Penjelajahan bagi Pelestarian

Tunggu selengkapnya di blog ini dalam xxx jam!

Pemuatannya diundur krn keburu nulis artikel  baru di atas ^^

Pengalaman mengelola jelajah pusaka di Kotagede telah membawa Kanthil Kotagede untuk mengambil peran langsung dalam proses pemugaran Pasar Kotagede yang bersejarah. Kejenuhan praktik wisata massal di Candi Borobudur pun membuat para pegiat pariwisata lokal yang juga penduduk setempat untuk mengembangkan wilayah penjelajahan ke desa-desa di sekitar candi yang selama ini terabaikan. Di Imogiri, Bantul, jelajah wisata pusaka pun digiatkan oleh penduduk lokalnya untuk bisa mendukung keberlangsungan industri batik yang sempat lumpuh setelah gempa Mei 2006 lalu.

Geliat aktivitas jelajah memang bukan barang baru. Biasanya dikelola oleh agen perjalanan wisata. Namun, beberapa tahun terakhir muncul beragam organisasi yang mencoba mengelola paket jelajah itu dengan pendekatan yang agak berbeda, yakni untuk pengetahuan dan pelestarian pusaka (heritage). Yogyakarta punya Jogja Heritage Society, Bandung dengan Bandung Trails dan Bandung Heritage Society, Surabaya ada Surabaya Memory dan Surabaya Heritage Society, serta Komunitas Historia Indonesia yang banyak menjelajah ruang sejarah Jakarta.

Bagaimana praktik-praktik jelajah itu digiatkan dan sejauh mana dampaknya bagi kelestarian objek yang dijelajahi dan masyarakat yang bersinggungan dengannya? Sebuah analisis sederhana yang berangkat dari prinsip pendidikan orang dewasa dan paradigma wisata yang bertanggung jawab akan coba dituliskan. Tujuannya untuk menghadirkan sebuah model refleksi terhadap praktik jelajah yang sudah digiatkan, sehingga dapat memberikan inspirasi inovasi seterusnya ke depan.

4 thoughts on “Penjelajahan bagi Pelestarian

  1. ALi

    ah ya, sependapat sekali nih dengan pemberdayaan masyarakat yg tinggal disekitar lokasi utk ikut membangun wisata heritage, jadi ada economic benefitnya yg langsung mrk rasakan sekaligus menjaga keberadaan tempatnya dengan baik. Buat saya pribadi, organisasi spt ditulis mas diatas itu sy rasakan sangat membantu utk orang2 spt saya yang memang pengen eksplore kawasan sejarah spt itu, tapi nyaris gak punya informasi apa-apa mengenainya. Saya sih memang termasuk yg paling males pergi pake tur travel, kalo gak terpaksa-paksa amat. Apalagi ‘inceran’ saya kalau bepergian itu lebih ke lokasi-lokasi yang unik dan ada nilai sejarahnya. Sayangnya memang keberadaan lokasi-lokasi spt itu hampir seperti tenggelam dibawah bayang-bayang tempat tujuan yg lebih besar.
    Akhir tahun 2007 sempat keliling2 TamanSari aja sendirian, sayang belum sempat tahu ada Jeron Beteng Heritage ini. Mungkin kalo udah tahu, bisa lebih maksimal kali tuh menyusuri wilayah disekitar itu.

    matur suwun sanget,

    Reply
  2. elanto wijoyono Post author

    hehe.. walopun tulisannya blm selesai, ternyata sudah bisa untuk diskusi ya.. :p
    Ya, kapan-kapan jika datang ke Yogya, atau dimanapun, Mz Ali bisa mencoba menjelajah bersama orang setempat yang punya pengalaman tidak hanya sebagai operator wisata, tapi juga pelestari lingkungan. Memang beda banget rasa sudut pandangnya dalam berkisah. Akan beri pemahaman yang sangat mengesankan dan bernilai.. wew..^^

    Reply
  3. ALi

    Wauw belum selesai toh🙂 Gpp, soale tulisannya memberikan wawasan baru utk memperkaya perspektif ttg heritage trail dan pengelolaannya yg berkesinambungan melibatkan masyarakat.

