Bukan ini Ruang Publik yang Yogyakarta Butuhkan

Ajang hura-hura di jalan raya, ruang publik semu tanpa guna

IMG_8332

Hampir tiap hari Minggu, beberapa ruas jalan di Kota Yogyakarta ditutup dan riuh rendah dengan warga yang berkumpul. Ada warga yang berolah raga, ada juga yang menampilkan karya seni. Namun, hal itu tidak terbangun secara organis, melainkan dikemas dalam sebuah event berkonsep “Car Free Day“. Balutan sponsor menjadi bagian wajib dalam setiap penyelenggaraannya. Gelimang hadiah disebar ke banyak peserta pada acara di tengah jalan raya. Namun, ketika hari Minggu berlalu, hilang pula ruang berkumpul itu. Warga harus kembali menghadapi fakta carut-marutnya ruang kota, jalan yang berjejal kendaraan bermotor dan trotoar yang tak berguna.

Ruang publik itu bukan sekedar menutup jalan raya agar warga memiliki ruang berkegiatan. Yogyakarta bertahun-tahun mendapatkan banyak kritik karena dianggap tidak memiliki ruang publik bagi warganya. Ketika Pemerintah Kota Yogyakarta menggagas ruang publik semu bertajuk “Jogja Toegoe Festival” di Jl. Margo Utama (dulu Jl. Mangkubumi) dan “Jogja Creative” di Jl. Sudirman, hal itu dianggap sebuah capaian prestasi. Hura-hura tiap pekan yang sarat simbol iklan komersial itu dinilai telah berhasil merevitalisasi ruang publik yang selama ini diidamkan. Padahal, ketika ajang berlalu, warga akan mendapati kembali bahwa mereka tak punya ruang publik yang sebenarnya.

Yogyakarta, seperti banyak kota lain di Indonesia, tumbuh dari kota tradisional yang secara sosial budaya tak mengenal “ruang publik” seperti dalam konsepsi kota modern di dunia barat. Namun, ketika kota-kota di Indonesia sudah mulai dikelola dengan manajemen berbasis negara, “ruang publik” modern pun masuk dalam ranah tata kota. Warga kota yang sejatinya adalah warga dari himpunan kampung-kampung ini harus mulai mengenal ruang (terbuka) kota yang diberi status ruang publik. Warga mulai diarahkan menjadi komunitas urban yang kemudian membutuhkan ruang publik yang merupakan ruang bersama pada tingkat komunitas kota.

Ruang publik termasuk sebagai benda “konsumsi” kolektif. Artinya, masyarakat harus berbagi dalam pemanfaatannya. Ruang itu pun harus memenuhi kriteria fungsional, aksesial, aman, nyaman, dan efektif. Namun, penerjemahannya tak lantas hanya sekedar dengan menutup jalan raya secara berkala, apalagi dibumbui dengan balutan event komersial. Ruang publik (public space) yang diharapkan muncul dari model event-event Car Free Day komersial itu dipastikan tidak akan bisa menjadi ruang bersama (common space). Pada ruang bersama, ekspresi budaya dan kearifan setempat mengalir lebih lancar dan bebas tanpa ada batas. Sementara, ajang hura-hura di jalan raya itu mensyaratkan atas konsumsi produk tertentu, sehingga tidak semua orang bisa menjangkaunya.

Yogyakarta membuktikan bagaimana ketika negara terlalu banyak mengambil alih peran komunitas yang diharapkan bisa menghidupkan ruang publik, dengan cara yang salah. Mungkin sebagian warga akan senang, tetapi sebagian yang lain tidak akan merasa memiliki ruang-ruang publik semu yang diciptakan oleh negara tersebut. Namun, mungkin pamong praja di kota ini tak akan peduli karena filosofi tata kelola pemerintahan kota yang dianut adalah menempatkan pemerintah sebagai sektor bisnis dan masyarakat sebagai pelanggan atau konsumen.

(Ruang publik) Yogyakarta pun sudah terjual!

(Elanto Wijoyono)

2 thoughts on “Bukan ini Ruang Publik yang Yogyakarta Butuhkan

  1. AstriSD

    Sebenarnya akan jadi satu perdebatan panjang mengenai kegiatan semacam “hari bebas kendaraan” ini. Apalagi dikaitkan dengan pihak-pihak yang merasa diuntungkan dan pihak yang tidak sadar tengah dirugikan. Baiknya saya pelajari terlebih dahulu. Jujur saya tertarik dengan ruang publik yang semestinya didapatkan lapisan masyarakat baik vertikal maupun horizontal, mengingat Ibu Kota Negara memiliki konsep kegiatan serupa yang juga digelar setiap minggunya. Terima kasih sudah diingatkan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s