Antara Dunia Lain dan Sangkar Burung

Perjalanan Memperjuangkan Hak yang Terabaikan

Pintu di sisi utara Jalan Mondorakan itu dari luar hanya tampak seperti pintu garasi dari kayu yang sudah usang. Tidak tampak ada yang menarik dari pintu itu, apa lagi yang berada di balik pintu itu. Pintu kayu lapuk tersebut terdiri dari dua daun pintu yang masing-masing lebarnya sekitar dua meter, cukup besar memang. Pada salah satu daun pintu terdapat sebuah pintu kecil, sehingga tepat jika disebut dengan pintu yang berpintu. Pintu itulah yang digunakan sebgai jalan keluar masuk ketika pintu utama ditutup.

Jika kita mencoba masuk, selepas dari pintu besar tadi terbentang jalan tanah selebar sekitar empat meter yang dibatasi oleh dinding bangunan di kedua sisinya. Jalan itu tidak panjang, sekitar lima belas meter saja, dan di ujungnya telah menanti dengan angkuhnya sebuah menara penerima/penerus sinyal salah satu operator telepon seluler berikut pagar kelilingnya yang begitu masif. Dari ujung jalan ini, untuk terus menuju ke utara harus terlebih dahulu mengitari pagar menara itu. Tepat di sisi utara pagar menara berdiri sebuah rumah tua yang jelas tidak lagi ditinggali.

Rumah tua itu saat ini letaknya memang sudah sangat terbuka. Di samping dan belakangnya langsung berbatasan dengan rumah penduduk, selain bagian depan rumah yang telah berubah menjadi menara tadi (menara itu menempati lahan bekas pendapa rumah tua itu). Namun begitu, terasa nuansa yang lain ketika mencoba mendekati rumah tua itu, apa lagi mencoba masuk ke dalamnya. Memang, menurut warga Kota Gede, rumah yang dikenal dengan nama Rumah Kanthil itu ada “penunggunya” yang dikenal dengan nama Barowo. Keangkeran rumah tua itu sudah begitu dikenal oleh warga kawasan yang sudah sangat akrab dengan organisasi Islam besar bernama Muhammadiyah itu.

Sejak sekitar hampir satu tahun yang lalu Rumah Kanthil ini semakin populer, tidak hanya di kalangan warga Kota Gede saja, tetapi juga warga Yogyakarta pada umumnya, bahkan kota-kota lain di Jawa. Menariknya, menurut M. Natsir dari Yayasan Kanthil Kota Gede, sempat ada rombongan dari luar kota Yogyakarta yang datang ke Kota Gede mencarter bus wisata hanya untuk mencari Rumah Kanthil ini. Hal ini tidak lepas dari peristiwa ketika Rumah Kanthil dipakai sebagai lokasi pengambilan gambar acara reality show yang populer dengan uji nyalinya, yaitu “Dunia Lain” yang ditukangi oleh Trans TV. Tak ayal lagi, banyak orang yang semakin penasaran dengan Rumah Kanthil. Kedatangan rombongan “turis” tadi menjadi salah satu dampak nyatanya.

*************

Jika kita berjalan-jalan keliling Kota Yogyakarta saat ini, kita akan merasa bahwa kota ini terasa semakin meriah dan penuh warna. Kota Yogyakarta saat ini kaya dengan berbagai macam gambar atau lukisan yang dibuat berwarna-warni dengan tembok sebagai kanvasnya. Gambar-gambar indah dan meriah yang dalam istilah kerennya disebut mural ini dapat dengan mudah dijumpai di hampir seluruh penjuru kota. Masyarakat pun tampaknya sudah begitu familiar dengan fenomena ini dan rata-rata menganggapnya sebagai salah satu jalan utama melawan vandalisme grafiti liar.

Mungkin sering terlewatkan begitu saja, tetapi jika melewati persimpangan antara Jalan Serma Taruna Ramli dan Jalan Faridan M. Noto di kawasan Kota Baru, sempatkanlah untuk menengok barang semenit ke arah bekas gardu distribusi listrik yang ada di situ. Dengan cukup mudah akan ditemukan mural bergambar seekor burung sedang hinggap di atas tanah yang cenderung gersang. Namun, di latar belakang terpampang luas langit lepas dengan sedikit awan di antaranya. Menariknya, sebuah gambar sangkar burung tercitra di sudut atas. Mungkin bermaksud untuk menggarisbawahi apa yang ingin disampaikan, seniman pembuat mural ini juga menggantungkan sebuah sangkar burung asli di salah satu pojok atap bangunan itu. Komposisi bentuk dan warna pastel itu sangat seirama dengan situasi di sekitarnya. Memang hasilnya tidak cukup mencolok, tetapi sedikit bisa mencuri fokus para pengguna jalan yang banyak bersliweran di tempat itu.

