Pelestarian Jejak Bencana sebagai Pusaka Peradaban

Strategi Pengelolaan Pengetahuan untuk Merawat Kesadaran dan Kesiapsiagaan 

2016 03 - Pusaka dan Bencana

Catatan sejarah kejadian bencana menunjukkan bahwa kejadian itu telah terjadi berulang kali. Generasi-generasi sebelum sekarang telah mengalami kejadian bencana yang ancamannya hingga kini kita rasakan. Namun, pengalaman bencana seolah selalu menjadi pengalaman baru. Walaupun Indonesia sudah beberapa kali dilanda bencana besar seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, atau banjir dalam kurun waktu 30 – 50 tahun terakhir, tetap saja masyarakat kita seperti tak siap ketika bencana besar terjadi kembali. Kejadian seperti gempa dan tsunami di Aceh (2004), gempa bumi Nias (2005), gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah (2006), gempa bumi Sumatera Barat (2007 dan 2009), banjir Aceh (2007), letusan Gunungapi Merapi (2006 dan 2010), hingga Sinabung dan Kelud (2014) yang terjadi dalam dekade terakhir dihadapi dan ditanggapi sebagai pengalaman baru, sehingga korban dan kerugian tetap berjatuhan. Jadi, apakah kita tidak pernah belajar?

Padahal, bencana bukanlah suatu hal yang tiba-tiba dan luar biasa. Bencana harus menjadi bagian dari pengetahuan kehidupan sehari-hari. Jadi, harus ada upaya untuk mendekatkan diri dengan pengalaman bencana. Bagaimana caranya? Mudah, yakni dengan belajar sejarah. Kita harus belajar bahwa bencana pernah terjadi dan akan terus terjadi. Dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) di Balai Senat UGM, Irwan Abdullah mengungkapkan dengan tegas, bahwa bencana sebenarnya telah menjadi bagi dari “pengalaman dekat” dari banyak orang yang berada di banyak tempat dan waktu yang berbedai. Manusia di Nusantara pernah mengalami letusan Gunungapi Tambora pada tahun 1815ii dan letusan Gunungapi Krakatau pada tahun 1883 yang dahsyat. Deru tsunami yang menghantam Bulukumba, Sulawesi Selatan pada tanggal 29 Desember 1820 ternyata tersaksikan langsung dan dicatat oleh seorang letnan Belanda bernama Heintzeniii.

Sayangnya, bencana yang terjadi hampir selalu dirasakan sebagai pengalaman baru, sehingga menjadi suatu peristiwa yang belum terintegrasi ke dalam kehidupan dan kebijakan sosial. Padahal, dengan semakin menguatnya dampak perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global (global warming), semakin memicu terjadinya beragam jenis bencana. Pelling (2004) menyajikan data bahwa sejak tahun 1960 terjadi peningkatan rata-rata kejadian bencana alam sebanyak dua kali lipat dalam setiap dekade. Pada tahun 2005, seperti yang diaporkan oleh Earth Institute (Gunewardana, 2008), ada sejumlah 3,4 milyar orang di seluruh dunia yang hidup dalam ancaman bencana. Bencana tersebut dapat meliputi bencana yang diakibatkan oleh ketidakstabilan iklim (hydro-meteorogical), seperti kekeringan, banjir, angin ribut, dan cuaca buruk, atau bisa pula yang bersifat geofisik (geophysical), seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan letusan gunungapiiv.

Sejarah Bencana dalam Jejak Peradaban

Membangun kesadaran penggunaan catatan atau data sejarah sebagai dasar pengambilan kebijakan publik saat ini pun mulai dirasakan sebagai kekurangan besar yang harus ditutupi. Letusan Gunungapi Merapi tahun 2010 memberikan pelajar berharga. Gunungapi di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini telah dikenal luas sebagai gunungapi aktif dan berulangkali meletus (erupsi) dalam siklus yang cukup berdekatan antara 4 – 5 tahun sekali. Namun, setiap terjadi letusan tetap saja pemerintah dan sebagian masyarakat seperti kebingungan hendak berbuat apa. Bahkan, jatuhnya korban selalu berulang. Erupsi Merapi tahun 1994 menelan korban 67 orang meninggal di kawasan Kali Boyong, Sleman. Erupsi tahun 2006 menewaskan 2 orang relawan yang mencoba berlindung di sebuah bungker di kawasan Kali Adem, Slemanv. Erupsi tahun 2010 mencatat korban jiwa lebih dari 200 orang yang meliputi sebagian besar wilayah Kecamatan Cangkringan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Selama kejadian-kejadian itu berlangsung, ribuan warga di sekitar Merapi selalu menjadi pengungsi dan pemerintah selalu menanggapinya sebagai peristiwa atau pengalaman “baru”, sehingga selalu tak siap melakukan upaya tanggap bencana.

