(Konservasi) Pusaka dalam Genggaman

Memetakan Potensi Strategi Digital untuk Pelestarian Pusaka Indonesia (1) (2)

1. Wajah Pusaka dalam Media Baru (New Media) di Indonesia

Screenshot from 2014-07-01 21:49:51

Heritage is in Your Hand; poster kampanye gerakan Pantau Pusaka Indonesia – Indonesian Heritage Inventory (Kredit poster: Abdullah Rofii)

Sekumpulan orang yang berasal dari daerah yang berbeda bisa bergerak bersama untuk satu minat. Minat yang sama pada penjelajahan situs-situs kuno mendorong orang-orang ini untuk berkumpul. Padahal, mereka tinggal di kota-kota atau daerah yang berbeda, ada yang di Yogyakarta, beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa timur, bahkan di Bali, dan Sumatera. Minat dan hobi “blusukan” ke situs-situs purbakala itu dikomunikasikan, antara lain memanfaatkan media jejaring sosial Facebook. Komunikasi lintas usia dan latar belakang itu kemudian menjadi pemicu dibentuknya komunitas sebagai penanda identitas pada Oktober 2009. Mereka menamakan dirinya Gerombolan Pemburu Batu (Bol Brutu). Ada lebih dari 300 anggota yang tergabung dalam Group Facebook Bol Brutu (3). Sebagian di antara mereka bahkan ada yang saat ini tidak berada di Indonesia, seperti di Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Menariknya, hampir tak ada anggota kelompok ini yang berlatar belakang arkeologi. Mereka hanya punya niat belajar yang besar dan rasa ingin tahu. Jadi, kegiatan seperti mendatangi situs purbakala, mendokumentasikan, dan kemudian menginformasikannya ke media online, seperti Facebook dan blog menjadi rutin (4).

Kemunculan media jejaring sosial sebagai media baru (new media) cukup menarik bagi kelompok muda di Indonesia. Pemanfaatannya untuk bertukar informasi tentang minat yang sama semakin banyak dilakukan. Tak jauh dari Yogyakarta, komunitas peminat pusaka juga lahir dan besar tanpa bisa lepas dari media jejaring sosial Facebook. Kota Toea Magelang, satu komunitas yang berisi warga kota Magelang dan siapa saja yang pernah punya pengalaman di kota kecil di sebelah barat Gunungapi Merapi. Group Facebook komunitas ini (5) hanya beranggotakan sekitar 450 anggota. Namun, informasi tentang pusaka Magelang, mulai dari foto, catatan pengalaman, dan agenda kegiatan terunggah ramai setiap hari. Diskusi-diskusi yang berlangsung dalam group ini kemudian sebagian menjadi bahan tulisan dalam blog komunitas yang memanfaatkan layanan WordPress (6). Dalam setiap foto atau jenis dokumen lain yang diunggah ke group Facebook, selalu terjadi diskusi membahas object yang terpampang di website. Diskusi tak selalu mengarah ke ranah ilmiah. Seringkali, diskusi mengarah pada kenangan-kenangan pribadi yang terkait dengan situasi yang tergambarkan pada object yang didiskusikan, misal foto tua yang menampilkan situasi di salah satu sudut kota Magelang. Ada upaya untuk mendekat, mencari tahu lebih dalam kisah atau sejarah apa yang tersembunyi di balik foto atau dokumen yang terunggah. Jika anggota group tidak mendapatkan informasi cukup, mereka akan mencari dan kemudian melanjutkan diskusi tersebut dalam urutan komentar di group Facebook seterusnya. Isu tentang pelestarian juga sering muncul dalam diskusi. Group akan ramai ketika ada informasi tentang rencana pembangunan infrastruktur kota yang berdampak merusak bangunan lama atau kawasan pusaka kota.

Picture 3   Picture 4

Group Facebook seolah menggantikan peran layanan group diskusi di mail list yang harus menggunakan e-mail. Diskusi dalam group media jejaring sosial ini lebih terbuka dan interaktif, sehingga menarik untuk diikuti updatenya dari waktu ke waktu. Dalam diskusi di group-group ini, sangat sering muncul interpretasi-interpretasi baru dan personal terhadap satu object atau fenomena pusaka. Object atau fenomena yang didiskusikan bisa berdasarkan informasi yang ada di media massa atau juga yang datang dari pengalaman personal anggota group. Berita yang dicuplik dari website media massa Kompas.Com (7) misalnya, ketika tautannya dipasang di halaman Group Facebook PANDU PUSAKA Forum (8) pada 24 Januari 2012 mendapatkan banyak tanggapan. Artikel berjudul Bangunan Bersejarah di Medan Hilang dan Hancur itu mendapatkan tanggapan beragam tentang prinsip konservasi pusaka hingga interpretasi sejarah di group yang beranggotakan lebih dari 250 orang itu.

Group yang senada adalah MENCINTAI CAGAR BUDAYA BANGSA (9) yang beranggotakan sekitar 250 anggota. Salah satu diskusi di group ini adalah tentang menjawab pertanyaan salah satu anggota untuk mengidentifikasi sosok sebuah arca koleksi Tropen Museum dari sebuah foto yang diunggah pada 7 Januari 2012. Sebagian anggota group ini berlatar belakang arkeologi, sehingga bisa muncul beragam jawaban terkait pertanyaan ikonografis. Bahkan, satu jawaban menyinggung pula tentang semakin berkurangnya pakar ikonografi yang dimiliki Universitas Indonesia, satu dari empat universitas di Indonesia yang memiliki Jurusan Arkeologi. Ada lebih dari 250 foto artefak atau situs yang pernah diunggah di group ini dan selalu memancing diskusi mendalam dari para anggota.

 Picture 1   Picture 2

Iklim pertukaran informasi yang penuh semangat ini seakan memberikan wadah baru bagi kelompok peminat sejarah dan pusaka. Kebebasan interpretasi menjadikan setiap orang yang terlibat dalam diskusi di dunia maya ini tak segan dan canggung memberi informasi maupun bertanya jika memang tidak tahu. Hal ini menjadi pembeda dengan sifat interpretasi yang terbakukan ketika mengunjungi website yang dikelola oleh institusi pemerintah. Sebagian besar website tersebut terkesan kering akan informasi dan pengetahuan. Wajah informasi kelembagaan yang disampaikan secara formal menjadi semacam pola umum. Beberapa institusi pemerintah yang bergerak di bidang pelestarian peninggalan sejarah dan arkeologi mencoba berbenah. Website mereka tampil lebih atraktif, dengan konten yang terupdate rutin setiap bulan. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah (10) dan BP3 Yogyakarta (11) adalah dua institusi pelestarian yang memiliki website dengan konten cukup rutin terupdate, selain Balai Arkeologi Yogyakarta (12) dan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur (13). Sementara, sejumlah website institusi-institusi pemerintah di luar Jawa yang bergerak di ranah yang sama, tidak terbarui secara rutin. Namun, selain karakter formal dalam cara komunikasi dalam media pemerintah ini, hal yang membuatnya tak seramai komunikasi di media jejaring sosial adalah sifatnya yang satu arah. Media tersebut tak hanya mengelola konten dari satu pintu administrator (bukan multiuser), tetapi juga memonopoli arah interpretasi terhadap objek/fenomena pusaka yang ditampilkan.

