Mencari Bentuk Sejati Kearifan Lokal

Sebuah Catatan Kecil dari Dieng

dieng1 dieng2

Hampir tidak ada perasaan istimewa sedikit pun yang muncul ketika turun dari bus dan pertama kali menginjakkan kaki di tanah kawasan Dieng. Hal itu semakin menjadi ketika melintasi taman di kawasan kompleks Candi Arjuna. Aura kawasan yang telah begitu mendunia ini muncul dalam bentuk yang jauh dari yang terbayangkan semula. Kawasan ini telah menjelma menjadi kawasan yang unik dan lucu. Kompleks percandian kuno itu bagaikan sekedar hiasan taman, keberadaannya tenggelam oleh kemunculan taman dan berbagai fasilitas lainnya. Candi Gatutkaca yang berada di ujung bagian taman bahkan lebih “merana”. Keberadaannya tepat di tepi jalan raya bisa dibilang tidak bisa mencuri perhatian sama sekali walaupun telah dihiasi dengan berbagai tanaman hias. Sementara, jika dilihat dari atas, plateau ini tampak penuh sesak dengan lahan-lahan pertanian. Keunikan kawasan ini ditutup dengan kegundulan puncak-puncak gunung yang mengelilinginya. Bahkan di puncak gunung pun ada lahan kentang! Apakah semua ini mengindikasikan sesuatu yang salah kaprah ataukah sekedar kekalutan subjektif karena terlalu banyak dijejali prinsip-prinsip idealis di bangku kuliah?

dieng12 dieng16

Taman di kawasan kompleks Candi Arjuna Dieng dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2003. Pekerjaan yang dimaksudkan sebagai pembenahan lansekap kawasan ini dipicu oleh menurunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Dieng. Pembangunan taman ini pun mendapatkan masukan langsung dari pihak Suaka Purbakala/SPSP (sekarang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala/BP3) Jawa Tengah agar tetap memperhatikan lansekap kompleks percandian. Jangan sampai penataan ini mengakibatkan kerusakan pada struktur candi dan jangan sampai pula menyebabkan kompleks percandian ini seolah-olah berdiri di tengah lapangan golf (Kompas, 22 Mei 2003). Kekhawatiran itu cukup beralasan. Terbukti, pada bulan Mei 2004 lalu, tamanisasi ini mendapat kritik dari anggota Pacipic Asia Travel Asociation (PATA) yang berkunjung ke Dieng. Jajang Agus Sonjaya yang saat ini tengah mengerjakan tesis mengenai pengelolaan situs Dieng ini menyatakan bahwa kritikan tersebut muncul karena tamanisasi Dieng yang beraksen modern itu dianggap kurang sesuai dengan lansekap candi.

dieng3

Sementara itu, aktivitas yang terjadi di sekitar situs terus berlangsung. Aktivitas pertanian kentang yang dilakukan oleh warga berlangsung sangat intensif dan juga ekstensif. Kawasan hutan lindung yang ada telah dibabat habis untuk dijadikan lahan pertanian yang lebih menguntungkan. Penyerobotan lahan ini juga terjadi atas lahan situs milik BP3 yang sebenarnya terlarang bagi kegiatan apa pun selain untuk kepentingan pelestarian situs. Penyerobotan lahan ini telah berlangsung sejak tahun 1980-an hingga kini. Bahkan aksi ini dibarengi dengan usaha menyingkirkan batu-batu candi yang dianggap mengganggu aktivitas bertani. Selain untuk lahan bertani, lahan situs juga diserobot untuk mendirikan bangunan-bangunan permanen, seperti pemukiman, pertokoan, masjid, hingga PLT Panas Bumi (Kompas, 19 April 2000)

Dalam kasus ini yang terjadi sungguh menarik sekaligus memprihatinkan. Lahan situs yang diserobot oleh warga ternyata saat ini telah berstatus hak milik; sebagian besar sudah memiliki Letter C. Bahkan lahan situs yang telah disertifikatkan kembali oleh BP3 tetap masih digunakan oleh warga untuk lahan pertanian dan lapangan olah raga. Merasa khawatir tanah situs dijarah warga, BP3 bersama pemda setempat memutuskan untuk menyewakan sebagian besar lahan untuk lahan pertanian. Tujuan yang awalnya baik ini ternyata berbuntut konflik. Berdasarkan pengamatan Jajang Agus Sonjaya sementara ini, muncul rasa iri di kalangan petani lokal lain yang tidak mendapatkan bagian sewa. Selain itu, mekanisme pembayaran sewa pun dikabarkan tersendat.

