Tantangan Trayek DAMRI Yogyakarta – Borobudur

Foto-0052

Siapa Ingin Menguasai, Siapa Ingin Melayani

Membangun trayek baru transportasi publik itu tidak mudah. Selain soal koordinasi dan kelengkapan izin administratif, trayek baru juga harus telah mendapatkan “persetujuan” dari operator lain yang terlebih dahulu ada. Prosesnya bisa mudah, tetapi bisa juga susah, apalagi jika pandangan yang dikedepankan adalah semangat untuk menguasai, bukan untuk melayani.

Hari Jumat, 22 Maret 2013 pk 16.00 lalu, saya menjadi penumpang pertama trayek ujicoba Bus DAMRI trayek Yogyakarta – Borobudur. Sejak informasi layanan ini diluncurkan ke publik pada tanggal 15 Maret 2013 lalu, belum ada satu pun yang memanfaatkannya. Promosi dan publikasinya memang masih sangat kurang. Mungkin justru hanya saya yang kemudian berinisiatif membantu melakukan promosi dan publikasi, terutama melalui blog pribadi dan media jejaring sosial. Tanggapan publik cukup baik, tetapi tampaknya belum cukup meyakinkan publik untuk mau atau berani mencoba trayek baru ini.

Saya naik bus DAMRI dari Bandara Adisucipto Yogyakarta. Menurut pihak DAMRI, trayek ini juga bisa diakses dari Hotel Borobudur di dekat Sub-Terminal Jombor di Jl. Magelang, Yogyakarta. Prosedurnya sementara dengan sistem reservasi melalui telepon ke nomor telepon layanan di 087739668839. Bus yang digunakan pun masih menggunakan bus DAMRI trayek Yogyakarta – Magelang. Pihak DAMRI baru akan menjalankan bus khusus untuk trayek ini setelah perjanjian antara PO DAMRI dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko disepakati. Direktur Marketing PT Taman Wisata Agus Canny mengiyakan bahwa telah menerima surat penawaran kerjasama dari PO DAMRI dan sedang akan segera ditindaklanjuti.

Kebijakan Baru, Keraguan, dan Kebingungan

Petugas di loket agak terkejut dan harus menanyakan ke rekan kerjanya bahwa ada penumpang yang akan menuju Borobudur. Rekan kerjanya yang bertugas sebagai salah satu supir bus mengiyakan. Informasi tentang kebijakan tersebut tampaknya sudah tersampaikan hingga ke level staf pelaksana di lapangan. Saya pun mendapatkan tiket bus DAMRI trayek Yogyakarta – Magelang dengan tarif Rp 35.000,00. Tepat pk 16.00 bus siap diberangkatkan. Saya sempat bertanya kepada petugas lain yang berjaga di dekat pintu bus apakah benar saya akan diantar hingga Borobudur. Petugas itu mengatakan bahwa saya bisa turun di pertigaan Jl. Magelang yang mengarah ke Borobudur; tidak masuk hingga lokasi Taman Wisata Candi Borobudur. Namun, kemudian petugas itu bertanya ke petugas yang lain dan mendapatkan jawaban bahwa bus akan masuk ke lokasi Taman Wisata Candi Borobudur.

Bus pun berjalan merambat di tengah kepadatan lalu lintas Ring Road Utara Yogyakarta hingga Sub-Terminal Jombor. Saat menaikkan penumpang tambahan di Sub-Terminal Jombor, supir bus DAMRI menanyakan kembali apakah ada penumpang yang akan menuju Borobudur dan saya katakan ada. Penumpang lain bingung karena ternyata merasa tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Supir bus DAMRI yang saya tumpangi menjelaskan kepada penumpang bahwa memang ada kebijakan baru dari Manajemen PO DAMRI bahwa sejak tanggal 15 Maret 2013 lalu jika ada penumpang menuju Borobudur dalam trayek Yogyakarta – Magelang maka akan diantarkan hingga ke lokasi Taman Wisata Candi Borobudur. Untuk meyakinkan diri agar tidak terjadi kesalahan, supir itu meminta petugas DAMRI di Sub-Terminal Jombor untuk menelepon kantor dan dipastikan positif bahwa kebijakan itu berlaku.

Akhirnya, bus DAMRI melanjutkan perjalanan menuju Magelang dengan terlebih dahulu mengantarkan saya hingga ke lokasi Taman Wisata Candi Borobudur. Saya tiba di Borobudur sekitar pk 17.30. Penumpang lain melanjutkan perjalanan ke Magelang, tentu saja dengan waktu yang jadi lebih panjang dari normal perjalanan Yogyakarta – Magelang. Tentu saja saat bus DAMRI ini melaju hingga Borobudur, banyak mata yang memandang heran melihat bus bandara bisa datang dan menurunkan penumpang hingga Borobudur.

