Category Archives: kelola risiko bencana

manajemen risiko bencana, penanggulangan bencana, penanggulangan bencana berbasis komunitas

#JogjaAsat, Seruan Keadilan Air untuk Rakyat

Memperkuat Kapasitas Warga untuk Mengatasi Masalah Tata Kelola Air dan Risiko Pembangunan di Kota Yogyakarta

2017 08 - Jogja Asat

Rabu, 6 Agustus 2014, publik Yogyakarta dikejutkan oleh aksi mandi pasir oleh Dodok Putra Bangsa, seorang warga kampung Miliran di depan Fave Hotel Kusumanegara Yogyakarta. Media menyebutnya aksi teatrikal. Padahal, aksi tersebut sebenarnya merupakan bentuk protesnya kepada manajemen Fave Hotel atas keringnya puluhan sumur warga Kampung Miliran yang berada tepat di belakang hotel. Mewakili warga kampungnya, Dodok menyebutkan bahwa ada indikasi kuat keringnya sumur warga ini disebabkan oleh penggunaan sumur air tanah dalam oleh pihak hotel. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta ketika dikonfirmasi oleh media membantah pernyataan Dodok dengan penjelasan bahwa keringnya sumur warga kemungkinan besar diakibatkan oleh dampak kemarau dan banyaknya warga yang menggunakan sumur air tanah dangkal [i]. Sumur air tanah dalam Fave Hotel yang menyedot air 80 meter dari permukaan tanah menurut BLH Kota Yogyakarta tidak akan mempengaruhi ketersediaan air tanah dangkal. Namun, selang satu bulan, pada 1 September 2014, Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta melakukan penyegelan sumur air tanah dalam Fave Hotel. Tindakan ini dilakukan oleh karena Fave Hotel hanya memiliki izin pengeboran air tanah dan belum memiliki izin pemanfaatan air tanah. Secara teoritis, penggunaan air tanah dalam tidak akan mempengaruhi air tanah dangkal atau sumur-sumur warga. Namun, Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta mengakui, air tanah dangkal dapat tersedot ke lapisan tanah yang lebih dalam jika terjadi kebocoran [ii]. Hanya satu minggu setelah sumur air tanah dalam Fave Hotel disegel, sumur warga di Kampung Miliran kembali terisi air. Padahal, di tahun 2014, musim kemarau masih berlangsung hingga bulan November [iii]. Continue reading

Advertisements

Pelestarian Jejak Bencana sebagai Pusaka Peradaban

Strategi Pengelolaan Pengetahuan untuk Merawat Kesadaran dan Kesiapsiagaan 

2016 03 - Pusaka dan Bencana

Catatan sejarah kejadian bencana menunjukkan bahwa kejadian itu telah terjadi berulang kali. Generasi-generasi sebelum sekarang telah mengalami kejadian bencana yang ancamannya hingga kini kita rasakan. Namun, pengalaman bencana seolah selalu menjadi pengalaman baru. Walaupun Indonesia sudah beberapa kali dilanda bencana besar seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, atau banjir dalam kurun waktu 30 – 50 tahun terakhir, tetap saja masyarakat kita seperti tak siap ketika bencana besar terjadi kembali. Kejadian seperti gempa dan tsunami di Aceh (2004), gempa bumi Nias (2005), gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah (2006), gempa bumi Sumatera Barat (2007 dan 2009), banjir Aceh (2007), letusan Gunungapi Merapi (2006 dan 2010), hingga Sinabung dan Kelud (2014) yang terjadi dalam dekade terakhir dihadapi dan ditanggapi sebagai pengalaman baru, sehingga korban dan kerugian tetap berjatuhan. Jadi, apakah kita tidak pernah belajar? Continue reading

Tuntutan Warga Yogya: Sumur Kering Gara-gara Hotel

Rekaman wawancara bersama Dodok Putrabangsa (37) alias Dodok Jogja (https://www.facebook.com/dodokputrabangsa) usai aksi teatrikal* yang dilakukannya di depan Hotel Fave, Jl. Kusumanegara, Yogyakarta pada 06/08/2014 pk 10.00 pagi. Aksi mandiri ini dilakukannya sebagai bentuk protes atas kejadian keringnya sumur warga di Kampung Miliran, Muja Muju, Umbulharjo, Yogyakarta terutama sejak Hotel Fave beroperasi sekitar 2 tahun terakhir. Fave Hotel di Jl. Kusumanegara adalah satu dari 3 Favehotel yang didirikan oleh Group Aston Internasional di Yogyakarta dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Continue reading

