Niat Baik untuk Borobudur itu…

Catatan pendek tentang Borobudur (1)

Sebuah maha karya agung sekelas Borobudur tentunya akan mengundang perhatian banyak pihak. Tak hanya perhatian untuk sekedar mengunjunginya, tetapi juga untuk melindunginya, melestarikannya, dan juga memanfaatkannya; dalam bahasa menterengnya “dikemas untuk kemudian dijual”.

Borobudur

Semenjak ditinggalkan oleh komunitas pendukungnya, Borobudur tidak lantas sepi sendiri. Paling tidak tetap ada pemaknaan dari sejumlah masyarakat yang tentunya masih ada yang tersisa dan tetap tinggal di sekitarnya. Lalu pada akhirnya muncul perhatian dari Raffles pada awal abad 19. Jelang akhir abad tersebut dan seterusnya, hingga kini, perhatian itu terus bermunculan. Kebanyakan memang hadir dari para pemerhati asing, seperti FC Wilsen, Godfrey Philipps Baker, HN Sieburgh, WOJ Nieuwenkamp, Stutterheim, de Casparis, NJ Krom, Th. Van Erp, hingga kemunculan UNESCO setelah paruh kedua abad 20. Perhatian dari bumiputera sendiri tak kalah intensifnya, mulai dari era Kassian Chepas, Poerbatjaraka, hingga era Soekmono dan Primadi Tabrani, dan seterusnya hingga kini dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (PT TWC).

Secara kelembagaan, perhatian terhadap Borobudur yang mutakhir sudah dimulai sejak JICA mengeluarkan masterplan pengelolaan kawasan Borobudur (1979), yang muncul dalam sistem pemintakatan yang terbagi ke dalam lima mintakat. Selanjutnya, pengelolaan Borobudur sebagai Taman Arkeologi pun diserahkan ke tangan sebuah BUMN, yaitu PT TWC Borobudur dan Prambanan (saat itu belum meliputi pengelolaan kompleks Ratu Boko) berdasarkan Keputusan Presiden No. 1 Tahun 1992. Sementara PT TWC mengelolanya dari sisi pemanfaatan wisata, Balai Konservasi Borobudur yang berkantor di dalam kompleks TWC Borobudur bertanggung jawab atas kelestarian fisik candi Buddha tersebut.

Namun, ternyata rencana pengelolaan taman arkeologi tersebut tidaklah cukup manis dan bijak. PT TWC dicap oleh banyak pihak terlalu berorientasi pada wisata massal yang menjadikan kawasan Borobudur sekedar sebuah objek. Segala potensi yang sebenarnya dikandung kawasan ini menjadi tenggelam, akibat semua perhatian ditujukan ke Borobudur sebagai monumen tunggal. Sebagian penduduk sekitar Borobudur hanya kebagian jatah sebagai pengasong, guide, atau yang cukup beruntung bisa punya toko atau warung. Duh, capek deh .. dah banyak yang membahas ini.

Perhatian untuk mahakarya kelas dunia

Tentu saja, yang jelas, sejak hampir dua abad yang lalu telah ada begitu banyak perhatian kepada Borobudur. Semuanya berangkat dari kekaguman atas mahakarya tak ternilai tersebut. Namun, sayangnya, untuk mewujudkan kekaguman tersebut, pihak-pihak yang (merasa) berkepentingan tidak selalu memiliki jalan yang sepaham dan sejalur. Bisa dibilang, sebenarnya semua rencana yang diancangkan untuk Borobudur itu baik, tetapi mungkin caranya tidak selalu tepat, begitu komentar Jack Priyana, pegiat utama Jaringan Kerja Kepariwisataan Borobudur ketika ditemui di sela-sela Simposium Internasional Pusaka Saujana Borobudur 2007 di Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT- UGM) pada 20 April 2007 lalu..

Yah, salah satu rencana besar pun terungkap dalam sesi presentasi dan diskusi bertajuk “Borobudur Assets and the Regional Conservation Planning”. Semua sepakat bahwa sudah saatnya untuk memecah konsentrasi pengunjung yang selama ini hanya terpusat di Candi Borobudur. Perancangan kembali konsep wisata massal saat ini menajdi wisata edukatif yang bisa menjelajah lebih banyak potensi di sekitar kawasan Borobudur menjadi pokok tujuan yang akan terus ditindaklanjuti.

Namun, sedikit lontaran kecil dari Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang cukup menghenyakkan. Disebutkan bahwa sebagai bagian dari perencanaan konservasi kawasan Borobudur, dan dengan dalih pemerataan pengunjung, akan dibangun sebuah taman wisata baru di dekat Kota Mungkid. Deyangan Wonders Park, begitulah label proyek yang akan digarap oleh pemda setempat di Desa Deyangan.

Hmm.. ini memang masih sebatas rencana, tetapi tetap perlu diperhatikan dengan serius. Berikut ini dua tanggapan atas rencana yang akan diwujudkan di lahan seluas sekitar sepuluh hektar milik Pemerintah Kabupaten Magelang.

“Mengapa tidak memanfaatkan dan memaksimalkan potensi yang sudah ada dan tersebar di seluruh kawasan Borobudur? Mengapa harus selalu membuat sesuatu yang baru, jika yang lama masih bisa dioptimalkan? Apakah yang baru itu akan bisa lebih baik? Sudah saatnya menengok lebih jauh potensi-potensi yang dikandung desa-desa di sekitar Borobudur. Jika dikemas dengan baik dan ada perhatian serius, semua itu akan lebih menjual, dan tentunya bermanfaat langsung kepada masyarakat.”

Jack Priyana, pegiat utama Jaringan Kerja Kepariwisataan Borobudur

“Lebih baik lahan itu dihutankan saja. Tidak perlu membangun macam-macam lagi. Hal itu justru bisa mendukung kelestarian saujana Borobudur. Jika pun bisa membangun taman dunia fantasi itu, kalau hanya seadanya dan kelas ecek-ecek (murahan) ya sama saja. Hanya akan menambah masalah sebagai dampak wisata massal. Padahal, mengelola Taman Wisata Borobudur yang sudah ada saja masih kesulitan.”

Laretna T. Adishakti, Jurusan Aritektur dan Perencanaan FT – UGM

Menapak langkah ke depan

Masih kuat di ingatan kita simpang siur rencana pembangunan Pasar Seni Jagad Jawa yang mendapatkan tentangan dari banyak pihak yang peduli pelestarian pusaka saujana Borobudur. Satu lagi rencana pembangunan muncul ke permukaan. Proses dialog masih berlangsung, yang semoga bisa menghadirkan solusi terbaik bagi Borobudur. Yah, niat baik tidak selamanya bisa berbuah baik, jika untuk mewujudkannya tidak dengan cara yang bijak dan tepat.

Elanto Wijoyono

Catatan kecil dari “the 1st International Symposium on Borobudur Cultural Landscape Heritage 2007”

simposium

———————-

Daftar Pustaka

Pemerintah Kabupaten Magelang. 2007. Conservation of Borobudur.
Susanto, Mike. 2007. The Gigantic Mystery that is Borobudur.
Soeroso, Amiluhur. 2007. Conservation of the Borobudur Cultural Landscape.
Tanudirjo, Daud Aris. 2007. Cultural Landscape Heritage Management in Indonesia; an Archaeological Perspective.

Semua artikel di atas disampaikan dalam rangka “The 1st International Symposium on Borobudur Cultural Landscape Heritage 2007” pada hari Jumat, 20 April 2007 di Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

One thought on “Niat Baik untuk Borobudur itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s