Alun-Alun Utara; Sindiran yang Jadi Kenyataan

Temen2,
Hari ini aku baca tajuk rencana SKH Kedaulatan Rakyat (01/12) mengenai rencana pembangunan parkir bawah tanah di Alun-alun Utara. Pada awalnya tulisan itu tampak cukup wajar. Namun, menuju akhir tulisan, isinya menjadi tidak wajar, walaupun si penulis mencoba untuk menempatkan posisi masing-masing stakeholders secara seimbang. Tajuk rencana itu kemudian menjadi sebuah tulisan yang bobotnya patut dipertanyakan. Mutu sih mutu, ning ya mung sithik. Sithik’e nganggo bangeeet…

Ada beberapa hal yang bisa aku ambil dari hal di atas. Pertama, aku jadi semakin bisa menebak orientasi posisi media massa cetak tersebut. Aku jadi bisa makin yakin bahwa media massa cetak tertua di Indonesia yang masih eksis ini mendukung kepentingan sekelompok elit, yang kebetulan memang (masih) sangat berkuasa di Yogyakarta.

Kedua, aku jadi semakin yakin bahwa memang masih banyak perbedaan persepsi di masyarakat, yang berpendidikan sekalipun (seperti si penulis tajuk rencana tsb…. kelihatannya aku tahu siapa dia) mengenai modernisme. Jelas banyak yang menyalahartikan modernisme. Banyak pemahaman mengenai hal tsb, tetapi sayangnya hanya berhenti di tataran modernitas. Alih-alih ingin menjadi masyarakat modern, mengalami peradaban modern, tetapi sayang hanya polesan di permukaan. Si penulis tajuk tsb mencoba mencekoki pembaca dengan kota-kota modern di luar negeri sebagai referensi kemajuan. Namun, hhh… maaf saja, dangkal! Hal itu mencerminkan sejauh mana pemahaman dia tentang peradaban dan proses perubahan kebudayaan. Ya, pemahamanku juga gak banyak, tapi pede aja… aku gak senaif dia.

Tulisan Maha Konyol dalam tajuk rencana itu sebenarnya sudah mendapatkan tentangan secara tersirat dari Tulisan Maha Hebat yang termuat dalam media yang sama, tanggal yang sama. Ya, Esai Prof. Dr. T. Jacob. Apakah jawaban itu? Pernyataan bahwa perubahan itu tidak selalu identik dengan kemajuan..!!!

Kita tahu bagaimana kenyataan di masyarakat bahwa kemajuan sering dianggap sebagai perubahan, meninggalkan yang lama, menuju dan memakai yang baru. Jadi, jika ada sebuah kota yang secara fisik begitu statis, tidak ada perubahan, dianggap tidak maju. Jika ada orang yang beralih dari naik mobil pribadi ke sepeda atau transportasi publik dianggap mengalami kemunduran. Sesuatu yang tampak futuristik dan berbau kebarat-baratan dianggap sebagai kemajuan. Kita malu jika melihat pasar-pasar di kota kita yang begitu pengap dan bau. Kita jadi mendambakan sebuah pasar yang bersih, anggun, indah, cantik, dan modern, seperti halnya wujud orang-orang yang pantas masuk model pasar seperti itu. Kita sering menganggap bahwa kita sudah ketinggalan jauh dari negara-negara maju. Kita ingin mengejarnya. Boleh2 saja. Tapi sayang, kita cuma bisa memoles permukaannya saja. Jelas saja barat kapitalis begitu senang dan menganggap Indonesia sebagai negara sahabat, bisnis terutama.

Mungkin banyak yang sudah lupa bahwa zaman dan peradaban sudah bergerak cepat. Masyarakat kita masih banyak yang berpikiran bahwa masyarakat negara maju begitu senang dengan peradaban yang mereka miliki. Ya, bahwa mereka hidup dalam dunia yang serba sempurna, seperti yang banyak diangankan oleh masyarakat kita. Tapi mungkin banyak di antara masyarakat kita yang tidak tahu bahwa peradaban barat/negara maju tidaklah secerah yang kita bayangkan. Kita tentu akan kaget jika mendapati bahwa masyarakat sana merasa belum tentu selalu nyaman dengan kehidupan seperti itu, kehidupan bak sebuah komponen mesin rakitan atau robot. Mereka juga mulai sering mengeluhkan betapa peradaban mereka seakan tidak lagi memiliki identitas. Hampir semua kota di negara maju itu seragam wujudnya. Bosan…

Selain itu, masyarakat mungkin justru mengesampingkan bahwa di negara-negara majulah kekayaan pusaka budaya bisa terpelihara dengan baik. Jika melihat wujud kota Paris, London, Roma, dan lain-lainnya maka yang tampak adalah sebuah kota dengan tampilan lansekap dan arsitektur lama yang tetap menghiasi wajah kota/kawasan. Tentu saja di samping itu terdapatlah berbagai wujud fisik hasil pembangunan yang serba baru, modern, dan canggih… Ya, begitulah. Ada dua kepentingan yang tetap coba diberi wadah, dan itu bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Bahkan di negara maju sekalipun, yang orang-orangnya memiliki kepatuhan terhadap aturan main yang ada.