Dokumentasi dan Diseminasi Pengetahuan Lokal melalui Radio Siaran Komunitas untuk Pengurangan Risiko Bencana Erupsi Gunungapi Merapi

Abstrak untuk CfP EuroSEAS Conference di Lisbon, Portugal, 2 – 5 Juli 2013

Panel 63: Bencana Alam dan Pusaka Budaya (Natural Disaster and Cultural Heritage)

Image

Catatan tentang sejarah erupsi Gunungapi Merapi di Pulau Jawa (Indonesia) sejak tahun 1768 hingga tahun 2006 menerakan jumlah 83 kali erupsi. Erupsi terakhir dan terbesar terjadi pada tahun 2010 lalu. Letusan terakhir ini memakan korban tewas 353 orang dan lebih dari 300.000 penduduk terpaksa mengungsi. Banjir lahar yang mengikuti erupsi juga merusak ratusan rumah penduduk di empat wilayah kabupaten di lingkar Merapi. Dalam setiap kejadian bencana ini, masih selalu timbul korban dan kerugian. Padahal, sejarah erupsi yang berulang sebenarnya dapat terbaca karakternya, sehingga bisa membantu proses mitigasi. Namun, hingga erupsi terakhir di tahun 2010, pemerintah dan sebagian penduduk seolah lupa dengan pengalaman erupsi atau bencana sebelumnya. Jadi, muncul kebutuhan untuk membangun proses pembelajaran terhadap pengalaman dan pengetahuan kebencanaan untuk membangun kesiapsiagaan ke depan. Inisiatif membangun proses belajar berdasarkan pengalaman dan pengetahuan lokal pun berjalan. Continue reading

The Public Letter to Delegates of the 30th Meeting of WHO SEARO Minister of Health

Dear Delegates of the 30th Meeting of WHO SEARO Minister of Health

In Yogyakarta

Assalamu’alaikum wr. wb.

We welcome all of the delegates to the 30th Meeting of WHO SEARO Minister of Health. It is an honor for us as Yogyakarta people to welcome you.

Welcoming the 30th Meeting of WHO SEARO Minister of Health, Forum for Healthy Jogja without Tobacco (Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau or JSTT), initiated a civil society movement of Yogyakarta concerning the promotion of human rights to health. As our participation in the respect, protection and fulfillment of human rights to health, we are calling to you all: Continue reading

Kenapa ROKOK tidak perlu dilestarikan?

Pernyataan di bawah ini sangat khas muncul dari pihak yang memiliki kepentingan kuat dengan industri rokok.

RT @siberang ironis, padahal @adrianizulivan adalah pendukung gerakan pelestarian pusaka nusantara. Lah kok malah mau ngehancurin kretek, #savekretek

Jadi, bagaimana cara untuk menghadapi dan menanggapi pola pikir merusak seperti di atas? Sebagai sebuah landasan pikir tentang strategi kebudayaan yang baru untuk hadapi otak-otak penuh asap, sebuah catatan aku tulis di bawah ini. Continue reading

Dampak Bencana pada Pusaka Yogyakarta

Pendidikan Pusaka untuk Pengurangan Risiko Bencana di Kawasan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya (Bagian 4 – dari 5 Bagian)

 I. Pelestarian pusaka dari kacamata hukum di Indonesia dan di daerah

Konsep pelestarian (atau konservasi) pada awalnya terbatas pada pelestarian atau pengawetan monumen bersejarah. Langkah itu lazim disebut preservasi. Tujuannya adalah berupaya mengembalikan, mengawetkan, atau “membekukan” monumen tersebut persis seperti keadaan semula di masa lampau. Di Indonesia, peraturan terawal yang terkait dengan perlindungan bangunan dan artefak kuno adalah Monumenten Ordonantie Stbl. 238/1931 atau biasa disingkat M.O. 1931 dari masa pemerintahan Hindia – Belanda (Sidharta & Budihardjo, 1989). Dalam M.O. 1931, definisi monumen atau artefak yang layak dilestarikan meliputi: Continue reading