2. Internet dan Media Jejaring Sosial di Indonesia

Yanuar Nugroho dalam satu laporan penelitian bertajuk “@ksi Warga”, menuliskan bahwa sejumlah peneliti internasional mengamati pesatnya peningkatan penggunaan internet di Indonesia. Jumlah yang signifikan juga muncul dari tingkat penggunaan media jejaring sosial, baik untuk sekedar hiburan maupun urusan serius untuk tujuan kemanusiaan (14). Dinamika ini tak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan internet di Indonesia. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa ada peningkatan jumlah yang sangat besar antara tahun 1998 dengan sekitar 500 ribu pemakai dengan tahun 2002 dengan sekitar 4,5 juta pemakai internet; lebih dari 770%. Jumlah berlipat ganda nyaris terjadi pada peningkatan yang berlangsung antara tahun 2005, sekitar 16 juta orang, hingga tahun 2010, sekitar 31 juta orang. Dari sekitar 237 juta orang penduduk Indonesia, jumlah tersebut hanya mencapai sekitar 12 persen dari populasi(15). Namun, studi termutakhir tentang jumlah pengguna internet di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan menjadi 55 juta orang, dari 45 juta orang sebelumnya. Penelitian terkini itu dilakukan oleh Markplus Insight pada bulan Agustus hingga September 2011 di 11 kota di Indonesia. Penelitian ini juga menunjukkan fakta bahwa penetrasi penggunaan internet mobile di Indonesia meningkat 100% dari tahun lalu, yang mencapai 57% dari total pengguna internet. Keadaan ini terjadi akibat semakin terjangkaunya harga layanan internet mobile dan perangkat kerasnya (16).

Tahun

Pelanggan

Pemakai

1998

134.000

512.000

1999

256.000

1.000.000

2000

400.000

1.900.000

2001

581.000

4.200.000

2002

667.002

4.500.000

2003

865.706

8.080.534

2004

1.087.428

11.226.143

2005

1.500.000

16.000.000

2006

1.700.000

20.000.000

2007

2.000.000

25.000.000

2010

31.000.000

2011

55.000.000

Tabel perkembangan jumlah pelanggan dan pemakai internet di Indonesia (kumulatif) periode 1998 – 2011 berdasarkan data dalam website APJII, penelitian Yanuar Nugroho (2011), dan liputan The Jakarta Post (2011)

Namun, dari jumlah yang sangat besar di atas, data Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Republik Indonesia yang dirilis pada tahun 2010 menunjukkan bahwa 70,05% akses internet masih terkonsentrasi di wilayah Jawa dan Bali (dalam hitungan akses per rumah tangga). Wilayah lain masih tertinggal jauh. Data yang dikutip oleh Yanuar Nugroho (2011) itu mendasarkan pada angka Sensus Nasional. Sementara, angka persentase kepemilikan komputer pribadi per rumah tangga mencapai 67%. Sebaran warung internet (warnet) pun masih terkonsentrasi di kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Wilayah perdesaan belum memiliki akses internet sebaik di kota. Baik untuk sambungan telepon kabel maupun nir-kabel, sebagian besar desa yang tersambung terkonsentrasi di Jawa, Bali, dan Sumatera.

Picture 5

Grafik desa-desa yang memiliki sambungan telepon kabel (kiri) dan nirkabel (kanan). Simbol batang menandakan jumlah dalam setiap tahun yang dimaksud. Garis menunjukkan persentase. Data dan grafik diterbitkan oleh Kominfo (2010) seperti yang dikutip oleh Yanuar Nugroho (2011).

Data Kominfo (2010) yang dikutip oleh Yanuar Nugoroho (2011) menerakan bahwa selama kurun waktu 2004 – 2009 penetrasi jaringan kabel pertumbuhannya sangat rendah (4%). Sementara, jaringan nirkabel di Indonesia tumbuh lebih dari 41%, sepuluh kali lipat. Pelanggan jaringan berbasis kabel dalam kurun waktu 2005 – 2009 menurun (0,67% per tahun). Bandingkan dengan laju peningkatan pelanggan jaringan nirkabel yang mencapai 34% per tahun. Dampaknya, budaya telepon seluler pun lahir di Indonesia; menjadikannya bukan lagi barang mewah. Tanpa mengesampingkan permasalahan distribusi boradband kabel yang tidak merata dan semakin menurun pelanggannya di Indonesia, fakta bahwa Indonesia menjadi salah satu komunitas yang paling giat di dunia maya tetap menjadi modal yang harus bisa dikelola.

Penetrasi seluler Indonesia mencatat angka luar biasa. Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) merilis data bahwa hingga akhir 2011 jumlah pelanggan seluler mencapai 250 juta pelanggan. Jumlah ini melampaui total penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 240 juta jiwa. Jadi, dalam persentase, penetrasi seluler di Indonesia mencapai 110%.  Angka ini jauh melampaui China yang hanya memiliki penetrasi seluler sebesar 70% (17), walaupun dari sisi jumlah tetap lebih besar China yang memiliki penduduk sekitar 1 milyar jiwa. Penetrasi terbesar sebagian besar terjadi di kawasan Asia Tenggara, seperti di Malaysia (133%), Thailand (116%), dan Filipina (113%). Belanda masuk urutan tertinggi di luar negara-negara di atas, dengan penetrasi mencapai 117%. Dari jumlah total pelanggan itu, 60% adalah masyarakat usia produktif dan 51% dari total adalah yang berusi maksimal 24 tahun. Dalam tahun 2011 ini juga, Indonesia kembali mencatatkan diri sebagai negara pasar Blackberry terbesar di Asia Tenggara. Terjadi peningkatan pelanggan di kisaran ratusan ribu selama kuartal ketiga tahun 2011 di Indonesia. Pada tahun 2010, pelanggan layanan produksi RIM ini mencapai 2,63 juta dan hingga akhir tahun 2011 mencapai 4 juta di Indonesia (18).

Yanuar Nugroho dalam laporan penelitiannya pun menyebutkan dengan semakin murahnya perangkat mobile dan infrastruktur telekomunikasi yang condong ke nirkabel, mendorong lahirnya generasi “selalu online”. Layanan seluler tak lagi sulit dijumpai, bahkan hingga daerah perdesaan, walaupun yang terutama di wilayah Jawa dan Sumatera. Laporan pemerintah yang dirilis Kominfo (2010) dan dikutip Yanuar Nugroho (2011) menampilkan bahwa saat online, masyarakat Indonesia paling menyukai mengakses Facebook. Layanan mesin pencari Google.co.id dan Google.Com menempati urutan ke-2 dan ke-3. Layanan blog Blogger.com di urutan ke-4 dan WordPress.Com di urutan ke-8. Forum diskusi online Kaskus menempati urutan ke-6. Dua media jejaring sosial lain, yakni Youtube dan Twitter masing-masing berada di urutan ke-7 dan ke-11. Situs berita online berada jauh di bawah Facebook. Detik.com berada di urutan 9, Kompas.com di urutan 12, dan VIVAnews.com berada di urutan 14.