Berbagai kasus yang terjadi di kawasan cagar budaya ini seakan-akan menunjukkan bahwa berbagai pihak yang terkait di situ saling berebut menanamkan kepentingannya masing-masing. Dieng pun menyeruak sebagai sebuah kawasan konflik kepentingan. Akhirnya, seolah-olah tidak ada kearifan lokal lagi yang bisa menyelamatkan kawasan ini.

Memaknai kembali kearifan lokal

Apakah benar pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan di atas tidak lagi mengedepankan kearifan lokal yang dimiliki? Sebelum berlanjut membahas hal tersebut, sebaiknya dirumuskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kearifan lokal itu. Kearifan lokal selama ini dimaknai sebagai sebuah proses kompromi budaya yang dilakukan ketika budaya lokal bersentuhan dengan budaya-budaya lain dari luar. Dalam proses tawar-menawar itu kearifan lokal mendorong terjadinya sebuah perubahan sebagai sebuah konsekuensi logis kenyataan bahwa suatu bangsa bukanlah merupakan satu-satunya komunitas di dunia ini.

dieng4 dieng5

Budaya nusantara yang sudah bisa dikatakan mapan dalam prosesnya melakukan tawar-menawar (akulturasi) ketika bersentuhan dengan budaya lain atau budaya baru. Kemunculan candi-candi beserta relief-reliefnya yang bergaya khas nusantara disebut-sebut sebagai salah satu hasil kompromi budaya tersebut. Hal itu juga tampak dari kemunculan arsitektur masjid-masjid kuno di nusantara yang merupakan rekayasa dari tradisi yang sudah berkembang sebelumnya. Hasan Muarif Ambary pun menyatakan bahwa konsep makrokosmos-mikrokosmos dalam agama Hindu-Buddha bisa diadaptasikan ke dalam arsitektur masjid adalah hasil dari upaya “tawar-menawar” tadi.

Proses ini telah terjadi sejak dahulu dalam modus dan skala yang berbeda-beda. Hal serupa juga terjadi di masa kini, baik dalam percaturan budaya, politik, dan ekonomi. Hanya saja lingkup dan implikasinya jauh lebih luas dan kompleks. Sebagai sebuah proses kompromi budaya, kearifan lokal bukan hanya berhubungan dengan permasalahan ketika budaya lokal bersentuhan dengan budaya-budaya lain. Lebih jauh, kearifan lokal juga berbicara pada tataran ketika sebuah kebudayaan berhadapan dengan kepentingan-kepentingan.

Seperti yang tampak pada contoh pada masa klasik di atas, proses kompromi budaya selalu memperhatikan elemen-elemen yang ada pada budaya terdahulu (baca: lokal) dengan budaya yang baru saja hadir. Elemen-elemen itu dipilah dan dipilih mana saja yang sesuai. Hasilnya selalu menunjukkan wajah sebuah kompromi yang elegan, setiap elemen mendapatkan tempat dan muncul dalam bentuknya yang baru sebagai sebuah kesatuan yang harmonis. Hal itu pun sebenarnya juga tidak lepas dari masalah kepentingan. Sebuah kebudayaan pun dituntut harus melakukan kompromi budaya ketika berhadapan dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Kepentingan-kepentingan yang dimaksud sangat luas cakupannya, tetapi secara garis besar meliputi berbagai permasalahan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup manusia, terutama yang bersifat primer dan praktis. Sebuah kebudayaan pun dalam hal ini akhirnya harus pandai-pandai memilah dan memilih proses kompromi seperti apa yang akan dilakukan, sejauh mana kepetingan-kepentingan itu harus disikapi dan ditindaklanjuti. Dalam hal ini, suatu kebudayaan bisa menjadi sangat permisif dan dangkal, tetapi bisa pula menjadi sebuah kebudayaan yang bisa dengan harmonis merangkai berbagai kepentingan yang ada, sehingga tidak ada yang harus dikorbankan.

