Pusaka Yogyakarta dan Sekitarnya

Pendidikan Pusaka untuk Pengurangan Risiko Bencana di Kawasan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya (Bagian 1 – dari 5 Bagian)

Daerah Istimewa Yogyakarta - Indonesia

Daerah Istimewa Yogyakarta - Indonesia

Mengenal Yogyakarta tidak hanya bermula dari Kasultanan Yogyakarta. Ratusan ribu tahun sebelumnya, peradaban sudah bermula di jantung selatan Pulau Jawa ini. Pegunungan di selatan Yogyakarta yang dikenal sebagai Pegunungan Sewu mengawali sejarah peradaban. Pegunungan ini terbentuk dari proses erosi dan karstifikasi pada batuan kapur pada masa Miosen, yang kemudian mengalami pengangkatan selama masa Pleistosen Tengah (Semah, et. al., seperti yang dikutip oleh Simanjuntak, 2004). Terdapat ratusan gua yang masih aktif dan menyimpan aliran sungai bawah tanah di dalamnya, sehingga menjadi sumber air yang tak ternilai harganya bagi kawasan yang kering pada permukaannya itu. Bentang alam pegunungan karst ini telah dihuni oleh manusia purba sejak 700.000 tahun yang lalu. Mereka tinggal di ceruk dan gua di sana ketika sebagian besar wilayah di utara masih berada di bawah permukaan air. Pada beberapa ceruk, atau disebut Song dalam bahasa lokal, terdapat bukti peradaban berupa temuan fragmen kerangka manusia purba Homo sapiens (Kusuma, 2009). Sejauh ini telah ditemukan sejumlah 130 situs prasejarah di area yang membentang dari wilayah Pacitan di Jawa Timur hingga Gunungkidul di D.I. Yogyakarta ini. Situs-situs itu terdiri dari situs gua dan situs terbuka. Situs-situs ini mengandung keluasan cakupan kekayaan budaya prasejarah, mulai dari masa Paleolitik, pra-Neolitik atau Mesolitik, Neolitik, dan Paleometalik (Simanjuntak, 2004).

Hampir di tepat di tengah Pulau Jawa, berdiri Gunungapi Merapi yang agung. Gunungapi ini sudah ada sejak 400.000 tahun yang lalu. Gunungapi yang saat ini aktif merupakan gunungapi baru yang mulai aktif sejak 2000 tahun yang lalu (lihat website http://www.merapi.bgl.esdm.go.id). Dinamika vulkanologi gunungapi ini berperan besar dalam membentuk bentang alam kawasan Jawa Tengah selatan, yang mencakup pula wilayah Provinsi D.I. Yogyakarta. Merapi menjadi penggerak peradaban tanah Jawa. Sebaran abu vulkanisnya yang menyuburkan tanah mendorong manusia membangun kehidupan di sekitarnya. Zaman klasik muda dalam khasanah sejarah Nusantara terpusatkan di kawasan ini. Peradaban Mataram Kuna beraliran kepercayaan Hindu -Buddha tersebar di wilayah sekitar Merapi sebagai akibat persentuhan budaya dengan daratan Asia. Ratusan situs purbakala, termasuk situs pusaka dunia Kompleks Candi Prambanan terletak sekitar 25 km di selatan Merapi. Situs-situs lain tersebar di sisi barat Merapi, termasuk situs pusaka dunia Candi Borobudur yang berjarak sekitar 25 km dari puncak Merapi (lihat, Rangkuti, 1995; Adrisijanti, 2003; Santoso, 2008). Endapan vulkanis dan aluvial yang berpusat dari Gunungapi Merapi mengisi bentang lahan sebelah selatan yang tepat membatasi bagian barat kawasan karst Pegunungan Sewu.

Di antara empat aliran sungai utama yang berhulu di Merapi dan mengalir ke selatan, yakni Winongo, Code, dan Gajah Wong, serta Opak, berdirilah sebuah kota bersejarah bernama Yogyakarta. Kota ini berdiri pada tahun 1755 sebagai ibukota Kasultanan Yogyakarta (Ngayogyakarta Hadiningrat) yang masih berlangsung hingga kini. Kasultanan ini merupakan hasil pembagian wilayah kerajaan Mataram Islam menjadi dua akibat pengaruh kolonial Belanda. Pusat kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada akhir abad XVI ini sebelumnya berada di Kotagede, yang saat ini termasuk dalam wilayah kota Yogyakarta. Mataram Islam muncul usai kejayaan Kasultanan Demak dan Pajang. Dinamika politik kekuasaan menyebabkan kerajaan ini berpindah pusat pemerintahannya beberapa kali, yakni ke Plered (1648), lalu ke Kartasura (1680), kemudian ke Surakarta (1746), hingga kemudian terpecah menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada tahun 1755 (Adrisijanti, 2000; Santoso, 2008). Selain campur tangan pihak kolonial Belanda melalui kongsi dagangnya, pengaruh politik kolonial Inggris juga melahirkan perpecahan wilayah kerajaan dengan munculnya Kadipaten Pakualaman pada tahun 1813 di Yogyakarta (Adrisijanti, 2003).

