Category Archives: kelola informasi

manajemen informasi, sistem informasi dan komunikasi, teknologi informasi dan komunikasi

Jalan Panjang Ungkap IMB & Izin Lingkungan Hotel-Hotel di Yogyakarta

Bakal lokasi Hotel Asoka 8 lt di Ledok Ratmakan K. Code, Yogyakarta ini sudah mendapatkan izin dari BLH Kota Yogyakarta pada akhir Desember 2013 lalu.

Bakal lokasi Hotel Asoka 8 lt di Ledok Ratmakan K. Code, Yogyakarta ini sudah mendapatkan izin dari BLH Kota Yogyakarta pada akhir Desember 2013 lalu.

Pada tanggal 15 Agustus 2014 lalu, saya mengirimkan e-mail permohonan untuk mendapatkan akses data dan informasi publik tentang daftar Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk kategori hotel yang diterbitkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, sesuai yang diatur dalam Peraturan Walikota Yogyakarta No. 20 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Perizinan pada Pemerintah Kota Yogyakarta. Data yang saya mohon adalah data setiap item Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk kategori hotel (bangunan bertingkat lebih dari 2 lantai dan/atau kontruksi baja) periode tahun 2010, 2011, 2012, 2013, dan 2014. Continue reading

(Konservasi) Pusaka dalam Genggaman

Memetakan Potensi Strategi Digital untuk Pelestarian Pusaka Indonesia (1) (2)

1. Wajah Pusaka dalam Media Baru (New Media) di Indonesia

Screenshot from 2014-07-01 21:49:51

Heritage is in Your Hand; poster kampanye gerakan Pantau Pusaka Indonesia – Indonesian Heritage Inventory (Kredit poster: Abdullah Rofii)

Sekumpulan orang yang berasal dari daerah yang berbeda bisa bergerak bersama untuk satu minat. Minat yang sama pada penjelajahan situs-situs kuno mendorong orang-orang ini untuk berkumpul. Padahal, mereka tinggal di kota-kota atau daerah yang berbeda, ada yang di Yogyakarta, beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa timur, bahkan di Bali, dan Sumatera. Minat dan hobi “blusukan” ke situs-situs purbakala itu dikomunikasikan, antara lain memanfaatkan media jejaring sosial Facebook. Komunikasi lintas usia dan latar belakang itu kemudian menjadi pemicu dibentuknya komunitas sebagai penanda identitas pada Oktober 2009. Mereka menamakan dirinya Gerombolan Pemburu Batu (Bol Brutu). Ada lebih dari 300 anggota yang tergabung dalam Group Facebook Bol Brutu (3). Sebagian di antara mereka bahkan ada yang saat ini tidak berada di Indonesia, seperti di Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Menariknya, hampir tak ada anggota kelompok ini yang berlatar belakang arkeologi. Mereka hanya punya niat belajar yang besar dan rasa ingin tahu. Jadi, kegiatan seperti mendatangi situs purbakala, mendokumentasikan, dan kemudian menginformasikannya ke media online, seperti Facebook dan blog menjadi rutin (4). Continue reading

Pilihan Politik dan Konsekuasinya pada Hak Publik Warga Negara

abstain

Siapapun tetap bisa melayangkan kritik dan protes kepada Direksi PLN atas kualitas layanan yang diberikan walaupun bukan kita yang memilih mereka duduk di jabatan itu.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) adalah salah satu badan publik yang diselenggarakan oleh negara. Sama halnya dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Pertamina, kita tetap bisa melayangkan protes atas kualitas layanan walaupun bukan kita yang memilih pejabat untuk duduk di dalam manajemen. Masyarakat sebagai penerima manfaat atas keberadaan badan publik tersebut berhak mendapatkan layanan yang berkualitas, sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan. Continue reading

Dokumentasi dan Diseminasi Pengetahuan Lokal melalui Radio Siaran Komunitas untuk Pengurangan Risiko Bencana Erupsi Gunungapi Merapi

Abstrak untuk CfP EuroSEAS Conference di Lisbon, Portugal, 2 – 5 Juli 2013

Panel 63: Bencana Alam dan Pusaka Budaya (Natural Disaster and Cultural Heritage)

Image

Catatan tentang sejarah erupsi Gunungapi Merapi di Pulau Jawa (Indonesia) sejak tahun 1768 hingga tahun 2006 menerakan jumlah 83 kali erupsi. Erupsi terakhir dan terbesar terjadi pada tahun 2010 lalu. Letusan terakhir ini memakan korban tewas 353 orang dan lebih dari 300.000 penduduk terpaksa mengungsi. Banjir lahar yang mengikuti erupsi juga merusak ratusan rumah penduduk di empat wilayah kabupaten di lingkar Merapi. Dalam setiap kejadian bencana ini, masih selalu timbul korban dan kerugian. Padahal, sejarah erupsi yang berulang sebenarnya dapat terbaca karakternya, sehingga bisa membantu proses mitigasi. Namun, hingga erupsi terakhir di tahun 2010, pemerintah dan sebagian penduduk seolah lupa dengan pengalaman erupsi atau bencana sebelumnya. Jadi, muncul kebutuhan untuk membangun proses pembelajaran terhadap pengalaman dan pengetahuan kebencanaan untuk membangun kesiapsiagaan ke depan. Inisiatif membangun proses belajar berdasarkan pengalaman dan pengetahuan lokal pun berjalan. Continue reading

