Geliat Kerajinan Batik Imogiri Pascagempa

Masih pagi, jarum jam belum lagi menunjuk ke angka sembilan. Sekitar tiga puluh orang perempuan duduk melingkar dalam beberapa kelompok saling membelakangi satu sama lain, masing-masing menghadap ke selembar kain mori putih yang belum penuh dengan motif. Sesekali mereka membalikkan badan mencelupkan canting ke dalam wajan berisi malam (lilin untuk membatik) cair yang diletakkan di atas kompor kecil di tengah mereka. Obrolan ringan mengalir sesekali mewarnai suasana di dalam gubug panjang di tepi jalan menuju kompleks makam kerajaan di Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Semua yang membatik di tempat itu adalah perempuan dan sebagian besar sudah separuh baya. Hanya tampak tiga orang berusia muda yang turut membatik. Mereka belum lama lulus sekolah menengah atas. Memang umumnya anak-anak muda di kawasan Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta sudah enggan melanjutkan usaha membatik seperti yang sudah dilakukan oleh keluarga mereka secara turun-temurun. Walaupun batik Imogiri sudah dikenal luas hingga mancanegara, tetapi kondisi di tempat asal batik itu dibuat cukup mengkhawatirkan. Para perajin sendiri khawatir begitu generasi pembatik yang aktif saat ini sudah berlalu maka tradisi batik Imogiri pun akan surut dan kemudian punah.

“Memang di sekolah-sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah di Imogiri ada pelajaran membatik, tapi ya cuma dasar-dasarnya saja”, ujar Ibu Sumarman (53), seorang perajin batik yang mengaku sudah biasa membatik sejak dirinya duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. “Tapi ya cuma untuk sekedar tahu saja, setelah itu tidak banyak juga anak-anak muda yang serius ingin membatik”, lanjutnya. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menjadi bekerja di kota atau pekerjaan lain, tetapi bukan perajin batik.

Proses pembuatan batik yang cukup lama dan memerlukan modal yang tidak sedikit membuat tidak banyak orang yang sanggup menekuni usaha ini. Kebanyakan warga Desa Wukirsari dan Girirejo di Imogiri pun sekedar menjadi buruh pembatik. Mereka mengambil kain dari pengusaha batik (juragan batik) dan mengerjakan proses pembatikan di rumah masing-masing. Proses yang mereka kerjakan hanya nyerat (membatik pola dengan malam). Setelah itu mereka jual kain itu ke pengusaha batik seharga rata-rata Rp 75.000 selembarnya, tergantung kerumitan motif yang dibatik. Pengusaha batik itu nantinya yang akan melanjutkan proses berikutnya, yakni pencelupan hingga jadi kain batik yang siap pakai. Biaya celup satu lembar kain rata-rata Rp 100.000 dan hingga saat ini pengusaha batik Imogiri belum bisa melakukannya sendiri. Mereka harus membawanya ke tempat pencelupan batik di kota Yogyakarta. Wajar jika harga selembar kain batik rata-rata mencapai ratusan ribu rupiah.

Ibu Sumarman

“Proses membatik saja pun tidak singkat. Membatik satu lembar kain berukuran sekitar 1 meter x 2,5 meter bisa baru diselesaikan antara dua minggu hingga dua bulan, tergantung kerumitan motif,” lanjut Ibu Sumarman, “dengan waktu yang lama dan pendapatan yang tak seberapa itu membuat semakin sedikit orang yang tertarik menjadi perajin batik.” Sementara, pengusaha batik yang memburuhkan kain kosong untuk dibatik perajin dan menjualnya setelah jadi pun menghadapi kendala yang tak kalah rumit. Selain modal besar, diperlukan pula ketekunan. Saat ini hanya ada dua pengusaha batik di Imogiri, yaitu usaha yang dikelola oleh Ibu Sarjuni dan Ibu Sumarman.

