Yang Canggih atau Yang Tepat

Bijak Membangun Sistem Informasi Darurat

bumiku

Sederhana saja, mencoba meninjau kembali cara-cara berkomunikasi seperti apa yang cukup tepat untuk dilakukan pada saat-saat darurat. Setidaknya ada tiga prinsip komunikasi yang bisa terjadi:

1. point to point
Komunikasi di sini berlangsung dua arah antara satu dengan satu yang lain. Masing-masing, antara pengirim pesan dan penerima pesan harus menggunakan sarana dan medium yang sama. Misal, pembicaraan antara dua orang secara langsung (tatap muka), memakai telepon, atau HP. Isi komunikasi yang terjadi pun sangat tertutup. Pihak di luar kedua orang itu akan sangat terbatas aksesnya terhadap informasi yang dikomunikasikan. Kalaupun setelah itu keduanya mengomunikasikan hal-hal yang dibahas sebelumnya kepada khalayaknya/orang lain, ada kemungkinan terjadi bias, penambahan, serta pengurangan informasi yang disebarluaskan.

2. point to multipoint
Komunikasi di sini berlangsung dari satu pihak dan diteruskan hingga bisa dicandra oleh banyak orang. Gambarannya seperti orang ceramah, suara kentongan, siaran radio, dan televisi. Informasi yang tersiar bisa tersampaikan langsung kepada lebih banyak orang. Namun, model ini merupakan komunikasi satu arah. Termasuk ketika sesi interaktif dilangsungkan, ketika penikmat siaran radio atau televisi bisa menyampaikan pesan yang bisa disebarluaskan melalui media tersebut, komunikasi yang terjadi dengan khalayak penyandra media tersebut tetap berlangsung satu arah.

3. multipoint to multipoint
Komunikasi di sini berlangsung antara beberapa pihak secara bersama-sama. Gampangnya seperti ngobrol bareng. Sumber informasi bisa dari siapapun dan bisa dicandra oleh siapapun juga. Oleh karenanya, data dan informasi yang terkemas dan tersebar akan segera terverifikasi dan tervalidasi. Komunikasi model ini misalnya berlangsung melalui forum langsung (tatap muka), radio komunikasi (Rig, HT), conference instant messenger.

Titik-titik gempa Sumatera (September 2007)

Semua jelas memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Maka dari itu, dipilihlah istilah “tepat guna” untuk memilih model komunikasi seperti apa yang bisa dibangun untuk menanggapi situasi darurat. Dari obrolan dengan Mz Nasir, deputi direktur kantorku, terpetakanlah tiga model komunikasi di atas. Itu semua berangkat dari beberapa kasus dan pengalaman yang kebetulan sudah dia dan kami alami. Dan ternyata, canggih belum tentu bisa menjawab apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Gajah dilawan dengan HP

Beberapa bulan lalu kantor kami dimintai tolong oleh WWF Indonesia untuk memfasilitasi pendirian radio komunitas di kawasan hutan konservasi Tesso Nilo. Hutan hujan tropis di Provinsi Riau, Sumatera ini merupakan habitat bagi sedikitnya 60-80 ekor gajah terakhir yang tersisa. Kawasan yang asri ini tak dinyana ternyata merupakan kawasan konflik, manusia lawan gajah. Gajah-gajah di sini sangat sering menyerbu masuk ke permukiman warga dan tak jarang hingga mengakibatkan korban jiwa; di kedua belah pihak. Yup, kedua pihak benar-benar sudah saling berhadap-hadapan.

Ketika melakukan survei lokasi di lapangan, tim kami sempat ngobrol dengan warga yang biasa melakukan penjagaan di kampungnya masing-masing yang berbatasan langsung dengan hutan. Warga menjaga kampungnya dari ancaman “serangan” gajah yang masuk kampung. Setiap kampung melakukan ronda sendiri-sendiri. Ketika gajah datang, mereka coba usir. Habis itu, ya sudah, kembali ke rutinitas, termasuk ronda. Tak pernah jelas bagaimana koordinasi antar kampung untuk menghadapi masalah ini. Misal, ketika satu kampung berhasil menghalau gajah, lalu tak jelas bagaimana pengaturan agar informasi ancaman yang baru saja terjadi bisa tersampaikan ke kampung lain agar mereka juga bisa siaga.

