Selametan Nyewu untuk Museum Sonobudoyo

Momentum Membawa Museum sebagai Ruang Publik

Image

Dalam tradisi budaya Jawa, selametan nyewu atau peringatan 1000 hari adalah prosesi ritual paling penting dalam rangkaian upacara peringatan meninggalnya seseorang. Upacara peringatan 1000 hari ini merupakan upacara penutup, memperingati meninggalnya seseorang untuk terakhir kalinya (selametan nguwis-uwisi). Selametan ini bertujuan mendoakan arwah orang yang meninggal agar memperoleh ketenangan dan kerabat yang ditinggalkan mendapatkan keikhlasan. Selain diisi dengan doa, upacara ini juga disertai dengan upacara ngijing, atau membangun batu nisan di makam. Sebagai upacara “perpisahan terakhir” dari arwah seseorang yang sudah meninggal dengan kerabat yang masih hidup, biasanya tradisi nyewu akan digelar semeriah mungkin, daripada peringatan-peringatan sebelumnya. Peringatan 1000 hari akan menjadi penanda keikhlasan kerabat yang ditinggalkan untuk melepaskan kepergian arwah yang sudah meninggal untuk selama-lamanya. Hubungan antara arwah dan kerabatnya pun akan “lepas” karena arwah telah kembali berdiam di asalnya di sisi Sang Pencipta.

Bulan ini juga genap 1000 hari hilangnya 87 koleksi emas masterpiece Museum Negeri Sonobudoyo. Kehilangan besar ini telah memasuki tahun ketiga, sejak dinyatakan hilang pada tanggal 11 Agustus 2010 yang lalu. Namun, menjadi pertanyaan pula bagi kita semua, apakah dengan telah berjalannya waktu lebih dari 1000 hari ini maka kita layak untuk melepas dan mengikhlaskan “kepergian” koleksi emas masterpiece bersejarah yang tak ternilai tersebut? Apakah setelah berlalu 1000 hari, kita bisa siap melanjutkan langkah ke depan, tanpa mengharapkan “roh” dan “wujud” koleksi emas museum ini kembali lagi ke kehidupan kita? Kehidupan apa yang sebenarnya kita harap bisa dijalani jika kemudian kita mengabaikan nilai-nilai luhur pusaka budaya bangsa ini dengan membiarkan kasus ini lenyap tanpa bekas?

Puncak Gunung Es Eksklusivitas Museum

Kasus hilangnya koleksi emas itu memang menyisakan beragam pertanyaan. Tidak hanya muncul pertanyaan tentang perkembangan kasus, tetapi juga pertanyaan tentang apa nilai penting artefak yang hilang itu. Kemudian, manfaat apa yang bisa didapatkan oleh masyarakat ketika koleksi tersebut hilang atau bahkan ditemukan kembali? Selama ini publik kemudian hanya terbatas menyampaikan pandangan prihatin. Namun, selebihnya, tak ada hal lebih lanjut yang akan dilakukan. Tak ada dorongan kuat dan luas dari masyarakat umum untuk penyelesaian kasus ini. Jika pun ada geliat, sangat terbatas muncul dari kelompok kecil yang tak bisa mewakili pandangan publik secara keseluruhan.

Hal itu menunjukkan bahwa kasus hilangnya koleksi emas di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta adalah puncak gunung es dari suatu tantangan yang lebih besar. Museum belum menjadi bagian yang populer dari kehidupan publik. Sebabnya ada banyak faktor. Namun, eksklusivitas menjadi salah satu faktor utama. Eksklusivitas menjadikan museum berjarak dengan publik, sehingga tak semua orang dengan senang hati berkunjung ke museum, apalagi berjuang untuk museum. Eksklusivitas dalam hal apa?

Banyak museum yang dari sisi manajemen mulai lebih terbuka bagi publik sebagai bagian dari atraksi wisata dan media pendidikan. Namun, sebagian museum kita masih searah. Interpretasi yang ditawarkan atas suatu artefak yang dipajang masih eksklusif, berdasarkan pada pemaknaan pakar atau bahkan negara atas sejarah suatu artefak. Sangat sedikit atau bahkan hampir tak dijumpai ruang bagi publik untuk bisa terlibat dalam membangun interpretasi dan narasi dalam suatu museum. Akibatnya, publik hanya merasa disuguhi dan dijejali pajangan yang sering miskin informasi. Tidak terbangun interaksi dan komunikasi dua arah yang aktif dalam upaya membangun pengetahuan bersama yang terjadi antara museum dengan publik.

Museum selain mencoba menyuguhkan interpretasi, juga berupaya membangun memori. Namun, memori yang ditawarkan dalam museum kita belum bisa merepresentasikan memori bersama. Padahal, memori tidak selalu berjalan linier dan pasti berkembang. Bahkan, jalannya sejarah, jalannya peristiwa bisa diubah dengan sebuah tindakan kolektif. Namun, memori yang coba ditampilkan dalam museum kita adalah memori yang terbatas dan sering tidak utuh. Jarak antara museum dengan publik, disadari atau tidak, tetap ada dengan adanya dominasi dalam proses interpretasi. Dampaknya, walaupun publik bisa menilai bahwa museum memberikan manfaat bagi peradaban dengan sumbangannya kepada ilmu, tetapi bentuk kebermanfaatannya bagi masyarakat masih menjadi pertanyaan besar.

