Menggali Makna Keterwakilan Komunitas

Menimbang Strategi Pemetaan Proyek Universitas

Siapa sajakah wakil komunitas lokal itu? Bagaimana cara menentukan siapa dan dari mana saja wakil komunitas yang harus terlibat dalam sebuah proyek berbasis komunitas? Pertanyaan sederhana, tetapi cukup mendasar ini muncul dari seorang mahasiswa peserta workshop Green Map di Jurusan Arsitektur Kampus Petra Surabaya, Jumat (11/05) lalu. Pertanyaan ini muncul menanggapi penjelasan mengenai salah satu tahap dalam proses pembuatan peta hijau.

Proses pembuatan peta hijau yang secara ideal merupakan sebuah proses pemetaan partisipatoris menuntut keterlibatan komunitas lokal yang kawasannya dipetahijaukan. Tahapan partisipatoris ini akan menjadi ideal ketika inisiatif pengerjaannya juga muncul dari mereka, termasuk hingga penyebarluasan data dan informasi hasil pemetaan tersebut. Sekaligus dalam prosesnya juga bisa turut melibatkan para pihak pemangku kepentingan (stakeholders) di kawasan itu.

100_5607.jpg 100_5611.jpg

Namun, proses seperti itu bisa pula menyeruak sebagai kegiatan yang dilakukan oleh kelompok yang terbatas. Hal itu bisa tampak seperti ketika proses pembuatan peta hijau itu digelar sebagai sebuah proyek universitas. Secara resmi, pembuatan peta hijau bisa dilakukan dalam rangka proyek kampus, misalnya dengan memasukkan kegiatan pemetahijauan ke dalam bagian dari mata kuliah tertentu. Dalam kasus proses pemetaan ini, dosen dan mahasiswa akan menjadi pihak utama pelaksana.

Pada beberapa proyek pemetaan oleh kalangan kampus, ada yang dalam prosesnya turut melibatkan elemen-elemen stakeholders lain di kawasan yang dipetakan. Namun, terjadi pula pemetaan yang dalam prosesnya hanya melibatkan tim itu sendiri, yang terdiri dari dosen pengampu proyek atau mata kuliah dan mahasiswa pesertanya. Secara kasat mata, ketika proses survei pemetaan berlangsung, tidak ada keterlibatan elemen para pihak pemangku kepentingan lain di sana. Dari kasus seperti itu akhirnya muncul pertanyaan, apakah proses yang demikian bisa disebut sebagai proses yang partisipatoris? Apakah Peta Hijau yang dihasilkan nantinya bisa “secara sah” disebut sebagai hasil penjelajahan dan curah gagasan komunitas lokal?

Mengartikan apa itu komunitas

Proyek Peta Hijau di Surabaya ini sendiri diancangkan untuk kawasan Surabaya secara menyeluruh atau jika tidak memungkinkan maka dilangsungkan pada kawasan tertentu saja. Segala fenomena, positif dan negatif, pada kawasan yang dimaksud akan dipetakan oleh tim mahasiswa didampingi oleh beberapa dosen. Berikut pengolahan data dan informasi yang diperoleh akan dilakukan oleh tim itu sendiri, mengingat terbatasnya masa perkuliahan. Seolah tidak ada tempat bagi komunitas lokal dalam proses tersebut. Apakah ini ideal dilakukan dalam label proyek Green Mapmaking yang menuntut terlangsungkannya partisipasi komunitas lokal dalam proses yang berjalan?

Sebelum menghakimi apakah proses di atas sah dianggap sebagai aktivitas berbasis komunitas atau bukan, coba tengok terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan komunitas. Komunitas bisa dimaknai sebagai kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di daerah tertentu. Komunitas, dengan kata lain, kadang disamakan artinya dengan masyarakat dan paguyuban. Namun, lebih jauh, sebenarnya komunitas bisa pula diartikan sebagai kelompok organisme yang tidak melulu mengacu pada tempat. Dalam buku Mapping Our Common Ground (2005) diuraikan bahwa komunitas itu bisa diartikan dalam konteks geografis (mis. tempatan, sekolah, RT/RW, regional, nasional), konteks sosial budaya (mis. kelompok etnis, perempuan, laki-laki, gay, remaja, anak-anak), konteks sektoral (mis. pendidikan, rekreasi, pemerintahan, kesehatan), konteks ekologis (mis. tanaman, binatang, biosfer, bioregional), dan konteks minat khusus (mis. jemaah gereja tertentu, kelompok punk, penggemar sepakbola, pengamat serangga).

