Jejak Ingatan di Antara Coretan

Mural bregada prajurit Ketanggung di Kampung Kumendaman (foto: David) Suara anak muda dalam mural (foto: David)

Langkah tegas satu bregada prajurit Ketanggung Kraton Yogyakarta menyeruak di sudut Balai Rukun Warga (RK) Kampung Kumendaman, Yogyakarta. Walaupun hanya mewujud sebagai mural di tembok kampung, kemunculannya mencoba untuk menjelaskan sejarah kampung tersebut bagi para pemirsanya. Kumendaman dahulu adalah kampung bagi para komandan atau pandega prajurit Kraton Yogyakarta. Ketika tim Jogja Mural Forum (JMF) yang digiatkan oleh perupa Samuel Indratma datang ke Kumendaman dalam rangka Proyek Seni Kampung Sebelah, warga dewasa pun menitipkan keinginan agar mural yang dikerjakan mengandung tema yang mengangkat ciri khas kampung. Jadilah mural itu dibuat pada bulan Mei 2007.

Sementara, kalangan muda Kampung Kumendaman mencoba memunculkan warna lain. Dalam ingatan mereka ketika mendiskusikan tema mural, muncul beberapa gagasan untuk melukiskan permasalahan lingkungan hidup sehari-hari. Hasilnya adalah beberapa mural sarat kritik sosial, seperti kebiasaan mabuk, kriminalitas jalanan, hingga pemasangan konblok yang menggusur ruang-ruang hijau dan resapan air.

Begitulah, ketika anak-anak muda diminta membuat mural di kampungnya sendiri, dengan muatan pesan. Perbedaan pemaknaan yang muncul cukup terpengaruh oleh usia dan sudut pandang. Ketika generasi yang lebih tua ingin memunculkan kembali citra romantisme, generasi yang lebih muda justru tidak cukup tertarik dengan gagasan itu. Bagi mereka, ingatan akan kehidupan keseharianlah yang perlu ditampilkan. Sebagai layaknya sebuah mesin waktu, mural tersebut akan mampu menyimpan kisah keadaan itu, sebagai identitas kekinian, hingga masa berikutnya. Lebih penting, anak-anak belia berusia belasan hingga duapuluhan tahun itu memandang perupaan masalah sosial dalam mural akan mampu memberikan dorongan aksi untuk menangulangi masalah yang ada. Namun begitu, mereka tetap memberikan ruang untuk sejarah yang lebih lampau, identitas yang lebih dulu muncul di tempat mereka tinggal, yang juga perlu diingat. Ingatan dua generasi yang berbeda itu diramu dalam rembug warga dan dilebur dalam coretan mural.

Ingatan juga dipicu untuk kembali bermain ketika sebuah gardu listrik dilumuri cat warna-warni membentuk sosok burung di keempat sisinya. Kejadian itu berlangsung di Kotabaru, Yogyakarta pada tahun 2003 silam, ketika Arya Pandjalu, perupa kelahiran Bandung yang kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berkolaborasi dengan seniman mural asal San Fransisco, Carolyn Ryder Cooley dalam rangka Proyek Seni bertajuk “Sama-Sama”. Pemunculan mural itu mengundang reaksi sejumlah kalangan, terutama pemerhati pusaka (heritage) kota. Ternyata, walaupun sudah diketahui oleh Pemerintah Kota Yogyakarta kala itu, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta merasa kecolongan. Eks gardu listrik Nomor 18 yang didirikan oleh Belanda pada tahun 1918 untuk melayani kebutuhan listrik di kawasan Nieuw Wijk (Kotabaru) kala itu dianggap termasuk salah satu bangunan dalam kawasan cagar budaya yang harus dilestarikan.

Namun, seniman mural mampu memberikan pemahaman yang berbeda. Bangunan kuno itu sebelumnya dibiarkan tertelantarkan, terlupakan. Tidak banyak orang menengok ke arahnya ketika melaluinya. Ketika mural telah terupa di badan bangunan segi empat itu, perhatian para pengguna jalan di simpang Jl. Serma Taruna Ramli dan Jl. Faridan M. Noto dan warga di bilangan Kotabaru, Yogyakarta itu sedikit terusik. Ada warna-warni yang muncul menggantikan dinding kusam terlupakan. Ingatan diajak untuk kembali melayang, bangunan apakah sebenarnya yang menjadi layaknya kanvas lukisan itu? Kenapa tidak pernah terlintas hasrat untuk sekedar menengok sebelumnya? Dari sudut pandang lain, upaya kelompok seniman mural di Yogyakarta itu menjadi sebuah strategi kritik yang baru atas pengabaian potensi pusaka kota yang selama ini ditelantarkan, bahkan oleh lembaga yang berwenang mengurusi pemeliharaan dan pelestariannya.