Mural ini adalah karya seniman mural asal San Fransisco, Carolyn Ryder Cooley, yang berkolaborasi dengan perupa kelahiran Bandung yang masih kuliah di ISI Yogyakarta, Arya Pandjalu. Selama bulan Juli hingga Oktober 2003 beberapa muralis negeri Paman Sam yang berkolaborasi dengan seniman kota gudeg sibuk meramaikan beberapa titik kota Yogyakarta dengan mural, termasuk yang ada di Kota Baru ini. Dengan tajuk “Sama-sama/You’re Welcome Project”, kegiatan yang dibidani oleh Clarion Alley Mural Project (San Fransisco, USA) dan Apotik Komik (Yogyakarta, Indonesia) ini merupakan sebuah kolaborasi dan pertukaran internasional yang bertujuan membentuk dan memelihara pemahaman atas seni kontemporer dan budaya antara dua komunitas tersebut melalui suatu kreasi. Diharapkan dengan berlangsungnya proyek ini dapat terjadi dialog lintas budaya dengan partisipasi seniman dan publik secara luas.

Apotik Komik, sebuah komunitas seni rupa yang berdiri pada tahun 1997, sebelumnya telah malang melintang di dunia permuralan ini, mulai dari proyek pertama bertajuk “Melayang” (1997) hingga pembuatan galeri publik di tembok studio mereka di Jalan Langenarjan Lor, kawasan njeron beteng (2000-2001). Aksi Apotik Komik yang paling diekspose adalah ketika mensponsori proyek mural kota pada tahun 2002. Kegiatan inilah yang kemudian mengakibatkan mural menjadi semakin populer di Yogyakarta dan akhirnya membentuk semaca trend baru di kalangan masyarakat.

Ade Tanesia, salah satu penggiat Apotik Komik, menyatakan bahwa aksi-aksi tersebut adalah salah satu visi Apotik Komik yang memfokuskan praktik keseniannya di wilayah ruang-ruang publik kota. Karya seni sebisa mungkin jangan hanya bisa dinikmati oleh kalangan yang “itu-itu” saja, tetapi juga bisa dinikmati oleh masyarakat luas dengan menghadirkan karya seni secara langsung di tengah masyarakat. Sedikit pun tak terpikir bahwa seni rupa di ruang publik, misalnya mural, akan sangat berguna untuk mengatasi berbagai praktek grafiti di ruang kota. Karena pada kenyataannya grafiti tak akan pernah hilang dan menjadi bagian dari riwayat sebuah kota itu sendiri. Bagi Apotik Komik, keberadaan grafiti, mural, patung, iklan, poster, hingga propaganda merupakan hal yang wajar-wajar saja dalam sebuah kota.

Hal-hal idealis di atas menjadi semakin menarik ketika aksi muralisasi itu dilakukan terutama di dinding-dinding kota yang selama ini tak terperhatikan, kecuali oleh para aktivis grafiti, termasuk dinding-dinding bangunan yang katanya bersejarah. Sebut saja dinding studio mereka di kawasan njeron beteng, dinding gudang stasiun dan bekas gardu listrik di Kota Baru; ketiga contoh ini memiliki nilai sejarah dengan signifikasinya masing-masing. Mural di dinding studio di kawasan njeron beteng dan di dinding gudang stasiun mungkin tidak banyak mengundang pertanyaan karena mural itu berada di bangunan yang memang masih ada “pemiliknya”. Namun, ketika mural itu menyentuh bekas gardu listrik di Kota Baru, ternyata muncul sebuah pertanyaan.

Pertanyaan itu muncul dalam sarasehan bertema “Hak Publik di Ruang Publik” pada tanggal 9 Mei 2004 lalu dalam rangka “Pameran dan Peluncuran Peta Hijau Yogyakarta” di Jogja Study Centre, Kota Baru. Pertanyaan itu mendasarkan pada fakta sejarah bahwa bekas gardu distribusi listrik di Kota Baru itu adalah sebuah bangunan bernilai sejarah. Hal yang ditanyakan adalah apakah ada izin tertentu yang telah dilakukan oleh Apotik Komik sebelumnya, ke BP3 Yogyakarta misalnya.

