Taman Sari “Baru”, (Mencoba) Bukan Sekedar Polesan

Beberapa tahun terakhir tampak kesibukan mewarnai kompleks Taman Sari Kraton Yogyakarta. Para wisatawan yang datang berkunjung kadangkala harus rela melangkahi tumpukan material atau melewatkan beberapa bagian situs yang ditutup. Beberapa waktu berlangsung, kompleks bangunan pesanggrahan di area kraton itu menjelma menjadi sebuah bangunan yang tampak berbeda. Tidak tampak lagi garis retakan dan warna kusam akibat tumbuhnya lumut di dinding bangunan Taman Sari. Nuansa baru, bersih, dan bercahaya muncul menggantikan nuansa kuno, kumuh, dan suram.

Selama ini kompleks situs Taman Sari memang tampak begitu suram sebagai akibat dari pengaruh iklim dan cuaca (alam) yang menerpa tubuh bangunan-bangunan tua itu setiap hari. Pada sisi luar bangunan terjadi pelapukan fisik akibat pengaruh iklim dan perubahan cuaca. Sementara, dinding bangunan sendiri tidak mendapatkan perlakuan secara kimiawi sebagai upaya perlindungan dari pengaruh luar (alam). Pelumutan pada dinding bangunan muncul dengan mudah yang disebabkan oleh tingginya tingkat kelembaban. Hal ini dikarenakan level bangunan situs yang berada di bawah tanah, sehingga air tanah bisa masuk ke konstruksi bangunan secara kapiler. Banjir pun sering mewarnai kompleks situs ini akibat sudah tidak berfungsinya lagi sistem drainase lama, sehingga tidak mampu lagi menampung kapasitas aliran air hujan.

Mengalami kondisi seperti itu, Taman Sari tidak didiamkan begitu saja. Selama ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta (dulu Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala/SPSP Yogyakarta) bersama dinas-dinas terkait, seperti Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dan Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah Yogyakarta merupakan pihak-pihak yang berwenang melakukan penanganan. Penanganan yang dilakukan selama ini antara lain melakukan pemlesteran dan pengacian kembali bangunan-bangunan yang sudah lapuk dengan semen. Bangunan-bangunan dengan tingkat kerusakan tinggi diberi perkuatan-perkuatan. Upaya memerangi tumbuhnya lumut dilakukan dengan pembersihan secara mekanis, dengan disikat, dan pembersihan secara kimia dengan pemberian zat kimia anti lumut. Sementara, untuk menangani banjir di area kompleks situs dibuatlah sumur-sumur resapan dan melakukan pembersihan saluran drainase yang masih berfungsi.

Kompleks Taman Sari ini sudah tidak lagi berfungsi sejak paruh kedua abad XIX dan semakin merana sejak terjadi gempa bumi besar pada tahun 1867 di Yogyakarta yang turut menghancurkan beberapa bangunan dan mengeringkan kolam-kolam serta danau buatannya. Seiring dengan berjalannya waktu, orang-orang mulai berdatangan dan mendirikan pemukiman di gedung-gedung yang telah kosong dan area bekas danau yang telah mengering. Selama lebih dari satu abad, kompleks bangunan tua ini dibiarkan terkikis oleh erosi akibat pengaruh alam. Pada tahun 1970 muncul rencana untuk membuka Taman Sari sebagai objek wisata. Pada saat itu ada lima bangunan yang direstorasi, sedangkan bangunan-bangunan lainnya masih tetap dalam kondisinya yang bermasalah.

************
Sejak tanggal 12 Januari 2004 dimulailah pekerjaan rehabilitasi Taman Sari. Pekerjaan yang diharapkan selesai pada tanggal 21 Agustus 2004 ini dilaksanakan atas kerjasama antara Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (dalam hal ini Dinas Kebudayaan), Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada (PSLH UGM), BP3 Yogyakarta, dan Calouste Gulbenkian Foundation dari Portugal. Pekerjaan yang didanai oleh Pemerintah Daerah (Pemda) D.I. Yogyakarta dan Calouste Gulbenkian ini disebut sebagai pekerjaan Tahap I yang memiliki target untuk mengembalikan air pada tiga buah kolam di kompleks umbul Taman Sari sekaligus perencanaan dewatering system serta perencanaan sistem pencahayaan yang baik untuk menunjang berbagai aktivitas yang nantinya akan berlangsung di area ini.