Pihak kolonial Belanda dalam menunjukkan keberadaannya di Yogyakarta dan sekitarnya kemudian membangun beragam fasilitas utama dan fasilitas pendukung. Fasilitas utama yang dibangun pertama kali adalah Benteng Rustenburg pada tahun 1756 – 1778. Benteng ini disempurnakan pada tahun 1786 sebelum kemudian diganti namanya menjadi Vredeburg (Adrisijanti, 2003). Setelah itu, banyak dibangun fasilitas pendukung yang ditempatkan di sekitar pusat kota, seperti Societeit der Vereeniging Djogjakarta (1822), Loji Kebon atau kantor residen (sekarang Istana Kepresidenan Republik Indonesia yang dikenal dengan nama Gedung Agung), kawasan perkantoran, dan kawasan permukiman. Kawasan permukiman dibangun di kawasan Loji Kecil, Bintaran, Jetis, dan Kotabaru, mulai dari akhir abad XIX hingga jelang masa Perang Dunia II. Fasilitas penting lain yang dibangun adalah jaringan rel kereta api dan stasiun. Ada dua stasiun besar yang dibangun di Yogyakarta oleh pemerintah Hindia Belanda, yakni Stasiun Lempuyangan (2 Maret 1872) oleh Nederlandsch-Indie Spoormaatschappij dan Stasiun Tugu (2 Mei 1887) oleh Staat Spoorweg. Selain permukiman komunitas Eropa, ada pula permukiman komunitas Cina di Yogyakarta. Sebagian besar dari mereka adalah pedagang dan tinggal berkelompok di kawasan Ketandan – Pajeksan, Ngabean, dan Kranggan sejak akhir abad XIX.

Kota Yogyakarta dan daerah provinsinya saat ini merupakan terusan dari tata ruang Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman yang sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 diakui sebagai daerah istimewa. Wujud budaya di daerah Yogyakarta saat ini adalah hasil dari perpaduan berbagai unsur kebudayaan yang ada sejak zaman prasejarah hingga sekarang. Jejak peradaban sejak ratusan ribu tahun yang lalu masih terekam dalam berbagai bentuk, baik tempat maupun kegiatan. Pengetahuan budaya lintas generasi yang sangat bernilai ini menuntut adanya upaya pelestarian agar generasi mendatang mampu mengambil pelajaran terbaiknya untuk diterapkan di masa mendatang.

Disiapkan oleh

Elanto Wijoyono

  • Koordinator Program Pembangunan Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Lokal – COMBINE Resource Institution (Yogyakarta – Indonesia)
  • Koordinator Program Pendidikan Pusaka – Badan Pelestarian Pusaka Indonesia / Indonesian Heritage Trust (Jakarta – Indonesia)

untuk
International Training Course on Disaster Risk Management on Cultural Heritage 2011
UNESCO Chair Program on Cultural Heritage and Risk Management
Research Center for Disaster Mitigation of Urban Cultural Heritage, Ritesumeikan University, Kyoto, Japan

Kerangka Tulisan

I. Potensi Pusaka Yogyakarta dan sekitarnya

  1. Pusaka Alam
  2. Pusaka Budaya
  3. Pusaka Saujana

II. Dinamika Pembangunan Kawasan di Yogyakarta; Peluang atau Ancaman

  1. Pertumbuhan penduduk
  2. Perkembangan kawasan perkotaan
  3. Dampak pembangunan pada kawasan pusaka

III. Potensi Ancaman Bencana di Yogyakarta dan sekitarnya

  1. Pengalaman gempabumi 2006 dan dampaknya
  2. Pengalaman kejadian erupsi Merapi (2006, 2010 – 2011) dan dampaknya
  3. Ragam upaya penanggulangan bencana oleh para pihak

IV. Dampak Bencana pada Pusaka Yogyakarta

  1. Pelestarian pusaka dari kacamata hukum di Indonesia dan di daerah
  2. Praktik pelestarian dan penyelamatan pusaka dalam kejadian bencana di Yogyakarta
  3. Kerugian yang tak diharapkan terhadap pusaka saat bencana

V. Dinamisasi Pengetahuan Pengurangan Risiko Bencana yang Berdampak Pelestarian

  1. Menjadikan pusaka sebagai bekal/modal/bahan pendidikan kebencanaan
  2. Pembangunan apresiasi terhadap pusaka untuk pelestarian
  3. Strategi pembangunan sistem pendidikan kebencanaan dan pendidikan pusaka untuk kelestarian kehidupan

Daftar Bacaan

Peraturan / Produk Hukum

Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 11 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya.

