Dokumentasi dan Diseminasi Pengetahuan Lokal melalui Radio Siaran Komunitas untuk Pengurangan Risiko Bencana Erupsi Gunungapi Merapi

Abstrak untuk CfP EuroSEAS Conference di Lisbon, Portugal, 2 – 5 Juli 2013

Panel 63: Bencana Alam dan Pusaka Budaya (Natural Disaster and Cultural Heritage)

Image

Catatan tentang sejarah erupsi Gunungapi Merapi di Pulau Jawa (Indonesia) sejak tahun 1768 hingga tahun 2006 menerakan jumlah 83 kali erupsi. Erupsi terakhir dan terbesar terjadi pada tahun 2010 lalu. Letusan terakhir ini memakan korban tewas 353 orang dan lebih dari 300.000 penduduk terpaksa mengungsi. Banjir lahar yang mengikuti erupsi juga merusak ratusan rumah penduduk di empat wilayah kabupaten di lingkar Merapi. Dalam setiap kejadian bencana ini, masih selalu timbul korban dan kerugian. Padahal, sejarah erupsi yang berulang sebenarnya dapat terbaca karakternya, sehingga bisa membantu proses mitigasi. Namun, hingga erupsi terakhir di tahun 2010, pemerintah dan sebagian penduduk seolah lupa dengan pengalaman erupsi atau bencana sebelumnya. Jadi, muncul kebutuhan untuk membangun proses pembelajaran terhadap pengalaman dan pengetahuan kebencanaan untuk membangun kesiapsiagaan ke depan. Inisiatif membangun proses belajar berdasarkan pengalaman dan pengetahuan lokal pun berjalan.

Inisiatif itu tidak hanya muncul dari lembaga pemerintah dan organisasi non-pemerintah. Kelompok masyarakat yang tinggal di lingkar Merapi juga punya inisiatif tersebut. Mereka sadar bahwa salah satu hal penting yang bisa dipelajari untuk membangun kesiapsiagaan adalah pengetahuan tentang lingkungan, yang antara lain terekam dalam pengetahuan tradisi dan kearifan lokal. Namun, tantangannya, tidak banyak dari pengetahuan itu yang telah terkemas pesannya dalam bentuk yang mudah dipelajari. Kelompok masyarakat desa di lereng Merapi mencoba memanfaatkan media radio siaran komunitas untuk mendokumentasikan pengetahuan dan kearifan lokal tentang Gunungapi Merapi berserta lingkungan dan kehidupan di dalamnya. Dokumentasi ini kemudian didiseminasikan melalui siaran onair dan beragam kegiatan offair di masyarakat. Inisiatif berbasis kesadaran untuk melestarikannya sebagai bagian dari pusaka budaya setempat ini telah dimulai sejak awal tahun 2000-an. Diawali dari sebuah radio siaran komunitas di wilayah Klaten, Jawa Tengah, yakni Lintas Merapi FM, kini inisiatif ini menyebar di 6-7 radio siaran komunitas lain di lingkar Merapi. Bekerjasama dengan sejumlah organisasi, pesan dan pengetahuan pusaka intangible ini juga diteruskan melalui media berbasis internet, seperti website dan media jejaring sosial, sebagai bagian dari strategi konvergensi media. Strategi itu ditujukan untuk bisa menyentuh kelompok sasaran yang lebih luas, tak hanya masyarakat setempat, tetapi juga publik/lembaga di luar Merapi yang punya perhatian terhadap kehidupan di lingkungan gunungapi aktif ini.

Kata kunci: pengetahuan lokal, kearifan lokal, radio siaran komunitas, konvergensi media, media jejaring sosial, Merapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s