Pekerjaan Paket I ini kemudian diteruskan dengan pekerjaan Paket II yang didanai oleh World Monument Fund (WMF) yang berkedudukan di New York, Amerika Serikat. Pekerjaan Paket II meliputi renovasi Gedong Temanten, Gedong Pangunjukan, Gapura Panggung, Gedong Sekawan, dan Gapura Agung beserta halamannya. Selain itu, juga akan dilakukan penataan taman/landscape, lighting, dan drainase. Jogja Heritage Society (JHS) yang menjadi koordinator proyek sejak Tahap I berkerjasama dengan BP3 Yogyakarta dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan teknis-arkeologis, Institut Pertanian (Intan) dalam masalah perancangan dan pelaksanaan penataan taman/landscape, PT Perwita Karya dalam pelaksanaan pekerjaan renovasi, dan berbagai pihak lain termasuk masyarakat setempat dalam masalah perancangan kegiatan-kegiatan di Taman Sari.

Pelaksanaan proyek yang bertajuk “Renovasi dan Reaktivasi Taman Sari” ini didahului dengan suatu studi pendahuluan, demikian papar Dyah Arnawati, staf JHS yang bertanggungjawab mengawasi jalannya proyek ini. Dalam tahap ini dilakukan proses identifikasi untuk mengetahui kondisi bangunan-bangunan yang ada, yang kemudian dijadikan dasar penentuan strategi konservasi yang akan dilakukan. Selain itu, pada beberapa bagian situs dilakukan ekskavasi oleh BP 3 Yogyakarta untuk mengetahui keaslian situs, level bangunan, dan mencari kemungkinan ditemukannya temuan baru.

*********************

Seluruh bangunan di kompleks situs Taman Sari berada di tempat terbuka dan bersentuhan langsung dengan kondisi alam tropis. Panas, hujan, air tanah, hingga lumut adalah cobaan yang harus ditanggung oleh bangunan-bangunan di alam tropis, tak terkecuali bangunan-bangunan kuno di Taman Sari itu. Dalam proyek ini dilakukanlah perlakuan yang berbeda dari sebelumnya terhadap bangunan-bangunan di Taman Sari. Pertumbuhan lumut coba ditanggulangi dengan perlakuan, baik secara kemis maupun mekanis. Perlakuan mekanis dilakukan seperti biasa, yakni dengan disikat. Sementara, perlakuan secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan bahan kimia yang direkomendasikan oleh Balai Studi dan Konservasi Candi Borobudur. Bahan kimia ini bersifat water repelent dan ketika sudah dipakai terhadap bangunan, pori-pori dinding bangunan masih bisa “bernafas”. Berbeda dengan bahan kimia yang bersifat water proofing, yang menutup pori-pori dinding 100%, sehingga dinding tidak bisa “bernafas”.

Memang kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bangunan-bangunan di Taman Sari ini sudah berusia ratusan tahun dan memiliki porositas yang tinggi. Otomatis bangunan tersebut memiliki tingkat kelembaban yang tinggi di dalam dindingnya. Jika dalam proses ini diberlakukan pemakaian water proof maka air di dalam dinding bangunan tidak bisa keluar. Padahal kapilarisasi air tanah yang naik dan masuk ke dinding bangunan tetap terjadi. Maka, dengan pemakaian bahan bersifat water repelent memungkinkan air di dalam dinding tetap bisa keluar dan air dari luar dinding bisa tersaring sebanyak 80%. Menurut M. Nurcholil Affandi, Manajer Project Management Service Renovasi dan Reaktivasi Taman Sari, bahan water proof hanya digunakan di pondasi untuk menghambat air tanah naik ke atas (dinding bangunan).

Strategi lain juga dilakukan dalam upaya untuk mengatasi limpahan air hujan yang seringkali membanjiri kompleks Taman Sari. Untuk itu, dibuatlah sistem drainase baru berupa gorong-gorong saluran air, pipa-pipa rembesan, bak-bak peresapan air hujan, dan peresapan-peresapan air hujan. Sementara, sanitasi kolam di kompleks umbul dibuat dengan sistem pompa pengendali banjir. Jika air kolam meluap karena hujan, secara otomatis pompa akan bekerja menyedot kelebihan debit air dan kemudian akan dialirkan ke saluran drainase. Sementara, di bagian Sumur Gumuling yang atapnya sudah runtuh ditutup dengan konstruksi atap fiber berwarna biru agar air hujan tidak lagi masuk ke dalam bangunan.