Rupanya, pengalaman menghadapi bencana tak serta-merta menjadikan masyarakat pun mendudukkannya sebagai pelajaran yang harusnya bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Terjangan banjir lahar dingin usai erupsi Merapi 2010 yang mengalir ke sungai-sungai yang berhulu di Merapi seolah juga menjadi pengalaman baru. Pada 26 Januari 2011, Kali Putih di Salam, Magelang, Jawa Tengah telah menjadi aliran banjir lahar dingin Merapi dan mengakibatkan 104 rumah hanyut, 149 rusak berat, dan lebih dari 4000 warga terpaksa mengungsi. Bahkan, banjir lahar ini berulangkali memutuskan jalur utama transportasi jalan raya Yogyakarta – Magelang. Dengan kejadian ini, barulah warga ingat bahwa pada tahun 1969 luberan Kali Putih juga pernah memutus jalur Yogyakarta – Magelang usai erupsi Merapi. Jaringan rel kereta api yang saat itu aktif juga terputus karenanya. Hal itu diketahui oleh warga yang berusia di atas lima puluh tahun, tetapi hanya dianggap sebagai cerita masa lalu, sehingga tak ada pewarisan pengetahuan apapun bagi generasi setelahnya saat ini. Akibatnya, warga di bantaran sungai yang rentan itu tak siap dan jadilah mereka korban bencanavi.

Hariadi Saptono mengungkapkan faktavii, yang bagi kebanyakan orang tak cukup mengejutkan, bahwa upaya pemerintah membangun sistem mitigasi dan peringatan dini bencana belum berhasil sepenuhnya. Pada peristiwa bencana gempa bumi dan tsunami di Mentawai (Sumatera Barat, 2010), banjir bandang di Wasior (Papua Barat, 2010), dan letusan Gunungapi Merapi (Yogyakarta – Jawa Tengah, 2010)viii, telah menempatkan adanya kontroversi antara kedudukan teknologi untuk mitigasi dan peringatan dini dengan kedudukan masyarakat sebagai local genius dengan local wisdom yang dimilikinya. Kejadian di Mentawai tahun 2010 menunjukkan bahwa sistem sirine peringatan ancaman. tsunami telah dihentikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Namun, tsunami ternyata benar-benar datang. Ratusan jiwa tak selamat tersapu gelombang Samudera Hindia yang kuat itu. Namun, sebagian yang lain dapat tetap bernafas karena pernah mendapatkan pelajaran dari sosialisasi pendidikan bencana bahwa ketika air laut surut maka harus segera lari ke bukit. Lain dengan kejadian di Merapi, ketika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah memberikan informasi akurat untuk mitigasi dan peringatan dini, sebagian masyarakat tetap bertahan karena ada sosok Mbah Maridjanix yang tetap bergeming. Akibatnya, dalam dua gelombang erupsi besar, ratusan jiwa tak selamat dari luncuran awan panas Merapi.

Posisi Teknologi dan Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana

Siapa yang tidak belajar dalam kesalahan bertindak ini? Apakah perangkat teknologi beserta sistem penanganan yang tidak memadai ataukah peran local genius bersama entitas local wisdom masyarakat yang justru menghambat? Tentu saja keduanya harus dibangun dan dikelola bersama sebaagai sistem mitigasi nasional tanpa harus bertabrakan. Aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi tetap harus dikembangkan secara merata dan tepat guna bagi masyarakat di daerah rawan bencana. Sementara, local genius dan local wisdom tetap dilestarikan. Pengetahuan “Smong” berupa aba-aba dan tetabuhan penanda ancaman tsunami di Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam; tradisi rumah panggung besar “Omo Hada” di Nias, Sumatera Utara; hingga tradisi pencarian cacing atau “Sasi” sebagai cara untuk menentukan musim paus di Lamalera, Nusa Tenggara Timur adalah kearifan lokal berpadu dengan teknologi tradisional yang harus direvitalisasi. Dua ranah berbeda, modern dan tradisional ini pun, harus dijembatani agar dapat saling menguatkan dalam satu jalinan kolaborasix.

Ketika local wisdom atau kearifan lokal dinilai memiliki peran penting, berarti harus ada upaya untuk melestarikannya. Padahal, pengetahuan yang bersifat tradisi itu cenderung semakin hilang ditelan zaman seiring berkurangnya generasi pewaris kearifan lokal tersebut yang mewujud sebagai sosok local genius, seperti Mbah Maridjan. Jumlah orang yang menguasai pengetahuan tradisi sebagai local wisdom dalam generasi saat ini semakin sedikit. Sementara, jumlah orang yang menguasai ilmu dan teknologi modern yang terus terbarui semakin banyak. Hal ini menjadi tantangan jika memang proses pengelolaan sistem mitigasi bencana di Indonesia diharapkan dapat memberikan ruang bagi terkelolanya pengetahuan lokal atau tradisi yang akan menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan kekinian.

