Ternyata Sama Saja

sama rasa sama rata sama saja

Kemarin lusa, sebuah pertemuan forum lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus pada penanggulangan bencana di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah selatan diadakan di salah satu kantor LSM. Sebelum pertemuan dimulai, yang mundur satu jam dari jadwal di undangan, beberapa teman dengan nada bercanda mengatakan, “Wah, jangan sampai karena ini kantor urusan hak asasi perempuan terus tidak bisa merokok, ya.” Para perokok pun berkumpul di teras, sambil merokok. Namun, ketika pertemuan dimulai, rokok (ter)bawa masuk. Kepulan asap rokok pun turut mengisi rapat serius yang membahas peran LSM dalam penanggulangan bencana, hingga rapat berakhir.

Hari ini, rapat dilanjutkan di kantorku. Ruang rapat kami ber-AC. Namun, tadi pintu ruang dibiarkan terbuka, AC menyala, dan bau asap rokok menyebar ruang-ruang lain, bersumber dari ruang rapat tentunya. Mungkin karena yang merokok adalah tokoh-tokoh kunci yang disegani, tidak ada keluhan yang muncul. Padahal, sebagian bukanlah perokok. Pembahasan nan serius tetap berlanjut, mendudukkan para aktivis sosial sebagai salah satu aktor kunci dalam penanggulangan bencana, demi masyarakat. Namun, mungkin lupa pada fakta bahwa setiap tahunnya ada 400.000 lebih kematian orang akibat konsumsi rokok. Lebih dari jumlah korban bencana alam yang pernah terjadi selama ini pada setiap tahunnya.

***

Ketika menyangkut hal pribadi yang disukai, para aktivis kita pun juga suka “tebang pilih”.

Ah, ternyata semua sama saja!

Elanto Wijoyono
Yogyakarta, 13 November 2008

Bahan Bacaan

Evy. 2008. Segera Ratifikasi Konvensi Pengendalian Tembakau. Kompas.com (http://cetak.kompas.com) Edisi Kamis, 13 November 2008. Rubrik Humaniora.

n.n.. 2008. India Larang Merokok di Publik. BBC Indonesia.com (http://bbc.co.uk/indonesian) tanggal 2 Oktober 2008.

Wijoyono, Elanto. 2008. Omong Kosong Kemanusiaan, Omong Kosong Kebangsaan. Tak Beranjak Mencari Celah ke Langit (weblog https://elantowow.wordpress.com)

8 thoughts on “Ternyata Sama Saja

  1. Lutfi

    Setuju banget!!! Menurutku, perokok tu orang2 egois yang melanggar Hak Untuk Menghirup Udara Segar orang yang ada di sekitarnya. Mereka juga mahluk bodoh, rela ngeluarin uang hanya untuk make barang yang jelas-jelang nggak ada untungnya.

    Kmren aku nyaris bikin film pendek tentang rokok di sekitarku. Mo tak ikutin di Hellofest! Lumayan untuk kampanye tentang rokok. Sayang waktu itu aku lagi sakit jadi ga sempat bikin.

    Ajari bikin blog dong. Kmren aku dah bikin doain di wordpress, tapi nggak ngerti caranya ngatur layotnya. Lagi ngumpulin tulisan2 lama. Sayang klo cuma disimpen sendiri.

    salam dan semoga hari ini indah

    Reply
  2. nikn

    merokok itu sebenarnya lebih enak sendirian di kamar, sambil menulis atau membaca blog yang mengutuk perokok seperti ini. atau kalau musim, sekalian bawa durian ke kamar.

    Reply
  3. YuniE

    wah Q seh se7 banget karena rokok itu bakal ngerusak organ tubuh sendiri dann bahkan orla juga kena imbasna.
    it apa ga ngerugi banyak orang kalo gt.
    sebaikna Qta sebagai org yang bebas dari rokok gm carana supaya si perokok bisa menyadarinya.

    Reply
  4. Teratai Biru

    Sepakat, Lan…
    Sering heran sama para aktivis itu. Lain yang dikatakan, lain pula yang dilakukan. Sempat menilik pertemuan akbar organisasi lingkungan Indonesia Mei lalu di Gabusan? Bahkan bapak-bapak penarik becak di Pasar Seni Gabusan pun bilang, “Jarene niku nggih ngurus lingkungan, ning kok mboten isa ngurusi uwuh teng papan pertemuane niki…”

    Hehehe, tidak mudah memang konsisten, tapi konsisten bukan sesuatu yang mustahil.

    O iya, kalau sempat baca juga http://www.fctc.org.

    Salam,
    VcSw

    Reply
  5. Elisa Sutanudjaja

    Di negara ini, non perokok adalah minoritas diantara perokok. Ketika saya menegur mereka yang merokok di ruang berAC + bertulis dilarang merokok (contoh airport, lift dan rumah makan), yang saya dapatkan tampang sebal dan malah ditertawakan.
    Keminoritasan itu juga didukung oleh konglomerasi perusahaan rokok dan negara yang berpihak pada aliran modal dan investasi. ‘Matilah’ negara ini kalau mereka mengeluarkan regulasi, UU, PP yang menekan perokok maupun industrinya, hehehe – pasal UU Kesehatan saja bisa lenyap. Saya jadi merasa berada dalam buku-bukunya John Grisham. Sama seperti mereka kalau mencabut subsidi bensin, menghancurkan tol dalam kota untuk menggantinya dengan sistem transportasi massal di negara yang sudah kecanduan bensin ini.

    Reply
  6. pewariswaktu

    saya rasa, banyak perokok yang tau diri juga. seperti juga aktivis yang tidak merokok. ketika kita bisa ringan lidah melontarkan “semua sama saja” maka kita juga menjadi bagian dari yang sama itu, menjadi si “tak tau diri” yang tidak menghiraukan bagian kecil itu.
    bukan berarti saya sepakat dengan perbuatan para “aktivis” yang “perokok” itu, saudara joyo.
    (already too much tag on oneself)

    Reply
  7. elantowow Post author

    Pemberlakuan umum dari suatu kasus memang belum tentu tepat.
    Namun, pemberlakuan umum akan mampu memberikan dorongan agar setiap individu bisa lebih awas menilai sikap sebagai dasar untuk bertindak. Sebuah lecutan kecil untuk bercermin, untuk menilai, bagaimana sikap dan tindakan aku selama ini.

    Mungkin itu bisa jadi dirasa kurang tepat bagi sebagian orang, tapi diskusi tetap bisa dilanjutkan untuk mencari solusi terbaik, bukan?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s