Pembatalan atau Penundaan Kebijakan?

Hari Sabtu, 23 Maret 2013 saya berencana pulang kembali ke Yogyakarta dari Borobudur usai memandu sebuah lokakarya di Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Saya pun melakukan pemesanan bus DAMRI melalu nomor 087739668839 agar bisa dijemput di Taman Wisata Candi Borobudur pada pk 16.00. Pemesanan ditanggapi positif. Saat itu masih pk 13.00. Jadi, menurut saya, masih ada waktu bagi DAMRI untuk bersiap dan mengatur jadwal. Dalam perjalanan hari sebelumnya, saya telah mengirimkan sejumlah pesan ke nomor 087739668839 bahwa perlu ada mekanisme pemberitahuan kepada calon penumpang lain bahwa jika ada penumpang dari/ke Borobudur maka bus DAMRI akan mengantar/menjemput. Jadi, tak akan ada kebingungan di pihak penumpang yang lain. Calon penumpang pun bisa menghitung waktu perjalanan agar tidak terugikan.

Namun, jelang pk 13.30 saya mendapatkan kabar dari DAMRI melalui nomor 087739668839 bahwa pesanan jemputan ke Borobudur dengan terpaksa tak bisa dilayani. Alasannya, pihak PO DAMRI mengaku mendapatkan masukan dari operator bus reguler bahwa trayek baru Yogyakarta – Borobudur harus mendapatkan izin dari dinas perhubungan setempat. Ketika saya tanyakan apakah sudah ada koordinasi di tingkat manajemen, mengingat DAMRI dan dinas perhubungan berada satu atap di bawah Kementerian Perhubungan, hal itu diiyakan. Namun, kesepakatan dan koordinasi di level manajemen atau pengambil kebijakan itu ternyata masih belum bisa dipahami oleh operator di level pelaksana yang berada di jalan. Dengan alasan untuk menjaga aset, yakni bus DAMRI, agar tak terkena masalah selama di jalan, maka dengan terpaksa layanan yang saya pesan tak bisa dipenuhi. Saya bisa mengerti situasi itu dan tetap memberikan tanggapan positif terhadap manajemen DAMRI yang telah mengelola proses yang tidak mudah ini. Pihak DAMRI menjanjikan bahwa proses penyepakatan kerjasama dengan pihak PT Taman Wisata Candi Borobudur akan tetap dijalankan dan segera ditandatangani agar trayek khusus ini bisa segera berjalan.

Trayek Baru, Siapa Diuntungkan, Siapa Dirugikan

Bukan hal langka di Indonesia, ketika sebuah trayek baru (direncanakan) diluncurkan pasti akan menuai protes. Protes tidak muncul dari publik. Protes itu biasanya muncul dari operator transportasi publik lain yang berada di trayek yang sama. Alasannya klasik, bahwa trayek baru akan mempengaruhi, mengganggu, atau bahkan mematikan trayek lama yang sudah berjalan. Jadi, dengan kata lain, jamak terjadi di Indonesia, operator transportasi publik cenderung ingin menguasai satu trayek dan berharap tak ada pesaing/kompetitor. Jelas ini adalah permainan yang mengarah ke praktik monopoli. Bukan hal yang sehat yang dapat dibiarkan, apalagi jika kemudian mengabaikan keberadaan publik yang memerlukan pilihan.

Penumpang bus trayek Yogyakarta – Borobudur selama ini dilayani dengan bus reguler dengan rute Terminal Giwangan (Yogyakarta) – Sub-Terminal Jombor – Tempel – Sub-Terminal Muntilan – Sub-Terminal Borobudur (pergi – pulang). Bus yang digunakan adalah mikro bus dengan kapasitas sekitar 25 tempat duduk dan penumpang berdiri tidak dibatasi. Kondisi bus ini seperti kondisi bus angkutan kota reguler pada umumnya yang tak terawat baik. Trayek reguler ini dapat dinaiki di mana saja di sepanjang rute trayek, sehingga waktu perjalanan tidak bisa dipastikan. Hal yang paling menjadi pertimbangan bagi pengguna jasa transportasi publik seperti saya untuk menggunakan bus ini adalah bus ini tidak bebas asap rokok dan tidak menerapkan tarif pasti.