Pengetahuan lokal atau pun kearifan dalam kebudayaan tradisional yang kaya dengan kandungan hasil pembacaan terhadap lingkungan tempatan adalah hasil kebudayaan yang terhimpun dari masa ke masa, generasi ke generasi. Warisan budaya yang merupakan hasil-hasil penciptaan di masa lalu itu kemudian akan mampu menjadi “pusaka” di masa kini, yang dapat menghasilkan daya cipta masa kini akibat adanya dorongan, picuan, atau tantangan dari keadaan aktual saat ini. Lingkup kearifan di sini tidak terbatas pada norma dan nilai budaya semata, tetapi termasuk pula yang berdampak pada teknologi, penanganan kesehatan/keselamatan, dan estetika. Jadi, selain dalam wujudnya sebagai bahasa pengetahuan, kearifan lokal ini juga terjabarkan dalam pola tindakan dan hasil budaya materialnya. Jabaran pola perilaku itu pun dapat berwujud sebagai kearifan lokal yang tangible maupun intangiblexi.

Jadi, jika kearifan lokal yang terbangun dari warisan budaya dari masa lalu dan tersimpan lestari sebagai pusaka masa kini dan masa depan, harus dibedah kandungannya agar dapat digunakan untuk proses penciptaan hari ini. Edi Sedyawati mencatatkan bahwa bagian yang berupa warisan masa lalu itu merupakan lingkup kajian disiplin ilmu arkeologi, filologi, dan sejarah untuk membangun kesadaran sejarah bangsa. Kajian terhadap peristiwa dan pencapain di masa lalu dapat dilakukan dengan analisis artefak, analisis sumber tertulis, dan analisis lingkungan untuk mendapatkan dasar pemahaman untuk melakukan pemaknaan (interpretasi)xii. Dalam kedudukannya untuk membantu terbentuknya pemahaman tentang makna kearifan lokal untuk membangun kesadaran sejarah untuk membantu proses pembangunan ketahanan terhadap bencana maka kajian arkeologi masuk dalam tradisi kajian terapan. Inilah saat yang tepat bagi dunia arkeologi untuk dapat membangun jembatan hubungan antara arkeologi dengan masyarakat yang selama ini dirasakan belum cukup dirasakan nyata oleh masyarakatxiii.

Bukti Sejarah dan Arkeologis Kejadian Bencana; Sumber Pengetahuan

Dari kajian arkeologi, kita banyak mendapatkan gambaran kejadian di masa lalu yang dapat dijadikan bahan belajar bagi generasi masa kini dan masa depan, termasuk dalam hal kebencanaan. Studi terhadap lingkungan Candi Sewu dan gugusan candi-candi yang ada kaitannya dengannya (Candi Bubrah dan Lumbung di selatan, Candi Asu di timur, Candi Lor di utara, dan Candi Kulon di barat) menunjukkan kesemuanya dibangun di atas tanah yang hampir rata. Namun, keadaannya di sekitar candi sudah banyak berubah, kemungkinan besar akibat rangkaian letusan Gunungapi Merapi yang letaknya cukup dekat, sekitar 25 Km di utara. Sebagian besar sudut timur laut gugusan situs percandian ini tertutup debu vulkanik setinggi hampir 2 meterxiv. Endapan lahar dingin yang tersebar di sebagian besar lereng dan dataran di selatan Gunungapi Merapi terbukti pula telah menenggelamkan beberapa candi di bawah permukaan tanah sekarang. Candi Sambisari saat ini berada ± 8,5 meter di bawah permukaan tanah, Candi Kedulan (± 4 meter), Candi Sewu (± 1,5 meter), Candi Plaosan (± 2,5 meter), dan situs Wonoboyo (± 3 meter). Disinyalir, pada periode Mataram Kuna waktu itu, terjadi kerusakan lingkungan yang amat parah akibat terjangan lahar ini yang menghancurkan tak hanya kompleks percandian, tetapi juga kawasan permukiman dan pertanian. Akibatnya, penduduk mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti di perbukitan tempat kompleks Ratu Boko berdirixv. Akibat rangkaian erupsi terus-menerus selama yang diperkirakan terjadi selama awal abad X Masehi, pusat kerajaan Mataram Kuna pun terpaksa dipindahkan ke Jawa Timur. Dataran subur di wilayah Kedu dan Mataram ditinggalkan akibat bencana, yang oleh masyarakat pada waktu itu dikaitan dengan kepercayaan relegi merekaxvi.