Setidaknya, Pemerintah Kota Yogyakarta pun kemudian menganggap baik langkah di atas. Kerja-kerja seni para pegiat mural pun mendapatkan ruang, benar-benar dalam ruang-ruang yang terlupakan. Midnight Live Mural Project 2006 yang dilangsungkan di tembok-tembok dan pintu pertokoan di belakang Pasar Beringharjo Yogyakarta adalah satu contohnya. Dikerjakan pada malam hari, tiga malam berturut-turut, dengan mengangkat tema yang disesuaikan dengan kondisi tempat itu, seperti perdagangan dan tempat berkumpul anak muda. Samuel Indratma, dalam beberapa obrolan dan juga dikutip oleh media, selalu memberikan penjelasan bahwa para seniman mural ini ingin “menghidupkan” lorong-lorong tersebut, yang ramai kegiatan di siang hari dan berubah sepi dan mati pada malam hari. Setelah mural terupa, diharapkan masyarakat bisa selalu teringat akan kegiatan apa saja yang muncul di sudut-sudut lorong itu. Bahkan, kegiatan-kegiatan baru bisa diisikan di sana pada waktu-waktu yang selama ini “mati”, setelah ruang itu “dihidupkan” melalui mural.

Dalam pengalaman yang lain, proses pembuatan mural di Jembatan Layang Lempuyangan selama tahun 2007 silam juga hadir sebagai publikasi atas karya-karya yang selama ini terpinggirkan. Proyek Seni Mural bertajuk Tanda Mata yang juga digiatkan oleh JMF itu mengajak para seniman tradisional, seperti pelukis wayang, pelukis kaca, pelukis latar panggung, dan pelukis becak untuk me-rupakan karya mereka ke publik di medium tembok jembatan layang. Mereka adalah maestro di bidangnya, tapi tak banyak orang tahu. Sosok seniman seperti Sulasno, Ledjar Soebroto, dan Sucitp Subangsa serta Tjipto Setiono tak banyak dikenal publik Yogyakarta. Justru masyarakat seni internasional lebih mengenalnya, seperti sosok Mbah Ledjar yang wayang karyanya dipentaskan di Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya. Masyarakat diingatkan kembali pada keberadaan mereka. Seniman, maestro, dengan karya-karya besarnya yang menjadi penyumbang besar perkembangan seni rupa di Jawa dan Indonesia, yang selama ini terlupakan.

Mural memang menjadi penting ketika berperan sebagai pembawa nilai-nilai seni ke ranah publik. Bagi para senimannya, kerja seni di ruang publik ini akan mampu menjaring pemirsa yang lebih luas, jauh lebih banyak dan beragam daripada pengunjung dalam sebuah galeri seni. Potensinya semakin tinggi terutama bagi seniman muda yang secara “hukum pasar” belum diakui oleh galeri dan publik galeri. Ruang-ruang berkarya yang mampu mendukung gagasan-gagasan para seniman itu ternyata berupa jalanan atau tembok kota. Dalam dua wajah, mereka bisa dicap sebagai perusak pemandangan dan kebersihan kota, melalui coretan grafiti atau muralnya. Namun, ketika cara-cara itu bisa digunakan dengan tepat guna, mural dapat mewujud sebagai alat yang cukup sangkil dan mangkus untuk mencapai tujuan bersama atau bahkan untuk mempengaruhi kebijakan publik.

Yoshi Fajar Kresnomurti, peneliti perkotaan di Yogyakarta, menyebutkan bahwa mural telah menciptakan kepublikannya sendiri. Potensi lainnya, ia mampu memancing keluar fantasi, imaji, serta pengetahuan. Sifatnya yang nyata (riil) pun menjadi abstrak. Coretan di dinding menjadi bermuatan citra, keindahan, dan kepentingan. Beragam tafsir akan muncul dan diikuti dengan tindakan di ruang nyata yang lain, sesuai kepentingan dan konteksnya masing-masing.

Bagai sebuah langkah metode penelitian survei dan pemetaan sosial, geliat perupaan mural di kampung kota seperti yang digiatkan oleh JMF mengusung siklus kerja yang serupa. Dalam pendekatannya yang partisipatif, diskusi-diskusi sebelum mural dirupakan ke dinding, warga diajak untuk mendiskusikan tema apa yang akan diangkat. Ingatan-ingatan warga mengenai potensi positif dan negatif kawasannya akan muncul sebagai gagasan yang bisa ditawarkan untuk dimuralkan. Penggalian dan pendalaman tema akan membawa warga untuk kembali mengingat apa yang telah atau pernah terjadi dulu dan selama ini di lingkungan tempat mereka tinggal. Hasil dari diskusi-diskusi itu, selain mewujud sebagai mural, kemudian mampu ditindaklanjuti dengan upaya-upaya untuk coba menanggulangi masalah-masalah yang terupakan dalam mural mereka.

Potensi pengelolaan ingatan dan pengetahuan dalam mural tidak lepas dari tantangan. Tantangan yang juga akan bisa mewujud sebagai potensi ketika sekelompok orang, lembaga pendidikan, pemerintah, hingga perusahaan kemudian berlomba-lomba bermain mural untuk menanamkan citra ke dalam ingatan warga, baik yang dilandasi motivasi pendidikan publik hingga yang hanya dilandasi nafsu mengasongkan dagangannya. (*)

Elanto Wijoyono, pegiat Peta Hijau Yogyakarta

Artikel ini telah dimuat di Majalah Gong Edisi No. 111/X/ 2009

5 thoughts on “Jejak Ingatan di Antara Coretan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s