Anak-anak Penyelamat Satwa dari Kaki Merapi

KANCING (Kelompok Anak Pecinta Lingkungan - Dusun Deles). dok. Lintas Merapi FM KANCING (Kelompok Anak Pecinta Lingkungan - Dusun Deles). dok. Lintas Merapi FM

Mereka berteriak kegirangan ketika beberapa kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang bergerombol di pinggir jurang hulu Kali Woro itu berebut pisang yang dilemparkan ke tepian belukar. Senin lalu (27/12), sebagian besar pepohonan dan semak di sana masih berona abu-abu atau coklat akibat terbakar sebagai dampak erupsi Gunungapi Merapi pada awal bulan November 2010. Abu vulkanik yang tak terlalu tebal menyelimuti sudah hilang tersapu oleh hujan yang cukup sering turun selama beberapa minggu terakhir. Keceriaan anak-anak Dusun Deles, kampung tertinggi di lereng tenggara Gunungapi Merapi itu menjadi warna lain dibalik nuansa suram di habitat satwa Merapi yang sudah begitu dekat dengan permukiman itu. Di balik wajah-wajah sumringah itu ada harapan yang coba dipupuk oleh warga setempat untuk anak-anak mereka.

Kembali Pulang ke Kampung Halaman

Warga Dusun Deles dan Petung di Desa Sidorejo, Kemalang, Klaten Jawa Tengah adalah salah satu rombongan pengungsi terakhir yang pulang ke rumah. Warga Klaten lain yang masih bertahan di pengungsian adalah warga dua dusun Desa Balerante yang lingkungannya rusak parah akibat terjangan langsung awan panas. Hanya berjarak sekitar 4 – 5 kilometer dari puncak Merapi menjadikan sejumlah 521 jiwa warga dua dusun (atau secara administratif sebagai Rukun Warga/RW) tersebut memilih bertahan di tempat pengungsian swadaya di Desa Dompol, Kemalang, Klaten hingga keadaan dirasa aman. Mereka baru beranjak pulang bersama-sama ketika status Awas Merapi telah diturunkan menjadi Siaga pada hari Jumat, 3 Desember 2010 pagi.

Minggu pagi, 5 Desember 2010, truk-truk milik warga bolak-balik dari lapangan Desa Dompol ke Deles membawa seluruh warga kembali ke kampung halaman; lebih dari lima kilometer jauhnya. Jelang sore, seluruh warga dan barang-barang yang semula tertata rapi dalam 57 tenda keluarga di lapangan tersebut telah berada di desa teratas itu. Walaupun keadaan rumah masih belum cukup tertata karena tidak diurus selama 25 hari, tetapi keadaan desa tersebut cukup bersih. Sejak warga Sidorejo masih mengungsi di Balai Desa Manjung di Kecamatan Ngawen, Klaten pada bulan November lalu, secara bertahap para pemuda desa bergantian menengok desa mereka untuk menjaga aset warga dan sekaligus mulai melakukan pembersihan lingkungan. Seminggu sebelum seluruh warga pulang _ yang meliputi pula seluruh anak-anak dan orang tua _ para ibu juga bergantian menengok desa untuk membersihkan rumah masing-masing. Jadi, ketika seluruh warga pulang, permukiman di lereng gunungapi aktif itu sudah layak dan nyaman untuk dihuni kembali.

Beberapa anak warga setempat ada yang sudah sempat menengok kampung halamannya sejak mereka masih mengungsi di Desa Manjung. Secara fisik, lingkungan permukiman dusun mereka tidak mengalami kerusakan akibat luncuran awan panas. Namun, beberapa lahan pertanian warga dan hutan rusak terbakar. Ratusan pohon jambu biji yang tertanam di sana juga turut musnah. Anak-anak sangat sedih melihat kenyataan itu karena merekalah yang menanam pohon-pohon jambu biji itu pada awal bulan Januari 2010 lalu. Ada sekitar 3000 pohon jambu biji yang ditanam oleh anak-anak Desa Sidorejo yang tergabung dalam Kelompok Anak Pecinta Lingkungan (KANCING). Mereka menanam pohon jambu biji dengan harapan agar kelak ada sumber makanan bagi kera-kera ekor panjang yang hidup di lereng Merapi. Diharapkan kera-kera itu tidak ngamuk ke ladang dan permukiman warga akibat semakin menipisnya ketersediaan makanan yang ada di alam. Selama ini, spesies tersebut sudah merasakan hidup cukup berdekatan dengan manusia yang menghuni lereng gunungapi di sana. Namun, gesekan yang terjadi antara mereka dengan manusia tidak justru berujung menjadi masalah.