Peraturan Walikota Yogyakarta No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Yogyakarta Tahun 2007 – 2011.

Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003. Oleh Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia dan ICOMOS Indonesia.

Statuta Forum Pengurangan Risiko Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Website / Portal

Badan Geologi – Merapi. http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). http://bnpb.go.id

Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) – Indonesian Heritage Trust. http://indonesianheritage.org

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi D.I. Yogyakarta.
http://bapeda.jogjaprov.go.id/

Badan Pusat Statistik (BPS). http://www.bps.go.id

Badan Pusat Statistik Yogyakarta. http://yogyakarta.bps.go.id/

Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. http://konservasiborobudur.org/

Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi D.I. Yogyakarta. http://fprb.wordpress.com/

Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN MERAPI). http://merapi.combine.or.id

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. http://www.gunungkidulkab.go.id

Pemerintah Kabupaten Sleman. http://www.slemankab.go.id/

Pemerintah Kota Yogyakarta. http://jogjakota.go.id

Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. http://www.pemda-diy.go.id/

Program Pendidikan Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. http://pendidikanpusaka.org

United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA). http://ochaonline.un.org/indonesia/

World Historical Cities (The League of Historical Cities).
http://www.city.kyoto.jp/somu/kokusai/lhcs/eng/index.htm

World Monument Fund. http://www.wmf.org

Tulisan / Terbitan

Adishakti, Laretna T.. 2004. Tantangan dan Peluang Ekonomi dalam Pelestarian Pusaka; Yogyakarta Kota Pusaka Dunia? Artikel disampaikan dalam Diskusi Panel Pelestarian Pusaka dan Pembangunan Ekonomi pada tanggal 28 April 2004 di Yogyakarta, Indonesia.

Adishakti, Laretna T.. 2006. Revitalisasi Kawasan Pusaka Kotagede Pasca-Bencana; Peran Masyarakat dalam Proses Rekonstruksi Berkelanjutan. Artikel disampaikan dalam Lokakarya Penanganan Kawasan Pusaka Pasca-Bencana; Penguatan Masyarakat dalam Proses Rekonstruksi pada tanggal 17 – 19 Agustus 2006 di Yogyakarta, Indonesia.

Adishakti, Laretna T.. 2008. Kepekaan, Selera, dan Kreasi dalam Kelola Kota Pusaka. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka 2008 Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 23 Agustus 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.

Adishakti, Laretna T.. 2009. Documentation of Post-Disaster Traditional Houses Reconstruction Process in Kotagede Heritage District, Yogyakarta, Indonesia. Yogyakarta: Jogja Heritage Society.

Administrator. 2009. Peta Wilayah Rawan Gempabumi Indonesia. Website Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral > Geologi > Edisi Senin, 16 November 2009. Diakses pada tanggal 28 April 2011. http://esdm.go.id/berita/geologi/42-geologi/2980-peta-wilayah-rawan-gempabumi-indonesia.html

Adrisijanti, Inajati. 2000. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Yogyakarta: Jendela.

Adrisijanti, Inajati (ed.). 2003. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Adrisijanti, Inajati. 2007. Kota Yogyakarta sebagai Kawasan Pusaka Budaya; Potensi dan Permasalahannya. Artikel disampaikan dalam Diskusi Sejarah “Kota dan Perubahan Sosial dalam Perspektif Sejarah” diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada 11 – 12 April 2007 di Yogyakarta, Indonesia.

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2008. Permainan Tradisional Anak; Perspektif Antropologi Budaya. Pengantar dalam Sukirman Dharmamulya, et. al.. Permainan Tradisional Jawa; Sebuah Upaya Pelestarian. Yogyakarta: Penerbit Kepel Press.