Merunut kejayaan batik Imogiri

Asal usul tradisi batik di wilayah Yogyakarta dimulai sejak masa kerajaan Mataram Islam pada paruh keempat abad 16 yang pusatnya terletak di seputaran kawasan Kotagede dan Plered. Namun, masih terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita abdi dalem. Pada perkembangannya, tradisi batik meluas ke kalangan kraton lainnya, yakni istri para abdi dalem dan prajurit. Ketika rakyat mengetahui keberadaan kain bercorak indah tersebut, lambat laun mereka menirunya dan tradisi batik pun mulai tersebar di masyarakat. Desa-desa yang berdekatan dengan makam raja-raja Imogiri ini, lebih dari seabad lalu memiliki perempuan perajin batik yang andal. Berdasarkan buku Out Of Indonesia, Collaborations of Brahma Tirta Sari, tingginya kebutuhan kalangan keraton akan busana-busana upacara berupa batik tulis buatan tangan membuat sentra kerajinan ini terus berkembang pesat (Kompas, 1 November 2005).

Usaha batik Imogiri yang tradisinya sudah berjalan sejak lebih dari seabad lalu berkembang makin pesat pada tahun 1960 – 1970 an. Bahkan, hingga awal tahun 2002 pun masih cukup banyak wisatawan yang datang dan memenuhi sentra-sentra batik yang tersebar di Desa Wukirsari dan Desa Girirejo. Usaha melestarikan dan memasarkan potensi batik ini tetap berlangsung hingga pada bulan Maret 2004 diresmikanlah Museum Lingkungan Batik Ciptowening Imogiri – Bantul oleh Gubernur D.I. Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Keberadaan museum yang didukung penuh oleh pemerintah daerah ini diharapkan bisa meningkatkan taraf kehidupan perajin dan menumbuhkan motivasi generasi muda untuk belajar membatik. Setidaknya ratusan koleksi batik kuno asal Bantul dan Yogyakarta terpajang di sini. Terdapat pula showroom untuk menampung batik hasil karya perajin batik Bantul yang dijual untuk umum.

Namun, memasuki tahun 2005 hingga 2006, terutama setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), usaha kerajinan batik ini semakin menurun. Harga bahan baku batik tulis pun mengalami kenaikan. Harga kain mori yang sebelumnya di bawah Rp 25.000 naik menjadi Rp 30.000 per lembar. Harga malam (lilin) juga mengalami kenaikan dari sekitar Rp 6.000-an/Kg menjadi Rp 8.000-an/Kg. Ibu Sarjuni, pengusaha batik di Imogiri yang masih bertahan hingga kini, mengaku tidak bisa menaikkan harga jual batik tulis produksinya karena dikhawatirkan bisa merusak pasar, yang selain melayani pasar lokal D.I. Yogyakarta juga melayani pasar luar negeri, terutama Jepang. Menantu legenda batik Imogiri R. Ngt. Ny. Jogopertiwi yang meneruskan usaha keluarga sejak tahun 2002 ini mengungkapkan bahwa harga jual rata-rata batik tulis Imogiri tetap bertahan pada kisaran Rp 100.000-an hingga Rp 300.000-an/lembar. Harga ratusan ribu itu terasa tidak terlalu besar mengingat lama produksi selembar kain batik bisa mencapai beberapa minggu, tergantung motif dan pewarnaannya.

Mengangkat kembali batik Imogiri pascagempa

Gempa bumi yang meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Kabupaten Bantul pada hari Sabtu pagi, 27 Mei 2006 yang lalu tak pelak membuat usaha kerajinan batik Imogiri yang sudah mati suri itu terancam semakin terpuruk. Dari data Bakornas (Juni 2006), tercatat dari sejumlah 15.258 Kepala Keluarga (KK) di Kecamatan Imogiri, 72,2% KK rumahnya rusak berat akibat gempa. Sebanyak 11.018 rumah diantaranya rusak berat atau hancur. Data Satkorlak D.I. Yogyakarta per 10 Juni 2006 mencatat pula korban jiwa sebanyak 318 orang di kecamatan ini.

