Pendidikan Pusaka untuk Anak

Membangun Strategi Pelestarian Pusaka melalui Jalur Sekolah¹

oleh: Elanto Wijoyono² dan Laretna T. Adishakti³

”Apresiasi adalah modal bagi konservasi (pelestarian). Tanpa pendidikan maka konservasi akan berhenti. Pendidikan tanpa dasar budaya maka akan tidak punya makna dan warna. Sangat disayangkan, pendidikan di Indonesia saat ini dibangun dan dikembangkan tanpa didasari budaya yang kita miliki sendiri.”

Prof. Wuryadi, Dewan Pendidikan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, menyampaikan pesan itu pada hari keempat Pelatihan Pendidikan Pusaka untuk Guru Sekolah Dasar di Hotel Galuh, Prambanan, pada awal bulan November 2008 lalu. Dalam kesempatan itu beliau menekankan bahwa pelestarian pusaka adalah penting sebagai dasar pembentuk karakter manusia bangsa. Pendidikan pusaka pun menjadi langkah penting, yang dalam penerapannya harus dilakukan dengan pendekatan dan metode yang memungkinkan munculnya apresiasi atas dasar rasa yang kemudian dapat membangun kepahaman.

Penerapan pendidikan nasional Indonesia yang lebih cenderung mengukur pengetahuan dan kognitif justru dikhawatirkan dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan nilai pusaka itu sendiri ketika coba diintegrasikan dalam pembelajaran di jalur sekolah formal. Model standardisasi yang masih digunakan dalam penerapan pendidikan nasional adalah situasi yang berlawanan dengan semangat pengembangan kebebasan berapresiasi dan berekspresi. Sentuhan dalam pendidikan nasional Indonesia lebih banyak memberikan porsi pada proses pembelajaran yang memerdekakan pikiran. Sementara, hal itu berbeda dengan prinsip proses pendidikan yang bertujuan memerdekakan nurani; rasa.

Melihat potensi pusaka (heritage) Nusantara yang sangat beragam tersebar di seluruh pelosok ini maka memang akan sangat sayang jika pusaka kemudian hanya bisa berhenti sebagai pengetahuan. Pusaka, yang terdiri dari kesatuan ragam pusaka alam, budaya, dan saujana itu, pada saat ini semakin lama menghadapi tantangan agar dirinya dapat lestari. Tantangan dan ancaman kelestarian pusaka itu muncul baik dari pengaruh kejadian alam maupun akibat pengaruh dinamika kebudayaan manusia Indonesia dan dunia. Dari sisi tersebut, muncul desakan kuat bagi kita untuk dapat membangun strategi pendidikan pusaka dengan semangat prinsip pendidikan yang membebaskan nurani dengan lebih banyak memberikan porsi membangun rasa, yang kemudian secara otomatis dapat membangun pengetahuan itu sendiri.

Pendidikan Pusaka di Sekolah Dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta; sebuah upaya ujicoba

Praktis selama periode tahun 2009, sebanyak 13 sekolah dasar (SD) di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mulai coba menerapkan proses pendidikan pusaka di jalur sekolah formal. Langkah ini merupakan perjalanan sebuah program ujicoba yang digelar oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI)4 dengan dukungan dana dari Erfgoed Nederland (EN) dan dukungan kepakaran dari Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Puskur Depdiknas). Program yang bertajuk Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia ini menjadi awal dari program pengembangan model serupa di tingkat nasional; dengan Yogyakarta sebagai percontohannya. Dimulai dari sebuah seminar sosialisasi mengenai pendidikan pusaka pada akhir bulan Juli 2008 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, kemudian ditindaklanjuti dengan penyelenggaraan Pelatihan Pendidikan Pusaka untuk Guru SD yang dilaksanakan pada bulan November 2008 itu. SD yang diundang dalam pelatihan ini diambil dari peserta seminar sosialisasi yang dinilai memiliki potensi untuk menerapkan pendidikan pusaka di sekolahnya. Sekolah yang dipilih beragam, dua atau tiga dari setiap kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang masing-masing memiliki karakteristik. Sekolah-sekolah tersebut antara lain:

Kota Yogyakarta        :

  1. SDN Ungaran I
  2. SDN Kotagede I
  3. Taman Muda Ibu Pawiyatan (Tamansiswa)

Kabupaten Sleman    :

  1. SD Tarakanita Tritis, Pakem
  2. SD Budi Mulia Dua, Depok

Kabupaten Gunungkidul    :

  1. SDN Selang, Wonosari
  2. SDN Jragum, Semanu

Kabupaten Bantul    :

  1. MI Giriloyo I, Imogiri
  2. MI Giriloyo II, Imogiri
  3. SDN Bantul Manunggal, Bantul

Kabupaten Kulon Progo    :

  1. SDN Kembangmalang, Panjatan
  2. SDN I Wonorejo, Nanggulan
  3. SDN II Wonorejo, Nanggulan

Pelatihan tersebut menjadi titik pembekalan para guru sebelum mencoba menerapkan program pendidikan pusaka di sekolahnya masing-masing selama dua semester di tahun 2009.