Urutan yang dirilis oleh Kominfo itu tidak mengejutkan karena sejak beberapa periode terkini, banyak studi dan survei yang menunjukkan besarnya pengguna media jejaring sosial di Indonesia. Media jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook memiliki penetrasi yang tinggi di Indonesia. Penetrasi Twitter tertinggi dilaporkan terjadi di Indonesia, sekitar 20,8% dari pengguna internet mengakses Twitter.com (19). Penetrasi Facebook, sebagai media online paling populer di Indonesia, juga dilaporkan sangat siginifikan. The Socialbakers merilis statistik bahwa Indonesia memiliki sekitar 43 juta pengguna Facebook; urutan ke-3 di statistik global di bawah Amerika Serikat (155 juta) dan India (43 juta). Jumlah total pengguna Facebook di Indonesia meningkat lebih dari 3 juta dalam kurun waktu 6 bulan terakhir. Kelompok terbesar dalam jumlah ini adalah usia 18 – 24 tahun (17 juta atau 42%), diikuti kelompok usia 25 – 34 tahun (21%) (20).

Picture 6

Grafik pertumbuhan pengguna Facebook di Indonesia dalam 6 bulan terakhir (Agustus 2010 – Januari 2011) yang dirilis oleh Socialbakers (2011).

Picture 7

Grafik jumlah pengguna Facebook di Indonesia berdasarkan kelompok umur yang dirilis oleh Socialbakers (2011).

3. Perlukah Perubahan dalam Gerakan Pelestarian Pusaka?

Pusaka adalah masa depan kita. Peradaban belajar dan berkembang dari pengalaman masa lalu dan masa kini. Nusantara Indonesia adalah perpustakaan pengetahuan dan pengalaman yang luar biasa kaya. Khasanah itu terwujud dalam bentukan alam dan budaya, baik yang teraga sebagai benda (tangible) maupun yang tak benda (intangible). Kekayaan itu terserak, belum terhimpun sebagai pengetahuan bersama (collective knowledge) yang bisa digunakan sebagai bekal kemajuan tanpa meninggalkan kearifan tempatan. Ragam pusaka yang terserak itu tak lepas dari ancaman kehilangan, kerusakan, kemusnahan, dan juga perusakan, pengabaian, hingga penghancuran. Upaya menghimpun data ragam pusaka nusantara adalah keniscayaan demi kelestarian peradaban yang erat dengan akar budaya dan alamnya.

Sistem pendataan pusaka yang dikelola oleh pemerintah masih jauh dari sempurna. Perbedaan kewenangan antar bidang yang mengurusi ranah lingkungan alam dan lingkungan budaya menjadikan data pusaka semakin terserak. Basis data pusaka yang berada dalam satu sektor pun berbeda wujud metadata dan manajemennya pada wilayah kerja yang berbeda; tak hanya antar daerah, tetapi juga antar instansi. Pada situasi ini, pusaka nusantara terus mendapatkan tekanan kemajuan peradaban dan ancaman ketidaklestarian. Respon cepat dan tepat tak bisa diharapkan dari manajemen data pusaka yang tak dinamis nan birokratis. Harus ada upaya yang lebih dinamis, partisipatif, dan kreatif! Energi dinamis komunitas muda Indonesia adalah modal perubahan sistem yang harus dimanfaatkan. Minat menjelajah anak negeri dan ketertarikan mereka pada kegiatan pendokumentasian objek/tempat/situs yang dikunjungi sangat tinggi. Media jejaring sosial, blog, dan layanan selular menjadi media menampilkan diri, sebagai bukti pernah berkunjung, seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pelestarian pusaka.

Pada tahap ini, muncul pertanyaan; apakah media baru (new media) dan teknologi informasi komunikasi (TIK) mampu mempengaruhi keadaan di atas? Apakah teknologi seperti media jejaring sosial dapat mempengaruhi cara-cara individu, kelompok, dan organisasi dalam bekerja di ranah pelestarian pusaka dalam konteks kolaborasi dan berjejaring? Tentu saja pertanyaan besar tersebut tak bisa saya jawab seketika dalam tulisan singkat ini. Perlu ada observasi dan analisis mendalam tentang potensi pemanfaatan teknologi informasi komunikasi dan media baru untuk mendukung gerakan pelestarian pusaka, seperti yang ditampilkan dalam aktifnya penggunaan media jejaring sosial untuk diskusi di group-group bertema pusaka. Catatan saya ini menjadi sebuah landasan pemikiran awal yang diharapkan dapat memunculkan peta gagasan membangun strategi digital pengelolaan pusaka Indonesia.

Pada awal tahun 1990-an, pelestarian pusaka di Indonesia masih mengutamakan pada artefak tunggal. Baru pada akhir tahun 1990-an, gerakan pelestarian untuk kawasan budaya dan bahkan kota pusaka mulai dikembangkan (21). Memasuki awal dekade 2000-an, pemahaman tentang pusaka budaya tidak kasat mata (non-bendawi atau intangible) mulai digaungkan. Dalam catatan Adishakti, dekade 1990-an dan 2000-an adalah masa tumbuhnya beragam organisasi pelestarian pusaka di banyak kota di Indonesia. Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage Society) menjadi tanda tumbuhnya organisasi pelestarian pada tahun 1987. Selanjutnya, daerah lain menyusul, seperti Paguyuban Pusaka Jogja – Jogja Heritage Society (1991), Yogyakarta Heritage Trust (1992), Badan Warisan Sumatera (1998), Badan Warisan Sumatera Barat (1999), hingga yang terkini adalah Ternate Heritage Society (2008). Organisasi-organisasi tersebut kemudian juga aktif dalam jaringan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Pada tingkat daerah, misalnya Forum Pelestarian Lingkungan Budaya Jogja – Forum Jogja yang berdiri sejak tahun 2000 dan beranggotakan lebih dari 20 organisasi pelestarian. Pan-Sumatera Net menjadi organisasi jaringan pelestarian di wilayah Sumatera. Pada tingkat nasional, terbentuk Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia (JPPI) pada tahun 2002. JPPI dengan dukungan International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) Indonesia dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia mendeklarasikan Tahun Pusaka Indonesia pada tahun 2003. Dalam tahun yang sama, diterbikan Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003.

Munculnya Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003 (22) ini menjadi muara dari diskusi panjang di ranah pelestarian pusaka alam dan budaya Indonesia. Peraturan perundang-undangan yang ada dirasa tidak mencukupi dan mewadahi praktik-praktik pelestarian yang aktif dilakukan. Piagam ini dirumuskan sebagai pedoman moral dan pedoman etika pelestarian yang disusun dengan melibatkan beragam pakar dan praktisi pelestarian lintas ilmu, lintas profesi, lintas sektor, dan lintas daerah. Piagam ini menegaskan istilah pusaka sebagai padanan istilah heritage yang lebih luas maknanya daripada sekedar benda cagar budaya. Pusaka Indonesia disebutkan meliputi pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana, mengikuti perkembangan wacana pelestarian di dunia internasional yang dikawal oleh UNESCO.