Kegiatan vulkanis Gunungapi Merapi yang cukup hebat pada waktu itu tidak saja mengubur Prambanan dan peninggalan sejarah lain di lereng selatan melalui aliran lahar seperti yang disampaikan oleh Bemmelen (1970). Namun, ragam situs sejarah di lereng barat, seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Lumbung, Candi Asu, dan Candi Pendem di lereng barat juga rusak dan tertimbun material vulkanis Merapi (Verstappen, 1986). Walaupun telah banyak dikritik oleh para ahli melalui penelitian yang lebih mutakhir, catatan Van Bemmelen bahwa letusan besar Merapi di tahun 1006 Masehi telah menjadi penanda peralihan kegiatan Gunungapi Merapi, dari Gunungapi Merapi Tua menjadi Gunungapi Merapi Muda. Bukti bahwa peradaban waktu itu tersingkir dari sekitar Merapi adalah dengan tidak ditemukannya peninggalan sejarah yang berasal dari antara waktu abad X – XV Masehi di sekitar Merapi. Banjir lahar besar dipastikan terjadi usai endapan piroklastik yang tertumpuk di lereng atas Merapi terhanyutkan oleh curah hujan yang tinggixvii.

Pengisahan yang lebih tersurat dapat dibedah dari kajian prasasti dan sumber tertulis. Inskripsi yang tersemat di dinding kompleks Masjid Gede Mataram di Kotagede, Yogyakarta menjadi contoh berharga. Inskripsi yang berhuruf dan berbahasa Arab di masjid ini ada dua buah, terletak mengapit inskripsi yang berhuruf dan berbahasa Jawa Baru. Inskripsi yang berbahasa Arab menyebut angka tahun 1284 H. Inskripsi yang berbahasa Jawa Baru menerakan angka tahun dengan sengkalan berbunyi ngad(w)emken cipta karaning jalma yang berarti angka tahun 1796 Jawa. Kedua penanggalan tahun itu bertepatan dengan tahun 1867 Masehi (Pigeaud, tanpa tahun)xviii. Dari kajian sumber tertulis yang lebih luas, kemudian dapat dipahami bahwa tahun yang tertera itu adalah tahun pemugaran atau pembangunan kembali pintu gerbang masjid. Pemugaran dilakukan dikarenakan kerusakan yang terjadi akibat guncangan gempa bumi pada tahun 1867xix. Hal itu dikuatkan dengan temuan di Masjid Agung Kraton Yogyakarta di Kauman, Yogyakarta yang juga mengabarkan bahwa pada tahun tersebut Yogyakarta pernah dilanda gempa bumi besarxx. Sejumlah bangunan di Yogyakarta pun rusak karenanya. Bangunan gapura Masjid Gede Mataram di Kotagedexxi dapat dipastikan adalah salah satu bangunan yang rusak akibat gempa bumi itu.

Selain prasasti atau inskripsi, kisah yang tersusun sebagai cerita atau uraian dalam serat atau babad atau catatan tertulis lainnya juga dapat dijadikan sumber sejarah yang kuat untuk mengungkapkan data tentang sejarah bencana atau kejadian yang berdampak merusak. Babad Tanah Jawi menuliskan bahwa penduduk Mataram pernah dilanda ketakutan akibat melihat hujan api dan lahar yang mengalir melanda sungai dan permukiman penduduk. Hal itu tercatat pula dalam catatan ekspedisi Belanda (Daghregister 14 September 1672) bahwa kejadian itu disebabkan oleh letusan Gunungapi Merapi pada tanggal 4 Agustus 1672 Masehi. Letusan yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak 3000 orang itu menyebabkan sebaran abu vulkanik yang menghujani daerah Mataram dan sekitarnya. Suasana gelap gulita selama satu hari penuh. Awak kapal Belanda bernama Marken yang sedang berada di Samudera Hindia, tak jauh di selatan Kedu, pun dicatat mengaku dapat mendengar letusan yang maha dahsyat dan tak lama kemudian langit tertutup abu dan pasir tebal yang berjatuhan di atas kapalxxii.

Catatan tentang kejadian bencana alam juga terhimpun melalui beragam media, tak terkecuali media foto ketika masa sudah memasuki peradaban modern. Juru potret Belanda van Kinsbergen membuat seri foto bangunan Candi Sewu tak lama sebelum gempa bumi menguncang di tahun 1867. Dari foto tersebut dapat diketahui bagaimana kondisi bentuk dan konstruksi bangunan candi sebelum gempa, termasuk sungkup candi induk yang ambruk akibat gempaxxiii.

