Belajar (Di)hukum di Sekolah

oye

Aku masih anak SMP yang begitu lugu. Senin pagi datang lagi, semua harus ikut upacara bendera atas nama nasionalisme (atau patriotisme?). Semua harus tertib dan sempurna. Saat upacara selesai, menyeruak Sang Guru sembari menyeret seorang siswa ke podium. Ia dimarahi di depan seluruh siswa karena tertangkap basah tidak ikut menundukkan kepala pada saat pembacaan doa. Hal itu melanggar aturan main upacara. Lho, Sang Guru kok bisa tahu? Nggak ikut menundukkan kepalakah ia?

Aku telah menjadi anak SMU yang juga masih lugu. Lagi-lagi Senin pagi datang dan semua harus ikut upacara. Usai upacara, Sang Guru menggelar razia. Bukan narkoba, sajam, atau VCD porno, tetapi sepatu. So, hampir separuh siswa didepak dari barisan akibat tidak memakai sepatu hitam. Aturan mainnya, semua harus seragam bak militer, sedangkan para guru boleh bergaya bak rombongan arisan.

Di sekolah kita belajar aturan main. Bahasa kerennya “hukum”. Tak usah pusing cari esensi hukum kasus-kasus tadi. Yang pasti, hukum itu dibuat untuk mengatur (atau memaksa) sekelompok orang agar terwujud keadaan tertib menurut hukum itu dan ada sanksi bagi pelanggarnya. Lantas, muncul adagium “semua orang kedudukannya sama di depan hukum”; benarkah itu? Faktanya, hukum malah terlalu sering jadi alat kekuasaan yang terpapar dalam berbagai aspek, misalnya orangtua terhadap anak, kepala sekolah terhadap murid, majikan terhadap para buruh, hingga negara terhadap rakyat. Pada skala negara, kekuasaan itu disebut kekuasaan politik.

Sebenarnya, pemegang kekuasaan politik hanyalah pemegang kewenangan dan salah jika justru menyengsarakan rakyatnya. Faktanya (lagi), tiap hari muncul banyak adegan yang melecehkan keadilan hukum. Seperti kasus di atas! Di sekolah pun tampak bagaimana hukum hanya berlaku bagi khalayak (murid), bukan para guru (elit). Anggaplah itu cuma hukum yang sepele. Tapi, itu kan HUKUM! Kalau tidak, buat apa ada hukum? Mengapa tidak ditegakkan?! Tertawa pun bisa dipenjara jika memang ada hukumnya. Jika orangtua melarang semua anggota keluarga nonton TV pada dini hari, tentunya Sang Bapak juga tidak bisa seenaknya nonton siaran langsung Liga Champion Eropa, kan?

Mungkin rasa toleransi kita terlalu tinggi. Apa yang terjadi dianggap hal kecil walaupun menurut hukum itu adalah pelanggaran. Kita dengan mudah memaafkannya. Ngga konsisten, kan! Belum lagi kalau ngomong dari kalangan mana si pelanggar hukum. Masyarakat biasa mudah dihukum. Jika ia bukan masyarakat biasa, menegur pelanggarannya pun sering tidak kita lakukan. Tiap hari di TV ada copet bengap-bengap dihajar massa. Namun, lihat bagaimana para penyidik masih menunduk segan kepada pejabat yang disangka korupsi trilyunan rupiah. Ketika ada penembakan terhadap para demonstran oleh aparat pun yang disidang adalah para kroco. Para perwira seakan bebas dari dosa. “Kesalahan prosedur di lapangan”, kata mereka. Mereka kan bukan orang lapangan.

Barangkali saja kita bisa hidup tanpa hukum, tetapi tiap manusia punya berbagai macam keinginan dan kadang cenderung memaksakan keinginannya kepada orang lain. So, hukum dibuat sebagai kesepakatan bersama agar tiap orang tahu hak dan kewajibannya. Jika sudah disepakati bersama, tinggal bagaimana hukum itu ditegakkan dan tiap orang sama kedudukannya. Menjadi penguasa bukan berarti bebas dari hukum dan tidak bisa pula menerapkan hukum secara sewenang-wenang.

Memang hukum itu bisa sepihak. Masalahnya akan lain jika menyangkut apakah isi hukum itu sesuai dengan keinginan semua pihak atau tidak. Yah, kita tidak tahu apakah ketika pengibaran bendera, para siswa peserta upacara yang melakukan gerak hormat itu benar-benar menghormati bendera nasional ataukah hanya menutupi mata karena silau terkena sinar matahari pagi.

Elanto Wijoyono

Tulisan ini telah dimuat dalam Majalah “Space Magz (Enviro Design Research) — Tema: Sangat Hari Senin!” Volume 01/Oktober 2005 Halaman 1 – 3
(majalah independen yang diterbitkan oleh Tim Redaksi Space Magz FSMR ISI Yogyakarta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s