Namun begitu, justru setelah tragedi gempa bumi terjadi, perhatian untuk kembali mengangkat usaha kerajinan batik Imogiri mendapatkan momentumnya. Adalah Ir. Dra. Larasati Suliantoro Sulaiman, Ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia “Sekar Jagad”, yang langsung segera mengusahakan agar para perajin batik bisa kembali bekerja begitu setelah peristiwa gempa terjadi. Dalam waktu seminggu setelah gempa, perempuan berusia 72 tahun yang akrab dipanggil Ibu Suli ini berhasil menghimpun beberapa perajin batik untuk kembali menggiatkan usaha batik. Mulai dari hanya diikuti oleh delapan orang perajin pada minggu pertama, pada akhir Juli 2006 sudah sekitar 40 orang perajin turut membatik dalam sebuah kerangka program revitalisasi batik Imogiri pascagempa. Di sini mereka bekerja mulai dari pukul 8 pagi hingga pukul 2 siang dengan sistem upah sebesar Rp 7.500 per hari bagi pembatik serba bisa dan Rp 5.000 per hari bagi pembatik biasa.

Ibu Suli tak hanya berupaya menghimpun para perajin batik di Imogiri, tetapi juga berupaya menghimpun dukungan dari berbagai pihak, baik lembaga maupun perseorangan, untuk menghidupkan kembali batik Imogiri. Terhitung selain Paguyuban Pecinta Batik “Sekar Jagad” yang beliau pimpin, Jogja Heritage Society, Yayasan Batik Indonesia, Yayasan Losari, Center for Heritage Conservation Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (CHC JUTA FT-UGM) Yogyakarta, Indonesia Heritage Trust, Mayasari Indonesia, Nila Jogja, serta Institut Pertanian (Intan) Yogyakarta bersama-sama menggelar sebuah program bertajuk “Revitalisasi Kerajinan Batik di Imogiri” yang merupakan salah satu bagian dari program “Bangkitkan Kembali Pusaka Rakyat Jogja”. Kegiatan utama yang dilakukan adalah pendataan profil perajin dan batik Bantulan, kegiatan membatik, dan pasar tiban batik, serta workshop batik bagi masyarakat umum. Seluruh rangkaian kegiatan itu dipusatkan di sebuah gubug sederhana bekas rumah makan di Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Imogiri, Bantul. Untuk sementara, pasar tiban batik ini diharapkan bisa menjadi museum batik pengganti Museum Lingkungan Batik Ciptowening yang rusak berat akibat gempa. Di sini sudah disediakan kain dan perlengkapan membatik, sehingga para perajin itu tinggal datang dan membatik.

showroom pasar tiban Ibu Suliantoro

“Sebenarnya ada beberapa daerah lain yang juga coba dibangkitkan usaha kerajinannya selain Imogiri, seperti di Pandak, Jetis, dan Tanggep di Gunungkidul. Setiap wilayah ada penanggungjawabnya dan saya mendapatkan tugas untuk mendampingi usaha di Imogiri ini,” jelas Ibu Suli. Menurutnya, program ini bertujuan agar usaha kerajinan batik di Imogiri tetap berjalan. Beliau mengaku paling tidak hingga akhir Juli 2006 ini omset penjualan batik dalam pengungsian ini sudah mencapai angka Rp 50 juta. Para pembeli datang langsung ke lokasi workshop ini. Selain itu, program ini juga bertujuan agar proses pewarnaan batik (pencelupan) di Imogiri bisa berkembang mandiri. Selama ini, proses pencelupan tidak bisa dilakukan sendiri. Untuk itu, digelar pula kelas pewarnaan alam yang bisa diikuti oleh para perajin batik dan masyarakat umum untuk mengetahui jenis-jenis tanaman yang bisa digunakan untuk pewarnaan batik dan teknik pencelupan alami. Kelas ini didampingi oleh beberapa staf dari Intan Yogyakarta.

”Kebetulan saya turut merintis pendirian Museum Batik Ciptowening dan sebagai pecinta batik sudah sejak lebih dari 50 tahun yang lalu memiliki hubungan baik dengan para perajin batik di sini,” lanjut perempuan yang juga Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Intan Yogyakarta ini. Program ini beliau ancangkan selama tiga bulan sembari mengusahakan proses perbaikan Museum Lingkungan Batik Ciptowening yang akan dibantu oleh Yayasan Losari mulai Agustus 2006 ini. Rencananya, jika nanti Museum Ciptowening sudah bisa kembali buka, area workshop yang dipakai saat ini akan tetap dijadikan sebagai objek wisata batik. “Memang banyak orang suka batik, tetapi jarang ada yang mau memikirkan bagaimana cara melestarikan apalagi mengembangkannya,” kata penerima penghargaan Kalpataru tingkat nasional tahun 1996 ini lebih lanjut.