KlikJkt dan SaveJkt

Dua Warna untuk Satu Kota


Belum ada setengah tahun gagasan ini dilontarkan dan didiskusikan, baik melalui tatap muka maupun dunia maya, wujudnya sudah tampak berjalan. Gagasan dari sisi konsep dan prinsip sudah diawali sejak bertahun yang lalu oleh teman-teman di Jakarta. Memasuki era jejaring sosial saat ini, gagasan itu semakin coba digali dalam banyak diskusi. Jelang akhir tahun lalu, ada rujukan yang menjadi muara gagasan, yakni sebuah sistem peta interaktif berbasis internet untuk meampung aspirasi warga atas denyut kotanya. Rujukan itu salah satunya beralamat di http://citizenmap.scmp.com/. Continue reading

Desa Kota Lestari

Rumusan Gagasan untuk Panduan Pengembangan Sistem Informasi Pengelolaan Sumber Daya Lokal

Memikir Ulang Desa - Kota

  1. Singgih Susilo Kartono memandang desa sebagai miniatur sebuah negara. Desa memiliki rakyat, pemerintahan, wilayah, sumber daya, dan landasan ekonomi. Namun, desa selama ini selalu “diabaikan”. Pembangunan struktur sosial ekonomi dipandangnya rapuh karena bertumpu peada pembangunan struktur sosial ekonomi perkotaan. Desa yang jumlahnya banyak secara kuantitas selalu menerima paling sedikit, paling akhir, dan paling buruk atau jelek. Sementara, kota yang jumlahnya sedikit selalu menerima paling banyak, paling awal, dan paling baik. Dalam prosesnya menuju tahap modern, desa lebih banyak melakukan konsumsi daripada produksi. Dalam pada itu, Singgih memandang sektor pertanian dan kerajinan dapat memandu perubahan desa secara lebih optimal. Pertanian akan memerlukan intensifikasi teknologi dan kerajinan akan memerlukan intensifikasi tenaga kerja. Sektor kerajinan seperti yang digiatkan oleh Singgih di Desa Kandangan, Temanggung, telah mampu mengintensifkan tenaga kerja dengan teknologi tepat guna, sumber daya lokal, dan pasar eksport. Dengan model pengelolaan sumber daya secara intensif, pembangunan struktur sosial ekonomi yang berbasis desa, akan menjadikannya lebih stabil. Continue reading

Open Source Bukan Sekedar Gaya Hidup

Menegaskan Peran Pe-Linux Cewek di Indonesia

//layangan.com/tety/kluwek.jpg

“Jika ada cewek yang pandai menggunakan komputer, dan bisa menjadi programmer, itu keren sekali,” begitu sebuah ungkapan yang mengemuka dalam diskusi siang itu. Tiga bulan lalu, sebuah tulisan di Majalah Tempo mewartakan bahwa jumlah wanita dalam dunia teknologi informasi memang sedikit, dan ini sudah gejala global. Dalam Google Summer of Code 2007, hanya ada empat persen perempuan dari sekitar 900 peserta dari 90 negara. Jerman sebagai salah satu negara terdepan dalam teknologi informasi pun mencatat hanya sekitar 15 persen saja jumlah perempuan dari seluruh tenaga kerja di bidang teknologi informasi. Badan Statistik Jerman mencatat pada tahun 2007 hanya sejumlah 17 persen perempuan yang mengambil studi teknik informasi di Jerman.

Namun, menarik, sebuah penelitian kecil pada tahun 2007 dilakukan oleh kelompok mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI) mengenai kecenderungan minat antara mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam bidang teknologi informasi, khususnya sebagai programmer. Penelitian survei sederhana terhadap 60 responden mahasiswa, 30 laki-laki dan 30 perempuan, Fakultas Ilmu Komputer UI angkatan 2003 dan 2004 menunjukkan bahwa kecenderungan mahasiswa perempuan tidak menjadi programmer tidak terbukti. Separuh lebih responden perempuan menyatakan minatnya dalam bidang tersebut, disertai dengan kemampuan pemrograman yang diukur berdasarkan empat parameter.

Pertanyaannya, apakah kecenderungan seperti itu sudah menjadi gambaran umum dalam dunia teknologi informasi? Memang angka melek teknologi informasi di Asia semakin meningkat. Dari 100 orang yang disurvei pada tahun 2000, ada 6 pengguna internet, dan 3 di antaranya berada di Asia. Pada tahun 2006, dari 17 pengguna internet dunia, 11 di antaranya berada di Asia. Sayangnya, di tengah optimisme ini, kaum perempuan tetap kurang tampil, apalagi menduduki posisi penting dalam bidang teknis, termasuk teknologi informasi ini. Siti Nur Aryani (2003) menuliskan hanya ada sekitar 22 persen perempuan Asia yang memanfaatkan internet, Amerika Serikat sekitar 41 persen, Amerika Latin sekitar 38 persen, dan Timur Tengah sekitar 6 persen. Sementara, di Indonesia, menurut kajian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, diperkirakan hanya 24,14 persen perempuan yang memanfaatkan teknologi internet. Padahal, teknologi internet jelas sangat lekat dan diperlukan dalam dunia teknologi informasi open source. Jika seperti ini kondisinya, sekedar pelabelan “keren” kepada pegiat teknologi informasi perempuan tidak akan menyelesaikan masalah. Diskusi akan berakhir! Jelas ada banyak hal penting yang perlu mendapatkan perhatian dan wajib diatasi daripada sekedar pencitraan itu. Continue reading