Pembicara dari Apotik Komik saat itu yang juga pendiri Apotik Komik, Samuel Indratma, dengan ringan menjawab bahwa pihaknya bahkan tidak tahu menahu tentang masalah perizinan dan sebagainya itu. Dalam aksi muralisasi itu, Apotik Komik bekerja sama langsung dengan pihak Pemerintah Kota Yogyakarta, dan tidak ada masalah dengan perizinan penentuan lokasi mural. Secara sederhana, Apotik Komik memandang bahwa banyak bangunan yang terbengkelai tak terurus dan hal itu dimanfaatkan oleh Apotik Komik sebagai sarana penyampaian visi misinya.

Marco Kusumawijaya (2002) pernah menulis bahwa advokasi kebudayaan para seniman mural Yogyakarta terjadi pada ruang-ruang yang paling tak beradab di kota Yogyakarta. Pemilihan tempat ini teranglah bukan suatu ironi keputusasaan (seolah-olah tak tersedia tempat lain bagi para seniman berekspresi), melainkan suatu advokasi dengan keyakinan diri yang besar; para seniman itu memilih apa yang nampaknya paling tak layak, paling tak mungkin. Bagi mereka, itulah tantangannya. Mereka ingin mengubah apa yang nampaknya paling tak mungkin dan paling tak layak menjadi bagian keseharian ruang publik yang beradab. Begitu pula apa yang selanjutnya disampaikan oleh Samuel Indratma. Bekas gardu listrik itu sebelumnya merupakan sebuah bangunan telantar dan bisa digolongkan sebagai salah satu ruang paling tak beradab di atas. Tidak tampak adanya usaha kepedulian terhadap bangunan itu, bahkan oleh pemerintah sendiri. Bahkan, keberadaan mural di tempat-tempat yang paling tak beradab itu merupakan salah satu cara untuk menampilkan eksistensi ruang-ruang itu kepada masyarakat. Dengan adanya mural, masyarakat mau tidak mau harus melihat pula kenyataan ruang tempat mural itu berada. Mau tidak mau, masyarakat kembali berpikir mengenai sejarah hingga makna ruang tersebut. Hal ini sangat luar biasa, mengingat sebelumnya masyarakat sama sekali melupakannya, bahkan menengok pun enggan.

Memang wajar pertanyaan itu muncul karena dilontarkan oleh kalangan sejarah dan arkeologi. Bangunan yang saat ini berlukiskan burung dan sangkar itu aslinya adalah gardu distribusi listrik no. 20 yang dibangun pada tahun 1918 untuk melayani kebutuhan listrik di kawasan Nieuw Wijk atau Kota Baru ketika Belanda masih bercokol di kota Yogyakarta. Mengingat perannya itu, tidak heran jika bangunan itu dicap sebagai bangunan bernilai sejarah. Oleh karena itu, bangunan itu tidak boleh diperlakukan secara sembarangan, termasuk dicorat-coret (mural jugakah?).

Namun, jika melihat kenyataan sekarang, permasalahannya menjadi lain. Jelas bangunan bekas gardu listrik itu bernilai sejarah, tetapi bangunan itu bukan benda cagar budaya. Bangunan itu belum dicagar budayakan! Padahal, agar suatu benda atau bangunan bisa mendapatkan perlindungan, benda atau bangunan itu harus bertatus cagar budaya. Sementara, bekas gardu listrik di Kota Baru itu tidak berstatus sebagai cagar budaya. Tidak ada papan nama situs di depannya seperti yang ada di halaman candi-candi. Bahkan, bangunan itu bisa dibilang sudah terlupakan. Bekas gardu listrik itu mungkin hanya bermakna di dalam kuliah dan tulisan ilmiah kalangan sejarah dan arkeologi, sementara bagi masyarakat tak berarti apa pun.