********************

Dinding beberapa bangunan di kompleks Taman Sari saat ini muncul dalam penampilan yang berbeda dari beberapa tahun yang lalu, lebih bersih dan berwarna krem. Ada apa gerangan? Ternyata hal ini terjadi setelah dilakukan pemakaian plester dan pengacian dengan campuran tertentu yang diterapkan pada dinding bangunan-bangunan di Taman Sari. Campuran itu bernama bligon. Pemakaian bligon ini didasarkan pada konsep mengembalikan Taman Sari ke wujud aslinya. Setelah dilakukan identifikasi dalam studi pendahuluan, disimpulkan bahwa materi asli bangunan-bangunan di kompleks Taman Sari adalah bligon. Bligon ini merupakan materi traditional coating yang terdiri dari campuran pasir, kapur, dan semen merah dengan perbandingan 1:1:2 untuk bahan plester serta kapur dan semen merah dengan perbandingan 1:1. Semen merah di sini merupakan hasil tumbukan bata merah, sedangkan kapur yang digunakan adalah gamping. Semua plester/aci akan diubah menjadi bligon tanpa PC ini, termasuk pada pot-pot bunga, kecuali pada dinding dan dasar kolam yang menggunakan campuran trassam dan beton bertulang.

Secara teknis, bligon memang kalah kuat dengan semen. Penggunaan semen pada bangunan memang bisa membuat bangunan mempunyai daya tahan yang lebih lama. Namun, dengan pemakaian bligon, bangunan akan lebih memiliki karakter tersendiri, baik dari segi estetika maupun teknis. Selain itu, pada zaman dahulu orang tidak mendirikan bangunan dengan menggunakan semen, tetapi bligon. Jadi, tergantung pada konsep renovasi yang dilakukan, berusaha memakai material asli atau tidak. Dalam hal ini, pemakaian semen dilakukan lebih untuk upaya memperkuat konstruksi bangunan saja. Bligon sendiri bisa cukup kuat secara teknis, tetapi memang proses keringnya cukup lama pula. Melihat perkembangan itu, tim perencana renovasi Taman Sari akan melakukan penelitian tentang bligon secara lebih detil lagi.

Bligon yang dipakai pada dinding bangunan-bangunan di Taman Sari itu memunculkan warna coklat muda. Warna yang tampak menyolok ini tetap dipertahankan dengan alasan bahwa pada zaman dahulu orang tidak mengenal cat. Warna yang muncul adalah warna asli material bangunan. Jadi, material bligon tidak difinishing dengan cat. Namun, pada beberapa bagian dinding, warna coklat muda itu diperoleh dari pengecatan. Menurut Dyah Arnawati, hal ini dilakukan karena ada beberapa bagian dinding yang konstruksinya masih kuat dan tidak dikupas lapisannya, sehingga tidak diplester dengan menggunakan bligon. Untuk menghindari warna dinding yang tidak sama maka dilakukan pengecatan dengan cat dinding yang berwarna sama dengan warna bligon tersebut. Penggunaan cat ini pun bisa sekaligus menjadi semacam lapisan pelindung (wall protection) dinding bangunan terhadap terpaan cuaca.

Sementara, pada bagian dalam dinding dilakukan juga perlakuan untuk memperkuat konstruksi bangunan. Perkuatan dengan konstruksi baja dilakukan pada bangunan-bangunan yang mengalami kerusakan berat di kompleks Umbul Binangun, sedangkan kerusakan konstruksi yang tidak terlalu berat diperkuat dengan menggunakan konstruksi dari kayu. Untuk bangunan Sumur Gumuling, yang pekerjaan renovasinya dilakukan oleh kontraktor yang berbeda, konstruksinya diperkuat dengan kolom-kolom baja dan baja tarik. Kompleks bangunan lain, seperti kompleks Ledok Sari hanya diperkuat dengan menggunakan semen. Sementara, bangunan besar Pulo Kenanga belum pernah mengalami rehabilitasi penguatan konstruksi apa pun.