Pelatihan yang diikuti oleh kepala sekolah dan dua guru dari setiap sekolah itu menghasilkan sebuah rencana program penerapan pendidikan pusaka bagi sekolah masing-masing. Rencana program itu kemudian disosialisasikn oleh guru yang mengikuti pelatihan kepada guru-guru yang lain di sekolahnya masing-masing untuk mendapatkan masukan. Rencana program pendidikan pusaka di setiap sekolah itu kemudian dibahas dalam pertemuan pembuka di akhir bulan Januari 2009 dan ditetapkan untuk diujicobakan selama satu semester hingga bulan Juni 2009. Pada pertengahan tahun 2009, kemudian disepakati bersama bahwa program percontohan ini diteruskan hingga genap satu tahun hingga Desember 2009.

Muatan pengetahuan alam dan budaya sebenarnya sudah diajarkan kepada para siswa di setiap sekolah sejak sebelum mengikuti program ini. Bahkan, beberapa sekolah, seperti SDN Ungaran I dan SDN Kembangmalang telah diakui sebagai sekolah adiwiyata yang memiliki program pendidikan lingkungan hidup bagi para siswanya. Sekolah dengan fasilitas kesenian dan budaya yang lengkap seperti Taman Muda Ibu Pawiyatan dan SDN Bantul Manunggal juga telah lama menerapkan beragam kegiatan bernuansa seni tradisional bagi siswa didiknya. Namun, muatan pentingnya mengetahui beragam potensi itu sebagai pusaka dan bagaimana langkah untuk mendorong siswa mampu melestarikan dengan caranya masing-masing secara umum belum ada.

Rumusan metode memperkenalkan ragam pusaka Indonesia itu dilatihkan terlebih dahulu kepada para guru yang kemudian diharapkan dapat merumuskan metode pendidikan pusaka yang lebih khusus di sekolahnya masing-masing. Selain melalui mekanisme pelatihan, tim Pendidikan Pusaka BPPI juga menerbitkan sebuah buku panduan, modul, Pendidikan Pusaka untuk Guru. Buku yang ditulis oleh tim yang beranggotakan para pakar dan praktisi pelestarian pusaka di Yogyakarta ini memuat penjelasan mengenai ragam pusaka dan bagaimana cara menilai potensi pusaka tersebut. Lebih penting lagi, disampaikan pula dalam buku itu bagaimana prinsip-prinsip untuk memperkenalkan potensi pusaka yang ada di sekitar kepada anak didik, dari jenjang sekolah dasar tingkat awal hingga tingkat akhir. Buku itulah yang kemudian dijadikan salah satu bahan acuan para guru SD peserta program untuk merumuskan dan menerapkan program pendidikan pusaka di sekolah masing-masing pada semester pertama tahun 2009; semester genap tahun ajaran 2008/2009.

Berdasarkan pengalaman menerapkan pendidikan pusaka selama paruh pertama tahun 2009, kemudian di awal paruh kedua tahun 2009 sebuah langkah pendalaman pun dilakukan. Para guru didorong untuk menuliskan kembali pengalaman penerapan pendidikan pusaka, pada tema/topik yang dikuasainya, ke dalam sebuah buku. Buku ini kemudian diolah menjadi semacam modul panduan yang ditujukan bagi siswa SD. Langkah itu pun dikuatkan dengan sebuah pelatihan kembali pada awal bulan Juli 2009, fokus pada penulisan modul pendidikan pusaka yang kemudian disebut sebagai Buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak.

Dalam pelatihan di Wisma Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta saat itu, para guru telah diminta untuk merencanakan topik yang akan ditulisnya menjadi buku. Topik-topik itu kemudian didalami dengan bantuan beberapa fasilitator selama pelatihan. Kemudian, topik yang telah diolah itu, usai pelatihan, akan diolah oleh sebuah tim penyunting dan tim kreatif yang akan mewujudkan buku tersebut menjadi buku dengan kemasan dan tampilan yang menarik untuk anak usia SD. Tim Pendidikan Pusaka BPPI pun telah menyiapkan satu tim kreatif yang terdiri dari para ilustrator dan desainer grafis muda yang ditugaskan untuk mengolah perupaan seluruh buku hasil karya guru dan tim Pendidikan Pusaka BPPI. Hingga akhir tahun program di bulan Desember 2009, akhirnya berhasil diproduksi sejumlah 21 judul buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak. Buku-buku itu ditampilkan dalam rupa cerita bergambar dan/atau komik.

Buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak (per Januari 2010) itu meliputi:

  1. Aku Dapat Menganyam
  2. Apotek Hidup
  3. Ayo Belajar Membatik
  4. Belalang, Makanan Khas dari Wonosari
  5. Bakpia, Kelezatan dari Yogya
  6. Dhakon
  7. Geplak
  8. Gobag Sodor
  9. Gumbregan
  10. Jelajah ke Bukit Turgo
  11. Jumputan (Seni Celup Ikat)
  12. Kipo
  13. Makanan Tradisional Gunungkidul
  14. Panatacara
  15. Sejarah Masjid Syuhada
  16. Sejarah SD Ungaran
  17. Selokan Mataram
  18. Tamansiswa
  19. Tari Kraton Putri
  20. Tempe
  21. Thiwul, Makanan Kesukaanku

Sejumlah 18 buku ditulis oleh guru dari SD peserta program. Dua buku ditulis oleh Tim Pendidikan Pusaka BPPI, yakni Gobag Sodor dan Tari Kraton Putri. Menarik, satu buku (komik) dibuat oleh siswa SD Budi Mulia Dua sendiri, yakni Yurna Nudesia yang menggambar komik Bakpia. Penulisan hingga pembuatan seri buku ini mendapatkan supervisi dari beberapa pakar, seperti Dr. Indria Laksmi Gamayanti (psikolog klinis anak RSUP Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran Univesritas Gadjah Mada Yogyakarta), Nasarius Sudaryono (Dinamika Edukasi Dasar), Erry Utomo (Puskur Balitbang Depdiknas), dan Agung ‘Leak” Kurniawan (seniman).

Lima judul draft buku-buku tersebut sebelumnya telah coba dibagikan pada awal bulan Oktober 2009 ketika pertemuan Forum Guru Pendidikan Pusaka digelar di SD Budi Mulia Dua, Seturan, Sleman. Selama satu bulan, guru-guru diminta untuk mengujicobakan buku-buku berwujud komik dan cerita bergambar itu kepada para siswanya. Kemudian, pada bulan November 2009, tim Pendidikan Pusaka melakukan evaluasi terhadap ujicoba penggunaan buku cerita bergambar dan komik untuk memperkenalkan pusaka kepada anak usia SD.


Catatan Kaki Pelaksanaan Program

Belanda, sebagai negara yang telah memiliki kemampuan pengelolaan pusaka yang baik, ternyata baru membangun program pendidikan pusaka secara nasional sejak empat tahun terakhir dan diikuti oleh sekitar 200 SD. Dalam prosesnya hingga kini, jaringan yang terdiri dari lembaga swadaya masyarakat, sekolah, dan pemerintah di Belanda terus menggali strategi yang lebih optimal untuk menjamin keberlangsungan program tersebut. Indonesia, yang memiliki kekayaan pusaka jauh lebih melimpah daripada negeri Belanda, baru memulai dalam waktu satu tahun, dengan diikuti hanya sejumlah 13 SD di satu wilayah provinsi, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dikelola secara gotong-royong oleh sebuah tim yang bekerja paruh waktu, yang dalam perjalananya giat berkoordinasi dengan tim BPPI di Jakarta dan tim EN di Belanda, program ini telah berhasil menyelesaikan kegiatan percontohannya dengan beragam catatan.

Secara umum, seluruh sekolah peserta program menyambut baik program pendidikan pusaka ini. Hal itu tercermin dari hasil evaluasi, sejak dari seminar sosialisasi pendidikan pusaka dan pelatihan pendidikan pusaka di tahun 2008 silam, hingga dalam evaluasi akhir program di bulan Desember 2009 lalu. Pertambahan pengetahuan dan kemampuan untuk menguatkan muatan pusaka dalam proses pendidikan di sekolah menjadi satu hal utama yang diapresiasi oleh seluruh sekolah peserta program. Namun, rata-rata sekolah merasa selama satu tahun program berjalan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi atas kegiatan penerapan pendidikan pusaka di sekolah belum cukup optimal. Tim Pendidikan Pusaka BPPI hanya bisa melakukan kunjungan ke setiap sekolah dalam waktu 2 – 3 bulan sekali dalam satu tahun program. Setiap kunjungan pun hanya berlangsung paling lama 2 – 3 jam, yang lebih banyak diisi dengan pembahasan perkembangan program bersama para guru. Rata-rata sekolah berharap tim Pendidikan Pusaka BPPI bisa lebih sering melakukan pendampingan dan kegiatan di lapangan, termasuk terjun langsung memberikan materi pendidikan pusaka kepada para anak didik.