Namun, ketika bekas gardu listrik itu berhiaskan mural, masyarakat tanpa terasa diingatkan kembali mengenai keberadaan bangunan bersejarah itu. Selain diajak untuk memahami makna kebebasan hidup yang disajikan oleh mural itu, masyarakat juga diajak untuk menggali kembali ingatannya terhadap sejarah bangunan tempat mural itu berada. Bangunan yang selama ini terhapus dari arsip di dalam kepala manusia kembali muncul, bahkan dengan tambahan makna yang baru.

************

Kedatangan kru “Dunia Lain” ke Rumah Kanthil memang sedikit banyak adalah “ulah” M. Natsir, salah satu penggiat sebuah LSM yang kebetulan bernama sama dengan kasus ini, yaitu Kanthil, Lembaga Pengembangan Seni Budaya dan Pariwisata Kota Gede. Ketika Hari Panca dan gerombolannya mendatangi Kota Gede, Pak Natsir berusaha agar hal yang diekspose tidak hanya makam raja, tetapi juga bekas rumah seorang juragan batik/mori yang sudah beberapa tahun tidak ditinggali dan dianggap angker. Ajakan ini tentu saja diterima dan turut menyumbang kenaikan rating acara TV tersebut. Ternyata hal ini tidak berhenti sampai di sini saja. Sebagai salah satu penggagas Festival Kota Gede, pada Festival Kota Gede 2003 warga Kota Gede ini menggagas sebuah sarasehan bertajuk “Menjenguk Cakrawala Keghaiban” yang dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2003. Gagasan tersebut tidak hanya mendapat banyak sambutan hangat, tetapi juga mendapat banyak kritikan pedas. Berbagai kalangan, terutama kalangan agamawan, mengkritik kedua acara itu dengan alasan mengarahkan masyarakat menuju hal-hal yang kurang “sehat”.

Namun, dibalik ide yang kontroversial tersebut, Pak Natsir ternyata menyimpan sebuah idealisme tersendiri. Dengan pemunculan Rumah Kanthil dalam acara TV itu, akibatnya Rumah Kanthil menjadi semacam ikon bagi kawasan Kota Gede karena dikenal luas oleh masyarakat. Kedatangan rombongan dari luar kota seperti yang telah dipaparkan di muka adalah salah satu buktinya. Sebenarnya, pemunculan rumah Kanthil dalam acara seperti itu sendiri disebabkan oleh keprihatinan mengenai keberadaan sebuah rumah yang tidak terawat dengan baik, padahal rumah tradisional Jawa semacam itu memiliki banyak potensi yang sayang jika dibiarkan rusak begitu saja. Kurang jelas mengapa rumah ini tidak dirawat oleh para pewarisnya, entah karena kurang peduli atau karena mahalnya biaya pemeliharaannya. Bahkan, pendapa rumah Kanthil ini telah berubah menjadi bangunan menara penerima sinyal salah satu operator telepon seluler! Memang hal ini bukan satu-satunya di Kota Gede. Kota Gede menyimpan rumah salah satu tokoh utama Muhammadiyah Kota Gede, Abdul Kahar Muzakkir, yang pernah menjadi Wakil Kepala Kantor Urusan Agama di Jakarta dan kemudian mengabdikan diri untuk mendirikan sebuah Universitas Islam, serta menjadi salah satu tokoh penanda tangan Piagam Jakarta. Bung Hatta dan Syahrir pernah datang ke rumah ini. Sekarang rumah ini dalam kondisi rusak parah dan tidak mendapat perhatian apa pun, baik dari keluarga Kahar Muzakkir maupun dari pemerintah. Hanya bedanya, Hari Panca tidak sempat datang ke rumah itu.

**************

Masyarakat peduli, mungkin itulah makna terdalam yang bisa dipetik dari fenomena yang terjadi. Cukup sederhana, masyarakat melihat dan akhirnya merasakan adanya sesuatu hal yang terabaikan. Padahal, sesuatu hal tersebut sebenarnya memiliki nilai yang sangat berharga. Masyarakat memiliki kearifan tersendiri dan hal itulah yang kemudian diterapkan kepada sesuatu hal yang terabaikan itu. Memang kepedulian masyarakat yang muncul dari kedua kasus di atas terjadi pada benda yang notabene bukan termasuk sebagai benda cagar budaya. Namun, hal itu tidak mengecilkan arti kepedulian yang telah muncul. Status bukan cagar budaya itulah yang semakin memperbesar nilai kepedulian itu.

