Malioboro dan Kisah Pagar Setengah Milyar

Wujud Implementasi Konsep Kawasan Pejalan Kaki yang Tak Utuh

Screenshot from 2016-01-06 11:28:05

Basi dan bosan rasanya membahas Malioboro. Namun, beragam masalah unik yang muncul di sana seolah tidak ada habisnya. Padahal, beragam penelitian dan proyek penataan telah dilakukan sejak dua-tiga dasawarsa terakhir. Desain Malioboro selalu berubah dari tahun ke tahun. Bahkan, setelah sayembara besar tentang desain Malioboro diadakan pun, penataan kawasan yang bersifat reaktif pun masih muncul. Pagar setengah milyar adalah kebijakan termutakhir yang mengundang banyak pertanyaan publik.

Deretan pagar portabel dari besi bercat orange membatasi jalur lambat/pedestrian dengan jalur kendaraan bermotor. Pagar setinggi 1,5 meter itu berjajar sepanjang Melioboro sejak akhir Desember 2015 lalu. Kepada media, Kepala UPT Malioboro Syarif Teguh mengatakan bahwa kebijakan memasang pagar ini adalah untuk mendukung konsep pedestrian Malioboro yang kini sedang berjalan. Pagar portabel ini bertujuan untuk mengarahkan pengunjung Malioboro untuk menyeberang di zebra cross.

Pernyataan di atas diiyakan oleh Kasat Lantas Polresta Yogyakarta Kompol Sugiyanta kepada media. Ia menilai pemasangan pagar di sepanjang jalan Malioboro dapat mengurangi potensi kemacetan di kawasan wisata itu. Selama ini banyak penjalan kaki yang berjalan di badan jalan atau menyeberang sembarangan, sehingga membuat arus lalu lintas tersendat.

Maliboro yang Selalu Berubah Diubah

Ruang di Malioboro sangat menarik bagi banyak orang, tidak hanya pengunjung, tetapi juga mereka yang mencoba mengais pendapatan di ruang publik, seperti pedagang kaki lima dan tukang parkir. Tahun 2002 – 2003, Pemerintah Kota Yogyakarta mendapatkan kritik keras dari banyak pihak ketika memutuskan membuat pot-pot raksasa di trotoar Nol KM. Pemkot berusaha merelokasi para PKL yang ada di depan Benteng Vredeburg dan Gedung Agung secara “paksa” dengan upaya tamanisasi masif yang dilakukannya. Namun, hal itu dilakukan tanpa komunikasi yang terbuka dengan publik dalam perencanaan dan penerapannya. Tamanisasi masif itu memang mampu mengusir keberadaan PKL yang sebagian berhasil direlokasi ke beberapa titik. Namun, langkah itu berdampak mengurangi ruang  ekspresi dan aksesibilitas pejalan kaki di ruang publik.

Screenshot from 2016-01-06 11:13:16

Desain tambal sulam kemudian ditambahkan pada pertengahan tahun 2012, ketika Pemerintah Kota Yogyakarta memasang deretan patok “peluru” di pinggir trotoar. Patok ini ditujukan agar kendaraan roda dua tidak bisa naik ke trotoar di Kawasan Nol Kilometer yang digunakan sebagai ruang publik. Namun, disadari atau tidak, keberadaan patok ini justru turut mempersulit akses pengguna ruang publik lainnya, yakni kelompok rentan penyandang disabilitas.

Publik Yogyakarta juga masih ingat bahwa sebelumnya di Malioboro terdapat taman kecil yang berderet membatasi jalur kendaraan bermotor dan jalur lambat/pedestrian. Pada tahun 2013, taman pembatas ini dibongkar dengan alasan untuk memperluas fleksibilitas akses pejalan kaki. Sempat ditanami rumput setelahnya, tapi kemudian habis rusak terinjak-injak oleh pengunjung Malioboro. Padahal, penanaman rumput dan pengadaan tanaman dari Taman Parkir Abu Bakar Ali hingga Nol KM Yogyakarta menghabiskan anggaran Rp 60 juta yang direncanakan untuk satu tahun.