Sejarah konflik juga dapat dijadikan sebagai rekaman dinamika peradaban yang dapat memberikan dampak pada perilaku dan artefak yang dihasilkan dari masa tersebut. Babad Tanah Jawi, Babad Momana, dan Babad ing Sengkala, serta beberapa catatan ekspedisi Belanda dari masa Mataram Islam memberikan informasi tentang dinamika politik dan konfliknya. Gejolak yang ada menyebabkan adanya perpindahan pusat pemerintahan, sejak dari Kotagede (1578 Masehi)xxiv, Plered (1647 Masehi)xxv, hingga kepindahannya ke Kartasura beberapa tahun kemudian akibat pemberontakan Trunojoyoxxvi.

Catatan perjalanan juga menjadi sumber pemerian keadaan pada masa lalu yang dinamikanya memberikan dampak pada perilaku dan artefak budaya yang terwariskan pada masa kini. Sebagai misal, catatan berbahasa Perancis oleh seorang nyonya bernama Ny. Baron U.S. Baud van Braam yang berkunjung ke Pulau Jawa pada tahun 1834 melukiskan keadaan situs Candi Sewu dan Prambanan dengan apik. Selama Perang Jawa berlangsung tak lama sebelumnya (antara Diponegoro dengan Belanda pada tahun 1825 – 1830), gugusan Candi Sewu mengalami perusakan besar-besaran. Banyak batu candi yang digunakan sebagai bahan pembangunan benteng-benteng pertahananxxvii.

Sejarah konflik dan dinamika yang mempengaruhi peradaban seperti di atas, menurut Manuel Castells, dapat dipahami sebagai sejarah dinamika perubahan kawasan, baik kota maupun wilayah dalam menghadapi dinamika lingkungan dari masa ke masa. Ada pemaknaan yang bisa dilakukan berdasarkan sejarah konflik yang terjadi di suatu wilayah. Bentuk-bentuk tata ruang wilayah dan perkotaan beserta fungsi yang berlangsung dari masa lalu produk sejarahxxviii. Oleh karena itu, sejarah bencana dan potensi ancamannya yang sudah tentu memberikan dampak gejolak sosial harus selalu diketahui dan dimaknai.

Pelestarian Pusaka untuk Membangun Kesadaran Pengurangan Risiko Bencana

Menimbang guna penting sejarah dinamika peradaban yang dapat tercermin dari wujud warisan budaya di dalam tata ruang wilayah dan kota, muncullah gerakan untuk melakukan pelestarian terhadap sejarah kawasan kota dan wilayah. Ada beberapa motivasi umum yang muncul sebagai dasar tindakan pelestarian, yang biasa diterapkan pada bangunan dan arah pembangunan kawasanxxix. Motivasi pertama adalah untuk mempertahankan warisan budaya atau warisan sejarah (sebagai pusaka perkotaan dan wilayah). Motivasi kedua adalah untuk menjamin terwujudnya variasi dalam bangunan perkotaan sebagai tuntutan aspek estetis dan keragaman budaya masyarakat. Motivasi ketiga adalah ekonomis, yang menganggap bangunan (atau kawasan pusaka) yang dilestarikan dapat meningkatkan nilainya jika dipelihara. Ada nilai komersial yang dapat digunakan sebagai modal lingkungan. Keempat adalah motivasi simbolis, ketika bangunan-bangunan merupakan manifestasi fisik dari identitas suatu kelompok masyarakat tertentu yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kota.

Pelestarian, seperti yang dijadikan landasan pikir dalam arkeologi, digunakan sebagai cara untuk mempelajari masa lampau. Namun, upaya mempelajari itu tak hanya berhenti pada “mengetahui masa lampau”, tetapi juga harus dapat dihubungkan dengan masa kini dan masa depanxxx. Dinamika kehidupan yang terlestarikan dalam wujud lingkungan hidup dapat dipelajari sebagai artefak (benda), distribusinya dalam ruang geografis, dan durasi waktu. Kawasan pusaka arkeologis yang mengandung tinggalan budaya harus diamankan, dilindungi, dan dilestarikan, selain bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Kawasan pusaka arkeologis, baik di perkotaan maupun di wilayah merupakan sumberdaya budaya yang sangat bermanfaat untuk masyarakat, baik masyarakat ilmiah maupun masyarakat umum.

Oleh karena pusaka, utamanya pusaka arkeologis, adalah tinggalan yang sudah berusia panjang dan diwariskan dari generasi ke generasi maka memiliki potensi pengetahuan yang kaya. Dari tinggalan kebudayaan di masa lampau, saat ini kita bisa mempelajari dinamika kehidupan yang dialami oleh generasi terdahulu; tak terkecuali kaitannya dengan bencana. Pusaka-pusaka arkeologis itu tentunya adalah survivor dari beragam kejadian bencana yang pernah terjadi hingga saat ini. Jadi, dalam wujud pusaka itu pasti akan terekam pengetahuan tentang dampak bencana dan upaya-upaya yang dilakukan oleh generasi terdahulu untuk menanggulanginya. Pengetahuan itu dapat tersimpan sebagai artefak yang bersifat fisik (tangible) maupun sebagai pengetahuan itu sendiri yang terwariskan secara intangible. Hal itu dapat dipelajari baik dari kebudayaan yang telah punah/mati maupun dari kebudayaan yang masih hidup adat tradisinya. Oleh karena itu, hal-hal yang bersifat pusaka tersebut mutlak harus dapat dilindungi dan dilestarikan agar dapat dijadikan bahan pelajaran. Sifatnya yang kompehensif menyebabkan strategi pelestarian yang dilakukan juga harus menyeluruh, meliputi aspek budaya tangible dan intangible dalam satu kesatuan ruang dan waktu.