Kepentingan versus kepentingan

Apa yang terjadi di kawasan Dieng jelas menunjukkan persaingan dan perebutan kepentingan. Pihak-pihak yang terlibat masing-masing merasa memiliki hak dan kepentingan. Sayangnya berbagai macam kepentingan itu tidak memunculkan sebuah keragaman budaya, tetapi malah menimbulkan konflik, baik konflik horinsontal maupun vertikal.

dieng6

Sebagai sebuah kawasan cagar budaya, pemerintah melalui BP3 merasa memiliki hak penuh atas kawasan ini. Berbagai perangkat pun telah dipersiapkan untuk kepentingan ini, mulai dari masalah pemeliharaan benda cagar budaya (candi), pengamanan, hingga upaya pembebasan tanah untuk area konservasi situs. Secara kasat mata, “musuh” BP3 adalah masyarakat lokal yang menyerobot lahan konservasi situs untuk dijadikan lahan pertanian maupun pemukiman. Terjadilah aksi saling klaim. Beberapa usaha telah dilakukan, seperti upaya menyewakan lahan situs untuk lahan pertanian. Namun, upaya ini pun malah menimbulkan konflik lagi. Kasus yang serupa juga terjadi antara masyarakat lokal dengan pemerintah, dalam hal ini pihak Perhutani. Hutan-hutan di kawasan Dieng ini berubah menjadi lahan pertanian. Akibat penyerobotan kawasan hutan lindung ini terjadilah permasalahan degradasi lingkungan, seperti erosi, tanah longsor, dan menurunnya tingkat kesuburan tanah.

Konflik kepentingan ini juga terjadi di pihak penyelenggara pemerintahan sendiri walaupun tidak terlalu tampak di permukaan. Konflik yang biasa terjadi adalah konflik antara BP3 dengan Dinas Pariwisata atau pemda setempat yang menjadikan kawasan cagar budaya ini sebagai objek wisata. Kawasan Dieng ini masih memiliki konflik tambahan yang terjadi secara horisontal di tingkat pemda karena kawasan ini masuk dalam wilayah dua kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara.

dieng7 dieng8

BP3 merasa berhak atas kelestarian situs dan lingkungan di sekitarnya. Begitu pula Perhutani yang menguasai kawasan hutan lindung di kawasan ini. Sementara, pemda setempat juga merasa berhak untuk mengelola kawasan Dieng yang indah ini sebagai ladang pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD), terutama dengan menjadikannya sebagai objek wisata. Masyarakat setempat pun juga memiliki kepentingan. Tidak mendapatkan tempat dalam hal konservasi serta pemanfaatan situs dan hutan, masyarakat tetap dituntut oleh berbagai kebutuhan hidup. Masyarakat Dieng akhirnya memilih untuk bertani dan kebetulan hasilnya sangat menjanjikan. Masalahnya, seolah-olah dikomando, seluruh wajah kawasan ini kemudian “diubah” menjadi lahan pertanian atau pemukiman, termasuk lahan situs dan hutan yang menurut banyak pihak harus dilindungi. Memang agak berbeda dengan kasus di beberapa daerah yang lain, masyarakat Dieng tampaknya tidak memiliki semangat untuk turut melestarikan pusaka budaya yang dimilikinya dengan melakukan etnokonservasi. Bahkan, bisa dibilang masyarakat Dieng merasa acuh tak acuh dengan potensi tak ternilai itu.

