno itu bagaikan sekedar hiasan taman, keberadaannya tenggelam oleh kemunculan taman dan berbagai fasilitas lainnya. Candi Gatutkaca yang berada di ujung bagian taman bahkan lebih “merana”. Keberadaannya tepat di tepi jalan raya bisa dibilang tidak bisa mencuri perhatian sama sekali walaupun telah dihiasi dengan berbagai tanaman hias. Sementara, jika dilihat dari atas, plateau ini tampak penuh sesak dengan lahan-lahan pertanian. Keunikan kawasan ini ditutup dengan kegundulan puncak-puncak gunung yang mengelilinginya. Bahkan di puncak gunung pun ada lahan kentang! Apakah semua ini mengindikasikan sesuatu yang salah kaprah ataukah sekedar kekalutan subjektif karena terlalu banyak dijejali prinsip-prinsip idealis di bangku kuliah?

dieng12 dieng16

Taman di kawasan kompleks Candi Arjuna Dieng dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2003. Pekerjaan yang dimaksudkan sebagai pembenahan lansekap kawasan ini dipicu oleh menurunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Dieng. Pembangunan taman ini pun mendapatkan masukan langsung dari pihak Suaka Purbakala/SPSP (sekarang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala/BP3) Jawa Tengah agar tetap memperhatikan lansekap kompleks percandian. Jangan sampai penataan ini mengakibatkan kerusakan pada struktur candi dan jangan sampai pula menyebabkan kompleks percandian ini seolah-olah berdiri di tengah lapangan golf (Kompas, 22 Mei 2003). Kekhawatiran itu cukup beralasan. Terbukti, pada bulan Mei 2004 lalu, tamanisasi ini mendapat kritik dari anggota Pacipic Asia Travel Asociation (PATA) yang berkunjung ke Dieng. Jajang Agus Sonjaya yang saat ini tengah mengerjakan tesis mengenai pengelolaan situs Dieng ini menyatakan bahwa kritikan tersebut muncul karena tamanisasi Dieng yang beraksen modern itu dianggap kurang sesuai dengan lansekap candi. Continue reading

Bergeming Menantang Bencana

Perjuangan Warga Lereng Merapi untuk Bertahan Hidup

Tak hanya Mbah Maridjan yang nekad tetap bertahan tidak mau mengungsi. Tekad warga Desa Sidorejo dan Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah untuk bertahan di rumahnya ketika aktivitas Gunungapi Merapi semakin meningkat memang membuat orang lain merasa heran. Bahkan, setelah status Merapi dinaikkan menjadi AWAS pun masih ada warga yang tetap bertahan tinggal di dusun yang hanya berjarak sekitar 4,5 kilometer dari puncak Merapi. Jarak sekitar 5-6 kilometer pun tak menyurutkan niat warga desa yang sudah berada di pengungsian untuk selalu kembali pulang di pagi hari dan kemudian kembali ke pengungsian pada malam hari. Hingga saat ini fenomena ini terus berlangsung. Tercatat ada sejumlah 38 titik pos ronda swakarsa di wilayah dua desa tersebut. Belum terhitung yang berada di Desa Balerante, Klaten yang berada di seberang Kali Woro. Setiap pos rata-rata dijaga oleh belasan orang setiap hari. Jumlah ini semakin bertambah di pagi hari ketika sebagian warga yang berada di pengungsian kembali naik menuju rumah masing-masing.

Jelas bukannya tanpa tujuan bahwa mereka berani menghadang bahaya dampak letusan Merapi seperti itu. Siapa bilang mereka tidak takut dengan letusan Merapi. Walaupun masyarakat di lereng Merapi sudah memiliki kearifan lokal dalam menghadapinya, perasaan was-was tetaplah ada. Ada hal lain yang akhirnya membuat warga memutuskan bertahan. Kekhawatiran akan terabaikannya rumah, harta benda, ladang, dan ternak menjadi penyebab mereka tidak mau meninggalkannya dalam waktu panjang. Orang luar mungkin akan berpikir bahwa warga desa lereng Merapi itu tidak rasional. Bagaimana tidak, disuruh mengungsi agar selamat dan tetap hidup kok tidak mau. Namun, permasalahannya tidak sesederhana itu. Continue reading