Namun, walaupun penguatan konsep telah dilakukan, tetapi hal itu tidak serta merta menjadikan keadaan kelestarian pusaka Indonesia membaik. Beragam kasus dari perusakan dan kerusakan pusaka budaya dan pusaka alam di Indonesia masih sering terjadi. Perusakan banyak terjadi akibat ketidaktahuan dan pengabaian kelestarian pusaka. Kerusakan banyak terjadi akibat faktor lingkungan alam dan bencana. Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) yang menjadi organisasi pelaksana mandat pengelola program pelestarian lintas wilayah dari Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia (JPPI) belum bisa banyak berbuat. BPPI memiliki mitra lembaga pelestari yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam daftar mitra yang dirilis di website BPPI, tercatat 52 lembaga/organisasi pelestarian pusaka dari seluruh wilayah Indonesia yang aktif mengelola program pelestarian pusaka di wilayahnya masing-masing (23). Selain ke 52 lembaga itu, tentu saja masih ada banyak lembaga, organisasi, komunitas, atau kelompok masyarakat yang aktif bekerja di bidang yang sama. Jaringan ini pun belum optimal mencakup jejaring lembaga atau komunitas di ranah pusaka alam, seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang memiliki puluhan lembaga/organisasi anggota di setiap region kerjanya.

Pada lingkup institusi pemerintah, terdapat pula Jaringan Kota Pusaka Indonesia/JKPI (http://indonesia-heritage.net/). Saat ini, terdaftar sebanyak 31 pemerintah kota di Indonesia yang tergabung dalam jaringan yang diinisiasikan sejak tahun 2008 dalam pertemuan di Surakarta, Jawa Tengah (24). Namun, inisiatif ini tetap belum bisa menjamin terkelolanya kelestarian pusaka yang lebih baik di setiap kota anggota jaringan. Dampak pembangunan yang mengakibatkan perubahan, penggusuran, perusakan, dan pengabaian kelestarian pusaka kota tetap banyak terjadi, termasuk di  kota-kota deklarator JKPI, seperti Jakarta, Yogyakarta, Surakarta, dan Medan. Beragam pertemuan untuk membahas rencana aksi dalam pelestarian pusaka yang dilakukan bersama para pihak ternyata belum mampu menjadi solusi. Apakah perlu ada pendekatan dan metode yang diperkuat dalam proses ini atau bahkan ada yang perlu diubah?

Bicara perubahan adalah sebuah diskusi yang kompleks. Harus ada kesepakatan tentang elemen apa yang harus diubaha atau berubah untuk mendapatkan dampak yang diinginkan; keadaan yang lebih baik. Perubahan ini tentu saja akan memiliki banyak dimensi. Dalam praktiknya, perubahan dapat melingkupi aspek perubahan pada pola pikir masyarakat, perubahan perilaku masyarakat, dan perubahan budaya materi. Perubahan itu pun tak bisa lepas dari konteks sistem sosial yang berlaku, ketika masyarakat meninggalkan sistem sosial lama dan menjalankan sistem sosial baru (25). Komunikasi tentang pola pikir menjadi proses penting yang harus diperhatikan dalam dinamika perubahan. Di sini, kemudian, memunculkan satu prasyarat, yakni keberadaan media tranmisi yang juga semakin berkembang dari waktu ke waktu. Media transmisi ini diawali dari komunikasi orang ke orang (point to point), lalu berkembang ke penyiaran, dari satu orang ke banyak orang, speerti yang dilakukan melalui media radio dan televisi. Teknologi jaringan yang muncul dalam kurun waktu 20 tahun terakhir adalah media transmisi perkembangan berikutnya, yang mampu mengelola komunikasi dari banyak orang ke banyak orang. Perkembangan terakhir saat ini adalah konvergensi media dan media baru (new media). Kesemua bentuk di atas tetap ada hingga saat ini, tetap berlangsung. Namun, konteks situasi yang terjadi berbeda dengan era-era sebelumnya. Semua itu saat ini berjalan dalam era sistem informasi yang arah pemanfaatannya tak sekedar dalamm urusan pemakaian teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Namun, dalam era ini, teknologi informasi sudah diarahkan pemanfaatannya dalam manajemen perubahan (26). Sejauh mana kita sudah bisa menerapkannya?

4. Strategi Digital untuk Pelestarian Pusaka

“Berpikir strategis adalah tantangan dalam ruang digital yang selalu berubah,” Michael Edson menegaskan hal itu dalam ceramah kunci DISH2011 di Rotterdam (27). Direktur Strategi Web dan Media Baru di Smithsonian Institution ini bisa memahami bahwa ketika kita menghadapi lingkungan atau keadaan baru, selalu perlu waktu sejenak untuk memulai berpikir strategis, mencari cara baru yang dianggap layak dan tepat. Namun, harus disadari, dunia digital berkembang sangat pesat, sehingga kita pun bahkan tak mampu melihat masa depan akan seperti apa dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. Pembicara kunci lainnya, Clifford Lynch, menyampaikan bahwa banyak institusi budaya masih berpikir seperti gereja sekuler(28), pengunjung hadir untuk melihat tampilan/pajangan dan mengambil pengetahuan besar yang tersimpan di dalamnya(29).

 IMG_0839

Konferensi DISH2011 di World Trade Center, Rotterdam, Belanda pada 7 – 8 Desember 2011.

Pengelolaan pusaka terutama oleh institusi pemerintah di Indonesia saya pandang masih berada dalam posisi yang sama dengan keadaan yang diilustrasikan oleh Lynch. Namun, sebagian besar institusi itu tidak memiliki kualitas akses pengetahuan yang baik. Padahal, mereka memiliki materi berupa objek atau situs pusaka yang luar biasa bernilai. Candi Borobudur yang masuk sebagai Pusaka Warisan Dunia (World Heritage) pun tidak bisa dikelola dengan baik terhadap akses pada pengetahuan besar di dalamnya. Banyak kritik yang dilontarkan terhadap manajemen yang dipegang oleh sebuah badan usaha milik negara terhadap kebijakan wisata massal yang berdampak pada kelestarian situs Candi Borobudur (30). Sulit untuk mengharapkan pengunjung bisa mendapatkan pengetahuan yang detail dan utuh tentang Borobudur dalam skema pengelolaan situs pusaka yang terlalu berorientasi pada bisnis komersial.

Ketika berbicara strategi digital yang diterpakan oleh manajemen situs pusaka Candi Borobudur, muncul dalam wujud dua website yang dikelola oleh dua institusi yang berbeda. Balai Konservasi Peninggalan Borobudur sebagai institusi pemerintah di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengelola informasi tentang Borobudur dalam websitehttp://konservasiborobudur.org. PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko sebagai manajamen di pengelolaan taman wisata mengelola informasi tentang situs Candi Borobudur di website http://borobudurpark.com. Kedua website ini cukup baik memberikan informasi umum tentang Borobudur kepada publik. Jauh berbeda dengan akses informasi tentang Borobudur yang justru cukup sulit diakses ketika berada di situs itu secara langsung. Namun, akan sangat naif jika keberadaan website itu sudah dianggap sebagai penerapan strategi digital yang optimal untuk mendukung pengelolaan situs pusaka dunia Candi Borobudur. Sifat manajemen informasi yang satu arah, baik dalam pengelolaan konten dan pemaknaan menjadikannya sebagai bukti bahwa strategi komunikasi yang dibangun belum bisa menempatkan potensi khalayak Indonesia yang semakin aktif dan interatif, di dunia nyata maupun di dunia maya.