Membuka lembar baru perajin batik tulis

Walaupun kondisi usaha masih cukup berat, tetapi para perajin batik di Imogiri tetap optimis dalam menjalani profesi ini. Selain bekerja di workshop yang diadakan Ibu Suli, beberapa dari mereka masih mengerjakan order batik di rumah masing-masing. Hal ini mereka lalukan karena upah yang mereka terima dari Ibu Suli adalah standard minimum, sekitar Rp 35.000 per minggu walaupun dapat makan siang dan tanpa harus menyiapkan peralatan membatik sendiri. Jika dibandingkan dengan upah yang biasa mereka terima sebelumnya sebesar antara Rp 50.000 – Rp 100.000 per lembar kain yang mereka selesaikan dalam seminggu memang cukup mencolok. Namun, keikutsertaan mereka di workshop batik Ibu Suli ini paling tidak menjadi langkah awal bagi mereka untuk kembali memulai kegiatan membatik setelah sempat terhenti akibat gempa bumi.

Para perajin itu sendiri sebenarnya merasa lebih nyaman bekerja di rumah karena sebagai ibu rumah tangga biasanya membatik sambil mengurus pekerjaan rumah tangga. Mereka mengambil kain dari Ibu Sarjuni. Ibu Sarjuni sendiri mengakui modal usaha pascagempa ini masih sangat susah didapat, apalagi beberapa barang produksi miliknya dan milik para perajin ada yang rusak akibat gempa. Namun, kondisi pasar yang selama ini sudah terbentuk tidak mengalami banyak perubahan. “Setelah gempa cukup banyak juga masyarakat yang datang membeli batik sebagai wujud kepedulian,” kata Ibu Sarjuni. Dia sendiri mengaku sudah menerima komitmen bantuan dari luar negeri, antara lain dari Jepang dan Belanda.

Jika ditengok kembali, usaha kerajinan batik Imogiri memang memiliki prospek yang cukup bagus untuk dikembangkan. Di sini ada cukup banyak sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan membatik secara turun-temurun. Mereka pada dasarnya memang suka membatik dan memiliki minat untuk mengembangkan diri, misalnya ingin belajar pewarnaan atau melakukan eksplorasi membatik dengan media selain kain. Tingkat kreativitas para perajin itu didukung oleh sikap berpikiran positif. Secara umum, para perajin tidak mengeluhkan kondisi mereka pascagempa. Selain itu, mereka juga memiliki tingkat produktivitas yang cukup tinggi. Tim survei dari CHC JUTA FT-UGM mencatat dalam 20 hari, masing-masing pembatik yang bekerja di workshop Ibu Suli dapat menghasilkan tujuh lembar kain batik.

Namun, di balik itu tetap ada beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam mengembangkan kerajinan batik, terutama kurangnya minat generasi muda untuk menggeluti usaha kerajinan batik. Penghasilan dari usaha ini yang tidak memadai dan tidak cepat membuat para pemuda lebih tertarik untuk bekerja di kota. Selain masalah tenaga kerja muda, masalah modal dan pemasaran juga menjadi masalah utama. Modal kerajinan yang berjalan saat ini praktis hanya dimiliki oleh pengusaha batik yang mengadakan kain, sedangkan para perajinnya sama sekali tak memiliki modal selain tenaga membatik. Setelah karya batik selesai pun tidak diikuti oleh strategi pemasaran yang kuat. Kebanyakan batik yang dijual pun masih setengah selesai, yaitu hanya sampai proses nyerat (membuat motif). Proses selanjutnya tergantung pada para pengumpul atau para pengusaha batik yang bisa menyelesaikan prosesnya hingga menjadi batik siap pakai/jual. Salah satu hal yang jarang mendapatkan pengamatan adalah kemampuan branding batik Imogiri. Menurut Ibu Suli, motif batik Imogiri bukan motif yang biasa dipakai oleh priyayi (bangsawan), sehingga harganya lebih rendah daripada batik bermotif Yogyakarta atau Surakarta. Padahal, kualitas kehalusan kain batik Imogiri setara. Dengan kata lain, masyarakat konsumen batik pun masih belum memiliki apresiasi yang cukup terhadap batik Imogiri.