    Saya setuju dengan “menjelajah bersama orang setempat yg punya pengalaman tidak hanya sebagai operator wisata, tapi juga pelestari lingkungan” karena memang dari mereka itulah saya lebih banyak dpt informasi mendalam ttg tempat yg saya kunjungi. Ada istilah yg digunakan di industri tempat saya berkecimpung: ‘consumer insight’, nah utk hal kasus, mungkin lebih tepat jika disebut sbg ‘people insight’🙂

    Masalahnya adalah, spt yg sy ungkapkan sebelumnya, kebanyakan dari kita –maksudnya orang2 yg memiliki interest & concern yg sama dgn saya– kurang tahu bagaimana ato akses untuk mendapatkan pengalaman perjalanan spt itu, harus kemana kontaknya? siapa sih yg bisa dihubungi? Dimana sih tempatnya? dsb.

    Jadi utk mensiasatinya, kita cari data browsing dimana2, nge-net sampe pagi2 buta mencari informasi yg relevan & lengkap, karena waktu pribadi utk ngenet itu pasti kalo sudah malam (at least sesudah pulang kantor) dan itu lumayan bikin pening juga (belum lagi tagihan internet :-D).

    Saya ada plan ke Jogja dlm waktu dekat, dan salah satu yg jadi prioritas adalah mengunjungi Kota Gede, maunya sih ikutan Heritage Trail disana yg dikelola yayasan Kanthil. Sudah kirim email, tp blm ada respond. Nah hal spt ini juga yg menurut saya patut jadi catatan: komunikasi melalui dunia maya tampaknya blm terlalu dimanfaatkan dgn baik (mudah2an ini hanya kebetulan belaka, mungkin memang hanya karena belum ada yg sempat check email). Ilustrasi aja nih: krn sy tinggal di Jkt, sy bs memilih utk menelpon langsung (dgn catatan lagi: sudah tahu kemana harus menelpon) dan bertanya2. Tapi itupun akan costly kan, krn hrs menelpon interlokal. Bayangkan jika yg ingin menanyakan informasi itu adalah orang2 dari luar negeri yg hrs melakukan telepon internasional dgn biaya yg cukup tinggi. Belum lagi kalo sambungannya jelek, lama, kresek-kresek, dan ternyata begitu nyambung, voila! yg nelpon langsung pake bhs Inggris nyerocos kayak air sungai, yg nerima telpon bahasa inggrisnya terbata2, gak nyambung, gak bs jawab. Nah runyam gak tuh komunikasi? Sementara si penelpon udah keluarin duit banyak utk bayar sambungan internasional🙂

    Sementara kalau dgn email, IMHO, bahasa tulisan itu akan relatif lebih mudah dimengerti, setidaknya, yg bhs inggrisnya pas pasanpun mungkin bs lbh mengerti arti dari kalimat yg terbacakan (ato bs cari tahu/bertanya) ketimbang hrs mencerna lisan (ini mungkin problem klasik di Indonesia ya, kemampuan listening & mencerna apa yg didengar dlm bhs Inggris yg banyak masih dibawah standar).

    Weleh, jadi panjang gini😀

    suwun,

    Reply
  4. elanto wijoyono Post author

    sejak tengah tahun lalu, temen Kotagede sudah punya koneksi internet sendiri. Namun, memang tampaknya belum terbiasa untuk merespon e-mail secara cepat. Selama ini, mereka terbiasa dengan komunikasi melalui telepon. Itu juga yang terjadi pada temen2 di Borobudur. Sebagian besar dari mereka memang mengakui lebih suka berkomunikasi verbal dari pada menulis. Namun, itu akan kita coba dorongkan terus kepada temen2 agar lebih berani menulis. termasuk merespon e-mail, walaupun hanya tanggapan 1-2 kalimat, yang penting pengirimnya tahu bahwa e-mailnya tertanggapi. Kadang sih seringnya kalo aku yg nge-mail, balasannya lewat sms atao telp. hehehe. Nanti aku teruskan ke temen2 Kotagede bahwa Mz Ali tertarik untuk komunikasi lebih lanjut.

    Salam,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s