Apakah strategi yang sama sudah diterapkan di institusi museum di Indonesia? Kita bisa gunakan Museum Nasional sebagai institusi terdepan dalam pengelolaan museum di Indonesia sebagai contoh. Lembaga yang sudah ada sejak masa pemerintahan Hindia Belanda di akhir abad XVIII ini secara fisik telah berbenah. Kompleks gedung baru melengkapi kompleks gedung lama di “Gedung Gajah”. Museum ini ternama akan koleksinya yang sangat menarik dan luar biasa, diperkuat dengan lokasi museum yang berada di pusat kota Jakarta, sangat dekat dengan Monumen Nasional yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Namun, akses terhadap pengetahuan yang tersimpan dalam ragam koleksi museum ini masih sangat lemah kualitasnya. Terlebih jika kita menggunakan cara pandang strategi digital sesuai konteks perkembangan tenologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat di Indonesia. Museum Nasional hanya memiliki sebuah website yang tidak cukup interaktif dan menarik dari sisi desain (http://www.museumnasional.or.id). Tak tampak pengelolaan informasi yang memanfaatkan media lain, seperti media jejaring sosial, secara optimal. Halaman Facebook Museum Nasional tidak banyak dikunjungi orang. Update informasi terakhir dilakukan di tahun 2010. Padahal, potensi publik online Indonesia sangat besar, tetapi seolah tidak terjangkau.

Picture 8

Halaman muka website Museum Nasional Indonesia (http://museumnasional.or.id).

Belanda tidak memiliki jumlah pengguna media jejaring sosial semacam Facebook sebesar Indonesia. Namun, persentase penetrasinya terhitung besar. Tropen Museum di Amsterdam, museum dengan koleksi artefak dari Asia Tenggara terbesar di Eropa, cukup tanggap. Mereka memperkuat publikasi tentang Tropen Museum melalui media jejaring sosial. Media Facebook dan Twitter dipilih sebagai dua media jejaring sosial yang dimanfaatkan untuk menjaring dukungan dan opini publik. Dalam halaman Facebook Tropenmuseum (31), tercatat pilihan di atas angka 2500 akun yang menyukai halaman tersebut. Tropen Museum menggunakan halaman tersebut sebagai salah satu media untuk menampilkan informasi program kegiatan museum dan sejumlah foto koleksi serta kegiatan. Sementara, akun Twitter @tropenmuseum juga digunakan untuk fungsi yang hampir sama. Pengikut akun twitter ini tak berbeda jauh dengan penyuka halaman Facebook Tropenmuseum, yakni di kisaran jumlah 2500 pengikut. Kedua angka jumlah di atas memberikan satu catatan bahwa perlu ada strategi yang lebih kuat dari Tropen Museum untuk memanfaatkan potensi media jejaring sosial bagi proses penggalangan dukungan dan opini publik. Masyarakat Belanda memang telah akrab dengan museum, tetapi perlu ada strategi komunikasi yang lebih kuat untuk tetap melekatkan isu museum yang saat ini tengah memerlukan banyak dukungan (32).

IMG_0625 copy  Picture 9

Foto gedung Tropen Museum di Amsterdam, Belanda (kiri)
Tampilan website Tropen Museum (http://www.tropenmuseum.nl/); lihat pemanfaatan beberapa media jejaring sosial di kolom kanan. (kanan)

Jumlah pengikut atau penyuka akun media jejaring sosial di kisaran angka 2500 bagi sebuah akun organisasi di Belanda relatif sangat kecil. Data yang dilansir oleh Socialbakers (33) menerakan ada sejumlah 5.764.580 pengguna Facebook di Belanda (urutan ke-27 di dunia). Jumlah itu jauh di bawah jumlah pengguna Facebook di Indonesia yang tercatat sebanyak 41.777.240 pengguna (34). Penetrasi penggunaan Facebook yang cukup besar (mencapai 34,35%) jika dibandingkan total populasi Belanda (16.783.092 jiwa (35)) dan jika dibandingkan dengan jumlah pengguna internet yang mencapai 38.76%. Namun, media jejaring sosial tetap punya potensi untuk dimaksimalkan pemanfaatannya untuk mendukung penguatan publikasi Tropenmuseum. Rilis pers Comscore.com pada April 2011 silam menerakan fakta bahwa penetrasi Twitter dan Linkedin adalah yang teratas di dunia (36). Kedua layanan media jejaring sosial itu sanggup mengalahkan perkembangan penggunaan Hyves yang telah lebih dulu berada di tingkat atas penggunaan jejaring sosial di Belanda. Profil penggunaan Facebook dan Twitter yang cukup aktif oleh administrator Tropenmuseum menjadikan potensi kedua media tersebut bagi museum sangat besar.

Menjadikan pusaka dapat bercerita lebih banyak bagi generasi masa kini dan mendatang adalah satu strategi pengelolaan media yang harus diperkuat. Hal itu bahkan harus bisa dilakukan pada entitas pusaka yang paling sederhana dan terlihat tidak menarik bagi publik awam, seperti arsip peninggalan yang bersejarah. Menilik pengelolaan arsip dalam institusi Arsip Nasional Repubik Indonesia (ANRI), kita berharap akan mendapatkan akses informasi yang luar biasa kaya. Jika berbicara tentang arsip peninggalan sejarah, ANRI memiliki arsip VOC terbesar di dunia. Himpunan arsip VOC di ANRI 2,5 kilometer linier. Bandingkan dengan arsip VOC yang dimiliki dan disimpan di Belanda yang hanya mencapai 1,3 kilometer linier. Kekayaan arsip itu menambah jumlah arsip peninggalan Belanda di Indonesia, selain arsip peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang disimpan di ANRI yang mencapai 7,5 kilometer linier (37). Namun, kekayaan khasanah kearsipan bersejarah itu sulit untuk dapat diakses publik, selain harus datang ke kantor ANRI di Jakarta. Di luar itu, publik tak akan memiliki pengetahuan tentang khasanah arsip bersejarah tersebut, sehingga nilai pengetahuan sejarah yang terkandung di dalam arsip itu hanya terendapkan. Media online yang digunakan oleh ANRI hanya sebatas website (http://www.anri.go.id) yang lebih bayak memuat informasi tentang profil birokrasi kelembagaannya. Entah disadari atau tidak, manajemen informasi di sebagian besar website institusi pemerintah di Indonesia memiliki wujud pengelolaan konten yang serupa. Tak banyak informasi yang bisa didapat tentang isu dan pengetahuan di sektor yang dikelola. Potensi puluhan juta pengguna internet di Indonesia yang didominasi oleh anak muda tidak terjangkau.

