Mak Benduduk a la Flash Mob, untuk Apa?

Mencari Media Alternatif Penyalur Ekspresi dan Aspirasi Warga di Ruang Kota (1)

Tahun lalu, bersama teman-teman pegiat gerakan urban dan heritage di Yogya, saat ngobrol persiapan acara di Museum Sonobudoyo, kami sempat ngobrol tentang Flash Mob. Aksi ini tentu saja sangat asyik dan potensial untuk digunakan sebagai media menarik perhatian publik. Tentu menarik jika bisa menggelar satu aksi flash mob di ruang kota. Namun, flash mob seperti apa? Apakah flash mob itu hanya cukup menarik, atau bahkan juga bisa menjadi bagian dari gerakan mendorong perubahan?

Mungkin memang saat ini ada banyak pemahaman dan pemaknaan tentang flash mob. Tentu saja hal ini bukan ilmu pasti. Namun, sejauh yang aku pahami, flash mob adalah satu aksi yang berbeda dengan kegiatan (sekedar) menari bersama di ruang publik. Ada beberapa hal yang menjadikan flash mob lebih istimewa. Aksi ini memuat banyak perbedaan dari pada sekedar menari poco-poco massal atau senam pagi bersama yang sudah ada jauh sebelum flash mob sendiri lahir.

Sebagian orang mengetahui flash mob dari keriuhan di media jejaring sosial. Namun, sebagian lagi mengetahui flash mob lebih jauh dari sejumlah karya film yang mengangkat tema berselimut flash mob. Seperti halnya popularitas parkour yang terbantu juga oleh karya film Perancis “Yamakasi” (http://www.youtube.com/watch?v=mu4mm63EcFs) di tahun 2001. Flash mob juga lumayan terbantu popularitasnya oleh karya film Hollywood, sekuel “Step Up”. Walaupun sudah lahir sejak tahun 2003, Flash mob makin naik daun ketika muncul trend budaya populer seperti LMFAO dengan “Party Rock Anthem”-nya yang dengan cepat tergusur oleh Psy dengan “Gangnam Style”-nya. Beberapa tahun terakhir, ruang publik kota memang semakin riuh dengan aksi-aksi publik. Flash mob bisa menjadi salah satu warna yang bisa beri dampak positif yang tak sekedar hura-hura.

Saya sendiri cukup terkesima dengan pesan yang dibawa dalam film “Step Up Revolution” yang menggambarkan dinamika kelompok pegiat flash mob di Miami, Florida. Flash mob mereka adalah kegiatan ilegal karena diperagakan di ruang-ruang kota, yang walaupun itu publik, tetapi dapat dianggap mengganggu. Menariknya, media ini kemudian justru bisa digunakan oleh para pegiatnya (sebagai sosok tokoh dalam kisah film tentunya) untuk mendukung perjuangan mereka mempertahankan kawasan pusaka kota yang terancam digusur untuk dibangun superblok mewah. Unsur penting dalam flash mob seperti sengaja dimunculkan bak panduan, yakni aksi (tari) yang tak biasa, cepat/singkat, dan kemudian segera menghilang. Flash mob dalam kisah itu diperagakan di ruang-ruang yang dipilih dengan observasi dan disertai dengan pemilihan waktu (timing) yang tepat. Ada satu adegan flash mob diperagakan sebagai kritik sosial di hadapan para petinggi kota dan investor saat mereka akan melakukan pertemuan. Tiba-tiba muncul, lakukan aksi (tari) yang menarik dan tak biasa, dan kemudian pergi menghilang tanpa jejak. Flash mob juga ditampilkan di ruang kota yang hendak digusur untuk menunjukkan bahwa ruang itu layak untuk tetap hidup.

Aksi flash mob di dunia nyata digerakkan oleh banyak orang dengan banyak cara. Namun, jasa teknologi informasi tetap besar dalam proses pengorganisasian persiapan sebuah flash mob. Namun, walaupun diorganisasikan melalui media jejaring sosial, flash mob tetap akan muncul sebagai sebuah kejutan di ruang publik. Orang yang kemudian terlibat melakukan aksi (tari) ini pun tak terbatas pada pelaku, tetapi juga publik. Pelaku flash mob akan berperan sebagai “provokator” yang bisa muncul dan bergerak dari segala arah yang memungkinkan publik mau dan berani mengikuti aksi itu bersama.