Ketika ditanya dengan apa biasanya mereka berkomunikasi satu sama lain. Mereka bilang dengan mantap, “Jelas pakai HP, donk!”. Memang, HP di kawasan ini sudah cukup tersebar merata dimiliki penduduk hingga pelosok kawasan sekalipun. Bisa dibilang, dari 10 KK, 8 KK pasti memiliki alat komunikasi HP. Intensitas pemakaiannya pun tergolong cukup tinggi, ratusan ribu hingga satu juta rupiah sebulan untuk biaya pulsa. Tak ketinggalan ketika mereka meronda, komunikasi pun dilakukan dengan memakai HP. “Lalu, bagaimana jika situasinya genting?”. Mereka hanya punya HP dan jelas harus menelepon satu per satu ketika terjadi peristiwa penting, seperti ancaman serangan gajah, termasuk untuk koordinasi.

Ketika ditanya, “Kenapa tidak memakai radio komunikasi, HT?”. Penampilan HT yang berukuran besar menjadi masalah. Gampangnya, mending pakai HP saja, lebih cepat. Namun, apakah benar bisa lebih cepat. Mungkin juga karena hampir setiap orang memegang HP dan bisa langsung mengontak yang lain ketika diperlukan. Namun, apakah cukup efisien untuk koordinasi yang lebih luas, dan cepat? Dengan HP, masing-masing orang harus menelepon atau meng-SMS orang satu per satu. Dengan menelepon, pembicaraan hanya bisa terjadi di antara dua orang. Dengan SMS, orang harus menunggu jawaban, tidak serta merta.

Hanya ada tiga HT pascagempa Sumatera

Bumi bergoyang di pesisir selatan Sumatera pada 12-13 September 2007 lalu, dan masih disusul dengan sejumlah rangkaian gempa yang setara. Bahkan hingga saat tulisan ini ditulis, baru saja terjadi gempa lagi Painan, Sumatera Barat. Cukup besar, 5.2 skala Richter. Muko-Muko, Bengkulu Utara menjadi tempat pertama yang bisa dijangkau oleh tim, yang datang untuk mengaktifkan akses internet di lokasi bencana agar koordinasi bisa terbantu. Namun, tak tahu harus bilang apa ketika melihat situasi di lapangan, hanya ada 3 HT untuk kawasan satu kabupaten itu.

Muko-Muko, Bengkulu Utara (September 2007)

Penduduk setempat sudah mengungsi ke daerah perbukitan di pedalaman, jauh dari pantai. Radius lima pengungsian besar sekitar 15 km dari pusat kota Muko-Muko. Posko Mediacenter yang didirikan di Muko-Muko dan terakses dengan internet menjadi satu-satunya sumber informasi gempa. Semua pihak ; aparat dan warga, mengacu pada data BMG yang bisa diakses dengan cepat di posko ini. Aparat menyebarkannya dengan HP GSM masing-masing, yang juga digunakan untuk koordinasi. Sementara, warga harus bolak-balik kota dan pengungsian jika ingin melihat data dan informasi gempa terbaru. Dan gempa susulan pun masih susul-menyusul.

Sebagian warga masih ada yang bertahan di permukiman mereka, tetapi tidak ada yang berani tinggal di dalam rumah. Mereka memasang tenda di halaman rumah masing-masing. Listrik pascagempa masih bisa menyala, walaupun hanya beberapa jam saja sehari. Satu-satunya sumber informasi yang mereka bisa akses adalah televisi. Ketika gempa datang dan bantuan belum tiba, mereka pun tak tahu apa pun, karena televisi itu hanya menyiarkan informasi umum skala nasional. TV tak selalu tahu apa yang terjadi di daerah mereka. Padahal, informasi gempa diperlukan setiap saat di lokal tersebut.

Darurat; perlu cepat, murah, merata, dan lokal

Sebelum membangun sistem informasi untuk penanganan situasi darurat, kita memang harus tahu lebih dahulu esensi dari situasi darurat, yaitu keadaan genting yang memerlukan penanganan secepatnya. Ketika situasi darurat terjadi, komunikasi yang baik sangat diperlukan agar penanganan yang dilakukan bisa efektif. Jika tidak maka yang terjadi adalah kekacauan karena setiaporang bertindak berdasarkan versi informasi yang ia dapat. Tak ada waktu banyak untuk memverifikasi dan memvalidasi informasi yang didapat. Begitu mendengar kabar ada air datang, semua lari naik ke bukit, ternyata tidak terjadi tsunami dan mereka kembali pulang. Begitu berulang-ulang. Cyape’ de…