Unsur-unsur bangunan yang terbuat dari kayu, seperti kusen dan daun pintu serta jendela, juga tak luput dari penanganan. Perlakuan yang diterapkan adalah pengawetan dengan cara tradisional, yakni dengan mengoleskan air campuran tembakau, gedebog (batang pohon pisang), dan cengkeh pada kusen dan daun pintu atau jendela. Campuran tradisional tersebut bisa mengawetkan kayu dan sekaligus bisa memperkuat warna asli serta tekstur kayu itu sendiri. Oleh karena kebanyakan konstruksi kayu di bangunan-bangunan kuno di Taman Sari sudah pernah dicat maka sebelum diolesi air campuran tembakau itu terlebih dahulu dilakukan pengelupasan cat. Cat yang menempel pada kayu dikelupas hingga tampak tekstur kayunya. Setelah itu baru dilakukan pengolesan dengan air campuran tadi.

*********************
Pada bulan November 2003, Robert Wilson Challenge to Conserve Our Heritage melalui World Monument Fund (WMF) menyanggupi untuk memberikan dana sebesar US$ 250.000 bagi pekerjaan renovasi dan reaktivasi Taman Sari, khususnya area Kolam Pemandian Umbul Binangun, termasuk Gapura Agung, Gedong Lopa-Lopa, hingga Gedong Temanten. Pengelola pengerjaan rehabilitasi dipercayakan kepada JHS. Kesanggupan ini disampaikan oleh Morris (Marty) Hilton III, New Projects Development Manager WMF dalam suratnya kepada Sean Brandon, Management Services Coordinator City of Savannah, tertanggal 11 November 2003. Surat itu juga ditujukan kepada Titi Handayani, Direktur Eksekutif JHS dan Holly MacCammon, Grants Manager WMF.

WMF adalah organisasi swasta nirlaba terkemuka yang berdedikasi untuk melestarikan pusaka budaya umat manusia. Organisasi ini memiliki program menarik yang bernama Program Pelestarian Monumen Dunia yang disponsori dan diprakarsai oleh American Express. Menurut Presiden WMF Bonnie Burnham, program ini mengidentifikasi situs-situs dunia yang luar biasa dan menarik perhatian publik, ahli-ahli pelestarian, dan pemerintah setempat. Semua situs dalam Daftar Pelestarian memperlihatkan pencapaian kebudayaan umat manusia. Kehilangan salah satu dari itu adalah kehancuran bagi manusia sendiri karena tempat-tempat itu mencerminkan jatidiri manusia demi generasi mendatang.

Untuk Program Pelestarian Monumen Dunia, WMF mengeluarkan daftar pelestarian dua tahunan “100 Situs Paling Terancam di Dunia” sebagai sebuah pesan untuk segera bertindak atas nama monumen-monumen pusaka budaya yang terancam di seluruh dunia. Daftar ini membantu penggalangan dana untuk pelestarian situs-situs dan memicu pemerintah serta masyarakat setempat untuk mengambil peran aktif dalam melindungi simbol-simbol budaya di wilayahnya. Masuknya sebuah situs dalam daftar ini adalah peluang terbaik dan seringkali satu-satunya peluang keberhasilan pelestarian situs itu. Atas bantuan Pemerintah Kota Savannah, Georgia, Amerika Serikat, JHS menominasikan Taman Sari pada bulan Desember 2002 karena kondisinya yang sangat menyedihkan. Keadaan ini disebabkan oleh kerusakan struktural (karena usia dan gempa besar tahun 1867), vandalisme (perusakan oleh manusia), organisme (tumbuhan, jamur), masalah drainase (limbah rumah tangga, limbah batik), dan sebagainya. Hasilnya, pada bulan September 2003 di New York WMF mengumumkan bahwa Taman Sari merupakan satu di antara 100 Most Endangered Sites 2004 di hadapan 70 media massa dari seluruh penjuru dunia.