Tim Pendidikan Pusaka ini sendiri memang merupakan sebuah kelompok kerja yang dibentuk khusus sebagai pelaksana program percontohan ini. Semua pegiat di dalamnya adalah gabungan dari staf pengajar di universitas, praktisi pelestarian, seniman, penulis, dan pegiat lembaga swadaya masyarakat yang meluangkan waktunya beberapa hari setiap minggu untuk melaksanakan program pendidikan pusaka ini.

Pendampingan langsung di lapangan dirasa penting oleh para guru karena tidak semua sekolah memiliki bahan dan perangkat peraga pendidikan pusaka yang dianggap mencukupi. Di sisi lain, ada beberapa sekolah yang mampu secara kreatif mengoptimalkan sumberdaya yang ada di sekitar sekolah untuk digunakan dalam penerapan program pendidikan pusaka yang murah, tetapi tepat guna. Misal, SD Tarakanita Tritis yang secara geografis berada di kaki Bukit Turgo di kaki Gunungapi Merapi menggelar sebuah kegiatan jelajah alam ke puncak Bukit Turgo untuk para siswa kelas 4 dan 5, dipandu oleh sejumlah guru. Tidak perlu biaya banyak untuk melaksanakan kegiatan tersebut karena dilakukan di lingkungan sekitar sekolah. Bahkan, pengalaman jelajah itu mampu didokumentasikan oleh guru SD tersebut menjadi sebuah komik, dengan bantuan seorang ilustrator, yang dapat digunakan sebagai buku bacaan pendidikan pusaka untuk siswa SD.

Sejak awal program digulirkan melalui pelatihan pendidikan pusaka untuk guru, para pegiat pelestarian pusaka yang aktif di lembaga swadaya masyarakat juga dilibatkan. Ditegaskan sejak pelatihan di bulan November 2008 lalu bahwa sekolah dapat membangun jejaring dengan pihak-pihak di luar sekolah untuk bisa menerapkan pendidikan pusaka bersama-sama. Sebagai misal, MI Giriloyo I dan II yang berdiri di desa perajin batik di Giriloyo, Imogiri mendapatkan pendampingan intensif dari paguyuban perajin batik setempat dalam mengelola kegiatan ekstrakurikular membatik untuk siswa. Strategi berbagi peran seperti itu cukup membantu pihak sekolah dalam penerapan pendidikan pusaka untuk siswa.

Selain itu, jaringan antar sekolah pun diharapkan sejak awal mampu dimanfaatkan untuk membantu penerapan pendidikan pusaka di wilayah masing-masing. Pada akhir pelatihan untuk guru di bulan November 2008 pula disepakati terbentuknya Forum Guru Pendidikan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta yang beranggotakan para guru peserta pelatihan dari setiap sekolah peserta program. Dalam perjalanan program percontohan selama tahun 2009 kemarin, setiap sekolah dapat saling bantu dan mendukung kegiatan pendidikan pusaka. SD Budi Mulia Dua yang bertempat di Sleman misalnya; mereka bekerja sama dengan MI Giriloyo I dan II untuk menggelar workshop membatik bagi siswa SD Budi Mulia Dua yang berkunjung ke Giriloyo langsung pada bulan Februari 2009 lalu. Kegiatan ini dapat terwujud berkat pemanfaatan informasi dari jaringan guru yang telah terbentuk dalam program pendidikan pusaka ini.

Peran lembaga pemerintah dalam pelaksanaan ujicoba pendidikan pusaka di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selama tahun 2009 juga belum cukup tampak dan optimal. Koordinasi antara Tim Pendidikan Pusaka BPPI lebih banyak dilakukan dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga di tingkat provinsi. Sementara, lembaga turunannya di tingkat kabupaten/kota dan unit pelaksana teknis daerah (UPTD) setempat tidak dilibatkan secara intensif. Pertemuan dengan pemerintah kota Yogyakarta dan beberapa kota lain dalam diskusi terbuka mengenai Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar pada hari Jumat, 22 Januari 2010 diharapkan dapat membuka peluang kerjasama yang lebih terbuka untuk menjamin keberlangsungan program ini di Yogyakarta. Tim Pendidikan Pusaka BPPI sendiri berencana untuk membangun model yang sama di beberapa kota lain di Indonesia, usai program percontohan di Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Kota lain yang tertarik untuk menerapkan program ini antara lain Sawahlunto di Sumatera Barat, Denpasar di Bali, dan Ternate di Maluku Utara. Selain itu, diundang pula kehadiran pemerintah kota Jakarta, Solo, dan Nias untuk menjajagi kemungkinan penerapan program pendidikan pusaka di tempat-tempat itu di masa mendatang.

