Kota Kota Kita

Kota-kota kita direncanakan dan dibangun cenderung hanya untuk dinikmati dari dalam mobil atau kendaraan bermotor serta gedung besar yang nyaman. Semuanya berjalan di atas kuasa mesin dan berjarak. Jadi, dimanakah letak habitus berperikemanusiaan bagi warga kota akan dapat mewujud?

Sejatinya ahli kota adalah sang pejalan kaki. Pejalan kaki tak hanya melihat, tetapi dia akan merasakan dan mengalami bentang kota secara nyata dan langsung; panas, hujan, kotor, bau, sentuh, beringas, dan sebagainya. Jadi, mampukah (baca: maukah) kita membangun tata perkotaan yang manusiawi.

*sedikit catatan menggugah yang teringat dari beberapa obrolan bersama kawan baik saia Marco Kusumawijaya.

3 thoughts on “Kota Kota Kita

  1. maulana

    setuju!,… kita (indonesia) sering melihat Kota dari konteks fisik yg menaungi sisi materialis saja…humanis nya “kosong”.ayo!!..bangun kembali kota kita!!

    Reply
  2. humanisma

    Lagi-lagi persoalannya adalah masalah komitmen. Dan ketika dihadapkan pada kondisi dilematis ini, manfaat ekologis selalu diposisikan berhadap-hadapan dengan kepentingan ekonomis. Pragmatis sekali, dan belum ada (gak mau atau gak mampu?) grand desain ataupun cetak biru yang bisa menjadi jalan tengah.
    Jadi…..😦 ?

    Salam humanisma

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s