Membangun Manfaat Museum bagi Publik

Museum di kota-kota di negara yang serius membangun strategi kebudayaannya adalah salah satu tujuan utama yang selalu diletakkan di awal program kunjungan (wisata). Museum dirancang mampu menjadi etalase kebudayaan kota atau negara tersebut, bak taman mini yang menyapa ramah para tamu. Bahkan, banyak museum yang mau bersusah payah memboyong sebagian koleksi berbungkus informasi yang lengkap dan akurat ke dalam bandara. Mereka berusaha menyapa dan menampilkan identitas sejak dari gerbang kedatangan. Dari koleksi dan informasi yang ada, publik atau wisatawan akan mendapatkan citra yang utuh, tak hanya tentang sejarah kota/negara itu, tetapi juga profil termutakhir peradaban yang akan mereka kunjungi. Dari museum, penjelajahan pun dimulai. Interaksi dan dampak dari pengunjung pun kemudian tak hanya didapatkan oleh museum, tetapi juga komunitas yang hidup/tinggal jauh dari museum.

Koleksi yang terkelola apik lengkap dengan informasi akurat adalah panduan yang menarik bagi publik dan wisatawan untuk berkunjung ke lebih banyak tempat. Narasi sejarah (memori) dan karya seni kreatif akan mendorong publik, penduduk setempat dan wisatawan, untuk menjelajahi peradaban kota/negara yang tertampilkan di museum. Dampaknya, peluang interaksi antara penduduk setempat (yang profil budayanya tertampilkan di museum) dengan pengunjung dapat terjadi. Interaksi yang terjadi adalah potensi kerjasama lintas budaya yang bisa memberikan banyak kesempatan untuk berubah dan berkembang. Jadi, ada keterkaitan langsung antara memori dan kreasi yang terpajang di museum dengan situasi yang akan terpengaruh dan berubah di masyarakat. Hal itu sejalan dengan semangat The International Council of Museums (ICOM) yang dalam peringatan Hari Museum Internasional 2013 mengusung tema “Museums (Memory + Creativity) = Social Change”. Ada semangat yang ingin diwujudkan bahwa kehadiran museum pun mampu berperan dalam membangun perubahan sosial merujuk dari himpunan pengetahuan yang dikelolanya.

Momentum Refleksi dan Rencana Aksi untuk Sonobudoyo

Museum yang dibangun oleh Yayasan Java Institut pada tahun 1931 dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1935 ini sedang menyiapkan diri menjadi museum bertaraf internasional. Museum Sonobudoyo terbagi dalam dua unit. Unit I terletak di kompleks Bangsal Pengurakan di Alun-Alun Utara yang menampilkan koleksi sejarah, arkeologi, dan etnografi. Unit II terletak di Kompleks Dalem Condrokiranan, Panembahan, Kraton yang menampilkan koleksi sejarah dan etnografi khusus untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, sayang, manajemen koleksi dan informasi di kedua museum ini masih sangat memprihatinkan. Selain ragam koleksi terpajang yang tak dinamis, kusam, tak terpelihara, dan miskin informasi, pengamanannya pun lemah. Hilangnya koleksi emas yang berlabel masterpiece dari museum ini pun hanya menjadi satu penanda dari banyak penanda lain bahwa museum harus segera berbenah.

Museum Negeri Sonobudoyo harus mampu tampil sebagai etalase peradaban Daerah Istimewa Yogyakarta pada khususnya dan kebudayaan Jawa pada umumnya. Narasi yang tertampilkan dapat dibangun dengan partisipasi publik, tak terbatas pada interpretasi pakar dan pemerintah yang cenderung kaku dan searah. Ada banyak pengetahuan, memori, dan kreativitas yang dapat dihimpun untuk ditampilkan ke dalam museum bersama dengan masyarakat. Unit I dapat dikelola dengan melibatkan publik dalam membangun interpretasi tentang sejarah, arkeologi, dan seni dari sudut pandang masyarakat. Museum Unit II dapat dikelola dengan melibatkan komunitas dari tiap daerah untuk mengisi koleksi dan membangun informasi. Dampaknya, museum akan dinamis dan memiliki keterkaitan langsung dengan publik yang bagian dari dirinya akan terwakili di sana. Publik dan wisatawan yang berkunjung ke Museum Sonobudoyo pun tak akan sekedar menikmati koleksi, tetapi juga informasi untuk melanjutkan penjelajahan berikutnya. Pengetahuan dan kebermanfaatan museum pun akan terbangun melampaui batas pagar bangunan dan sekat interpretasi yang selama ini mengurung museum dari publik yang dinamis dan kreatif.

(Elanto Wijoyono)

Ditulis dalam rangka acara Hari Museum Internasional 2013 dan acara Peringatan 1000 Hari Hilangnya Koleksi Emas Masterpiece Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta pada tanggal 29 Mei 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s