Membangun Model Pendidikan Pusaka di Sekolah

Pengalaman dan hasil evaluasi penerapan program percontohan Pendidikan Pusaka di Sekolah Dasar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta memunculkan sebuah model pengelolaan (management) program yang dapat dibangun ulang di banyak tempat di Indonesia. Dalam sebuah kerangka program, ada dua hal utama yang harus diperhatikan untuk dikelola oleh tim pelaksana pendidikan pusaka, yakni:

  1. Manajemen program, dan
  2. Muatan program

Manajemen program mewadahi anasir-anasir kegiatan yang bersifat pelaksanaan teknis, operasional. Sementara, muatan program mewadahi anasir-anasir isi dan nilai kegiatan yang dilakukan dalam operasional program. Setiap proses dalam manajemen program dan muatan program itu dikelola dalam sebuah tahap yang saling terkait.

I. Manajemen Program

1.Sosialisasi
Sosialisasi merupakan langkah awal pengelolaan program. Ranah pelestarian pusaka dapat dipahami sebagai isu yang tak begitu populer di sebagian besar wilayah Indonesia, apalagi menggabungkan isu ini ke dalam ranah pendidikan formal. Secara khusus, ketika sebuah program pendidikan pusaka akan diterapkan di suatu sekolah formal maka kita bisa dengan cukup mudah memetakan siapa saja target sosialisasi program. Selain sekolah tujuan program, sosialisasi perlu dilakukan dalam satu paket terhadap lembaga pemerintah yang berwenang mengurusi ranah pendidikan dan pengelolaan pusaka di daerah. Penting pula melibatkan kelompok, komunitas, dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki perhatian dan kegiatan di bidang pelestarian pusaka. Kelompok masyarakat seperti itu biasanya banyak yang telah memiliki pengalaman pengelolaan program pendidikan non-formal yang cukup kreatif. Langkah sosialisasi ini bisa dilakukan secara bertahap, yang ditujukan untuk kelompok yang berbeda; sekolah, pemerintah, dan masyarakat umum.

Perlu diperhatikan pula pemilihan waktu dan durasi sosialisasi agar rencana penerapan program usai sosialisasi mendapatkan jadwal yang tepat. Misal, jika langkah sosialisasi bisa dilakukan sejak semester genap tahun ajaran saat ini maka diharapkan program pendidikan pusaka dapat secara resmi dimulai pada semester ganjil pada tahun ajaran berikutnya. Strategi seperti itu tentunya akan lebih memudahkan pihak sekolah untuk merencanakan kurikulum di sekolah masing-masing ketika dimasuki oleh rencana program tambahan.

2.Pelatihan/Persiapan
Tim Pendidikan Pusaka BPPI tidak akan bisa selamanya mendampingi pelaksanaan program pendidikan pusaka di setiap sekolah di setiap daerah. Juga, bahwa proses belajar mengajar antara guru dengan anak didik telah biasa dilakukan antara kedua belah pihak tersebut. Bagaimanapun, guru sekolah yang bersangkutan adalah agen pendidikan pusaka yang utama. Seperti pengalaman yang diterapkan di Yogyakarta, pelatihan mengenai pusaka itu ditujukan pertama kali kepada guru dan kepala sekolah. Guru adalah agen pendidik yang punya kemampuan berkelanjutan untuk meneruskan pengetahuan dan ilmunya kepada anak didiknya. Kepala sekolah memiliki peran dalam penentuan kebijakan program di sekolah yang dipimpinnya, berkoordinasi dengan guru yang mengikuti program pelatihan pendidikan pusaka.

Langkah pelatihan ini juga penting untuk dilakukan dengan mempertimbangkan waktu pelaksanaannya. Semester genap tahun ajaran saat ini akan menjadi waktu yang cukup baik untuk memulai mengadakan pelatihan, sebagai muara dari proses sosialisasi. Usai pelatihan di semester ini, guru dapat menyusun rencana program pendidikan pusaka di sekolahnya yang akan diterapkan mulai pada semester ganjil tahun ajaran berikutnya di pertengahan tahun.

3.Pelaksanaan
Pelaksanaan program akan baik dirancang untuk dilakukan mengikuti agenda kegiatan belajar mengajar yang telah ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional kepada seluruh sekolah di Indonesia. Sangat baik jika guru dapat dibantu untuk merencanakan program pendidikan pusaka untuk setiap tahun ajaran; dua semester. Program pendidikan pusaka, dengan demikian, dapat dikembangkan dengan strategi diintegrasikan pada beragam mata pelajaran dan kegiatan yang dilangsungkan di sekolah sesuai jadwal yang ada. Pada setiap akhir semester dan tahun ajaran, kualitas dan dampak pelaksanaan program pendidikan pusaka dapat dievaluasi bersama.

