Masih pagi, jarum jam belum lagi menunjuk ke angka sembilan. Sekitar tiga puluh orang perempuan duduk melingkar dalam beberapa kelompok saling membelakangi satu sama lain, masing-masing menghadap ke selembar kain mori putih yang belum penuh dengan motif. Sesekali mereka membalikkan badan mencelupkan canting ke dalam wajan berisi malam (lilin untuk membatik) cair yang diletakkan di atas kompor kecil di tengah mereka. Obrolan ringan mengalir sesekali mewarnai suasana di dalam gubug panjang di tepi jalan menuju kompleks makam kerajaan di Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Semua yang membatik di tempat itu adalah perempuan dan sebagian besar sudah separuh baya. Hanya tampak tiga orang berusia muda yang turut membatik. Mereka belum lama lulus sekolah menengah atas. Memang umumnya anak-anak muda di kawasan Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta sudah enggan melanjutkan usaha membatik seperti yang sudah dilakukan oleh keluarga mereka secara turun-temurun. Walaupun batik Imogiri sudah dikenal luas hingga mancanegara, tetapi kondisi di tempat asal batik itu dibuat cukup mengkhawatirkan. Para perajin sendiri khawatir begitu generasi pembatik yang aktif saat ini sudah berlalu maka tradisi batik Imogiri pun akan surut dan kemudian punah.
“Memang di sekolah-sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah di Imogiri ada pelajaran membatik, tapi ya cuma dasar-dasarnya saja”, ujar Ibu Sumarman (53), seorang perajin batik yang mengaku sudah biasa membatik sejak dirinya duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. “Tapi ya cuma untuk sekedar tahu saja, setelah itu tidak banyak juga anak-anak muda yang serius ingin membatik”, lanjutnya. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menjadi bekerja di kota atau pekerjaan lain, tetapi bukan perajin batik. Read the rest of this entry »


ada satu bintang di sana, tak kulihat bintang yang lain















Celetuk