Wujud pusaka yang dapat digali tidak terbatas pada benda-benda yang bersifat arkeologis. Namun, lebih luas, pusaka dapat meliputi hasil kebudayaan masa lampau maupun hasil kebudayaan kontemporer yang istimewa. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menerakan bahwa pusaka budaya meliputi situs pusaka budaya, kota bersejarah, saujana budaya, situs alam sakral, museum, pusaka budaya bergerak, kerajinan, dokumentasi pusaka secara digital, pusaka sinematografi, tradisi oral, bahasa, festival, religi dan kepercayaan, musik dan lagu, seni pertunjukan, obat tradisional, literatur, kuliner tradisional, dan olahraga tradisional. Sebagian dari pusaka tersebut adalah pusaka tak benda (intangible)xxxi. Pusaka-pusaka tersebut dapat pula diklasifikasikan sebagai adipusaka dan pusaka rakyat. Adipusaka contohnya adalah monumen raja, candi, dan istana. Pusaka rakyat misalnya rumah tradisional, kesenian rakyat, kerajinan, makanan tradisional, dan pengetahuan lokal.

Kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya di Jawa Tengah selatan memiliki potensi pusaka budaya dan alam yang kaya. Pusaka-pusaka tersebut sudah ada sejak zaman prasejarah hingga masa kini sebagai pusaka kontemporer. Ada potensi ancaman bencana yang cukup besar terhadap pusaka-pusaka itu. Sebagian besar pusaka yang ada dan masih terlindungi telah mengalami terpaan bencana beberapa kali, termasuk dua bencana besar terakhir, yakni gempabumi 2006 dan erupsi Gunungapi Merapi pada tahun 2010 – 2011. Dalam peristiwa tersebut, masyarakat pada masanya kemudian melakukan antisipasi atau penyesuaian terhadap pusaka-pusaka tersebut pada masanya. Tanda-tanda tindakan yang dilakukan oleh masyarakat pada setiap masa dalam menghadapi bencana dapat tertampakkan dan terbaca dari beberapa hal, mulai dari bentuk fisik bangunan yang berubah akibat bencana, atau penyesuaian yang dilakukan, atau pengetahuan-pengetahuan yang diciptakan. Selain itu, tanda-tanda juga dapat muncul dari bentukan alamiah yang masih tampak hingga kini. Tanda-tanda tersebut dapat dipelajari sebagai langkah untuk membangun pemahaman masyarakat saat ini terhadap ancaman bencana di lingkungannya. Selain itu, tanda-tanda tersebut dapat digunakan sebagai bahan belajar untuk tahu tentang strategi masyarakat dari generasi-generasi di masa lalu dalam menghadapi ancaman bencana. Pelajaran ini dapat diambil, baik dari adipusaka maupun pusaka rakyat. Jadi, masyarakat saat ini dapat menggali pengetahuan lokal dari pusaka yang ada di sekitarnya, termasuk untuk belajar tentang upaya-upaya penanggulangan bencana.

Melihat potensi pusaka (heritage) Nusantara yang sangat beragam tersebar di seluruh pelosok ini maka memang akan sangat sayang jika pusaka kemudian hanya bisa berhenti sebagai pengetahuan. Pelajaran tentang sejarah bencana yang dikandung dari jejak peradaban ini harus bisa diterjemahkan untuk mengenali potensi bencana di sekitar lingkungan sendiri. Hal ini bisa dijadikan momentum untuk membangun rasa sosial dan kepekaan antar warga. Bencana justru bisa menjadi pemicu bagi bangkitnya kehidupan baru yang lebih baik.

