Kesamaan Kasus Rokok, Trotoar, hingga Sampah Visual

IMG_0065 (another copy)

Dihimpun dari Twit Series @joeyakarta

Malam ini (20/04) usai ikut diskusi di Kauman, seorang perempuan usia mahasiswa menghampiri aku. Dia bertanya benarkah aku orang yang di restoran semalam. Ternyata dia adalah satu dari tiga perempuan yang ada di meja sebelah meja laki-laki yang hisap rokok di dalam ruang restoran yang tertutup dan ber-AC. Pada malam itu, di restoran itu aku menegur seorang laki-laki usia mahasiswa yang merokok di dalam ruang restoran. Namun, sebelum menegur dia, aku datang ke meja sebelahnya, yang lebih dekat daripada mejaku. Meja sebelah laki-laki perokok itu adalah meja tempat tiga perempuan yang sedang menunggu makanan pesanan.

Aku bertanya apakah mereka terganggu dengan asap rokok? Hanya satu perempuan yang menjawab dan jawabannya cukup menghenyakkan karena dia menjawab, “Biasa saja tuh, Mas. Tapi kami juga segera pergi kok.” Dia balik bertanya, “Memangnya ada apa?” Aku jawab bahwa jika ada orang lain yang terganggu dengan asap rokok maka aku akan menegur si perokok. Namun, aku tetap menegur laki-laki yang menghisap rokok di dalam restoran itu karena aku sendiri merasa terganggu. Ketiga perempuan tadi tak lama kemudian memang pergi. Laki-laki muda yang hisap rokok di dalam restoran itu mau mematikan tembakau bakarnya walaupun di awal tampak heran. Jarang kena tegur sepertinya.

Namun, hal yang aku tak tahu, ternyata perempuan yang tadi bicara denganku sangat memikirkan kejadian tersebut. Dia adalah orang yang tadi menyapaku usai diskusi di Serambi Masjid Agung Yogyakarta. Perempuan itu berpikir berat kenapa ada orang bertanya ke dia soal keberatan atau tidak dengan asap rokok di dalam restoran. Kebetulan sekali tadi bertemu lagi. Seperti dalam sinetron, orang bisa bertemu lagi usai kejadian sebelumnya, walaupun tak kenal, dan aku pun lupa. Namun, dia ingat karena memang menjadi sangat terpikir, “Ada apa sebenarnya?”

Akhirnya, usai diskusi di serambi masjid semalam, dia menghampiri aku, memastikan aku orang yang sama dengan yang semalam ia jumpai. Aku kaget dan takjub dengan fakta bahwa bisa ada orang yang benar-benar berpikir dengan hal yang terjadi kemarin dan mau mencari tau apa tujuan sebenarnya. Aku menjelaskan ke dia bahwa menghisap rokok itu boleh sebagai pilihan individu. Namun, harus pada tempat yang tepat, bukan di dalam ruang restoran yang tertutup. Di restoran itu ada banyak orang yang bukan perokok, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa laki-laki dan perempuan, yang tak memilih hidup dengan udara kotor. Namun, sayangnya, banyak orang tak sadar atau tak mau pahami itu, baik si perokok sendiri maupun bahkan orang yang bukan penghisap rokok. Perempuan tadi merasa tak terugikan. Padahal, udara segar yang seharusnya bisa dia hirup dipaksa dicampur dengan asap rokok yang bukan pilihannya

Jadi, disadari atau tidak, hal itu dianggap biasa, tragedy of the commons, hal yang berdampak negatif dianggap wajar karena banyak yang melakukannya. Namun, ketika ada pihak yang kemudian berupaya untuk menghentikan/meminimalisasi praktik tersebut, banyak orang yang lantas berteriak merasa dirugikan hak asasi kemanusiaannya. Ada ruang-ruang yang tak terpahami dan sengaja dibuat/dipelihara agar selalu ambigu, dan itu hanya dinikmati sebagian orang, menindas yang lain.