Ketika masih ada taman pembatas jalan di Malioboro, banyak titik zebra cross yang tidak terhubung karena terbentur dinding taman dan menyulitkan pejalan kaki. Namun, lucunya, pemerintah kota lebih memilih membongkar taman, daripada menggeser titik-titik zebra cross ke ruang sela antar taman agar lebih aksesibel. Taman itu sendiri sebenarnya juga mampu mengarahkan pejalan kaki agar tidak menyeberang sembarangan. Setelah taman dibongkar, kini justru dipagari kembali.

Pagar portabel yang kini dipasang di Malioboro dilakukan dalam skema belanja modal pengadaan kontruksi/pembelian pagar. Nilai pagu paket proyek ini mencapai Rp 625.000.000,00 dengan sumber dana dari APBD Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Anggaran 2015. CV Hexa Karya yang beralamat di wilayah Gedongkuning, Yogyakarta memenangkan lelang tender proyek ini dengan harga penawaran sebesar Rp 544.500.000,00. Bukan nilai yang sedikit untuk sebuah desain yang belum jelas rencana penggunaannya, apakah akan dipasang seterusnya atau tidak.

Langkah Visioner atau Aksi Reaktif

Walaupun pagar ini portabel, tetapi UPT Malioboro menyatakan bahwa pagar ini akan dipasang seterusnya. Jadi, tampak bahwa pemerintah kota/UPT Malioboro tidak siap dengan konsep ruang publik bagi pejalan kaki. Seharusnya, pagar dan pemagaran adalah pilihan terakhir. Ada banyak cara utk mendidik warga pejalan kaki untuk menyeberang jalan. Alih-alih menguatkan konsep kawasan pejalan kaki, pemagaran ini justru lagi-lagi menjadi cermin prioritas pada kendaraan bermotor agar tidak terganggu lajunya. Pada beberapa titik, pagar ini justru menghalangi akses pejalan kaki dan kelompok rentan melalui trotoar, seperti di depan Gedung Agung. Konsep dan praktik yang tidak konsisten.

IMG_6877.JPG

Pagar portabel menutupi akses trotoar di depan Gedung Agung, Yogyakarta

IMG_6876.JPG
Publik bisa jadi mendapatkan manfaat dari setiap desain yang diterapkan, terutama yang ada di ruang publik. Namun, publik belum tentu bisa memperoleh urgensi dari setiap desain yang diwujudkan. Dan desain apapun dalam konteks ruang publik akan selalu berhubungan dengan anggaran publik. Tidak ada desain yang “gratis”. Urgensi ini yang kemudian akan menjadi ukuran apakah kebijakan yang diambil merupakan upaya serius untuk hal yang serius atau tidak sama sekali. Tentu saja, penggunaan anggaran publik ini harus dievaluasi secara terbuka mengingat ketiadaan urgensi yang mendasarinya.

Secara prinsip, upaya pemagaran ini merupakan respon reaktif pemerintah kota dalam menghadapi lonjakan kunjungan di Malioboro yang sudah rutin dari tahun ke tahun. Dengan pengaturan yang tegas dan ketat, tanpa pengadaan pagar, rekayasa lalu lintas bisa dilakukan. Mimpi ribuan desain untuk menjadikan Malioboro kawasan pejalan kaki justru tereduksi dengan keberadaan pagar ini, yang tidak memperluas ruang gerak pejalan kaki, melainkan membatasinya demi kelancaran arus lalu lintas kendaraan bermotor. Padahal, musim liburan justru bisa jadi momentum untuk menegaskan penerapan konsep kawasan pejalan kaki di Malioboro. Kebebasan pergerakan pejalan kaki adalah keniscayaan di ruang publik yang memang diarahkan sebagai kawasan pejalan kaki. Namun, sepertinya pemerintah kota masih setengah-setengah untuk mengeksekusi konsep yang sudah puluhan tahun dibahas itu.