Elanto Wijoyono

Tulisan ini telah dimuat di Buletin KOMBINASI Edisi 16/Juni 2006 Halaman 20-21
(diterbitkan oleh COMBINE Resource Institution, Yogyakarta)

21 thoughts on “Geliat Kerajinan Batik Imogiri Pascagempa

  1. pipin endah

    Retrospeksi IWAN TIRTA (Tanding Gending)
    (Sebuah retospeksi batik klasik dipersemahkan melalui pergelaran opera Klasik Jawa).

    Batik merupakan salah satu karya agung budaya Indonesia yang telah hidup dan berkembang selama ratusan tahun. Kehidupan batik di tengah kebudayaan Indonesia kian hari kian berkembang seiring dengan perkembangan kehidupan kebudayaan Indonesia.

    Pada tanggal 07 Desember 2006, bertempat di Grand Ballroom The Dharmawangsa, GELAR menggelar keagungan batik Indonesia. Melalui sebuah ‘Opera Jawa’ bertajuk TANDING GENDHING, GELAR mempergelarkan karya Batik Klasik Maestro Batik Indonesia, Iwan Tirta. Pentas tersebut telah meraih sukses luar biasa dengan dihadiri oleh para pecinta budaya tradisi Nusantara dan dukungan media yang sangat tinggi.

    Melanjutkan kesuksesan tersebut, bersama dengan Iwan Tirta – GELAR bermaksud untuk kembali menampilkan program ini ke khalayak yang lebih luas. Di bulan Agustus mendatang, GELAR merencanakan untuk menampilkan karya ini di Solo, Yogya, Surabaya, Jakarta dan Cirebon. Dengan format pergelaran yang sama pula dalam kurun waktu tahun 2007 dan 2008, karya ini akan menginjak pentas dunia dalam tour keliling Asia, Eropa, Australia dan terakhir Amerika.

    Di Yogyakarta acara akan dimulai pada:
    Tanggal 10 Agustus 2007, yaitu Community Involvement – Cultural & Nation: “Workshop & Bincang-bincang santai bersama Iwan Tirta”
    Tanggal 10 – 12 Agustus 2007, yaitu Special Excursion: A Cultural trip with Iwan Tirta & Majalah Tamasya.
    Tanggal 11 Agustus 2007, Meet & Greet: Retrospeksi iwan Tirta “Tanding Gending, Pergelaran Opera Klasik Jawa Opening Act: Srimpi Klasik “Sangupati”.
    Lokasi: Benteng Vredeburg, Pukul 19.30 WIB
    Tiket: VIP Rp. 100.000,00 festival Rp. 50.000 (masing-masing mendapatkan buku program)

    Untuk Informasi dan reservasi lebih lanjut,
    Hubungi Ground Handling Jogja: Pipin Endah, Majalah Gong, Jl. Mutiara GK III/151 (H73) 55222, Telp: 08122742458 atau 0274 – 7865826. telp/ Fax: 0274 – 547853.
    Email: pienendah@yahoo.com atau pipin@gong.tikar.or.id

    NB: Untuk proposal kegiatan dan sponsorship silahkan mereply email yang berisi kontak, telp dan alamat lengkap.