Salah satu flash mob yang cukup indah dan guyub yang kemudian populer di YouTube adalah aksi di Stasiun Antwerp, Belgia (http://www.youtube.com/watch?v=7EYAUazLI9k). Dalam situasi stasiun kereta yang sibuk, tiba-tiba ada suara musik yang bergema melalui sistem audio stasiun yang disusul dengan beberapa orang mulai menari. Lagu dan musik diambil dari OST film “Sound of Music” yang tentu saja sangat akrab di telinga siapa saja, apalagi di Eropa. Dampaknya, mudah bagi “provokator” flash mob untuk menggerakkan orang-orang di hall stasiun itu untuk ikut menari bersama.

Flash mob bertipe eksperimental dilakukan di New York, Amerika Serikat.. Ada proses pengorganisasian yang cukup masif melalui media jejaring sosial yang memberikan instruksi kepada siapa saja yang akan gabung untuk berkumpul di satu tempat sesuai arahan. Ada materi yg harus mereka unduh dan ada arahan yang harus mereka ikuti. Publik bisa memilih akan gabung sebagai kelompok berbaju putih atau kelompok berbaju hitam. Banyak orang, tak saling kenal, tiba-tiba berkumpul di satu area, dan semua pada waktu yang sama mendengarkan instruksi yang disebarluaskan melalui perangkat mobile yang didengarkan dengan earphone. Hasilnya menarik, tanpa suara (bagi yang tak mengakses gadget di frekuensi/saluran yg sama), tetapi ribuan orang bisa melakukan gerakan yang sama, dan kemudian bertemu di satu titiik.

Indonesia, sejauh yang terekam di YouTube, memiliki pengalaman menggelar flash mob yang cukup melibatkan banyak orang. Kebetulan, semua itu terjadi di Jakarta. Flash mob pertama adalah aksi tari Gangnam Style di Bundaran Hotel Indonesia pada saat Car Free Day di satu hari minggu (http://www.youtube.com/watch?v=3nk01iQPL1s). Inisiator flash mob rela mendorong gerobag sistem audio dangdut jalanan untuk bisa memperdengarkan musik yang bisa didengar di ruang terbuka Bundaran HI Jakarta. Flash mob berikutnya yang cukup heboh adalah pada saat kampanye PilGub DKI Jakarta yang diprovokasi oleh tim relawan kampanye pemenangan Jokowi – Basuki. Mereka usung tajuk flash mob Kotak-Kotak Jokowi Basuki. Hasilnya sangat memberikan semangat bagi siapapun yang menontonnya.

Memang dalam dunia nyata, flash mob diperagakan tidak harus ditujukan untuk mengusung pesan atau kritik tertentu. Ada banyak modus yang bisa disematkan kepada media seni yang satu ini. Namun, kembali pada semangat awal lahirnya flash mob, yakni nilai “perlawanan” terhadap kemapanan dengan “mengambil alih” ruang komersial atau ruang publik walaupun hanya sekejap. Namun, tujuannya untuk menunjukkan bahwa mereka itu ada.

Jika kita akan menggagas satu rencana aksi dengan media flash mob, maka akan sangat baik jika bisa belajar dari praktik-praktik yang banyak tersebar dan viral di internet. Ada beberapa momentum yang baik dan menarik untuk direspon, seperti HUT RI 17 Agustus, atau jika ada peristiwa di kota yang mungkin harus kita “respon” atau “lawan”. Memang karakter ruang kota kita mungkin agak berbeda dengan ruang publik di negara-negara Eropa atau Amerika Serikat yang banyak tertampilkan di YouTube. Namun, justru hal itulah tantangan olah karya yang pasti bisa kita lakukan, yang akan lebih baik.

Apakah Yogyakarta, tempat saya belajar dan bermukim, pernah mengalami kejutan flash mob? lalu, mengapa kejutan itu dilakukan di Yogyakarta? Ikuti tulisan saya selanjutnya🙂

(Elanto Wijoyono)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s