Alvares, Eko, et.al.. 2010. Rehabilitasi Jam Gadang Bukittinggi. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka 2010 Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 23 – 26 September 2010 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Amin, Yusna M.. 2006. Melindungi dan Menata Ruang Terbuka Hijau sebagai Antisipasi Bencana dan Ekspresi Masyarakat yang Bermartabat. Artikel disampaikan dalam Seminar Intern di Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Jakarta pada 5 Juli 2006 di Jakarta.

Arnawati, Dyah. 2006. Penggambaran Ulang dan Rekonstruksi Bangsal Trajumas Kraton Yogyakarta. Artikel disampaikan dalam Semiloka Refleksi 250 Tahun Yogyakarta; Semangat Muda Membangun Kembali Pusaka Jogja Pascagempa dan untuk 250 Tahun ke Depan pada tanggal 16 September 2006 di Yogyakarta, Indonesia.

Aryandini, Woro. 2002. Wayang dan Lingkungan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Attoe, Wayne. 2001. Perlindungan Benda Bersejarah. Dalam Anthony J. Catanese dan James C. Snyder (ed.). Perencanaan Kota. Edisi Ke – 2. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman: 413 – 438.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta. 2007. Data Berbasis 9 (Sembilan) Fungsi Perencanaan Pembangunan (Basis Data). Yogyakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Kota Yogyakarta.

Badan Lingkungan Hidup Provinsi D.I. Yogyakarta. 2011. Usulan Program / Kegiatan Tahun 2012. Presentasi disampaikan dalam Forum SKPD Provinsi D.I. Yogyakarta tahun 2011 pada tanggal 30 Maret 2011 di Yogyakarta, Indonesia.

Bahagiarti, Sari. 2010. Erupsi Merapi dan Kearifan Lokal. Kompas.Com > Entertainment > Edisi Sabtu, 30 Oktober 2010. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://entertainment.kompas.com/read/2010/10/30/0440394/Erupsi.Merapi.dan.Kearifan.Lokal

Bintarto, H.S.. 1995. Keterkaitan Manusia, Ruang, dan Kebudayaan. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 1 – 4.

Boechari. 1997 – 1998. Some Consideration of the Problem of the Shift of Mataram Center of Government from Central to East Java in the 10th Century A.D. Dalam Bulletin of the National Research Centre of Archaeology of Indonesia No. 10. Cetakan ke – 2. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

BPS Kota Yogyakarta. 2009. Kota Yogyakarta dalam Angka 2009; Yogyakarta City in Figures 2009. Yogyakarta: BPS Kota Yogyakarta – BPS Statistic of Yogyakarta City.

Castells, Mauel. 1983. The City and The Grassroots. Berkeley and Los Angeles: University of California Press.

Chawari, Muhammad. 1994. Masjid Agung Kotagede; Kajian Awal terhadap Inskripsi yang Ada. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Halaman 31 – 33.

Damanik, Janianton. 2007. Sustainable Tourism in the Yogyakarta Special Region, Indonesia; Challenge and Oportunity. Artikel disampaikan dalam The EATOF Academic Symposium pada 5 – 7 Agustus 2007 di Chiang Mai, Thailand.

Departemen Pekerjaan Umum. 2006. Sejarah/Kronologi Gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Website Departemen Pekerjaan Umum. Diakses pada tanggal 7 Mei 2011. http://www.pu.go.id/publik/ind/produk/info_peta/rwnbanjir/bencana2006/3334gempasejarah.htm

Diamond, Jared. 2006. Collapse; How Societies Choose to Fail or Succeed. New York: Penguin Books

Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum dan Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta. 2008. Penyusunan Kembali RTRWP DIY 2008 – 2028 (Draft Awal).

Dumarcay, Jacques. 2007. Candi Sewu dan Arsitektur Bangunan Agama Buddha di Jawa Tengah. Terjemahan Indonesia: Winarsih Arifin dan Henri Chambert-Loir. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Emiliana, et.at.. 1991/1992. Kesadaran Budaya tentang Tata Ruang pada Masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (Suatu Studi Mengenai Proses Adaptasi). Yogyakarta: Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Grehenson, Gusti. 2011. Candi Prambanan Terancam Banjir Lahar Dingin. Website Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia > Berita > Seminar – Workshop > 7 Februari 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://www.ugm.ac.id/new/id/news/candi-prambanan-terancam-banjir-lahar-dingin

Hageman, Cees, et.al.. 2010. Toolkit, Step by Step; An Approach to Heritage Education. Amsterdam; The Netherlands Institute for Heritage (Erfgoed Nederland).

Hall, Peter dan Colin Ward. 1998. Sociable Cities; The legacy of Ebenezer Howard. Chichester: John Wiley & Sons.