Mungkin inilah yang oleh para ahli disebut dengan ethnoconservation, yakni upaya pelestarian oleh masyarakat secara mandiri dengan mendasarkan diri pada pemahaman dan konsep mereka sendiri. Rasa memiliki, dalam hal ini terhadap pusaka budaya, adalah pemicu utamanya. Masyarakat mencoba untuk menggali kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam benda tinggalan itu yang kira-kira bermanfaat, baik berdasarkan motif idealis maupun motif ekonomi. Bahkan, muncul pula upaya untuk memberikan makna baru terhadap pusaka tersebut, baik disengaja maupun tidak. Disadari atau tidak, masyarakat telah memberikan pendidikan dan pemahaman tentang arti penting kelestarian suatu tinggalan budaya kepada anggota masyarakat lainnya. Hal itu secara sederhana dilakukan karena masyarakat pada umumnya dan juga pemerintah tidak lagi memberikan perhatian kepada tinggalan budaya yang mereka anggap tetap memiliki makna penting itu.

Kebetulan, kedua contoh kasus di atas terjadi pada pusaka yang bukan cagar budaya. Namun, apa yang terjadi pada kasus itu bisa menjadi cermin yang bagus bagi upaya-upaya pelestarian pusaka budaya yang selama ini telah dilakukan. Saat ini telah muncul kecenderungan bahwa pusaka budaya adalah milik masyarakat dan segala sesuatu yang terjadi padanya harus sepengetahuan masyarakat pula. Bahkan, masyarakat mulai tidak terlalu menggantungkan lagi pada usaha-usaha pelestarian yang dilakukan oleh pemerintah; mereka meragukannya. Hal ini wajar mengingat upaya-upaya pelestarian yang selama ini dilakukan terlalu kaku, tidak mewadahi aspek pemanfaatan, dan meminggirkan peran masyarakat. Makna pelestarian yang selalu muncul adalah bahwa pusaka yang dilestarikan pada akhirnya tidak memiliki kesempatan untuk dimanfaatkan kembali oleh masyarakat; segalanya serba dilarang. Pelestarian pun menjelma menjadi sebuah “momok”. Otomatis konflik pun sering muncul ke permukaan. Padahal, jika konflik-konflik terus bermunculan, kelestarian pusaka budaya sendiri pada akhirnya menjadi terlupakan dan pusaka budaya itu perlahan-lahan hancur tanpa sempat tertangani dengan selayaknya.

Konteks pelestarian pusaka budaya sendiri saat ini memang cenderung berorientasi pada pusaka budaya utama yang bernilai bagi masyarakat banyak. Pelestarian terhadap pusaka yang bukan elit dan kurang bernilai bagi masyarakat banyak akhirnya termarginalkan. Secara realistis memang ada penentuan prioritas dalam pelestarian pusaka. Namun, kini disadari pula bahwa pusaka budaya dalam masyarakat awam, bahkan dalam lingkup keluarga pun, memiliki nilai. Hal ini mungkin bermanfaat untuk memberikan pemahaman kepada kita mengenai sejarah dari sudut yang lain. Hal-hal keseharian yang tampaknya biasa sebenarnya juga merupakan potensi yang tidak bisa diremehkan.

Suatu pusaka, terutama dalam perwujudan arsitektur seperti kasus di atas, menurut Eko Prawoto, arsitek, memang seringkali berarti beban besar bagi pemeliharaan, Namun, sebenarnya bangunan lama menyimpan potensi besar jika pandai memanfaatkannya. Tapi ternyata, pemerintah pun sering melakukan pengabaian, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap pusaka budaya, baik yang telah dicagarbudayakan maupun (lebih-lebih/apalagi) yang belum/tidak dicagarbudayakan. Masyarakat pun setali tiga uang, bahkan cenderung lebih parah. Masyarakat yang memiliki pusaka budaya seperti bangunan lama sudah sangat terberatkan oleh besar biaya pemeliharaan yang harus dikeluarkan, belum lagi pajak yang juga menjadi kewajibannya. Status cagar budaya bagi bangunan lama yang dimiliki oleh masyarakat secara pribadi pun tidak memberi keringanan. Akibatnya, sering terjadi perombakan-perombakan yang sembrono, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, sehingga mengurangi potensi nilainya.