4.Pendampingan
Secara khusus, tim Pendidikan Pusaka BPPI akan fokus pada pendampingan terhadap para pelatih (guru), bukan secara langsung mengajarkan pusaka kepada para siswa. Pendampingan yang dilakukan akan fokus pada strategi perencanaan, dan metode penerapan program, serta metode penilaiannya karena program ini dilakukan dalam kerangka jalur pendidikan formal di sekolah.

Tim Pendidikan Pusaka yang aktif dapat memantau perkembangan penerapan program melalui berbagai cara. Cara pertama adalah dengan melakukan kunjungan langsung; pendampingan tatap muka. Model pendampingan ini akan sangat intensif, tetapi tidak bisa dilakukan setiap hari. Pendampingan secara langsung dapat dilakukan dengan membuat jadwal yang disepakati bersama. Cara kedua adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi. Tim Pendidikan Pusaka saat ini juga telah menyiapkan sistem online di alamat http://pendidikanpusaka.org yang dapat dimanfaatkan sebagai media bertukar informasi; termasuk informasi mengenai pelaksanaan program. Setiap daerah akan memiliki akses ke media tersebut, sehinga dapat mengunggah data dan informasi mengenai penerapan pendidikan pusaka di sekolah atau di daerahnya. Tim Pendidikan Pusaka BPPI pun dapat memantau sistem online tersebut dan melakukan pendampingan dari dunia maya. Fitur-fitur interaktif akan dikembangkan dalam rangka mempermudah proses komunikasi antara pelaksana program dengan tim Pendidikan Pusaka BPPI, serta masyarakat umum pemerhati program ini. Penyediaan basis data dalam sebuah sistem pusat sumberdaya yang berisi banyak dokumen dan referensi dapat menjadikannya sebuah sistem pendampingan mandiri.


5.Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi idealnya dilakukan secara rutin, tidak hanya pada akhir program. Monitoring akan dilakukan secara berkala sejak awal penerapan program hingga seterusnya. Monitoring dapat dilakukan melalui dua cara pula, yakni monitoring langsung di lapangan dengan melakukan kunjungan, serta monitoring melalui media pertukaran informasi yang telah disiapkan di http://pendidikanpusaka.org. Monitoring langsung di lapangan dapat diagendakan secara rutin, disesuaikan dengan jadwal pelaksanaan dan pendampingan program di atas. Selain itu, tim fasilitator dari tim Pendidikan Pusaka BPPI dapat memantau perkembangan program dari situs yang telah dikembangkan. Dalam setiap pelaksanaan program, setiap sekolah di setiap wilayah akan diwajibkan mengirimkan informasi perkembangan terkini penerapan program di sekolahnya ke dalam sistem yang telah disiapkan. Sistem ini akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi lapangan, mengingat tidak semua sekolah memiliki sumberdaya berbasis internet. Melalui media tersebut pula, hasil penilaian dari monitoring dan evaluasi rutin dapat diunggah, sehingga dapat dipelajari bersama.

Penting pula dalam pelaksanaan sebuah program adalah melakukan uji atau evaluasi dampak penerapan program. Langkah evaluasi dampak kegiatan ini dapat dilakukan secara bertahap sejak program masih berjalan maupun ketika program telah selesai. Evaluasi dampak ini dapat dilakukan terhadap para siswa sekolah peserta program, guru, dan juga masyarakat umum di sekitar sekolah yang terimbas kegiatan pendidikan pusaka yang dilakukan.

II. Muatan Program

1.Materi Sosialisasi
Dalam langkah yang bertahap, sosialisasi akan sangat mungkin harus dimulai dari sangat awal, yakni pengenalan dan pemahaman terlebih dahulu mengenai konsep pusaka. Kemudian, setelah pengetahuan mengenai pusaka ada, dapat ditindaklanjuti dengan pengenalan konsep pelestarian. Dari hal itu diharapkan para peserta sosialisasi dapat memahami kerangka dasar dari seluruh program pendidikan pusaka yang akan dijalankan setelahnya.

Sangat penting kemudian untuk menginformasikan pengalaman-pengalaman baik dari beragam sekolah dan lembaga lain yang telah menerapkan pendidikan pusaka, baik dari dalam maupun luar negeri. Ragam contoh seperti itu bisa menjadi pemicu inspirasi dan memacu semangat kelompok sasaran agar mereka dapat merasa mampu untuk bisa melakukan hal yang serupa; bahkan lebih baik daripada contoh yang diberikan.