Jika melihat kembali hal di atas, dari sudut pandang tertentu bisa dipastikan bahwa rencana pemetaan yang akan dilakukan dalam kerangka proyek universitas ini tetap sah sebagai proses pemetaan partisipatoris. Sedikit banyak, hal itu memang bisa tergantung dari cakupan kawasan yang akan dijadikan objek pemetaan. Jika kawasan yang akan dipetakan tersebut mencakup kawasan Surabaya secara keseluruhan maka proses yang akan berlangsung jelas merupakan proses yang partisipatoris. Mengapa tidak? Bukankah para mahasiswa dan dosen dalam tim tersebut merupakan komunitas lokal (Surabaya) yang tinggal dan berdomisili di tempat tersebut? Jadi, di sini akan berlangsung sebuah tahapan ketika sebuah kelompok dari komunitas lokal yang hidup di kawasan Surabaya dan tergabung dalam komunitas kampus ini mencoba mengenali kembali lingkungan tempat tinggal di sekitar mereka.

100_5641.jpg 100_5645.jpg

Dalam proses seperti ini memang tidak pernah ditentukan pihak mana saja yang harus terwakili sebagai stakeholders yang akan terlibat. Walaupun bisa dibilang hanya ada satu elemen stakeholders yang terlibat, dalam hal ini komunitas Kampus Petra sebagai salah satu elemen dari komunitas lokal Surabaya, keterwakilan komunitas lokal sudah terpenuhi. Lalu, dimanakah ruang dialog yang dicita-citakan jika proses yang terjadi hanya melibatkan satu elemen komunitas lokal. Nah, ruang dialog itu bisa dimunculkan setelah proses tersebut menghasilkan peta. Komunitas terbatas itu membuat pemetaan lingkungan lokal mereka yang kemudian hasilnya akan disebarluaskan dan didiskusikan dengan elemen-elemen komunitas lokal lain (elemen stakeholders lain) yang tidak terlibat dalam proses pemetaan tersebut. Dengan kata lain, peta yang dihasilkan akan digunakan untuk memancing respon dan memicu munculnya ruang-ruang diskusi bersama kelompok komunitas lokal yang lain. Hasil dari diskusi tersebut akan menjadi bahan tinjauan dan evaluasi proyek pertama untuk kemudian diperbarui pada proyek kedua yang memungkinkan akan melibatkan lebih banyak elemen stakholders, dan begitu seterusnya.

Namun, proses di atas bisa tidak cukup tepat jika dilangsungkan pada kawasan kecil. Sebagai contoh, kawasan yang akan dipetakan adalah kawasan permukiman nelayan di Kenjeran. Dalam hal ini bisa diasumsikan bahwa tidak ada anggota tim pemeta yang benar-benar warga lokal Kenjeran. Bisa saja tim pemeta tersebut akan melakukan pemetaan hingga selesai dan hasilnya kemudian didiskusikan bersama warga untuk kemudian diperbarui pada proyek pemetaan berikutnya. Jika hal itu yang terjadi maka bukan proses partisipatoris yang muncul, tetapi sekedar partisipatif. Alih-alih, warga setempat hanya akan menjadi narasumber belaka.

Pantai Kenjeran

Untuk kawasan kecil seperti desa nelayan seperti itu, tim pemeta kampus yang datang sebagai bukan komunitas lokal lebih tepat berperan sebagai fasilitator. Mereka akan berperan mendampingi warga setempat untuk memetakan kawasan tinggal mereka sendiri dengan metode Peta Hijau. Dengan memposisikan diri sebagai fasilitator maka warga nelayan yang merupakan komunitas lokal di kawasan itu bisa benar-benar menerapkan aktivitas desain dan perencanaan kawasan bagi kawasan mereka sendiri. Kata lainnya, partisipatoris itu tadi. Namun, syarat dan kondisi tersebut jelas akan berbeda jika kawasan kecil yang dimaksud adalah kawasan Kampus Universitas Petra sendiri.