Picture 11

 Picture 10

Tampilan gahetna.nl dan afscheidvanindie.nl, dua sistem informasi arsip yang dikelola oleh Nationaal Archief, Belanda

Dengan kekayaan khasanah arsip yang lebih sedikit, institusi kearsipan di Belanda bisa memaksimalkan pengelolaannya. Sebagai contoh, Nationaal Archief di Belanda memilki 4 kilometer linier arsip tentang Indonesia. Di luar Nationaal Archief, arsip tentang Indonesia tersimpan di sejumlah institusi, seperti Pensioen- en Uitkeringsraad dan KITLV (The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Leiden. Untuk membuat arsip bisa berkisah tentang sejarah dan menjadi menarik untuk disimak, Nationaal Archief membangun beberapa sistem informasi tentang arsip yang terkait dengan sejarah bersama antara Belanda dan Indonesia. Nationaal Archief membangun http://gahetna.nl untuk publik Belanda yang ingin mengakses arsip yang terkait dengan sejarah peradaban Belanda. Secara menarik, bekerjasama dengan sejumlah institusi kearsipan lintas negara, Nationaal Archief membangun sebuah sistem bertajuk “Farewell to the Indies; Digital Documents from the 1940s” di http://www.en.afscheidvanindie.nl. Di sini, arsip tentang sejarah komunitas Belanda sejak tahun 1940 di Hindia Belanda saat itu, dibuka untuk publik. Bagi publik Belanda, periode transisi pasca-Hindia Belanda masih banyak yang belum terungkap, sehingga sejumlah institusi yang menguasai arsip pada masa itu mencoba mengelolanya. Hal ini juga dilakukan oleh sejumlah insitusi museum. Salah satu museum yang mencoba membangun sistem informasi tentang sejarah komunitas Belanda di era transisi itu adalah Museum Bronbeek di Arnhem. Museum yang dikelola di bawah institusi Kementerian Pertahanan Kerajaan Belanda ini khusus menyimpan koleksi artefak dan arsip KNIL yang bertugas di Indonesia pada masa transisi. Informasi sejarah tersebut ditampilkan dalam ruang pameran permanen yang terbuka untuk umum dengan sajian infomasi yang rinci dan menarik.

IMG_0727

Museum Bronbeek di Kota Arnhem, Belanda.

KITLV di Leiden mengelola beragam koleksi dari buku, jurnal, majalah, suratkabar, foto, gambar, produk cetak, kartu pos, peta, atlas, manuskrip, arsip, dan karya audiovisual. Sebagian koleksi adalah tentang Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Hanya sepersepuluh bagian koleksi berasal atau tentang Karibia. KITLV berani mengklaim dirinya sebagai lembaga yang memiliki manajemen koleksi dokumen yang terbaik dan terbanyak tentang dan dari Indonesia. Untuk mengelola seluruh ragam dokumen dan karya di atas, KITLV mengembangan sistem informasi manajemen kearsipan tersendiri. Inventory arsip di KITLV hingga Desember 2011 mencapai 281 inventory yang dapat diakses online di website KITLV. Setiap inventory dapat diunduh metadatanya dalam file bertipe .pdf. Semua cara dalam sistem pencarian dokumen dan arsip ini didukung dengan layanan Thesaurus KITLV (38) yang tersedia di website. Thesaurus ini akan membantu publik yang sedang atau akan mengakses basis data dalam sistem KITLV.

Selain basis data di atas, katalog KITLV juga menyediakan akses menuju beberapa basis data dokumen dan arsip lain, meliputi Bibliography of the Netherlands Caribbean, Caribbean Abstracts, Excerpta Indonesica, KITLV-Jakarta, dan PiCarta. Seluruhnya menggunakan sistem katalog yang sama, yakni OCLC. Selain ragam basis data, KITLV juga mengelola sejumlah project website dengan tema khusus. Hingga akhir tahun 2011 ini tercatat ada 9 project website yang dikelola oleh KITLV, di antaranya adalah website Aceh Digital Library (http://www.acehbooks.org/), Indisch Knooppunt (http://www.hetindischknooppunt.nl/), Javanen in Diaspora (http://www.javanenindiaspora.nl/), dan VOC-Kenniscentrum (http://www.voc-kenniscentrum.nl/).

IMG_0675

Gedung kantor KITLV di Leiden yang berada satu area dengan kompleks Universiteit Leiden di Belanda. Secara fisik kantor ini tidak besar, tetapi mengelola arsip yang sangat besar dan lengkap tentang Asia Tenggara dan Indonesia.

5. Refleksi

Apakah kelompok masyarakat sipil di Indonesia yang memiliki visi kelestarian pusaka mampu mengelola perubahan dengan dukungan teknologi informasi? Strategi dan cara pengelolaan pengetahuan yang tersimpan di dalam ragam koleksi museum dan arsip di sejumlah institusi pelestarian pusaka di Indonesia harus dibenahi. Paradigma bahwa sumber informasi harus tersentral dari otoritas penguasa data dan otoritas keahlian menjadikan komunikasi pengetahuan hanya berlangsung satu arah. Padahal, sistem informasi yang dikelola oleh sejumlah institusi yang bergerak di ranah pelestarian pusaka terbukti cukup lemah. Selain update yang sering jarang dilakukan secara rutin, tampilan yang menarik dan interaktivitas sangat tidak tampak menjadi bagian dari strategi digital yang secara sadar diterapkan.

Jika mengacu pada beberapa contoh kasus pemanfaatan media jejaring sosial Facebook untik beragam diskusi tentang pusaka yang saya sajikan di awal, ada dinamika yang sangat jauh berbeda. Dinamika dalam banyak group Facebook yang tersebar merata di banyak daerah di Indonesia memberikan bukti bahwa ketertarikan atau minat masyarakat terhadap informasi tentang sejarah dan pusaka sangat besar. Namun, ketika data dan informasi yang diminati itu tak banyak tersedia dalam sistem informasi yang dibangun dan dikelola oleh institusi pemegang otoritas, komunitas ini kemudian mencari jalan keluar sendiri secara kreatif. Dalam pemanfaatan media jejaring sosial ini, publik yang terlibat bisa menghimpun pengetahuan dari banyak sumber. Bahkan, terbuka ruang interpretasi yang luas terhadap fakta-fakta sejarah dan sejumlah artefak pusaka yang menjadi penanda pencapaian peradaban.

Samuel Jones, pembicara kunci lain yang tampil di DISH2011 di Rotterdam pada 8 Desember 2011 lalu, menekankan bahwa ada banyak manfaat yang bisa diraih dengan memaksimalkan keterlibatan publik, termasuk dengan menggunakan media jejaring sosial. Media baru ini banyak dipandang sebagai salah satu cara utama untuk meningkatkan promosi tentang suatu isu yang bisa dilakukan tanpa henti. Keterlibatan publik dalam menghimpun informasi dan menanggapi pernyataan tentang isu tentu saja tak akan mengurangi kehormatan para pakar dan lembaga budaya yang selama ini merasa menjadi penguasa atas pemaknaan. Justru, proses ini akan meningkatkan rasa kepedulian terhadap nilai dan wujud pusaka. Hal ini sejalan dengan pemikiran Katherine Watson, yang berbicara di awal perhelatan DISH 2011 pada 7 Desember 2011 di Rotterdam, Belanda. Dia menyatakan bahwa pada era digital saat ini, ada beberapa perubahan mendasar sebagai konsekuensi dari kecepatan kemajuan teknologi informasi yang mau tidak mau harus disikapi. Banyaknya pilihan akan membuka ruang pemaknaan yang lebih luas. Bahkan, setiap orang akan menjelma menjadi kurator bagi museumnya sendiri. Hal itu dimungkinkan terjadi ketika ada banyak pilihan cara untuk mendapatkan informasi, tidak hanya dari pakar, tetapi juga dari informasi random yang terhimpun melalui beragam media. Jadi, sumber pengetahuan dan informasi tak hanya akan datang dari pakar (expert), tetapi juga dari pengalaman (experience).