Sosialisasi secara rutin dilakukan melalui media, seperti website dan penerbitan materi cetak. Proses penerapakan pendidikan pusaka berjalan yang terdokumentasikan dalam media-media yang ada dapat secara otomatis menjadi media sosialisasi pendidikan pusaka kepada khalayak. Sosialisasi ini nantinya termasuk pula di dalamnya materi mengenai hasil evaluasi dan dampak pelaksanaan program pendidikan pusaka, sehingga masyarakat umum dapat mengetahui sisi baik penerapan program ini seterusnya ke depan.

2.Materi Pelatihan (buku panduan untuk guru)
Bahan-bahan mengenai ragam pusaka dan metode untuk memperkenalkan dan upaya untuk melestarikannya adalah utama untuk dipelajari oleh para guru sebelum mereka terjun sebagai pendidik pusaka di sekolahnya masing-masing. Harap diingat dan dipahami bahwa rata-rata guru sekolah telah punya pengalaman dalam mengajarkan materi yang terkait dengan lingkungan alam dan budaya. Namun, sisi penting potensi alam dan budaya dari sudut pandang pelestarian belum banyak muncul dan dipahami oleh para pendidik di sekolah. Upaya untuk menekankan perbedaan antara pengajaran mengenai lingkungan alam dan budaya dengan pendidikan pusaka harus benar-benar ditekankan. Pada beberapa kasus, rencana program yang bisa dijalankan bisa jadi bukan sama sekali baru, tetapi merupakan penguatan terhadap muatan mata ajar yang biasanya telah disampaikan kepada para anak didik.

Buku panduan untuk guru akan dikembangkan oleh tim Pendidikan Pusaka BPPI untuk tingkat nasional dan tingkat lokal. Akan ada buku panduan pendidikan pusaka nasional yang berisi panduan umum pendidikan pusaka. Buku ini dapat digunakan sebagai panduan prinsip umum di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, para guru kemudian akan dilengkapi dengan beragam buku panduan yang bersifat lokal; terkait dengan potensi pusaka setempat. Buku panduan ini akan disusun oleh tim Pendidikan Pusaka BPPI dengan fasilitator lokal di wilayah program yang akan disiapkan atau ditunjuk oleh BPPI. Dengan demikian, ke depan, akan ada beragam buku panduan pendidikan pusaka lokal yang dapat dijumpai di setiap wilayah di Nusantara. Buku panduan ini tentu saja dapat secara berkala ditinjau kembali dan disempurnakan isinya, bersama-sama dengan para guru yang menerapkan program pendidikan pusaka secara langsung di lapangan.

3.Materi Pendampingan (buku panduan/bacaan untuk siswa)
Selain pembelajaran yang dapat dialami secara langsung oleh siswa di dalam atau di luar kelas atas panduan guru, siswa juga dapat mempelajari pusaka melalui beragam media. Salah satu media peraga yang akan terus dikembangkan adalah buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak. Seri buku bacaan ini akan menjadi media belajar mandiri para siswa. Muatan dalam setiap buku akan dibuat oleh para guru di wilayah program pendidikan pusaka itu berlangsung. Seperti halnya yang telah berhasil diterapkan di Yogyakarta, usai para guru telah memiliki pengalaman menerapkan program pendidikan pusaka selama satu semester, mereka akan didorong untuk coba menuliskan pengtahuan dan pengalamannya ke dalam bentuk buku bacaan untuk siswa. Isi buku tersebut tentu saja meliputi ragam jenis pusaka yang ada di wilayah setempat.

Pendekatan pengemasan tampilan buku untuk anak dalam bentuk cerita bergambar dan komik, dengan ragam tokoh binatang akan tetap dipertahankan. Strategi itu akan terus coba dilakukan pula di wilayah-wilayah program berikutnya. Berdasarkan hasil evaluasi penggunaan buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak di Yogyakarta, semua siswa yang mengikuti proses evaluasi menyatakan bahwa komik, cerita bergambar, dan tokoh binatang sangat menarik bagi mereka.

4.Materi Monitoring dan Evaluasi
Sesuai dengan gambaran perencanaan program ini maka hal yang harus dimonitoring dan dievaluasi meliputi dua hal besar ini, yakni ranah pengelolaan program dan ranah muatan program. Pada ranah pengelolaan program maka akan dievaluasi semua hal yang terkait dengan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di tataran manajerial secara praktis. Sementara, terhadap muatan program maka akan dievaluasi semua hal yang terkait dengan isi kegiatan; apakah hal yang disampaikan memiliki konteks yang tepat atau tidak, serta bagimana kualitas bahan yang disampaikan kepada par peserta program.