Jadi ingat ketika gempa terjadi di Yogya setahun yang lalu. Semua panik mendengar kabar air laut naik ke daratan. Ribuan orang lari ke utara, bahkan ada yang hingga ke kaki gunung. Orang daerah lain yang sebenarnya tinggal di kawasan perbukitanpun ada yang lari mencari gunung untuk didaki. Mz Nasir punya pengalaman, ketika itu dia cuma berusaha langsung mencari informasi di mana pusat gempa. Begitu tahu pusat gempa ada di selatan, paling tidak dia sudah tahu akan menghindar ke arah mana jika terjadi hal yang lebih buruk. Lebih jauh dari itu, informasi dari berbagai sumber, terutama radio siaran tetap dipantau. Kabar bahwa air di pantai selatan tak naik bisa diketahui dan tak perlu panik karenanya. Langsung saja radio di mobil diputar keras-keras agar orang-orang yang berkumpul di sekitarnya dengan panik bisa ikut mendengarkan kabar itu tanpa kemudian terus panik. Temen-temen tim lain yang saat gempa di Yogya kebetulan membawa HT pun juga terus memantau kabar dan menyebarkan ke orang-orang di sekitarnya bahwa air tak naik. Sekali rengkuh, banyak orang langsung tahu informasi.

Komunikasi di saat darurat sebaiknya memakai apa?

Memetakan Kebutuhan, Menentukan Media

Dari pengalaman-pengalaman itulah kemudian terpetakanlah model-model komunikasi yang bisa dikembangkan menghadapi situasi dan kondisi darurat. Semua model bisa direncanakan jika kita sudah bisa memetakan keadaan wilayah dan kebutuhan. Memang pada saat ini sudah ada banyak media berteknologi canggih yang bertebaran dan mudah diakses masyarakat, seperti HP, telepon, hingga komputer terkoneksi internet. Namun, untuk menghadapi skenario darurat maka kita pun harus siap dengan skenario terburuk pula. Di masa “tenang” kita bisa puas dengan komunikasi via HP dan komputer terkoneksi internet, yg murah, cepat, dan canggih. Namun, yang canggih ini belum tentu tepat digunakan pada situasi darurat.

Pada intinya, semua infrastruktur setiap model komunikasi yang ada idealnya bisa dipersiapkan sejak awal. Model komunikasi point to point yang intensif pada situasi darurat jelas hanya akan efektif di tataran penentu kebijakan. Namun, komunikasi point to point tidak efektif digunakan untuk komunikasi dalam sistem peringatan dini. Sama sekali tidak efisien dan mahal. Bayangkan jika harus menelepon satu per satu orang untuk memperingatkan bahwa dalam beberapa menit akan datang tsnumai menerjang kota.

Model komunikasi point to multipoint akan baik digunakan untuk menyebarluaskan informasi kepada khalayak. Komunikasi yang terbangun memang searah, tetapi akan ada lebih banyak penerima pesan yang bisa menangkap pesan. Sesuai karakternya sebagai media siaran, penyebarluas tanda, model komunikasi ini sangat kuat pada fungsi pemberitahuan semata; mengumumkan bahwa telah terjadi kondisi tertentu yang menuntut tindakan tertentu. Model komunikasi ini tidak cukup intensif untuk mendukung koordinasi di lapangan, terutama jika dihadapkan dengan sistem peringatan dini.

Model komunikasi yang akan cukup efektif digunakan pada situasi darurat dan memenuhi fungsi koordinasi adalah model komunikasi multipoint to multipoint. Di sini, pengirim dan penerima pesan adalah jamak, dan juga serentak, satu waktu. Informasi yang tersebarkan secara otomatis bisa langsung terverifikasi dan tervalidasi karena komunikasi bisa berjalan dua arah. Setiap point yang terlibat di sini pada akhirnya menjadi access point untuk model komunikasi point to multipoint atau point to point di wilayahnya masing-masing. Tak menutup kemungkinan pula, dari masing-masing point yang terlibat, bisa meneruskannya ke model komunikasi multipoint to multipoint lainnya. Di sini, sarana berupa internet dan radio komunikasi (HT) menjadi pilihan. Namun, di situasi darurat tampaknya tidak bisa terlalu mengharapkan keberadaan koneksi internet yang tentu saja membutuhkan prasyarat keberadaan infrastruktur yang lebih banyak. Jaringan telepon, antenna, hingga infrastruktur internet service provider lainnya sangat mungkin juga terkena imbas bencana; rusak. Belum lagi ketika listrik padam. Walaupun bisa menghidupkan komputer dengan tenaga listrik dari generator, belum tentu bisa terkoneksi dengan internet karena dengan GPRS pun belum tentu bisa memperoleh sinyal. Dalam kondisi terburuk, paling tidak harus ada akses langsung ke satelit dengan VSAT (Very Small Aperture Terminal).