dieng10 dieng11

Setiap pihak merasa berhak atas potensi lokal di kawasan Dieng. Hal itu sangat manusiawi. Namun, mengapa yang terjadi justru tidak menunjukkan kearifan yang manusiawi pula. Ada apa sebenarnya? Apakah telah terjadi degradasi kesadaran budaya? Tampaknya ya. Hal-hal yang terjadi di kawasan Dieng merupakan tindakan-tindakan yang lebih berorientasi kepada kepentingan golongan dan jangka pendek. Secara signifikan belum tampak tindakan-tindakan yang berorientasi manfaat bagi kemaslahatan bersama dan bukan untuk kepentingan sesaat semata, bahkan oleh pemerintah sekalipun.

Pekerjaan rumah yang belum selesai

Tak hanya di Dieng, secara umum memang kesadaran untuk melestarikan pusaka budaya masih rendah. Kesadaran itu sangat tergantung pada banyak faktor, seperti pendidikan dan penghormatan atas mata rantai sejarah, bahkan juga alasan pragmatis, seperti apakah pusaka itu masih berguna, baik secara kultural maupun ekonomis. Dalam hal ini, Achmad Charris Zubair lebih menekankan pada upaya untuk membangun kesadaran kemudian baru mengembangkan kemampuan masyarakat untuk menghargai potensi kultural yang berupa pusaka budaya. Masyarakat harus dilibatkan sebagai subjek sekaligus pihak pertama yang menikmati keuntungan pengelolaan pusaka budaya, baik secara kultural maupun ekonomis. Masyarakat Dieng sendiri sebenarnya telah memiliki kearifan lokal dalam melestarikan pusaka budaya yang bersifat non fisik (intangible), seperti adat istiadat dan tradisi. Namun, pusaka yang bersifat fisik masih kurang mendapatkan tempat karena kalah dengan tempat untuk ladang pertanian yang sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup.

dieng9

Pekerjaan rumah besar lainnya ada di jajaran pemerintahan. Kebijakan pemerintah selama ini yang terlalu menekankan pada pembangunan yang berorientasi ke arah mainstream yang konvensional dan ortodoks. Seperti pernyataan Sri Edi Swasono (2004), sangat disayangkan ketika pembangunan bangsa ini mengabaikan dimensi sosial-kultural. Hal yang diperkenalkan adalah prinsip-pronsip neoklasikal dan akhlak homo economicus tanpa mempertimbangkan moralitas ekonomi Indonesia yang berdasarkan kebersamaan dan asas kekeluargaan sesuai dengan pasal 33 UUD 1945. Selama ini belum ada suatu platform nasional sebagai suatu pusaka saujana yang menegaskan bahwa yang dibangun adalah rakyat, bangsa, dan negara. Platform nasional selama ini berorientasi untuk membangun kue ekonomi nasional (GNP) belaka.

Tidak heran ketika masing-masing pemda mati-matian untuk mencari ladang pengisi PAD. Hal ini semakin diperparah ketika konsep otonomi daerah diterjemahkan terlalu bebas, sehingga memunculkan raja-raja kecil di tiap daerah. Pemerintah sendiri dalam mengidentifikasi potensi lokal harus berdimensi dinamis, sehingga tidak menumbuhkan eklusivisme dan isolasi daerah. Daerah-daerah yang ekslusivisme, isolasionisme, dan dinamikanya yang seringkali cenderung bergerak divergen dan mengabaikan konvergensi dinamis menurut Sri Edi Swasono harus diwaspadai. Seperti halnya yang terjadi di kawasan Dieng yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Kedua pemda berusaha maksimal untuk menjadikan Dieng sebagai lahan investasi dengan menjadikannya sebagai objek wisata. Namun, masing-masing pemda tampak berjalan sendiri-sendiri. Sungguh ironis ketika kedua kabupaten ini baru sadar untuk melakukan penataan dan pengelolaan Dieng ketika kawasan ini sudah diambang kehancuran. Namun, partisipasi pemerintah kemudian justru membuat kehancuran yang ada semakin menjadi-jadi. Sudah berkali-kali perjanjian kerjasama pengelolaan antar kedua pemda dengan fasilitator Pemda Tingkat I Jawa Tengah dilakukan dan terakhir ditandatangani pada bulan Agustus 2002 lalu. Apakah kerjasama ini dapat memberikan solusi bagi Dieng, masih harus ditunggu buktinya.