Partisipatoris sebagai sebuah proses berkelanjutan

Sebuah proses pemetaan komunitas akan bisa menciptakan rasa atas tempat ketika tercipta ruang dialog dalam proses tersebut. Di sini bisa muncul beragam perspektif dan pula beragam individu dengan berbagai perbedaan pengalaman dan paradigma. Pembelajaran transformatif yang berlangsung kemudian menjadikan kegiatan pemetaan berbasis komunitas ini sebagai sebuah alat yang efektif dan kreatif untuk mengumpulkan berbagai informasi bagi kepentingan perencanaan komunitas itu sendiri. Jadi, pemetaan komunitas ini jelas lebih dari sekedar proses bagaimana agar sebuah peta bisa terselesaikan. Di sini, para anggota komunitas yang terlibat akan bisa menempatkan dan menegaskan atribut-atribut sejarah, fisik, sosial, budaya, dan bahkan spiritual ruang tinggalnya. Melalui proses menandai kenyataan-kenyataan di sekitar mereka dalam kreasi sebuah peta, komunitas lokal pun terlengkapi dengan lebih baik untuk secara proaktif merencanakan kehidupan mereka sendiri, dengan cara yang menyenangkan tentunya.

Lebih jauh dapat ditekankan bahwa dalam hal ini tidaklah terlalu dipermasalahkan siapa saja yang harus terwakilkan sebagai wakil setiap elemen pihak-pihak pemangku kepentingan. Entah berapa pun dan siapa pun yang terlibat, lebih penting pada bagaimana informasi dan pengetahuan yang terkumpul dari proses yang berlangsung bisa disebarluaskan kepada anggota komunitas yang lain. Walaupun data dan informasi yang ada hanya bersumber dari kelompok tertentu, yang penting hal itu dengan jelas merepresentasikan pola pemikiran kelompok tersebut. Ruang-ruang dialog tetap akan berlangsung setelah proses pertama selesai. Tanggapan-tanggapan yang bermunculan akan memulai sebuah siklus dialog tentang kawasan yang semakin lama akan semakin kaya perspektif. Semua itu hanya akan terjadi jika segala tahapan yang ada berlangsung secara terbuka, terekam, tersebarkan, dan terdiskusikan.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai masukan dalam pertimbangan penentuan strategi rencana pemetahijauan yang akan dilangsungkan di Surabaya.

Elanto Wijoyono

pegiat Peta Hijau Indonesia
tinggal di Yogyakarta, Indonesia

3 thoughts on “Menggali Makna Keterwakilan Komunitas

  1. ambar

    siap-siap jadi dosen terbang dong…:) ini sih namanya jeruk minum jeruk wakaka…

    lha trus utang ama ortu, kapan lunasnya ya??

    Reply
  2. Hasti

    Salam kenal mas Elanto, saya Hasti, mahasiswa S2 Urban Planning di Belanda, si salah satu institute yang banyak menggunakan GIS. Saya tertarik untuk mengadakan research tentang Participatory Mapping untuk thesis saya. Untuk specialisasinya, saya akan mengarah kepada keberadaan ruang terbuka di wilayah Yogyakarta. Apa ada usul, saran mengenai topik yg lebih specific lagi yang bisa saya angkat untuk penelitian saya?

    Bila Komunitas Peta Hijau ada program untuk di jalankan pada bulan September-Oktober, apa di mungkinkan bagi saya untuk bergabung sehubungan dengan research topic yg dpt saya kontribusikan dalam program tersebut? Krn jadwal penelitian lapangan saya akan jatuh pada bulan tersebut.

    Terimakasih banyak atas bantuannya.

    Salam, Hasti

    Reply
  3. elanto wijoyono Post author

    Mb Hasti yb

    Pada bulan Agustus- Oktober kami kebetulan masih akan menuntaskan beberapa PR proyek yg belom selesai kegarap. Pertama, Peta Hijau Sahabat Sepeda. Ini mencakup kawasan kota Yogyakarta. Kedua, Peta Hijau Mandala Borobudur. Mungkin proyek yang pertama lebih sesuai dengan penelitian Mb Hasti.

    Peta Hijau Sahabat Sepeda Yk itu sendiri versi cetaknya mungkin akan terbit Juli ini. Namun, kami juga berencana untuk menindaklanjutinya hingga memiliki versi berbasis SIG juga. Masih dalam rencana dan mengumpulkan sumberdaya.

    Yah, aku kira kita bisa berkolaborasi utk hal yang baik ini bersama teman-teman yang lain.

    Salam dari Yogya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s