Maaf

Tumben. Biasanya orang banyak bilang maaf-memaafkan itu ketika Lebaran menjelang. Namun, lebih tiga bulan Lebaran berlalu, orang sibuk bicara maaf. Mendadak Maaf ^^

Maaf itu diperlukan adanya ketika memang ada sesuatu yang salah (telah) terjadi. Biasanya, yang meminta maaf adalah pihak yang melakukan kesalahan. Biasanya, pula, yang memberikan maaf adalah pihak yang menjadi korban atau “teraniaya”. Pihak itu bisa individu, bisa pula kolektif.

Jika ada pihak (yang diduga kuat _ dan sayangnya memang sangat kelihatan) yang melakukan kesalahan meminta dimaafkan kesalahannya… hmm itu wajar saja.

Namun, biasanya, maaf itu tidak bisa keluar dari hati dan mulut pihak selain pihak korban atau yang “teraniaya”.

Jadi, kalau diri kita mau menyatakan memberikan maaf… eits, tahan dulu. Apakah diri kita korban? Atau adakah tanggung jawab dari diri kita yang disalahgunakan si pelaku kesalahan?

Jika jawabannya tidak… tak perlulah diri kita memberikan maaf.
Apalagi jika jangan-jangan malah diri kita juga ikut-ikutan jadi pihak yang melakukan kesalahan?

Mari serahkan hak memaafkan itu kepada pihak yang memang berhak memberikan maaf.
Jika mereka ingin tetap ada pertanggungjawaban atas kesalahan itu.. ya memang itu hak mereka untuk menuntut.
Dan.. akhirnya itu memang kewajiban yang harus ditanggung oleh si pelaku kesalahan.

Ya, biasanya sih seperti itu….

Maafkan jika saya salah

gambar tangan salaman diambil dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s