Elanto Wijoyono
di Yogyakarta

Bahan Bacaan

Akbar, Jihad. 2015. Pagar Portabel untuk Cegah Pejalan Kaki di Malioboro Menyeberang Sembarangan. Tribun Jogja. http://jogja.tribunnews.com/2015/12/26/pagar-portabel-untuk-cegah-pejalan-kaki-di-malioboro-menyeberang-sembarangan?page=1

Dewi, Rina Eviana. 2012. Patok Peluru Dipasang di titik Nol Kilometer. Tribun Jogja. http://jogja.tribunnews.com/2012/07/16/patok-peluru-dipasang-di-titik-nol-kilometer

E013. 2013. Taman Pembatas Jalan Malioboro Dimintas Segera Dibongkar. AntaraNews.Com. http://www.antarayogya.com/print/305309/taman-pembatas-jalan-malioboro-diminta-segera-dibongkar

Indra, Hasti Hiriati. 2008. Public Open Space Utilization: How People Receive it in Yogyakarta, Thesis submitted to the International Institute for Geo-information Science and Earth Observation in partial fulfilment of the requirements for the degree of Master of Science in Geo-information Science and Eart Observation, Enschede, The Netherlands.

Kompas. 2009. Penataan Malioboro Tidak Inovatif. Kompas.com. http://properti.kompas.com/read/2009/09/09/19031443/Penataan.Malioboro.Tidak.Inovatif

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. 2015. Belanja Modal Pengadaan Konstruksi/Pembelian Pagar, Pengadaan Pagar Barikade Kawasan Malioboro. Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Daerah Istimewa Yogyakarta. http://lpse.jogjaprov.go.id/eproc/lelang/view/4094013

Mikale. 2014. Ujicoba Pedestrian Maliooro dapat Sambutan Positif Warga. Portal Pemerintah Kota Yogyakarta, Situs Resmi Pemerintah Kota Yogyakarta. http://www.jogjakota.go.id/news/UJICOBA-PEDESTRIAN-MALIOBORO-DAPAT-SAMBUTAN-POSITIF-WARGA

Sigit, Agus. 2013. Terinjak-Injak Wisatawan, Rumput Malioboro Mati. Kedaulatan Rakyat. http://krjogja.com/read/178371/terinjak-injak-wisatawan-rumput-malioboro-mati.kr

Suyuti, Haryadi. 2012. Rekayasa Malioboro yang Ramah bagi Pejalan Kaki. Blog Walikota Jogja; Haryadi Suyuti. http://walikota.jogjakota.go.id/?mod=berita&sub=berita&do=show&id=21

Wicaksono, Pribadi. 2012. Malioboro Didorong jadi Kawasan Ramah Pejalan Kaki. Tempo.co. http://travel.tempo.co/read/news/2012/11/07/199440234/malioboro-didorong-jadi-kawasan-ramah-pejalan-kaki

Wijoyono, Elanto. 2007. Ketika Ruang Publik Menyentuk Kawasan Pusaka. https://elantowow.wordpress.com/2007/04/11/ketika-ruang-publik-menyentuh-kawasan-pusaka/

Wijoyono, Elanto. 2007. Menerka Wajah Baru Kota Budaya; Memutus Badai Konflik yang Tak Kunjung Usai. https://elantowow.wordpress.com/2007/08/03/menerka-wajah-baru-kota/

Wijoyono, Elanto. 2009. Aparatlah yang Harus Dididik! Langkah Taktis Mengatasi Carut-Marut Pengelolaan Pusaka. https://elantowow.wordpress.com/2009/01/05/aparatlah-yang-harus-dididik/

Wijoyono, Elanto. 2014. Kota, Ruang Publik, dan Ruang Khalayak. https://elantowow.wordpress.com/2014/08/31/kota-ruang-publik-dan-ruang-khalayak/

2 thoughts on “Malioboro dan Kisah Pagar Setengah Milyar

  1. Pingback: Keberadaan pagar portabel di Malioboro menuai pro-kontra | TrendingAsia

  2. putriajirahayu

    Benar sekali mas, apalagi sekarang pagarnya sudah dicopot lagi.
    Menurut saya penataan Malioboro masih setengah-setengah untuk diimplementasikan. Dari segi perencanaan sudah cukup matang mengingat sudah pernah dilakukan sayembara penataan bahkan pemenangnya sudah melakukan sosialisasi dengan menggelar pameran desain yang terbuka untuk publik. Namun memang sulit untuk mengkondisikan banyak aktor di Malioboronya itu sendiri mas.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s