Memahami Alam dan Kehidupan

Logika kehidupan itu sederhana, tetapi manusia lebih senang memandang kerumitannya.

Kadang manusia mencoba menyederhanakannya, tetapi justru membuatnya semakin rumit dan tak menyelesaikan apapun.

Orang bilang jangan bunuh harimau

Kalau ada seekor harimau menerkam manusia

Bolehkan kita bebas bunuh harimau?

Orang bilang jangan tebang pohon

Kalau ada sebatang pohon menimpa orang

Bolehkah kita bebas tebang pohon?

Orang bilang jangan bunuh orang

Kalau ada seseorang membunuh orang lain

Bolehkan kita bebas bunuh orang?

Tak lagi bicara mana yang lebih penting

Nyawa siapa yang lebih berharga

Kita bicara apa yang terjadi

Dan mengapa terjadi

Manusia tahu di alam di ada kehidupan

Alam sendiri hidup

Manusia sering dan senang mengamati alam

Manusia insyaf bahwa alam itu punya hukum dan jalan hidup

Namun, manusia sering merasa dirinya berada di luar lingkaran

Bahwa alam sebagai sesuatu yang lain dari sebuah makhluk bernama manusia

Manusia semakin terpisah dari alam

Manusia sengaja menempatkan diri di seberang

Alam sering membawa keuntungan yang membuat manusia senang

Manusia sering tidak sabar menunggu dan berusaha mencari sendiri di tubuh alam

Mencoba meraup keuntungan sebanyak ia bisa

Lapang dada alam memperbolehkan

Namun, kadang alam dianggap membuat manusia sengsara

Manusia sering tidak terima

Akhirnya alam pun disalahkan

Sayang tidak ada pengadilan yang bisa menuntut alam

Hanya pasrah dan menggerutu akhirnya

Alam tak habis pikir

Mengapa dirinya sering disebut sebagai sumber malapetaka?

Bukankah semua yang terjadi pada alam adalah sesuatu yang wajar

Namun, ketika manusia tersangkut di dalamnya

Dan menderita kerugian

Disebutnya bencana

Bencana alam

Manusia akhirnya menjadi hakim

Menilai baik dan buruk

Apa-apa yang terjadi pada dirinya dari sesuatu di luar dirinya

Termasuk alam

Kapan manjadi kawan dan kapan menjadi lawan

Manusia tak lagi sadar

Bahwa ia juga bagian dari alam

Tak terpisahkan

Manusia merasa berbeda

Merasa berhak dan bahkan wajib menilai hingga merasa menjadi pemilik

Manusia beternak alam

Ternak harus memberi keuntungan pada pemiliknya

Kalau tidak atau bahkan melawan pemiliknya maka dianggap musuh

Kapanpun harus menyediakan apa-apa yang dibutuhkan manusia

Bahkan kalau perlu manusia memaksa agar diberi

Disuapnya alam dengan pakan pestisida hingga bakar hutan

Agar manusia bisa selalu mengeruk hasil

Kalau tak lagi memberi hasil

Segera cari yang lain

Tinggalkan alam yang kesakitan

Alam yang sakit tak bisa lagi menempuh hukum dan jalan hidupnya dengan wajar

Sakit alam menebar ke segala penjuru

Dari tanah longsor, banjir, hama, hingga pemanasan iklim global

Sumpah serapah manusia mencerca

Mencoba mencari kambing hitam

Tak mau akui andil mereka sendiri

Kerdil manusia di hadapan alam memang diakui

Namun, tak kurangi tingkah pongah manusia

Padahal mereka makhluk yang berpikir

Gunakan otak tanpa logika

Gunakan hati tanpa perasaan

Tak mau lagi belajar

Ada kalanya manusia tak berdaya

Ada kalanya manusia berkuasa

Manusia punya mandat mengolah alam

Namun, ia tetap di dalam wilayah hukum dan jalan hidup alam

Manusia bisa mengubah alam

Namun, alam tetap akan mencari jalannya sendiri

Kadang manusia malu mengakui sejarah kepandaian leluhur

Kepandaian berlandas rasa bijak hormat sebagai bagian dari alam

Bahwa manusia hanya perlu menyesuaikan diri

Istilah kerennya adaptasi

Tapi sekarang kok malah alam yang disuruh beradaptasi

Jangan-jangan kerja manusia hanya bisa mengambil tanpa bisa memberi

Hanya bisa merusak tanpa bisa memperbaiki

Bahkan hanya sibuk saling berkelahi

Berebut sumberdaya menggiurkan

Tanpa bisa lagi membaca wajah utuh alam

Sama saja menunggu maut datang menjemput

Mau tak mau

Aturan main harus dilakoni

Selama mau jadi bagian dari alam

Kalau tidak, enyah saja dari alam

Pergi ke alam lain

Akal pikir manusia pastilah bisa memilah dan memilih

Perilaku yang pantas agar alam tetap lestari

Perilaku yang awas agar manusia tetap lestari

Karena keduanya penting

Karena keduanya berharga

Karena keduanya hidup

Karena dua itu adalah satu itu

Yogyakarta, 31012006

Telah tampil di blog terdahulu..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s