Dampak yang kemudian dapat muncul dari praktik ini adalah munculnya apresiasi dari masyarakat tentang guna dan nilai pusaka. Teori dan konsep pembangunan dan pertumbuhan selalu mengedepankan perubahan fungsi ruang untuk eksploitasi sumber daya yang mengabaikan pelestarian. Oleh karenanya, pusaka selalu terancam keberadaannya karena sering dipandang tidak cukup bernilai komersialxxxii. Upaya pelestarian potensi pusaka yang merupakan warisan budaya dan alam yang harus dijaga untuk dipelajari menjadi sering terpinggirkan. Pusaka sebagai sumber pengetahuan kebencanaan, semakin lama menghadapi tantangan agar dirinya dapat lestari. Kehilangan pusaka yang bernilai pengetahuan sangat berharga itu sering kali tidak dianggap sebagai sebuah kehilangan besar. Tantangan dan ancaman kelestarian pusaka itu muncul baik dari pengaruh kejadian alam, termasuk bencana, maupun akibat pengaruh dinamika kebudayaan manusia Indonesia dan duniaxxxiii. Mutlak perlu ada strategi utuh untuk mengelola kelestarian jejak peradaban ini sebagai sebuah kebutuhan bersama.

Pusaka dalam perkembangannya kini memang mulai masuk dalam konsep perencanaan kota dan wilayah. Namun, hal itu lebih dikarenakan pusaka dianggap memiliki potensi ekonomi. Selain itu, perlindungan dan pelestarian pusaka dianggap pula dapat mendorong perbaikan daerah di sekitarnya dan meningkatkan kualitas lingkungan. Namun, ternyata, pada sisi yang lain, masyarakat dapat diajak untuk mulai memberikan penghargaan terhadap pusaka karena kandungan pengetahuan yang dimilikinya tentang sejarah bencana dan penanggulangannya di masa lalu hingga kini. Potensi yang sangat bernilai itu tentu saja akan menempatkan pusaka sebagai satu hal yang lebih bernilai bagi masyarakat setempat. Oleh karenanya, secara otomatis diharapkan akan muncul inisiatif setempat untuk melindungi dan melestarikan pusaka-pusaka budaya dan alam yang ada di sekitarnya. Sebagai suatu efek timbal balik, dua arah, pendidikan kebencanaan dari pusaka dapat memunculkan upaya pelestarian pusaka sebagai dampak. Dalam hal ini, kemudian, pendidikan pusaka dapat dibangun sebagai metode untuk membangun pengetahuan masyarakat tentang sejarah bencana dan sejarah penanggulangan bencana sebagai modal pengurangan risiko bencana di masa depan.

Elanto Wijoyono
di Yogyakarta

 