Sudah menjadi fakta umum pula di Indonesia bahwa merokok hingga buang sampah sembarangan di ruang publik dan transportasi publik adalah hal lumrah. Akibatnya, ketidaknyamanan adalah biaya mahal yang harus dirasakan oleh sebagian penumpang yang punya pilihan hidup yang lebih sehat. Hal yang lebih menjadikan tidak nyaman adalah tarif penumpang yang tidak pasti. Bahkan, dapat dikatakan, tarif penumpang ditentukan dari wajah dan pakaian penumpang. Penumpang yang tampak sebagai wisatawan, apalagi wisatawan asing, yang menggunakan layanan bus reguler ini dapat dipastikan akan membayar tarif yang lebih mahal daripada “penumpang biasa” lainnya. Hal yang sangat tidak menyenangkan. Selain waktu perjalanan yang tak pasti, penumpang juga harus siap dioper ke bus lain setiap saat. Saya beberapa kali mengalami dioper sekehendak hati oleh operator bus reguler trayek Borobudur – Yogyakarta. Bahkan, dalam beberapa peristiwa itu, ada penumpang wisatawan asing yang kebingungan dengan apa yang terjadi. Jika tak ada penumpang lain yang membantu menjelaskan, wisatawan asing itu bisa tertelantarkan di jalan tanpa tahu harus berbuat apa.

Penguasaan atau Pelayanan

Dalam tulisan saya tentang harapan terharap trayek baru ini pada bulan Desember 2012 lalu, saya menyatakan bahwa tipikal manajemen transportasi publik di Indonesia, penumpang/konsumen seolah tak punya pilihan. Faktanya, transportasi publik terbatas. Operator transportasi publik yang ada seolah nyaman dalam penguasaan trayek yang cenderung menjadi “monopoli”. Zona aman itu menjadikannya merasa tak perlu meningkatkan kualitas, toh tetap akan mendapatkan penumpang. Trayek baru tentu saja akan memberikan pilihan kepada publik terhadap moda transportasi yang memiliki jaminan layanan yang baik, tidak asal-asalan.

Kekhawatiran terhadap dampak trayek baru yang akan merugikan atau bahkan mematikan trayek bus reguler sangat mengada-ada. Saya pernah menuliskan analogi antara layanan bus reguler Yogyakarta – Solo yang tetap ada dan dimanfaatkan jasanya oleh banyak penumpang walaupun kereta api komuter Prambanan Ekspress juga berjalan dan mampu mengangkut lebih banyak penumpang. Lagipula, DAMRI adalah layanan transportasi publik yang bersifat cepat dan terbatas (PATAS). Bus ini tak akan menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat, sehingga memiliki target group yang berbeda dengan bus reguler. Dalam pengalaman saya bertahun-tahun melakukan perjalanan Yogyakarta – Borobudur dengan bus reguler, tak pasti ada penumpang dari Yogyakarta yang turun hingga Borobudur. Kadang hanya saya seorang penumpang dari Yogyakarta yang menumpang hingga terminal terakhir di Sub-Terminal Borobudur. Sementara, penumpang lainnya yang turun di terminal itu adalah penumpang yang naik dari Sub-Terminal Muntilan atau naik di sepanjang jalan trayek tersebut. Bus DAMRI yang hanya akan melayani penumpang dari titik-titik tertentu pastinya berbeda dengan penumpang bus reguler.

Saya pribadi sangat berharap trayek bus DAMRI Yogyakarta – Borobudur benar-benar bisa terwujud. Kerjasama antara PO DAMRI dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur semoga bisa segera tersepakati. Trayek ini tentu saja akan sangat bisa mendukung aksesibilitas menuju kawasan pusaka dunia Borobudur, terutama dari Yogyakarta. Wisatawan atau pengunjung lain yang biasanya harus menyewa mobil atau naik transportasi publik yang terbatas pilihannya akan memiliki lebih banyak pilihan. Publik punya hak untuk menentukan pilihan layanan yang akan diakses. Namun, hal itu akan sangat sulit dilakukan jika ruang pilihan itu ditutup dengan beragam praktik tak sehat yang mengedepankan prinsip untuk “menguasai”, bukan “melayani”.

Elanto Wijoyono

One thought on “Tantangan Trayek DAMRI Yogyakarta – Borobudur

  1. cikguloh

    apakah kesudahannya? Saya dari malaysia dan bercadang melawat borobudur pada bulan november nanti. harap saudara dapat beri maklumat cara ke sana melalui lapangan terbang.. terima kasih. mahu guna perkhidmatan DAMRI.
    cikguloh@gmail.com

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s