Han, Mhd. 2009. Ratusan Keramik dan Naskah Kuno Minang Musnah. Kompas.Com > Regional > Sumatera > Edisi Jumat, 16 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2009. http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/16/20062116/Ratusan.Keramik.dan.Naskah.Kuno.Minang.Musnah.

Hardjowirogo. 1989. Sejarah Wayang Purwa. Cetakan ke – 7. Jakarta: Balai Pustaka.

Hardjowisastro. 2007. Pembangunan Wilayah Berkelanjutan. Presentasi disampaikan dalam Seminar Nasional Pembangunan Wilayah Berbasis Lingkungan di Indonesia pada tanggal 27 Oktober 2007 di Yogyakarta, Indonesia.

Haryadi. 1995. Kemungkinan Penerapan Konsep Sistem Seting dalam Penemukenalan Penataan Ruang Kawasan. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 5 – 9.

Haryono, Timbul. 1995. Arkeologi Kawasan dan Kawasan Arkeologis; Asas Keseimbangan dalam Pemanfaatan. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 139 – 143.

Hindarto, Stefanus Yugo. 2011. Ancaman Lahar Dingin Merapi hingga 4 Tahun!. Okezone.com > News > Nusantara > Edisi Jumat, 29 April 2011. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://news.okezone.com/read/2011/04/29/340/451403/ancaman-lahar-dingin-merapi-hingga-4-tahun

Indra, Hasti Hiriati. 2008. Public Open Space Utilization; How People Perceive it in Yogyakarta. Tesis untuk mencapai derajat Master of Science pada spesialisasi Urban Planing and Management di International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation Enschede The Netherlands.

Inter Agency Standing Committee (IASC). 2006. Indonesia Earthquake 2006; Response Plan Revision. Dokumen versi 2.1. tanggal 5 Juli 2006.

Joewono, Benny N.. 2010. 2.400 Hektar Hutan Taman Merapi Hancur. Kompas.Com > Regional > Edisi Kamis, 18 November 2010. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://regional.kompas.com/read/2010/11/18/1635087/2.400.Hektar.Hutan.Taman.Merapi.Hancur

Jogja Heritage Society. 2007. Homeowner’s Conservation Manual; Kotagede Heritage District, Yogyakarta, Indonesia. Jakarta – Bangkok: UNESCO.

Jordaan, Roy (ed.). 2009. Memuji Prambanan; Bunga Rampai para Cendekiawan Belanda tentang Kompleks Percandian Loro Jonggrang. Terjemahan Indonesia: Yosef Maria Florisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia – KITLV Jakarta.

Katayose, Toshihide. 1996. Reflection on Contemporary Townscape. Fukuoka Style Vol. 13 > Special Feature > Historical Townscapes (Part 2). Terjemahan Inggris: Alikay Terry.

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia. 2008. Pidato Kuci pada acara Temu Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan tema Pelestarian Pusaka versus Pembangunan Ekonomi pada tanggal 23 Agustus 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Disampaikan oleh Deputi Menkokesra Bidang Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Sugahartatmo.

Kirmanto, Djoko. 2008. Pelestarian Kota Pusaka dalam Perspektif Penataan Ruang. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan tema Pelestarian Pusaka versus Pembangunan Ekonomi pada tanggal 23 Agustus 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.

Kubontubuh, Catrini Pratihari. 2010. Heritage Emergency Response Post Disaster in Indonesia; Recovery and Sustainability after Disaster. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka 2010 Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 23 – 26 September 2010 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Kusuma, Mawar. 2009. Melacak Manusia Purba Gunung Kidul. Kompas.Com > Sains > Edisi 11 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 26 April 2011.
http://sains.kompas.com/read/2009/10/11/15555379/melacak.manusia.purba.gunung.kidul

Kusumawijaya, Marco. 2009. Kekayaan Kota; Menuju Pembangunan Kota Berdasarkan Aset di Wilayah-wilayah yang Baru Mengalami Urbanisasi. Blog Marco Kusumawijaya; on cities and citizens > 3 Juni 2009. Diakses pada tanggal 12 Mei 2011. http://mkusumawijaya.wordpress.com/2009/06/03/kekayaan-kota-menuju-pembangunan-berdasarkan-aset-di-wilayah-wilayah-yang-baru-mengalami-urbanisasi1/

Kusen. 1995. Kompleks Ratu Boko; Latar Belakang Pemilihan Tempat Pembangunannya. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 128 – 132.