V-Sat IM2 untuk koneksi internet

Membangun sistem informasi yang terpadu dan mengakar

Namun, pada dasarnya di sini tidak mencoba menghakimi model komunikasi mana yang lebih baik daripada yang lain. Sesuai dengan tujuannya, memetakan, maka di sini hanya mencoba memilahnya sesuai dengan fungsi yang tepat. Secara umum, semua model komunikasi itu bisa digunakan dan bisa saling mendukung jika digunakan pada konteks yang tepat.

Info Gempa BMG

Pada saat ini tim kantorku dan beberapa kawan lain kebetulan sedang membangun sebuah sistem informasi darurat untuk kondisi pascabencana (walaupun belum bisa dipastikan apakah ini sudah berakhir) di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Satu tim membangun infrastruktur penyedia koneksi internet dengan menggunakan VSAT. Sebuah media center di lokasi bencana dibangun dan di situ data-data gempa terkini dan informasi peringatan dini lainnya bisa diakses. Piranti lunak yang dikembangkan sebagai sistem peringatan dini dengan mengacu pada data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pun menjadi acuan warga dan aparat setempat untuk mengambil tindakan yang tepat jika diperlukan.

Konvergensi Radio Komunitas, Transceiver VHF, SMS Gateway, dan internet

Konvergensi Radio Komunitas, Transceiver VHF, SMS Gateway, dan internet

Sistem canggih itu tak akan ada artinya jika hanya berhenti sampai di situ. Media center hanya bisa dibangun di satu atau dua lokasi saja karena keterbatasan alat yang jauh dari murah itu. Alhasil, masyarakat yang jauh dari media center pun bisa-bisa tidak tahu apa-apa mengenai itu semua. Jika memaksakan mau memakai komunikasi point to point dengan menggunakan HP, sekali lagi tidak efektif, mahal, dan belum tentu ada sinyal layanan selular di setiap pelosok wilayah. Oleh karena itu, tim yang lain membangun sistem informasi dan komunikasi dengan menggunakan radio siaran serta radio komunikasi. Radio komunitas atau radio siaran swasta yang ada di lokasi bencana dihidupkan sebagai access point penyebarluas informasi darurat. Studio radio bisa dihidupkan dengan tenaga listrik dari generator jika listrik padam. Sementara, pesawat radio penerima bisa cukup menggunakan baterai dan bisa dipantau oleh masyarakat sewaktu-waktu. Prinsip point to point lain, sekaligus point to many (jika dihubungkan ke website), adalah pemakaian sistem SMS gateway. Warga bisa mengirimkan SMS untuk memberi informasi atau meminta informasi ke posko. Pesan-pesan SMS itu juga bisa tertampilkan di layar website.

Wawancara warga korban gempa dengan HT dan disiarkan melalui radio komunitas setempat Siaran di Radio Darurat Sikakap

Cara lain yang ditempuh adalah dengan menggunakan radio komunikasi, berupa RIG atau HT. Peralatan tersebut digunakan pula untuk menyebarluaskan informasi darurat, sekaligus sebagai sarana koordinasi. Koordinasi di sini bisa berupa koordinasi untuk peringatan dini dan evakuasi. Tetapi, koordinasi juga bisa dilakukan untuk kepentingan distribusi bantuan. Alat yang diperlukan tidaklah terlalu mahal jika dibandingkan dengan saraan komunikasi yang lain. Bahkan sangat mudah dihidupkan hanya dengan menggunakan tenaga listrik dari generator untuk RIG dan baterai untuk HT. Setelah itu, komunikasi bisa dilakukan setiap saat. Jika bermaksud agar jangkauan komunikasi bisa lebih luas, cukup diakali dengan antenna yang mencukupi kebutuhan. Di lapangan saat ini, bahkan HT digunakan oleh tim kami dan pengelola radio komunitas sebagai alat untuk melakukan wawancara dengan warga dan disiarkan langsung melalui radio.

Elanto Wijoyono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s