Memang dalam hal ini kita tidak bisa menyamakan begitu saja antara kewajiban masyarakat dan pemerintah. Dalam hal kepedulian dan usaha pelestarian terhadap suatu pusaka budaya, masyarakat cenderung mengalami ketidaktahuan, ketidakmauan (ketidakpedulian), dan ketidakpedulian. Sementara, pemerintah yang tahu, mampu, dan mau (peduli) sudah seharusnya mendidik dan membimbing masyarakat agar bisa tahu, mampu, dan mau (peduli) melalui berbagai instansinya yang berwenang, seperti BP3, Balai Arkeologi, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Ketidaktahuan bisa diatasi dengan berbagai program pendidikan masyarakat (public education), ketidakmampuan bisa diatasi dengan memberikan berbagai keringanan kepada anggota masyarakat yang memiliki BCB atau yang ingin melestarikan BCB secara mandiri, dan ketidakmauan dapat diatasi dengan memberikan pemahaman makna pelestarian secara lebih mendalam, terutama dari sisi manfaat yang nantinya bisa dinikmati oleh masyarakat sendiri. Kerjasama dengan anggota masyarakat, baik perorangan maupun dalam bentuk LSM, yang sudah tahu, mampu, dan mau dalam hal pelestarian pusaka budaya mutlak dilakukan pula. Hal ini menjadi penting mengingat selama ini ada sebagian anggota masyarakat yang sudah terbukti berhasil melakukan usaha-usaha pendidikan dan peningkatan pemahaman kelestarian pusaka dengan cara mereka sendiri. Hal ini bisa menjadi bantuan berharga bagi usaha serupa yang telah dilakukan oleh pemerintah karena usaha-usaha pendidikan pelestarian yang mereka lakukan masih cenderung kaku, ekslusif, dan masih terasa unsur birokratisnya, sehingga masyarakat masih sulit menerimanya secara utuh.

Memang, model kebijakan pelestarian yang selama ini telah dilakukan pun hendaknya mulai diubah. Orientasi pengelolaan pusaka budaya yang selama ini terlalu mengarah kepada negara sudah seharusnya diubah menjadi berorientasi kepada masyarakat. Dalam hal ini, pengelola pusaka budaya terutama dari pemerintah lebih berperan sebagai fasilitator bagi masyarakat dalam memaknai dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Peran sebagai mediator yang selalu memperhatikan manajemen konflik juga harus diutamakan. Keterlibatan masyarakat menjadi hal yang mutlak. Peran pemerintah terbatasi sebagai penjaga dan pengelola pusaka budaya saja karena pusaka itu bukan milik pemerintah, tetapi milik masyarakat. Pemerintah tidak bisa lagi secara semena-mena menjadi penentu nasib suatu pusaka. Daud A. Tanudirjo memberi istilah kepada peran pemerintah ini sebagai “abdi masyarakat”, bukan lagi “abdi negara”.

Tentu saja pelestarian harus dapat mengakomodasi kemungkinan perubahan, karena pelestarian harus diartikan sebagai upaya untuk memberikan makna baru bagi warisan budaya itu sendiri. Pada dasarnya, upaya pelestarian adalah upaya untuk mempertahankan pusaka dalam konteks sistem yang ada sekarang dengan memberikan makna baru bagi pusaka budaya itu sendiri. Jika tidak ada pemaknaan baru, hakekat pelestarian itu sendiri sulit atau kadang tidak akan tercapai karena pelestarian adalah upaya memberi makna baru dan dalam masyarakat yang pluralistik pemberian makna itu dapat beragam. Oleh karena itu, pelestarian pusaka budaya harus dapat dibicarakan bersama, dinegosiasikan, dan perlu disepakati pula melalui suatu dialog yang terbuka dan seimbang. Perbedaan pemberian makna suatu pusaka budaya harus sedapatnya dihargai dan diwadahi (Tanudirjo,1996;2002) dalam proses pengambilan keputusan yang demokratis. Mungkin hal itu bisa segera terasa ketika pada pertengahan Juli lalu tampak beberapa coretan grafiti yang berdampingan mesra dengan beberapa lembar poster kampanye calon presiden telah turut menghiasi ruang paling tak beradab yang ternyata bekas gardu listrik buatan Belanda di Kota Baru itu.

Tulisan ini telah dimuat di Majalah ARTEFAK Edisi XXVI/Agustus Tahun 2004
(diterbitkan oleh Himpunan Mahasiswa Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

2 thoughts on “Antara Dunia Lain dan Sangkar Burung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s