Lelono, T.M. Hari. 2005. Tradisi Ruwat Gunung Merapi pada Masa Jawa Kuno dan Perkembangannya sebagai Kearifan Lokal. Dalam Jurnal Penelitian Arkeologi Nomor 5: Bunga Rampai Religi dari Masa ke Masa. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Mudhiuddin, Andhi M.. 2009. Borobudur – Prambanan dan Candi Lainnya. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Mundardjito. 1982. Pandangan Tafonomi dalam Arkeologi; Penilaian Kembali Atas Teori dan Metode. Dalam Pertemuan Ilimiah Arkeologi II. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Halaman: 497 – 509.

Mundardjito. 1995. Kajian Kawasan; Pendekatan Strategis dalam Penelitian Arkeologi di Indonesia Dewasa Ini. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Murwanto. Tanpa tahun. Kajian Geologi Situs Danau Purba Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tidak diterbitkan.

Murwanto, et.al.. 2004. Borobudur Monument (Java, Indonesia) Stood by a Natural Lake; Chronostratigraphic Evidence and Historical Implications. The Holocene 14, 3 (2004). Halaman: 459 – 463.

Murwanto, Helmy dan Sutikno. 2007. The Ancient Lake Environment in the Borobudur Area Central Java. Artikel disampaikan dalam 1st International Symposium on Borobudur Landscape Heritage 2007 pada tanggal 20 April 2007 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia.

Nakamura, Mitsuo. 1983. Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nas, P.J.M. 1989. Kota dan Desa di Indonesia; Sebuah Pandangan Skeptis. Dalam P.J.M. Nas, e.t.al.. 2007. Kota-Kota di Indonesia; Bunga Rampai. Diterjemahkan oleh Nin Bakdisoemanto, et.a.. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman: 586 – 601.

Nasir, Akhmad dan Elanto Wijoyono (ed). 2009. Mengudara Menjawab Ancaman; Geliat Radio Komunitas dalam Penanggulangan Bencana. Yogyakarta: COMBINE Resource Institution.

Nitihaminoto, Goenadi. 1997. Pembangunan Kompleks Candi Prambanan: Tinjauan atas Lapisan Tanah. Dalam Cinandi; Persembahan Alumni Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada kepada Prof. Dr. H. R. Soekmono. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Halaman 113 – 117.

Prabowo. 2011. 192 Mata Air di Merapi Tertimbun Material Vulkanik. Okezone.com > News > Nusantara > Edisi Jumat, 25 Maret 2011. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://news.okezone.com/read/2011/03/25/340/438654/192-mata-air-di-merapi-tertimbun-material-vulkanik

Prasodjo, Tjahjono. 2000. Pendekatan Partisipatoris dalam Pengelolaan Sumberdaya Arkeologis dan Kemungkinan Penerapannya di Kawasan Arkeologis Gunungkidul. Artikel disampaikan dalam Seminar PTKA Gunungkidul 2000 pada tanggal 12 – 13 April 2000 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Princeton Council. 2011. Indonesians Appeal to UNESCO to Save Fabled Temples from Volcano (ARTINFO). Princeton Council on World Affairs > World > Arts. http://www.princetoncouncil.org/world-news/arts/4116-indonesians-appeal-to-unesco-to-save-fabled-temples-from-volcano-artinfo.html

Purnomohadi, Ning. 2006. Konservasi Alam dan Pusaka (Lansekap) Alami; Sebuah Catatan Ringkas. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 17 – 19 Agustus 2006 di Yogyakarta, Indonesia.

Rahmi, Dwita H. dan Titi Handayani. 2009. Pedoman Pelestarian Pasca-Bencana Kawasan Pusaka Kotagede, Yogyakarta, Indonesia. Yogyakarta: Jogja Heritage Society.

Rangkuti, Nurhadi. 1995. Candi dan Konteksnya; Tinjauan Arkeologi Ruang. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 37 – 42.

Rhoevique. 2009. Geologi dan Geomorfologi Gunung Sewu. Blog rhoe_pangea06 > 5 April 2009. Diakses pada tanggal 26 April 2011. http://viq-pangea.blogspot.com/2009/04/geologi-dan-geomorfologi-gunung-sewu.html

Rinintya, Enrica et.al.. 2011. Progress Report Damaged Assessment Mission on Mount Merapi Volcano Area. Presentasi disampaikan dalam Diskusi Penilaian Cepat Pusaka Rusak Merapi pada tanggal 20 April 2011 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia.

Riyanto, Sugeng. 1995. Geografi (Kesejarahan) dan Arsitektur (Lansekap) sebagai Ilmu Bantu Arkeologi (Sebuah Uraian Singkat). Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 118 – 122.