Seperti sebuah ruas trotoar yang ketika berfungsi sebagai prasarana untuk pejalan kaki maka tak akan ada satu orang pun yang terugikan. Ada manfaat untuk bersama. Semua orang, termasuk yang berkebutuhan khusus, dari yang kaya hingga yang miskin, semua punya hak yang sama, akses yg sama, berjalan kaki di trotoar. Namun, ketika di atas trotoar muncul fungsi-fungsi lain yang tidak sesuai dengan peruntukan, seperti untuk berdagang dan parkir, tentu saja ada hak publik pejalan kaki yang terampas dan terugikan. Namun, ketika para pejalan kaki ingin hak ruang jalan kakinya kembali, justru rentan dipersalahkan balik karena telah melanggar hak asasi kemanusiaan liyan untuk hidup dengan mata pencaharian di atas trotoar itu.

Sepertinya halnya hak atas udara yang bersih dan sehat. Jika suatu ruang bisa menyediakan udara yang baik, maka tak ada yang terugikan, satu orang pun. Namun, ketika ada sebagian orang yang ingin memanfaatkan ruang udara tadi dengan aktivitas yang berbeda, seperti dengan merokok, ada ruang publik yang terampas. Masalahnya, ketika publik akan merebut kembali haknya atas udara yang bersih dan sehat, yang tak merugikan satu orang pun, justru rentan dipersalahkan. Publik pemohon udara bersih dan sehat justru rentan disalahkan dianggap telah melanggar hak asasi kemanusiaan perokok. Bahkan, kasusnya mempermasalahkannya bisa diseret-seret hingga ke urusan tani, buruh, bahkan heritage segala.

Sama juga ketika publik pemohon ruang kota yang bebas dari sampah visual iklan komersial, justru rentan dipersalahkan telah merugikan usaha liyan. Ketika ruang publik kota tidak terkotori oleh tempelan-tempelan media luar ruang, baik sekedar papan nama maupun iklan komersial dan politik, maka tak ada satu pun orang yang terugikan. Namun, ketika sampah visual di ruang kota muncul, sehingga menjadikan ruang kota kotor dan kumuh, maka ada kelompok yang diuntungkan dan yang dirugikan. Kelompok yang dirugikan adalah warga kota yang ingin ruang publik seperti apa adanya yang bisa diakses siapapun, bukan kemudian justru dikuasai oleh segelintir orang yang punya akses ke modal dan birokrasi untuk memanfaatkan ruang bersama menjadi ruang privat berbayar. Namun, publik pemohon ruang publik bebas sampah visual ini sangat rentan disalahkan balik karena telah dianggap melanggak hak asasi orang untuk bekerja dan berusaha.

Aku bilang ke dia, perempuan tadi, bahwa kita harus berani bersikap untuk hal yang baik dan sejatinya tak merugikan orang lain, satu orang pun. Walaupun pada faktanya, orang-orang perampas hak publik yang telah mendapat keuntungan itu biasanya lebih keras berkoar telah dirugikan oleh kita. Padahal, siapa yang curang duluan merampas hak liyan di ruang bersama? Justru berteriak duluan merasa dirugikan. Sayangnya, situasi salah kaprah ini terus dibiarkan oleh publik dalam diam, spiral of silence.

Dia, perempuan tadi, kemudian bilang bahwa dirinya senang telah dapat jawaban dan penjelasan dari hal yang terjadi kemarin. Dia merasa seperti mendapat “jalan”. Aku pun takjub bahwa ternyata hal kecil yang aku lakukan, yang rentan dipersalahkan oleh orang lain, ternyata bisa membuka pemahaman baru untuk orang lain, minimal untuknya. Obrolan singkat ini terjadi semalam usai diskusi dinamis & cerdas tanpa asap rokok di Kauman. Ternyata Yogyakarta masih punya ruang-ruang dan pribadi yang memang istimewa.

Elanto Wijoyono

One thought on “Kesamaan Kasus Rokok, Trotoar, hingga Sampah Visual

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s