Semua materi hasil monitoring dan evaluasi ini akan didokumentasikan oleh tim Pendidikan Pusaka BPPI dalam laporan program. Dalam bentuk populer, rekaman itu akan disimpan di beberapa media yang dikelola oleh tim Pendidikan Pusaka BPPI, antara lain buletin cetak dan website http://pendidikanpusaka.org. Muatan monitoring dan evaluasi yang tidak hanya akan fokus pada teknis pelaksanaan, tetapi juga pada dampak kegiatan ini akan dipublikasikan setelah diolah, sehingga bisa menjadi bagian dari pembelajaran bagi khalayak yang berminat menerapkan pendidikan pusaka.

Pendidikan untuk Pelestarian

Membawa guru ke dalam peran sebagai agen pelestarian pusaka adalah startegi utama yang digelorakan dalam program ini. Pendidikan Dasar sendiri menjadi fokus utama Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) sebagai tingkat usia yang harus dikenai tindakan serius, mempersiapkan anak-anak bangsa yang memiliki perasaan dan pemahaman kelestarian pusaka yang baik. Selama enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah tingkat menengah pertama, anak akan mulai membentuk dirinya berdasarkan lingkungan tempat dia hidup dan berkegiatan. Guru yang menjadi pendamping separuh jam kehidupan anak pada setiap harinya selama bertahun-tahun itu tentu saja menjadi penting untuk dikuatkan perannya; membantuk karakter anak atau manusia seutuhnya. Kelestarian pusaka bangsa di masa depan akan ditentukan oleh keberhasilan pendidikan di tingkat dasar ini karena di masa depan, merekalah yang akan menjadi pengelola beragam pusaka yang mempengaruhi hajat hidup bangsa itu.

Mungkin banyak tak disadari sebelumnya bahwa ragam potensi dan kekayaan pusaka alam, budaya, dan saujana itu ternyata dapat dengan mudah ditemui di sekitar kita. Menyadarkan bahwa ada begitu banyak ragam pusaka itu, yang harus dilestarikan, kepada masyarakat melalui peran guru di sekolah adalah visi yang harus dijaga keberlangsungannya. Peran aktif banyak pihak pemangku kepentingan tentu saja sangat diharapkan agar proses ini terus berlajut dan semakin optimal. Ada banyak langkah yang bisa dilakukan untuk menuju visi tersebut. Penggabungan pendidikan pusaka ke dalam ranah pendidikan sekolah juga merupakan satu strategi, yang bisa jadi tidak cukup optimal dan harus diperkuat dengan beragam strategi lainnya. Hal itu akan bisa ditemukan untuk kemudian dipelajari dan diterapkan dalam proses pelaksanaan program pendidikan pusaka ini seterusnya ke depan. Satu tahun saja program ini diinisiasikan di Indonesia, masih banyak pekerjaan rumah dan tantangan di depan yang menghadang untuk disikapi dan ditanggulangi.

Catatan kaki:

  1. Tulisan ini disampaikan dalam rangka Seminar Internasional Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 23 Januari 2010 di University Club Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
  2. Koordinator Lapangan Tim Pendidikan Pusaka – Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI);Koordinator Peta Hijau Yogyakarta dan Peta Hijau – Green Map Indonesia, Staf Manajemen Pengetahuan Combine Resource Institution – Yogyakarta, mahasiswa Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Weblog: https://elantowow.wordpress.com .
  3. Ketua Tim Pendidikan Pusaka, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia/BPPI bekerjasama dengan Erfgoed Netherland dan Pusat Kurikulum DEPDIKNAS; Staf pengajar & peneliti, Center for Heritage Conservation, Jur. Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada; Anggota Dewan Pimpinan BPPI; Ketua, Jogja Heritage Society. e-mail: adishakti.sita@gmail.com
  4. Badan Pelestarian Pusaka Indonesia/Indonesian Heritage Trust  (http://bppi-indonesianheritage.org) yang berkedudukan di Jakarta adalah sebuah organisasi nirlaba bergerak dalam bidang pelestarian yang bertujuan melakukan penguatan upaya pelestarian pusaka di Indonesia. Visi BPPI adalah mengawal kelestarian pusaka Indonesia yang diaplikasikan melalui beragam misi kegiatan pelestarian baik alam, budaya dan saujana dengan pelibatan semua pemangku kepentingan terkait baik di pemerintah dan masyarakat sendiri.

3 thoughts on “Pendidikan Pusaka untuk Anak

  1. Toko Buku Online Murah

    Have you ever thought about writing an ebook or guest authoring on other sites?
    I have a blog based on the same information you discuss and would really like to have you share
    some stories/information. I know my visitors would value your work.
    If you’re even remotely interested, feel free to send me an email.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s