Pengoptimalan potensi kelompok muda bangsa Indonesia yang saat ini telah terhubung ke internet setiap saat dari gadget di genggaman tangan adalah strategi awal yang bisa dibangun. Masih perlu waktu untuk, misalnya, membuat strategi digital dalam proses pembangunan sistem digitalisasi arsip. Bahkan, dalam konteks institusi kearsipan yang mengelola arsip bersejarah di Eropa, digitalisasi merupakan proses mahal. Inggris telah menghabiskan £ 100,000,000 dalam waktu 10 tahun terakhir untuk proses digitalisasi. Perkiraan yang disusun dalam sebuah laporan tahun 2010, digitalisasi budaya semua bahan di perpustakaan di lingkup Uni Eropa, museum, arsip, dan bahan audiovisual akan memakan waktu hingga 30 tahun dan biaya 150 milyar Euro (39).

IMG_0799

Mesin scanner buku untuk digitalisasi arsip lama yang dipamerkan dalam gelaran DISH 2011 di Rotterdam, Belanda. Selain membutuhkan teknologi canggih yang tidak murah, proses ini juga memakan waktu lama untuk dilakukan.

Sejalan dengan catatan kritis Yanuar Nugroho (2011) terhadap skenario perubahan yang diharapkan terjadi dalam gerakan masyarakat sipil di Indonesia, dinamika yang sama diharapkan dapat terjadi dalam gerakan pelestarian pusaka di Indonesia. Perubahan ini berhubungan dengan masyarakat sipil berbasis pengetahuan dan masyarakat demokratis. Perubahan yang diharapkan adalah transformasi yang terjadi lebih di dalam masyarakat sipil itu sendiri. Pada keadaan pengelolaan pusaka dan pengetahuannya saat ini di Indonesia yang jauh dari baik, masyarakat sipil di Indonesia dapat melakukan perubahan, perbaikan, dengan caranya sendiri yang lebih terbuka dan demokratis. Media jejaring sosial sangat potensial digunakan untuk memperkuat proses itu karena bisa menghubungkan jaringan pengetahuan di antara pegiat pelestari pusaka kapan saja dan di mana saja. Tantangan yang akan mengemuka, dan telah dialami dalam ranah gerakan masyarakat sipil termutakhir di Indonesia, adalah menjamin adanya keterlibatan nyata, alih-alih hanya melakukan aktivisme klik (click activism) melalui media jejaring sosial. Jadi, hal terpenting di sini bukanlah internet atau media jejaring sosial semata, tetapi bagaimana secara strategis dan politis, kelompok dan komunitas masyarakat sipil di Indonesia dapat memanfaatkan media yang ada untuk berkembang. Masyarakat sipil Indonesia memiliki sejumlah pengalaman positif yang membuktikan bahwa prinsip itu bisa dilakukan, misalnya gerakan Jalin Merapi (http://merapi.combine.or.id/)40, gerakan #SaveJkt, dan gerakan KlikJakarta (41). Ruang bersama yang dapat diciptakan dan diperkuat dengan media online sebagai langkah startegi digital juga sudah dibangun sebagai pengalaman yang terbuktikan oleh beberapa kelompok, seperti Komunitas Langsat di Jakarta, CommonRoom (http://commonroom.info/) di Bandung, dan Rumah Blogger Indonesia Bengawan (http://bengawan.org/) di Solo.

Perlu satu studi yang lebih utuh dan mendalam daripada sekedar catatan singkat ini untuk bisa menggali lebih banyak data. Proyeksi potensi sumber daya digital Indonesia di masa mendatang sangat besar. Minat kelompok muda terhadap sejarah dan pusaka bangsa juga sangat besar. Jika langkah-langkah pengelolaan informasi dan pengetahuan pusaka Indonesia masih bertahan dengan cara-cara lama yang searah dan memonopoli pemaknaan, bangsa ini akan semakin tertinggal jauh dari cara-cara kreatif dan interaktif yang sudah jamak dilakukan oleh komunitas masyarakat sipil di banyak negara. Padahal, kekayaan pusaka alam dan budaya yang didukung dengan jumlah penduduk besar merupakan modal besar yang tak bisa ditandingi oleh bangsa manapun di dunia. Kekayaan dan pengetahuan yang masih terserak itu sudah saatnya untuk dihimpun dalam satu jejaring pengetahuan. Satu langkah menuju strategi digital untuk pelestarian pusaka Indonesia telah dimulai.

(Elanto Wijoyono)

——

Catatan kaki:

  1. Tulisan ini disusun selama bulan Januari 2012 sebagai laporan program kunjungan internasional ke Belanda. Program kunjungan dilakukan pada tanggal 2 – 9 Desember 2011 ke sejumlah organisasi pelestarian pusaka, arsip, museum, dan konferensi internasional Digital Strategies for Heritage (DISH 2011); http://dish2011.nl. Program ini didukung dengan pembiayaan dari Dutch Centre for International Cultural Activities (SICA) dan Embassy of the Kingdom of the Netherlands – Jakarta, Indonesia
  2. Saat ini saya _ Elanto Wijoyono _ aktif di Badan Pelestarian Pusaka Indonesia/BPPI (http://indonesianheritage.info) yang berkantor di Jakarta dengan peran sebagai Koordinator Proyek Pembangunan Basisdata dan Sistem Informasi Pusaka (hingga 2013). Saya berdomisili di Yogyakarta dan bekerja sebagai Koordinator Program Pengembangan Sistem Informasi Pengelolaan Sumber Daya Komunitas (http://lumbungkomunitas.net) di COMBINE Resource Institution (http://combine.or.id).
  3. Group Facebook Bol Brutu (closed group); http://www.facebook.com/groups/135387239853364/, diakses pada 30 Januari 2012.
  4. Leg/hes. 2012. Berburu Batu ala Bol Brutu. Radar Jogja. Edisi 31 Januari 2012. ; http://www.radarjogja.co.id/town-square/19-utama/23709-berburu-batu-ala-bol-brutu.html, diakses pada 31 Januari 2012.
  5. Group Facebook Kota Toea Magelang (open group); http://www.facebook.com/groups/kotatoeamagelang/, diakses pada 29 Januari 2012.
  6. Blog Kota Toea Magelang; http://kotatoeamagelang.wordpress.com, diakses pada 29 Januari 2012.
  7. Aufrida Wismi W. dan Marcus Suprihadi. 2012. Bangunan Bersejarah di Medan Hilang dan Hancur. Kompas.Com. Edisi 24 Januari 2012. http://regional.kompas.com/read/2012/01/24/1315001/Bangunan.Bersejarah.di.Medan.Hilang.dan.Hancur, diakses pada 29 Januari 2012.
  8. Group Facebook PANDU PUSAKA Forum (closed group); http://www.facebook.com/groups/pandupusaka/, diakses pada 29 Januari 2012.
  9. Group Facebook MENCINTAI CAGAR BUDAYA BANGSA (closed group); http://www.facebook.com/groups/cintacagarbudaya/, diakses pada 29 Januari 2012.
  10. Website BP3 Jawa Tengah; http://purbakalajawatengah.org, diakses pada 30 Januari 2012.
  11. Website BP3 Yogyakarta; http://www.purbakalayogya.com, diakses pada 30 Januari 2012.
  12. Website Balai Arkeologi Yogyakarta; http://arkeologijawa.com, diakses pada 30 Januari 2012.
  13. Website Balai Konservasi Peninggalan Borobudur; http://konservasiborobudur.org/, diakses pada 30 Januari 2012.
  14. Yanuar Nugroho. 2011. @ksi Warga; Kolaborasi, Demokrasi Partisipatoris, dan Kebebasan Informasi; Memetakan Aktivisme Sipil Kontemporer dan Penggunaan Media Sosial di Indonesia. Kolaborasi riset antara Manchester Institute of Innovation Research dan HIVOS Regional Office Southeast Asia.
  15. Internet World Stats; Usage and Population Statistics: Indonesia. http://www.internetworldstats.com/asia/id.htm, diakses pada 27 Januari 2012.
  16. The Jakarta Post. 2011. Internet Users in Indonesia reaches 55 people. The Jakarta Post. Edisi 28 Oktober 2011. http://www.thejakartapost.com/news/2011/10/28/internet-users-indonesia-reaches-55-million-people.html, diakses pada 27 Januari 2012.
  17. Didik Purwanto dan Wicaksono Surya Hidayat. 2012. Penetrasi Seluler di Indonesia Lampaui China. Kompas.Com. Edisi 13 Januari 2012. http://tekno.kompas.com/read/2012/01/13/15454812/Penetrasi.Seluler.di.Indonesia.Lampaui.China, diakses pada 1 Februari 2012
  18. Putra Setia Utama. 2011. Pertumbuhan Pelanggan Blackberry di Indonesia pada Tahun 2011. TeknoJurnal.Com. Edisi 20 September 2011; http://www.teknojurnal.com/2011/09/20/pertumbuhan-pelanggan-blackberry-di-indonesia-pada-tahun-2011/ diakses pada 1 Februari 2012.
  19. Pers Release. 2010. Indonesia, Brazil, and Venezuela Lead Global Surge in Twitter Usage; Global Audience to Twitter.com Doubles in Past Year, as Latin American Audience Grows Fourfold. Comscore.Comhttp://www.comscore.com/Press_Events/Press_Releases/2010/8/Indonesia_Brazil_and_Venezuela_Lead_Global_Surge_in_Twitter_Usage diakses pada 31 Januari 2012
  20. The Socialbakershttp://www.socialbakers.com/facebook-statistics/indonesia diakses pada 1 Februari 2012.
  21. Laretna T. Adishakti. 2008. Kepekaan, Selera, dan Kreasi dalam Kelola Kota Pusaka. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka 2008 Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 23 Agustus 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.
  22. Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003 dapat dilihat di http://www.indonesianheritage.info/produk-hukum/36-piagam-pelestarian-pusaka-indonesia.html
  23. Daftar lembaga mitra Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) per 2011; http://www.indonesianheritage.info/organisasi/bppi/partnership.html
  24. Jaringan Kota Pusaka Indonesia. Wikipedia.Org; http://id.wikipedia.org/wiki/Jaringan_Kota_Pusaka_Indonesia diakses pada 1 Februari 2012.
  25. Burhan Bungin. 2009. Sosiologi Komunikasi; Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Edisi Pertama. Cetakan keempat. Jakarta: Kencana. Halaman: 91 – 92.
  26. Ibid., Halaman: 124 – 148.
  27. http://www.dish2011.nl/sessions/wrap-up-of-dish2011-conference
  28. Ari Matti Hayrinen, mahasiswa PhD dari Finlandia mengritik situasi ini dalam salah satu presentasi di sesi workshop pararel “New Perspective on Participatory Heritage”. Dia menawarkan cara pandang pengelolaan pusaka yang saat ini masih sangat terpusat dan satu arah dengan cara pandang baru mengikuti pendekatan dan metode dalam tradisi open source di dunia pengembangan software.
  29. http://www.dish2011.nl/sessions/keynote-by-clifford-lynch
  30. Lihat, Sunita Sue Leng. 2009. Borobudur at the Crossroads. The Jakarta Post. Edisi 22 Februari 2009; http://www.thejakartapost.com/news/2009/02/22/borobudur-crossroads.html
  31. Lihat, http://www.facebook.com/tropenmuseum
  32. Pengelolaan museum megah ini terancam mengalami kesulitan akibat kebijakan penghentian kucuran dana dari Kementerian Luar Negeri bagi KIT per 1 Januari 2013, sehingga Tropen Museum, Tropentheater, dan KIT Library yang merupakan bagian dari KIT akan terkena dampaknya. Saat ini, sejak November 2011, berbagai program menggalang dukungan untuk kelangsungan pendanaan pemerintah terhadap Tropen Museum telah banyak dilakukan. Dalam website resminya, ajakan dukungan itu ditampilkan dalam halaman khusus; lihat, http://www.tropenmuseum.nl/-/MUS/70314/Tropenmuseum/About-Tropenmuseum/Support-us!
  33. Statistik penggunaan Facebook di Belanda http://www.socialbakers.com/facebook-statistics/netherlands
  34. Daftar jumlah pengguna Facebook per negara di dunia http://www.socialbakers.com/facebook-statistics/. Indonesia berada di urutan terbanyak ke-2 di dunia.
  35. Data jumlah penduduk negara Belanda menurut Wikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_the_Netherlands
  36. The Netherlands Ranks #1 Worldwide in Penetration for Twitter and Linkedin; http://www.comscore.com/Press_Events/Press_Releases/2011/4/The_Netherlands_Ranks_number_one_Worldwide_in_Penetration_for_Twitter_and_LinkedIn
  37. Djoko Utomo. 2012. Arsip Peninggalan Belanda di Indonesia dan Akses terhadap Arsip Peninggalan Belanda di ANRI. Tulisan disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) “Memperbaiki Akses terhadap Arsip Peninggalan Belanda di luar ANRI di Surabaya” yang diselenggarakan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dan Surabaya Memory pada Jumat, 27 Januari 2012 di Universitas Kristen Petra Surabaya.
  38. Thesaurus KITLV dapat diakses di http://www.kitlv.nl/home/thesaurus
  39. Harriet Deacon. 2011. DISH 2011 Conference; Thinking about Digital Strategies for Heritage. The Archival Platform. Edisi 13 Desember 2011. http://www.archivalplatform.org/blog/entry/dish_2011_conference_thinking_about_digital_strategies_for_heritage/ diakses pada 1 Februari 2012.
  40. Volunteers Use Twitter to Help Victims of Indonesia Eruptions (Jakarta Globe, 01/11/2010) | http://www.thejakartaglobe.com/home/volunteers-use-twitter-to-help-victims-of-indonesia-eruptions/404426; Want aid distributed? Leave it to Twitter (The Jakarta Post, 22/11/2010) | http://www.thejakartapost.com/news/2010/11/22/want-aid-distributed-leave-it-twitter.html
  41. Elanto Wijoyono. 2011. KlikJkt dan SaveJkt; Dua Warna untuk Satu Kota. https://elantowow.wordpress.com/2011/05/07/klikjkt-dan-savejkt/, diakses pada 1 Februari 2012.

Tulisan ini dimuat pertama kali di website Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) / Indonesian Heritage Trust pada bulan Februari 2012 di alamat http://indonesianheritage.info/kajian/127-pusaka-dalam-genggaman.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s