Ronald, Arya dan Djoko Dwiyanto. 2000. Pengaturan dan Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya; Sosialisasi Rancangan Perda KCB. Artikel disampaikan dalam Forum Pertimbangan Pelestarian Lingkungan Budaya Provinsi D.I. Yogyakarta pada tanggal 30 Agustus 2000 di Yogyakarta, Indonesia.

Santoso, Jo. 2008. Arsitektur Kota Jawa; Kosmos, Kultur, dan Kuasa. Jakarta: Centropolis – Magister Teknik Perencanaan Universitas Tarumanegara.

Saptono, Hariadi. 2010. Memperkuat “Jembatan” Maridjan – Surono. Kompas.Com > Nasional > Edisi 20 Desember 2010. Diakses pada tanggal 28 April 2011. http://nasional.kompas.com/read/2010/12/20/13101523/Memperkuat.Jembatan.MaridjanSurono

Seach, John. 2010. Merapi Volcano. Volcano Live. Diakses pada tanggal 9 Mei 2011. http://www.volcanolive.com/merapi.html

Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia; Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Setianingsih, Rita Margaretha. 1998. Dua Batu Berhias dari Ruas Sungai Opak; Data Tambahan Pembangunan Percandian Prambanan. Berkala Arkeologi Tahun XVIII Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 17 – 29.

Setiawan, Bobi B.. 2004. Pelestarian Pusaka Budaya dan Pentingya Peran Serta Masyarakat. Artikel disampaikan dalam Sarasehan Perlindungan Bangunan dan Kawasan Pusaka sebagai Aset Utama Pariwisata di Yogyakarta pada tanggal 30 Desember 2004 di Yogyakarta, Indonesia.

Setyastuti, Ari. 2007. Pencagarbudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Artikel disampaikan dalam Sarasehan Sosialisasi Benda Cagar Budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 11 September 2007 di Yogyakarta, Indonesia.

Sidharta dan Eko Budihardjo. 1989. Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Simanjuntak, Truman. 2004. New Insight on the Prehistoric Chronology of Gunung Sewu, Java, Indonesia. Modern Quartenary Research South East Asia 18. Leiden: A.A. Balkema. Halaman: 9 – 30.

Sindhunata dan Hermanu. t.t.. Pawukon. Yogyakarta: Bentara Budaya Yogyakarta.

Soemardjan, Selo. 2009. Perubahan Sosial di Yogyakarta. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Komunitas Bambu.

Soeroso, Amiluhur. 2007. Conservation of the Borobudur Cultural Landscape. Artikel disampaikan dalam 1st International Symposium on Borobudur Landscape Heritage 2007 pada tanggal 20 April 2007 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia.

Soeroso, Amiluhur. 2007. Penilaian Kawasan Pusaka Borobudur dalam Kerangka Perspektif Multiatribut Ekonomi Lingkugan dan Implikasinya terhadap Kebijakan Manajemen Ekowisata. Disertasi dalam Ilmu Lingkungan pada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sojaya, Jajang Agus. 2005. Cermin Retak Pengelolaan Benda Cagar Budaya. Kedaulatan Rakyat > Rubrik Opini > Edisi 17 Juni 2005. Yogyakarta: Kedaulatan Rakyat. Halaman: 10.

Subroto, Ph.. 1995. Pola-Pola Zonal Situs-Situs Arkeologi. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 133 – 138.

Sudarmadji. 2008. Pembangunan Berkelanjutan, Lingkungan Hidup dan Otonomi Daerah. Website Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada > Artikel > Edisi 4 Juni 2008. Diakses pada tanggal 27 April 2011. http://geo.ugm.ac.id/archives/125

Sulistyanto, Bambang. 1994. Kalang, Tinjauan Historis – Antropologis. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Halaman 109 – 114.

Sumardjo, Jacob. 2002. Arkeologi Budaya Indonesia; Pelacakan Hermenutis-Historis terhadap Artefak-Artefak Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Qalam.

Suryo, Djoko. 2005. Penduduk dan Perkembangan Kota Yogyakarta 1900 – 1990. Dalam Freek Colombijn, et.al. (ed.). Kota Lama, Kota Baru; Sejarah Kota-Kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Halaman 30 – 44.

Swasono, Sri-Edi. 2004. Kebersamaan dan Asas Kekeluargaan sebagai Pusaka Saujana Indonesia; Dimensi Sosial-Kultural Ilmu Ekonomi. Artikel disampaikan dalam Diskusi Panel Pelestarian Pusaka dan Pembangunan Ekonomi pada tanggal 28 April 2004 di Yogyakarta, Indonesia.