Kita tahu bahwa bangsa kita suka yang instan-instan. Inilah tantangannya. Saat ini masyarakat kota Yogyakarta khususnya dihadapakan dengan tantangan besar. Mau gak mau kita harus mampu menanggapinya. Namun, hati-hati, salah melangkah, taruhannya terlalu mahal.

Alun-Alun Utara yang terletak di kawasan inti cagar budaya akan memiliki lapangan parkir bawah tanah dan pusat perbelanjaan di dalam perutnya. Ini bukan lagi masalah bagi beberapa pihak saja. Ini adalah masalah seluruh warga kota. Memang isu terbesar adalah masalah pelestarian Alun-alun Utara sebagai heritage. Tapi, ada lagi masalah besar lainnya, yang jelas akan memberi dampak pada kehidupan seluruh warga kota. Ini bukan sekedar masalah teknis mengenai perlunya ruang untuk parkir dan pembukaan lapangan kerja. Basi! Masalah ini lebih pada masalah kepentingan elit untuk memaksakan kehendaknya, yang mereka sebut sebagai solusi terhadap berbagai permasalahan kota.

Bukan lagi hanya berhadapan dengan pihak yang tidak paham atau peduli dengan kelestarian pusaka, tetapi pihak bermodal besar yang bisa melakukan apa saja asalkan kepentingannya tercapai. Jangan tutup mata. Disadari atau tidak, kapitalis sudah begitu merasuk ke dalam kehidupan. Bahkan institusi pemegang dan pemelihara tradisi pun sudah begitu kapitalis pula. Nggak perlu di bahas bagaimana dampak kapitalisme bagi masyarakat non-industri.

Hmm..mungkin bicara terlalu banyak konsep tidak akan ada habisnya, walaupun itu perlu juga. Kita perlu memikirkan cara praktis dan solutif untuk menanggapi masalah ini. Memang kapitalis itu akan selalu menang (kalau kalah bukan kapitalis namanya). Namun, bukan berarti mereka bisa melenggang santai tanpa perlawanan. Ya tinggal bagaimana cara yang tepat untuk melawannya saja.

Tampaknya akan sangat susah untuk membalikkan kesepakatan yang sudah terlanjur ditandatangani itu. Nggak mungkin batal deh. Menurutku, sesuai dengan kemampuan kita, langkah jitu yang bisa kita lakukan adalah memberi keterangan kepada masyarakat mengenai hal ini. Boleh saja proyek fisik itu tetap berjalan, tetapi sebisa mungkin kita usahakan agar opini massa tidak sependapat dengan proyek tsb. Sekarang tinggal bagaimana caranya untuk menggalang kekuatan yang bisa mencekoki masyarakat dengan informasi-informasi yang benar, informasi yang berdasarkan pada semangat kemandirian masyarakat dan keberlanjutannya. Satu media lokal besar telah terkooptasi. Mau nggak mau, media lainnya harus kita ajak sebagai mitra perlawanan.

Informasikan kepada masyarakat prinsip-prinsip yang benar dari segala bidang yang terkait. Informasikan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Informasikan prinsip penegakan hukum yang bermartabat. Informasikan model pembangunan dan sistem ekonomi berbasis kerakyatan yang sesungguhnya. Informasikan rencana tata ruang kota/kawasan yang ada dan yang ideal. Informasikan sistem transportasi yang adil, murah, dan ramah lingkungan. Informasikan bahwa demokrasi tidak hanya berlaku dalam Pemilu, tetapi juga dalam masalah kebijakan. Tunjukkan bahwa masyarakatlah yang merupakan pemilik kota ini, bukan sekelompok elit yang masih silau dengan harta dan kekuasaan. Informasikan pula apa yang terjadi di kota-kota lain di dunia sebagai contoh dan perbandingan secara wajar. Beri contoh bagaimana sistem pengelolaan kota yang baik dan yang buruk. Dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan……….

Hmm, aku kira banyak yang bisa dan mampu melakukan itu…..
Tapi yang mau melakukannya………… TIDAK BANYAK!!!

Hi..hi..hi..
Jadi ingat demonstrasi para seniman yang dikomandoi oleh KERUPUK (Komunitas Peduli Ruang Publik Kota Yogyakarta) beberapa waktu lalu. Masih lekat dalam ingatan kita papan nama dan barisan manusia membawa huruf-huruf raksasa di Alun-alun Utara bertuliskan……… “Di Sini Akan Dibangun Mall”. Sindiran yang cukup telak. Dan sekarang, sedang menuju menjadi sebuah kenyataan. Balasan yang cukup telak juga, kan?!

Nggak heran.

Seperti yang dibilang oleh seorang teman yang seniman, “Maklum, Sultan kan anak mall..!!!”

Tulisan ini pertama kali muncul di milis greenmapper_jogja@yahoogroups.com pada tanggal 1 Desember 2005.
Telah aku tampilkan di blog terdahulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s