Pekerjaan Renovasi dan Reaktivasi Taman Sari ini dimulai bulan Agustus 2004 lalu, bersamaan dengan selesainya pekerjaan rehabilitasi Taman Sari sebelumnya (Tahap I) yang didanai oleh Calouste Gulbenkien, Portugal dan APBD DIY. Tahap ini bisa dikatakan melanjutkan pekerjaan rehabilitasi sebelumnya (meliputi Kolam Umbul Binangun), tetapi mencakup wilayah yang lebih luas. Dalam proyek ini dilakukan dua prinsip konservasi, yaitu renovasi fisik dan renovasi non-fisik (reaktivasi). Renovasi fisik ditujukan untuk memperbaiki bangunan situs yang rusak untuk dikembalikan ke bentuk aslinya, sedangkan reaktivasi merupakan upaya untuk menghidupkan kembali ruh Taman Sari dengan mencoba menemukan kembali fungsi yang tepat bagi Taman Sari. Usaha ini antara lain dilakukan dengan cara membentuk Badan Pelestarian Taman Sari (BPT) yang beranggotakan wakil-wakil dari beberapa elemen, meliputi Kraton Yogyakarta, pemerintah, akademisi, dan masyarakat. BPT ini dirancang untuk memegang manajemen pengelolaan Taman Sari, tetapi pada bulan Maret 2005 lalu dikabarkan bahwa wewenang tersebut tetap akan dipegang langsung oleh Kraton Yogyakarta.

Menengok kembali proses renovasi fisik yang telah berlangsung, situs Taman Sari saat ini telah muncul kembali dalam kondisi yang lebih baik. Maksudnya, situs ini akan memiliki daya tahan cukup lama setelah mengalami perbaikan dan penguatan konstruksi. Ketahanan situs terhadap pengaruh iklim tropis dan cuaca juga akan semakin meningkat dengan adanya lapisan pelindung di dinding bangunan serta sistem drainase yang tertata. Satu point telah tercapai. Apakah cukup hanya itu?

Rizky Ramdani, 24 tahun, berpendapat bahwa ketika melihat bangunan-bangunan Taman Sari di kompleks Umbul Binangun dan Sumur Gumuling ia tidak bisa lagi merasakan aura kekunoan seperti yang ia harapkan sebelum datang ke situs ini. Pengunjung Taman Sari asal Surabaya ini justru merasakan bahwa Taman Sari sekarang seperti kompleks yang baru saja dibangun, sehingga terasa cenderung mengada-ada jika dikatakan bahwa ternyata situs ini telah berusia lebih dari 200 tahun.

Dalam dunia konservasi dikenal adanya empat prinsip, yaitu keaslian bentuk, keaslian bahan, keaslian teknik pengerjaan, dan keaslian tata letak, serta memeperhatikan nilai sejarah. Beberapa prinsip telah diuapayakan dalam proyek di Taman Sari ini, seperti keaslian tata letak, bentuk, dan bahan. Keaslian tata letak dilakukan dengan memugar bangunan sesuai dengan letak aslinya, tidak memindahkannya ke tempat yang berbeda. Di atas lahan bekas bangunan yang sekarang sudah tidak ada bangunannya lagi pun tidak didirikan bangunan lain. Gedung Lopa-lopa di halaman tengah misalnya; bangunan ini sekarang sudah tidak ada dan di atasnya hanya diberi penanda situs berbentuk denah bangunan itu dahulunya setinggi 10 cm. Di tengah denah berbentuk segi delapan itu dibuat taman kecil.

Keaslian bahan, sekaligus keaslian teknik pengerjaan, coba diupayakan dengan penggunaan bligon dalam tahap renovasi ini. Seperti yang diungkapkan oleh M. Nurcholil Affandi, memang segala hal teknis dalam proyek ini belum baku, beberapa di antaranya masih uji coba. Hal itu ditempuh setelah melalui penelitian-penelitian pendahuluan sebagai studi kelayakan. Namun, hingga saat ini publik masih belum bisa mengetahui sejauh mana penelitian-penelitian itu sudah dilakukan dan sepasti apa hasilnya, sehingga yakin memutuskan untuk memakai bahan-bahan tertentu (seperti bligon atau semen pada beberapa bagian) terhadap tubuh bangunan. Hingga saat ini masih banyak pertanyaan seputar apakah hasil penelitian-penelitian itu sudah cukup pasti untuk diterapkan pada seluruh bidang bangunan di kompleks situs ini, sehingga masyarakat awam sempat dibuat keheranan akibat perubahan warna itu. Misalnya, apakah memang perlu mengecat detil relief dengan warna-warna yang kontras?