Perhatian Warga untuk “Warga” Merapi

Erupsi yang terjadi sejak akhir bulan Oktober hingga November 2010 ini tak hanya memberikan dampak kepada manusia yang menghuni lereng Merapi. Ada warga lain yang terkena dampak, yakni kawanan satwa liar, baik yang selama ini hidup terpisah di hutan-hutan atau hidup berdampingan dengan warga di batas desa. Sukiman, tokoh warga Deles yang juga Koordinator Radio Komunitas Lintas Merapi FM mengisahkan bahwa ada dua kelompok besar kera ekor panjang yang hidup di sekitar desa. Satu kelompok yang tinggal di hutan yang musnah saat ini jumlahnya tinggal 50-an ekor. Sementara, satu kelompok lainnya yang tinggal di hutan yang lebih bawah tidak terkena dampak erupsi. Jumlah mereka sekitar 200 ekor. Menariknya, setelah erupsi dan warga pergi mengungsi, kelompok kera tersebut sama sekali tidak mengganggu kebun warga. Mereka tidak juga masuk ke dalam rumah, tetapi tetap tinggal di hutan. Perilaku ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan perilaku kera ekor panjang sebelum erupsi; suka mengganggu kebun warga.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Menurut Sukiman, satwa mamalia itu mengerti bahwa diri mereka diperhatikan oleh manusia ketika keadaan berubah sulit. “Ada semacam penghargaan dari kera-kera itu,” ungkapnya. Bagaimana tidak; sehari setelah mengungsi pada tanggal 5 November 2010 di Desa Keputran, warga tetap menengok kondisi desa dan berupaya memberi makan satwa liar yang hidup di sekitar desa. Warga membeli jambu biji dan timun di Pasar Kembang, Kemalang dengan biaya sendiri dan membawanya ke Deles untuk diberikan kepada kera. Bahkan, ketika pengungsi mendapatkan kiriman jambu biji dari donatur asal Temanggung, jambu itu langsung dibawa naik ke Deles untuk diberikan kepada kera. Padahal, jambu bantuan itu sedianya ditujukan untuk konsumsi para pengungsi. Tindakan yang didasari oleh rasa cinta terhadap satwa yang selama ini hidup berdampingan dengan warga itu tetap dilanjutkan walaupun persediaan dana warga untuk membeli buah menipis. Informasi kebutuhan pangan untuk satwa pun disebarluaskan melalui JALIN MERAPI; sebuah jaringan kerja pengelolaan informasi di lingkar Merapi yang dikelola bersama oleh kelompok-kelompok masyarakat. Radio Komunitas Lintas Merapi FM adalah salah satu pendirinya bersama dua radio komunitas, yakni K FM di Dukun, Magelang dan MMC FM di Selo, Boyolali di tahun 2006 silam.

dok. Daniek Hendarto (tim Relawan Satwa) dok. Daniek Hendarto (tim Relawan Satwa)
Pemberian makanan darurat berupa buah-buahan untuk kera ekor panjang di kawasan Kaliurang oleh tim Relawan Satwa pada November 2010. Dok. Daniek Hendarto.

Gayung bersambut! Permintaan itu didengar oleh kelompok kerja yang menamakan dirinya relawan satwa. Tim Gabungan Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Animal Friends Jogja (AFJ), dan Centre for Orangutan Protection (COP) ini memberi makan kepada kera ekor panjang di kawasan Kaliurang dan beberapa bagian lain lereng Merapi setiap pagi selama kurang lebih satu bulan lamanya. Pada tanggal 2 Desember 2010, tim kecil relawan satwa naik ke Deles membawa bantuan ketela rambat, bengkoang, wortel, dan kacang tanah sebagai makanan untuk kera dipandu oleh dua orang pegiat Radio Komunitas Lintas Merapi FM _ Mujiran “Boncel” dan Paiman “Kopral” Doto Parsono. Menurut anggota tim Relawan Satwa Ketut Sutawijaya, keadaan kera-kera di Deles saat itu sama seperti kera-kera di lereng Merapi lainnya. Mereka kelaparan berat. Walaupun saat ini mereka diberi makan, tetapi sebaiknya memang tidak selalu diberi makan agar tidak terbiasa dan tergantung dengan manusia. Selain itu, Ketut dan timnya melihat bahwa masih ada beberapa bagian hutan di sekitar Deles yang masih hijau, sehingga kera-kera itu tetap bisa mencari makan sendiri. Setelah misi itu, tim relawan satwa hanya membantu dalam penyediaan buah-buahan saja, seperti pisang, yang dikelola oleh warga Deles sebagai makanan kera.

Ancaman Kelestarian Ekosistem Merapi

Kondisi kerusakan habitat satwa liar pasca-erupsi memang semakin memperberat tantangan kehidupan alami di lereng Merapi. Sebelum erupsi pun sebagian lahan di sana sudah dirusak oleh kegiatan penambangan pasir yang berlebihan dan perburuan satwa. Pasca-erupsi, satwa liar terancam punah karena rusaknya habitat dan kurangnya makanan. Selain itu, ancaman ditangkap oleh masyarakat tetap tinggi. Padahal, sebagian satwa memilih meninggalkan habitatnya dan turun mencari tempat yang aman, termasuk mendekati rumah penduduk, untuk berlindung dan mendapatkan makanan.