dieng13 dieng14

Memang masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Setiap pihak yang terkait dalam hal ini harus bisa berjalan bersama untuk menentukan tindakan-tindakan solutif apa saja yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan kawasan Dieng. Paling tidak berbagai upaya kecil yang telah dilakukan harus diapresiasi secara positif, seperti upaya Forum Masyarakat Dieng (FMD) Berdikari untuk melakukan penghijauan kembali kawasan hutan lindung di wilayah itu. Perhatian pada kelestarian pusaka budaya khususnya yang bersifat fisik, seperti candi, tampaknya memang masih harus menunggu. Selama menunggu, semoga saja tinggalan-tinggalan budaya itu masih bisa bertahan. Harapan yang diimpikan adalah munculnya sebuah kawasan dengan potensi alam dan budayanya yang bisa bermanfaat bagi semua pihak tanpa merusak atau merugikan keberadaan potensi itu sendiri; tidak hanya kasus Dieng, tetapi juga wilayah-wilayah berpotensi lainnya. Dengan demikian, apakah bentuk sejati kearifan lokal sudah bisa ditemukan?

Elanto Wijoyono

Disampaikan pertama kali dalam diskusi terbuka dalam rangka Abhiseka Ratri, Program Pengenalan Lapangan Himpunan Mahasiswa Jurusan Arkeologi FIB – UGM pada Oktober 2004 di Candi Sukuh, Jawa Tengah

Foto: Anang Saptoto, Glen H. Chandra

dieng15

10 thoughts on “Mencari Bentuk Sejati Kearifan Lokal

  1. alkampari

    kalo anda pernah berkunjung ke candi muara takus di riau..anda akan sedih sekali.candi yang merupakan awal dari kerajaan sriwijaya ini hanya dianggap batu tanpa makna oleh pemerintah.akses kesana tidak pernah diperhatikan.bangsa yang tidak menghargai sejarah……..

    Reply
  2. linda

    yaaa setuju sekali. kearifan lokal saat ini sudah tidak dianggap lagi. orang seenalnya aja bangun sini bnagun sana tanpa memperhatikan ling and sejarah dari tempat itu. sedihh banget semua orang jd bingung dgn ego masing 2 tanpa memperhatikan sekitar.

    Reply
  3. vhani

    Met malam…
    maaf saya mahasiswa baru jurusan ilmu sejarah.

    Yang saya tanyakan sekarang….

    Ada kah jurusan ilmu sejarah di UGM???

    Serta… tolong kenalkan saya dengan mahasiswa dari UGM.

    Terimakasih….

    Reply
  4. elanto wijoyono Post author

    met pagi Vhani..

    Yup, UGM ada Jurusan Sejarah, masuk ke Fakultas Ilmu Budaya
    kalo mu maen, datang aja ke sini (http://sejarah.fib.ugm.ac.id/)

    btw, kamu mahasiswa mana ya?
    trus mu kenalan ma mahasiswa UGM yg mana?
    UGM punya puluhan ribu mahasiswa, mu pilih yg mana? …. :p

    paling gampang ya datang aja ke kampusnya dan langsung kenalan siapapun yg kamu temuin di sana hehue

    salam,

    ew

    Reply
  5. Pingback: Dieng, mahligai kahyangan ? « radiasi niti budi

  6. dana

    mas anda punya tidak makalah/paper tentang kearifan lokal, saya mahasiswa karena saya butuh buat tugas akhir kuliah saya bingung mencari refrensinya dan penyelesainnya? klau ada tolong kirim lewat email saya di danatryone@yahoo.co.id.

    mohon kallau ada tolong berbagi, terima kasih

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s