The Jakarta Post. 2011. 30 Temples Still Burried by Merapi’s Previous Eruptions. The Jakarta Post > National > 5 Januari 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://www.thejakartapost.com/news/2011/01/05/30-temples-still-buried-merapi%E2%80%99s-previous-eruptions.html

The Jakarta Post. 2011. Lahar Threat Looms above Prambanan. The Jakarta Post > Archipelago > 22 Maret 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://www.thejakartapost.com/news/2011/03/22/lahar-threat-looms-above-prambanan.html-0

Tjahjono, Baskoro D. dan Widiyanto. 1994. Lwah Inalih Haken, Arti Kiasan atau Sebenarnya? Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Halama 47 – 51.

Tjahjono, Baskoro Daru. 1998. Penetapan Sima dalam Konteks Perluasan Wilayah pada Masa Mataram Kuna; Kajian Berdasarkan Prasasti-Prasasti Balitung (899 – 910 M). dalam Berkala Arkeologi Tahun XVIII Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 40 – 51.

Utomo, Gito. Tanpa tahun. Mengembangkan Materi Heritage/Pusaka ke dalam Pendidikan Sekolah Dasar. Tidak diterbitkan.

Wijoyono, Elanto (ed.). 2003. Revitalisasi – Preservasi Masjid Mataram Kotagede dan Masjid Gede Kauman. Laporan penelitian untuk mata kuliah Arsitektur Indonesia di Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Wijoyono, Elanto. 2005. Taman Sari “Baru”, (Mencoba) Bukan Sekedar Polesan. Majalah Artefak Edisi XVII Tahun 2005. Yogyakarta: Himpunan Mahasiswa Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Wijoyono, Elanto. 2007. Kotagede, Korban Konservasi Salah Kaprah. Blog Tidak Beranjak Mencari Celak ke Langit > 28 Maret 2007. Diakses pada tanggal 2 Mei 2011. https://elantowow.wordpress.com/2007/03/28/kotagede-korban-konservasi-salah-kaprah

Wijoyono, Elanto. 2006. Geliat Kerajinan Batik Imogiri Pascagempa. Buletin Kombinasi Edisi 16/Juni 2006. Yogyakarta: COMBINE Resource Institution. Halaman 20 – 21.
https://elantowow.wordpress.com/2007/03/16/geliat-kerajinan-batik-imogiri-pascagempa/

Wijoyono, Elanto. 2009a. Aparatlah yang Harus Dididik; Langkah Taktis Mengatasi Carut-Marut Pengelolaan Pusaka. Artikel disampaikan dalam Seminar Nasional Carut-Marut Pengelolaan Warisan Budaya Indonesia pada tanggal 13 Juni 2009 di Yogyakarta, Indonesia.

Wijoyono, Elanto. 2009b. Penyelamatan Pusaka Pascabencana; Upaya Menanamkan Isu Pelestarian dalam Pengurangan Risiko Bencana. Blog Tidak Beranjak Mencari Celak ke Langit > 22 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 27 April 2011.
https://elantowow.wordpress.com/2009/10/22/penyelamatan-pusaka-pascabencana/

Wijoyono, Elanto dan Laretna T. Adishakti. 2010. Pendidikan Pusaka untuk Anak; Membangun Strategi Pelestarian Pusaka melalui Jalur Sekolah. Artikel disampaikan dalam Seminar Internasional Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia pada tanggal 23 Januari 2010 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Wijoyono, Elanto. 2011. Desa Kota Lestari. Blog Tidak Beranjak Mencari Celah ke Langit > 3 April 2011. Diakses pada tanggal 12 Mei 2011. https://elantowow.wordpress.com/2011/04/03/desa-kota-lestari/

Winarni. 2006. Kajian Perubahan Ruang Kawasan World Cultural Heritage Candi Borobudur. Tesis untuk mencapai derajat S-2 pada Program Studi Magister Perencanaan Kota dan Daerah Jurusan Ilmu-Ilmu Teknik Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Wkm/Pra/Egi/Gal. 2011. Kali Putih, dari Sana Semuanya Bermula. Kompas.Com > Regional > Jawa > 29 Januari 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://regional.kompas.com/read/2011/01/29/04325245/Kali.Putih.dari.Sana.Semuanya.Bermula

Yudoseputro, Wiyoso. 2008. Jejak-Jejak Tradisi Bahasa Rupa Indonesia Lama. Jakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia.

One thought on “Pusaka Yogyakarta dan Sekitarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s