Ketika kehadiran “warga” Merapi itu tak disikapi dengan bijak oleh manusia yang hidup di sekitar Merapi maka yang terjadi adalah konflik antara satwa dan manusia. Hal itu terjadi di beberapa wilayah di lereng Merapi, seperti di wilayah Krinjing, Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Dalam catatan tim relawan satwa yang tertuang dalam blog http://relawansatwa.wordpress.com, konflik di sini bermula ketika pepohonan yang menjadi sumber pakan satwa ditebang oleh kegiatan penambangan pasir di sepanjang Kali Senowo. Kehilangan sumber pakan alaminya, spesies kera ekor panjang ini pun turun ke ladang dan kebun warga untuk mencari makan. Akibatnya warga merasa terganggu dan menganggap mereka sebagai hama. Solusi yang dipakai adalah menembaki kera-kera yang memakan tanaman atau buah di kebun warga. Tidak ada upaya penyelamatan alam yang berjangka lebih pajang dan berkelanjutan dengan menanami kembali habitat kera dengan pepohonan yang menghasilkan makanan bagi mereka.

Teladan Anak-Anak untuk Masa Depan

Kekhawatiran anak-anak Deles karena rusak dan matinya pohon-pohon jambu biji yang mereka tanam, sehingga tak bisa menjadi sumber makanan bagi kera-kera yang hidup di hutan di sekitar desa mereka memunculkan inspirasi bagi para warga dewasa untuk bertindak. Jalinan komunikasi yang dilakukan melalui Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN MERAPI) berhasil membantu upaya warga untuk mengumpulkan donasi buah-buahan untuk pakan kera. Sukiman menjelaskan bahwa memberi makan dengan buah adalah agenda jangka pendek. Agenda jangka panjangnya adalah kembali melakukan penggalangan bantuan untuk penyediaan bibit pohon buah-buahan agar bisa ditanam kembali di lereng Merapi yang kini gundul atau rusak. Tentu saja, langkah ini nanti tetap akan mengendepankan peran anak-anak pegiat Kancing yang berjumlah 58 anak. “Sejak dini kita didik anak-anak agar menganggap kera-kera itu sebagai teman, bukan ancaman,“ begitu ungkap Sukiman, “Monyet jangan dibunuh, biarkan mereka hidup dengan membantu menyediakan makanan, seperti dengan menanam jambu biji.”

Memang benar anak-anak di Deles yang berbatasan langsung dengan hutan Merapi itu tak takut hidup berdampingan dengan satwa liar. Mereka juga tahu bahwa memperlakukan satwa liar tak boleh sembarangan. Anak-anak desa itu tahu benar bahwa kera ekor panjang tak boleh diberi makan dengan makanan manusia, seperti roti atau biskuit, karena justru akan membuat kera-kera itu akan mulai terbiasa dan tergantung dengan makanan manusia. Akibatnya akan fatal, seperti yang terjadi di kawasan Kaliurang, Sleman, kera-kera ekor panjang menjadi begitu agresif, suka merebut makanan dari tangan pengunjung kawasan wisata di sana. Ulah kera-kera itu adalah akibat dari seringnya mereka diberi makan oleh manusia dengan makanan  manusia, sehingga tak lagi mampu mencari makan sendiri. Ketika kawasan itu ditinggalkan untuk mengungsi, kera-kera di sana bahkan menjarah isi warung untuk bisa mendapatkan makanan manusia untuk dimakan.

Warga Deles dan sekitarnya tak mau kejadian serupa terjadi di tempat mereka tinggal. Harapan dan semangat ini pun telah disebarluaskan ke kelompok-kelompok warga lain yang tinggal di lereng Merapi melalui Jaringan Informasi Lingkar Merapi yang dikelola oleh warga dewasa. Sejak dini, anak-anak di sana telah dibekali dengan pemahaman pelestarian dan penyelamatan satwa yang baik dan benar. Selain akan mendukung kelestarian rantai makanan alami di ekosistem tersebut, keberadaan satwa liar di sana juga dapat membantu bertindak sebagai “sistem peringatan dini” bagi warga. Perilaku satwa liar dapat menjadi penanda adanya gejolak alam yang harus dapat dibaca warga untuk disikapi. Banyak pelajaran yang dapat diperoleh dari rangkaian pengalaman ini. Bertindak tepat akan menjadi teladan bijak bagi anak-anak di lereng Merapi.

*Elanto Wijoyono, relawan informasi JALIN MERAPI di Yogyakarta

**Tulisan ini dimuat pertama kali dalam situs JALIN MERAPI pada hari Selasa, 28 Desember 2010 dengan judul yang sama.

One thought on “Anak-anak Penyelamat Satwa dari Kaki Merapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s