Masalah keaslian bentuk juga menjadi pertimbangan dalam proyek ini, terbukti dengan dibongkarnya beberapa cukit/konsol/tritisan yang menempel di beberapa bangunan. Menurut Dyah Arnawati, berdasarkan hasil penelitian pendahuluan dan ekskavasi, ada beberapa cukit yang dinilai sebagai cukit baru hasil renovasi tahun 1970-an. Cukit yang asli memiliki lubang-lubang bekas konstruksi kayu asli yang dulu pernah dipakai, sedangkan cukit tambahan baru menggunakan konstruksi penulangan. Namun, beberapa tambahan baru pun tak pelak muncul dalam tahap sekarang, seperti pemasangan pathwalk berupa susunan batu candi, pemasangan pintu-pintu kayu baru di Gedong Temanten dan Gedong Pangunjukan yang digunakan sebagai ruang tiket dan informasi wisata Taman Sari, serta pemasangan atap fiber yang begitu masif dan permanen di Sumur Gumuling.

Taman yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I ini memang telah menjadi salah satu tujuan wisata utama di Yogyakarta selama dua dekade terakhir. Beban yang ditanggung kompleks situs Taman Sari selama ini cukup berat. Selain dari kunjungan wisatawan yang tak ada hentinya setiap hari juga karena letak situs yang saat ini berada di tengah pemukiman penduduk yang sangat padat. Pemukiman ini sebenarnya turut memberi karakteristik tersendiri bagi Taman Sari karena banyak di antara warga yang memiliki usaha batik dan kerajinan yang turut memeriahkan aura wisata situs ini. Namun, keberadaan pemukiman itu turut memberi dampak negatif pula bagi situs, seperti perusakan situs dan limbah rumah tangga serta limbah batik yang bisa mencemari area situs.

Pascarenovasi, Taman Sari akan menempuh tahap reaktivasi. Beberapa persiapan tampak telah dilakukan, seperti pembentukan BPT serta berbagai sarasehan dan sosialisasi mengenai pengelolaan dan pemanfaatan Taman Sari yang digelar dengan melibatkan warga setempat. Secara fisik, persiapan itu tampak dari pemasangan berbagai fasilitas yang diharapkan bisa mendukung upaya untuk mengaktifkan Taman Sari. Memang belum jelas apa saja upaya untuk itu, tetapi saat ini kita bisa melihat ada banyak lampu sorot dan lampu hias yang menempel di dinding bangunan-bangunan kuno yang telah disulap menjadi baru itu. Memang pekerjaan konservasi bukanlah hal yag sederhana. Ada begitu banyak tuntutan yang harus dipenuhi. Kelestarian, keawetan, dan daya tahan bangunan terhadap berbagai pengaruh adalah satu prinsip penting. Namun, ada prinsip penting lainnya, keaslian. Keinginan agar semua pelaksanaan konstruksi tidak hanya berupa polesan, tetapi merupakan penguatan yang menyatu hendaknya juga bisa diterapkan pada penampilan hasil renovasi. Jangan sia-siakan peran begitu banyak ahli yang terlibat dengan memperlakukan suatu situs kuno seperti layaknya sebuah kompleks bangunan baru.

Tulisan ini telah dimuat di Majalah ARTEFAK Edisi XXVII Tahun 2005
(diterbitkan oleh Himpunan Mahasiswa Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

6 thoughts on “Taman Sari “Baru”, (Mencoba) Bukan Sekedar Polesan

  1. andrean

    taman yang telah menjadi trademark kota seperti ini perlu dijaga dan dilestarikan dengan perawatan dan bila perlu dikembangkan pola tamannya agar menjadi suatu bagian yang memberi kebanggaan kepada publik.

    Reply
  2. Meutia Ananda

    thanx bgt uda berbagi info yg berguna. gua nyari tau ttg cara ke taman sari dari jl. sosrowijayan karena hendakke jogja minggu dpan. tq.

    Reply
  3. elanto wijoyono Post author

    wew.. selamat datang ke Yogya deh. Jangan kaget kalo di musim liburan sekolah gini Yogya jd penuh n semrawut banget. Dr Sosrowijayan ke Taman Sari g jauh. Paling asyik naik andong atau naik becak atau naik sepeda.

    selamat bertualang ^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s