Mengapa Heritage Diterjemahkan menjadi Pusaka?

Image

Dihimpun dari Twit Series @joeyakarta

Setelah satu dekade gerakan pelestarian pusaka Indonesia, masih banyak yang belum paham dengan makna pusaka. Hal ini tidak esensial untuk dijadikan isu utama dalam gerakan pelestarian, tetapi bisa jadi diskusi serius. Sebagian pihak menganggap istilah heritage tak tepat diterjemahkan sebagai “pusaka”. Ada pihak yang menggunakan istilah warisan budaya, cagar budaya, hingga heritase sebagai padanan kata heritage. Bahkan, ada pihak yang menganggap penggunaan istilah “pusaka” itu salah karena jika diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi heirloom. Padahal, justru istilah pusaka memang tidak tepat diterjemahkan sebagai heirloom yang berarti warisan, melainkan heritage karena keluasan maknanya.

Baik heritage maupun pusaka memiliki keluasan makna, tidak sekedar berarti warisan, heirloom, atau legacy. Pusaka dimaknai punya cakupan luas, tak terbatas pada aspek budaya, tetapi juga aspek alamiah, dan gabungan keduanya sebagai saujana. Seperti yang tersurat dalam syair lagu “Indonesia Pusaka” gubahan Ismail Marzuki, Indonesia adalah saujana yg bernilai pusaka.

Pemaknaan itu muncul sebagai kesepakatan dalam dinamika yang terjadi di Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia di awal dekade 2000. Kesepakatan tentang pemahaman dan pemaknaan itu kemudian ditegaskan dalam Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia pada tahun 2003. Semua dinamika kepusakaan itu terjadi secara dialogis yang melibatkan pegiat dan kelompok pelestari se-Nusantara, bukan desakan satu dua pihak.

Hal yang diutamakan dalam pemilihan istilah ini adalah pemahaman tentang keluasan makna yang dicakup oleh istilah yang akan digunakan untuk mendorong upaya pelestarian kehidupan. Dalam kehidupan, tak hanya warisan karya budaya (dari masa lalu) saja yang harus dilestarikan, tapi juga karya budaya mutakhir yang bernilai pusaka, juga alam. Membumikan ranah pelestarian tanpa meninggalkan keutuhan konteks adalah salah satu tujuan dari penggunaan kata pusaka yang memang semakin tak populer. Namun, ketidakpopuleran dan penyempitan pemaknaan pusaka oleh bangsa Indonesia harus diubah dengan gerakan pelestarian yang mengusung “pusaka” itu sendiri.

Bangsa Indonesia memiliki pemahaman dan pemaknaan, serta memang punya kata yang bisa menjelaskan kompleksitas heritage, yakni pusaka. Tak perlu menyempitkan makna dan tak perlu pula tidak percaya diri, sehingga merasa harus membuat kata serapan asing untuk menjelaskan heritage. Harus disadari, bangsa Indonesia punya pengalaman dan teladan dalam pelestarian kehidupan dari generasi ke generasi, sehingga ada istilah pusaka.

Namun, kembali ke pernyataan saya di awal, hal ini tak cukup esensial untuk  diungkit-ungkit dalam dinamika pelestarian pusaka atau heritage Indonesia. Apapun istilah yang diusung, satukan tujuan, untuk kehidupan alam dan budaya Nusantara yang lestari. Hal itu jauh lebih penting dan berarti.

Salam lestari

Elanto Wijoyono

2 thoughts on “Mengapa Heritage Diterjemahkan menjadi Pusaka?

  1. mawi wijna

    Indikatornya adalah masyarakat akar rumput di pedesaan. Kalau mereka mengerti sebuah kata yang dapat merepresentasikan heritage, maka urusan translasi bahasa ini sudah sukses.

    Reply
  2. Pingback: Sejarah Pelestarian dan Masa Depan Peradaban; Pelajaran untuk Bebas dari Pembangunan | Elanto Wijoyono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s