    Regards…

    Reply
  2. noor fitrihana

    Batik Indonesia perlu dilestarikan dan diinternasionalkan. jangan sampai dicuri oleh negara lain. Motif-motif batik Indonesia harus bisa mewarnai dunia baik di kain, batu, kayu, besi dan media lain. Batik juga perlu dimasukkan dalam muatan lokal kurikulum sekolah khusudnys di jateng -DIY

    Reply
  3. Wooden Batik of Java

    Dear all, saya salah satu orang Jawa yang baru saja jatuh cinta dengan batik. Dan sejak bulan maret, saya sudah punya blog khusus untuk batik. Awalnya diset untuk wooden batik, tapi seiring waktu, saya juga kepincut sama batik kain, apalagi rumah&furnitur store saya cuma -+4km diutara desa pajimatan. Saya tinggal di Jetis. Selama ini saya ambil batik dari pandak, malah belum pernah coba ke pajimatan.. Weks,besok saya harus kesana..

    Reply
  4. elanto wijoyono Post author

    Anda punya koleksi karya batik dan data yang cukup lengkap. Jika berkunjung ke Imogiri, Anda bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan para perajin di sana. Salah satu yang paling utama dan diperlukan adalah masalah strategi pemasaran. Bersama-sama melestarikan batik dan mengembangkan industrinya tentu jadi upaya yang sangat baik untuk dilakukan.

    Salam,

    Reply
  5. elanto wijoyono Post author

    Dear Mery

    Teman kita yg memberi komentar di atas mengembangkan sebuah weblog mengenai batik yang menyediakan layanan online juga. SIla kunjungi http://www.woodbatikofjava.blogspot.com atau http://trulyjava.com/

    Jika ingin mengakses informasi mengenai dan pemesanan batik tulis Girilaya, Imogiri, bisa menghubungi beberapa kontak di bawah ini (tapi via telepon):
    Sido Mukti: +62 274 – 7018 580 (Ahyar), +62 819 0416 1621 (Daimatul)
    Sekar Arum: +62 813 2884 0548 (Widi), +62 817 5475 794 (Nur Ahmadi)
    Sekar Kedhaton: +62 813 2862 8227 (Jazir), +62 818 270 268 (Sun’an)
    Sungging Tumpuk: +62 817 0414 150 (Tyo), +62 852 9290 8134 (Amiroh)

    atau ke Jogja Heritage Society
    Jl. Surokarsan No. 24 Yogyakarta
    Telp.: +62 274 375 758
    e-mail: jogjapusaka@yahoo.com

    Semoga bermanfaat,

    elantowow😉

    Reply
  6. danar

    mas ak minta fotona bu suliantoro ya….buat bahan tulisan perihal diakuinya batik tulis sebagai warisan dunia
    thx u

    Reply
  7. Dwi Alamsyah

    ingin sekali belajar membatik, kira2 ada tempat kursus membatik nggak ya di jogja? kalo ada di daerah mana? terimakasih

    Reply
  8. Pingback: Penyelamatan Pusaka Pascabencana « tak beranjak mencari celah ke langit

  9. tulus

    joy…
    tulisanmu ada yang aku kutip…untuk bikin report tentang perkembangan batik pasca gempa di imogiri…sebagai bahan presentasi dengan himpunan wastrapena.

    matur nuwun.

    Reply
  10. carla wardani

    thanks yaa buat artikel ttg batik …bagus bgt . saya sebagai org jogya yg lahir d jkt
    kpn pengen mampir k imogiri tempat pengrajin batik …krn selama ini klo k jog hanya holiday …
    ok,semoga sukses !

    Reply
  11. Pingback: Pusaka Yogyakarta dan Sekitarnya « tak beranjak mencari celah ke langit

  12. Pingback: Dinamika Pembangunan Kawasan di Yogyakarta; Peluang atau Ancaman « tak beranjak mencari celah ke langit

  13. Pingback: Potensi Ancaman Bencana di Yogyakarta dan Sekitarnya « tak beranjak mencari celah ke langit

  14. christina rochayanti

    bagus batik sekarang ini, namun pembatiknya juga harus diperhatikan kesejahteraannya. Tujuan membuat batik dengan motif tertentu sebenarnya ada makna yangingin disampaikan kepada si pemakainya. Saya bermaksud memberikan pengertian makna batik kepada mhs. tetapi kalau saya sendiri kurang lengkap pengetahuan saya oelh sebab itu saya harus mencari orang mengetahui batik itu sendiri.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s