Memimpikan Trayek DAMRI Yogyakarta – Borobudur

Himpunan Twit Series @joeyakarta

Akhir pekan lalu saya ke Magelang naik bus P.O. DAMRI yang melayani trayek Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta – Magelang. Bus ini nyaman, tepat waktu, ada tiap jam, dengan harga tiket hanya Rp 35.000,00. Saya pun berpikiran bahwa akan sangat baik jika DAMRI juga bisa melayani rute Yogyakarta – Borobudur. Rute ini memiliki potensi penumpang yang sangat tinggi. Mengapa tidak?

Wisatawan yang pergi ke Borobudur sebagian besar berangkat dari Yogyakarta. Mereka biasanya menggunakan jasa taksi, sewa mobil, atau naik bus umum. Dengan taksi, wisatawan harus merogoh kocek antara Rp 350.000 – Rp 500.000 untuk rute Yogyakarta – Borobudur (bisa drop atau pergi-pulang), tergantung tawar menawar. Dengan mobil sewaan, pejalan harus merogoh kocek Rp 250.000 untuk sewa mobil 24 jam (kelas Avanza) atau Rp 200.000 untuk 12 jam. Tarif itu belum termasuk biaya bensin Rp 50.000 – Rp 100.000 dan biaya sopir (antara Rp 75.000 – Rp 100.000). Sewa sepeda motor juga bisa jadi pilihan dengan tarif sekitar Rp 20.000 – Rp 50.000 / hari. Namun, lalu lintas ke Borobudur tidak cukup ramah. Hati-hati di jalan!

Sebagian wisatawan akrab menggunakan bus umum, bisa naik dari Terminal Bus Giwangan atau Sub-Terminal Bus Jombor. Jam operasi bus ini antara pukul 06.00 – 16.00. Namun, sayang, layanan bus umum ini belum maksimal. Waktu tak tentu, fasilitas buruk, tidak bebas asap rokok, penumpang bisa dioper-oper kapan saja, dan tarif tak tentu. Bertahun-tahun pergi pulang Yogyakarta – Borobudur, dari Sub-Terminal Jombor dengan bus, dikenai tarif antara Rp 7.500 – Rp 13.000. Memang tak tentu, tergantung kernet. Tarif untuk wisatawan luar Yogyakarta dan wisatawan mancanegara bisa lebih mahal.

Benar saja, tipikal manajemen transportasi di Indonesia, penumpang/konsumen pun seolah tak punya pilihan. Faktanya, transportasi publik terbatas. Operator transportasi publik yang ada pun nyaman dalam “monopoli”, tak tingkatkan kualitas, bisa paksa penumpang/konsumen mau tak mau harus memakai fasilitas dan layanan yang ada. Jika P.O. DAMRI bisa mengaktifkan trayek Yogyakarta – Borobudur maka wisatawan sebagai konsumen akan punya pilihan, dengan jaminan layanan yang baik, tidak asal-asalan.

Lalu, apakah kemudian bus umum akan terancam oleh trayek ini? Tentu tidak. Bus umum tetap punya penumpang. Bus umum akan tetap dipilih penumpang yang akan naik/turun di sepanjang jalan, seperti di Mlati, Tempel, Salam, Muntilan, Mendut, hingga Borobudur. Trayek  DAMTI yang melayani rute Yogyakarta – Borobudur akan dipilih oleh penumpang yang ingin cepat, nyaman, jadwal pasti, dan tarif tetap. Trayek P.O. DAMRI yang saat ini melayani rute Yogyakarta – Magelang pun tak lantas mematikan layanan bus umum. Kereta api komuter Prambanan Ekspres trayek Yogyakarta – Solo pun juga tak lantas mematikan layanan bus umum Yogyakarta – Solo.

Manajemen transportasi publik harus berpihak pada kebutuhan konsumen/penumpang, bukan pada keuntungan operator semata. Banyak fakta di lapangan, transportasi publik banyak yang masih dikelola secara tidak serius oleh operator, yang rata-rata mementingkan keuntungan saja. Masyarakat sebagai konsumen/penumpang berhak punya pilihan, sehingga tersedianya pilihan moda transportasi akan lebih adil; bukan pada praktik “monopoli”. Dengan adanya ragam moda transportasi, operator transportasi publik pasti akan terpacu untuk berbenah, meningkatkan kualitas layanan. Kualitas layanan bus umum Yogyakarta – Borobudur memag masih memprihatinkan. Tak ada peningkatan kualitas, mungkin karena mereka nyaman dalam “kesendirian”.

Saya sudah sampaikan usul di atas  kepada P.O. DAMRI Yogyakarta melalui SMS 087739668839. Mereka tanggapi dengan cepat dan kami berdiskusi pun via SMS. Pihak P.O. DAMRI Yogyakarta bertanya tentang layanan transportasi publik Yogyakarta – Borobudur, besar tarif, dan lalu berjanji akan lakukan survei. Sangat positif tanggapan yang diberikan. Saya pribadi sangat berharap trayek DAMRI Yogyakarta – Borobudur bisa terealisasi segera sambil menanti jaringan jalan kereta api. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (2009 – 2029) merencanakan membangun jaringan jalan kereta api pada rute  Parangtritis – Yogyakarta – Borobudur. Memang rencana masih jangka panjang, tapi sangat positif. Demikian, sekedar ungkapan dan usulan saya untuk manajemen transportasi publik dan pariwisata Yogyakarta dan Borobudur.

Semoga bermanfaat🙂

2 thoughts on “Memimpikan Trayek DAMRI Yogyakarta – Borobudur

  1. Pingback: DAMRI Buka Trayek Yogyakarta – Borobudur | mlebu meto koyo kuceng

  2. Pingback: Tantangan Trayek DAMRI Yogyakarta – Borobudur | mlebu meto koyo kuceng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s