i Humas UGM. 2006. Analisis Konteks, Proses dan Ranah Dalam Konstruksi Bencana. Website Universitas Gadjah Mada. Rubrik Rilis. Diakses pada tanggal 3 Maret 2016. http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=530
ii Letusan ini mengakibatkan satu musim tanam dan satu musim panas tidak terjadi di Eropa sebagai dampak sebaran abu vulkanis dari letusan Tambora.
iii Humas UGM, loc.cit.
iv CRCS UGM Yogyakarta. 2010. Studi Bencana di Indonesia; Sebuah Pengantar – Indonesia; Negeri Rentan Bencana. Website Religion & Disaster – Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada. Rubrik Bibliography. Diakses pada tanggal 3 Maret 2016. http://crcs.ugm.ac.id//disaster/bibliography
v Sari Bahagiarti K.. 2010. Erupsi Merapi dan Kearifan Lokal. Kompas.Com. Rubrik Entertainment. Edisi 30 Oktober 2010. Diakses pada tanggal 3 Maret 2016. http://entertainment.kompas.com/read/2010/10/30/0440394/Erupsi.Merapi.dan.Kearifan.Lokal
vi Kali Putih dianggap tak berbahaya karena tidak masuk dalam rekam jejak erupsi Merapi tahun 1768 – 1969. Rupanya aliran sungai ini disebutkan telah dibelokkan oleh Belanda pada abad 19 untuk memudahkan pembuatan jalan raya. Aliran saat ini melaju deras melalui jalur aslinya yang telah dipadati permukiman penduduk. Geolog Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta mengungkapkan bahwa nama Kali Putih mungkin digunakan untuk merujuk warna pasir atau abu Merapi yang seolah putih telah mengering. Namun, pengetahuan tentang toponim itu tak lagi diingat warga.WKM/PRA/EGI/GAL. 2011. Kali Putih, dari Sana Semuanya Bermula. Kompas.Com. Rubrik Regional. Edisi 29 Januari 2011. Diakses pada tanggal 3 Maret 2016. http://regional.kompas.com/read/2011/01/29/04325245/Kali.Putih.dari.Sana.Semuanya.Bermula
vii Hariadi Saptono. 2010. Memperkuat “Jembatan” Maridjan – Surono. Kompas.Com. Rubrik Nasional. Edisi 20 Desember 2010. Diakses pada tanggal 3 Maret 2016. http://nasional.kompas.com/read/2010/12/20/13101523/Memperkuat.Jembatan.MaridjanSurono
viiiKetiganya terjadi di tahun 2010.
ixJuru Kunci Merapi yang ditugaskan oleh Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tugas ini diemban secara turun-temurun oleh keluarga Mas Penewu Suraksohargo atau yang akrab disapa Mbah Maridjan.
xHariadi Saptono, loc.cit.
xiEdi Sedyawati. 2006. Budaya Indonesia; Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Halaman: 379 – 382.
xiiIbid.. Halaman: 384 – 385.
xiiiNurhadi Rangkuti. 1996. Arkeologi Terapan dan Masa Depannya di Indonesia. Dalam Pertemuan Arkeologi VII. Jilid 2. Jakarta: Proyek Penelitian Arkeologi Jakarta 1997 – 1998. Halaman: 53.
xivJacques Dumarcay. 2007. Candi Sewu dan Arsitektur Bangunan Agama Buddha di Jawa Tengah. Seri Terjemahan Arkeologi No. 8. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Halaman: 19.
xvKusen. 1995. Kompleks Ratu Boko; Latar Belakang Pemilihan Tempat Pembangunannya. Berkala Arkeologi Edisi Khusus – 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 131.
xviBoechari. 1998. Some Consideration of the Problems of the Shift of Mataram’s Center of Government from Central to East Java in the 10th Century A.D.. Bulletin of the National Research Centre of Archaeology of Indonesia No. 10. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional 1997 – 1998. Halaman: 15 – 16.
xviiBaskoro D. Tjahjono dan Widiyanto. 1994. Lwah Inalih Haken, Arti Kiasan atau Arti Sebenarnya? Berkala Arkeologi Edisi Khusus – 1994. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 48 – 49.
xviiiMuhammad Chawari. 1994. Masjid Agung Kotagede; Kajian Awal terhadap Inskripsi yang Ada. Berkala Arkeologi Edisi Khusus – 1994. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 31 – 32.
xixH.J. Van Mook. 1972. Kuta Gede. Jakarta: Bhratara. Halaman 14.
xxMuhammad Chawari.op.cit. Halaman: 32.
xxiMasjid ini juga pernah terbakar pada tahun 1919 Masehi dan selesai diperbaiki pada tahun 1923 Masehi. Hal itu dapat diketahui dari prasasti pendek yang terukir indah di bagian kuncung serambi masjid.Inajati Adrisijanti. 2000. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Yogyakarta: Jendela. Halaman: 55.
xxiiT.M. Hari Lelono. 2005. Tradisi Ruwat Gunung Merapi pada Masa Jawa Kuna dan Perkembangannya sebagai Kearifan Lokal. Jurnal Penelitian Arkeologi No. 5 Tahun 2005; Bunga Rampai Religi dari Masa ke Masa. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 86.
xxiiiJacques Dumarcay. op.cit.. Halaman: 16.
xxivInajati Adrisijanti, op.cit.. Halaman: 40.
xxvIbid.. Halaman: 62
xxviMuhammad Chawari, op.cit… Halaman: 31.
xxviiJacques Dumarcay. op.cit.. Halaman: 15.
xxviiiCastells, Mauel. 1983. The City and The Grassroots. Berkeley and Los Angeles: University of California Press. Halaman: 331.
xxixSidharta dan Eko Budihardjo. 1989. Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman: 13.
xxxHaryono, Timbul. 1995. Arkeologi Kawasan dan Kawasan Arkeologis; Asas Keseimbangan dalam Pemanfaatan. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 139.
xxxiAdishakti, Laretna T.. 2006. Revitalisasi Kawasan Pusaka Kotagede Pasca-Bencana; Peran Masyarakat dalam Proses Rekonstruksi Berkelanjutan. Artikel disampaikan dalam Lokakarya Penanganan Kawasan Pusaka Pasca-Bencana; Penguatan Masyarakat dalam Proses Rekonstruksi pada tanggal 17 – 19 Agustus 2006 di Yogyakarta, Indonesia. Halaman: 1 – 2.
xxxiiLihat, Wayne Wayne. 2001. Perlindungan Benda Bersejarah. Dalam Anthony J. Catanese dan James C. Snyder (ed.). Perencanaan Kota. Edisi Ke – 2. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman: 413 – 438.
xxxiiiUlasan tentang dampak pembangunan yang berisiko terhadap kelestarian pusaka akan saya tulis dalam catatan berikutnya. Lihat juga, Elanto Wijoyono. 2015. Arkeologi untuk Masa Depan yang Bermartabat. Diakses pada 4 Maret 2016. https://elantowow.wordpress.com/2014/09/25/arkeologi-untuk-masa-depan-yang-bermartabat/

One thought on “Pelestarian Jejak Bencana sebagai Pusaka Peradaban

  1. Pingback: Sejarah Pelestarian dan Masa Depan Peradaban; Pelajaran untuk Bebas dari Pembangunan | Elanto Wijoyono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s