Tag Archives: heritage education

Langkah Taktis Tanggap Darurat Cagar Budaya Yogyakarta

Catatan Akhir Tahun Inisiatif Pelestarian Cagar Budaya di Daerah Istimewa

20475_222472209194_3497017_n

Pencagarbudayaan sebuah bangunan pusaka (heritage) melalui penetapan formal sebagai cagar budaya ternyata tidak menjamin kelestarian bangunan tersebut. Yogyakarta yang menjadi barometer pelestarian cagar budaya nasional justru sarat dengan praktik buruk dan kegagalan beragam program konservasi. Tahun 2004, Pesanggrahan Ambarrukmo dirusak untuk membangun Ambarrukmo Plaza. Kompleks bersejarah milik Kraton Yogyakarta ini baru dicagarbudayakan sebagai cagar budaya nasional pada tahun 2007. Tahun 2010, SK Menbudpar penetapan kompleks RS Mata dr. YAP sebagai cagar budaya nasional direvisi oleh Dirjen Peninggalan Purbakala demi melancarkan pembangunan YAP Square dengan seizin Kraton Yogyakarta. Tahun 2013, terjadi penghancuran cagar budaya nasional SMA 17 “1” Yogyakarta setelah terjadi sengketa kepemilikan lahan. Tahun 2014, terjadi penghancuran bangunan warisan budaya tingkat kota Tjan Bian Thiong untuk kepentingan pembangunan Hotel Amaris Malioboro. Continue reading

Pendidikan Pusaka untuk Anak

Membangun Strategi Pelestarian Pusaka melalui Jalur Sekolah¹

oleh: Elanto Wijoyono² dan Laretna T. Adishakti³

”Apresiasi adalah modal bagi konservasi (pelestarian). Tanpa pendidikan maka konservasi akan berhenti. Pendidikan tanpa dasar budaya maka akan tidak punya makna dan warna. Sangat disayangkan, pendidikan di Indonesia saat ini dibangun dan dikembangkan tanpa didasari budaya yang kita miliki sendiri.”

Prof. Wuryadi, Dewan Pendidikan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, menyampaikan pesan itu pada hari keempat Pelatihan Pendidikan Pusaka untuk Guru Sekolah Dasar di Hotel Galuh, Prambanan, pada awal bulan November 2008 lalu. Dalam kesempatan itu beliau menekankan bahwa pelestarian pusaka adalah penting sebagai dasar pembentuk karakter manusia bangsa. Pendidikan pusaka pun menjadi langkah penting, yang dalam penerapannya harus dilakukan dengan pendekatan dan metode yang memungkinkan munculnya apresiasi atas dasar rasa yang kemudian dapat membangun kepahaman. Continue reading