Menimbang Strategi Pemetaan Proyek Universitas
Siapa sajakah wakil komunitas lokal itu? Bagaimana cara menentukan siapa dan dari mana saja wakil komunitas yang harus terlibat dalam sebuah proyek berbasis komunitas? Pertanyaan sederhana, tetapi cukup mendasar ini muncul dari seorang mahasiswa peserta workshop Green Map di Jurusan Arsitektur Kampus Petra Surabaya, Jumat (11/05) lalu. Pertanyaan ini muncul menanggapi penjelasan mengenai salah satu tahap dalam proses pembuatan peta hijau.
Proses pembuatan peta hijau yang secara ideal merupakan sebuah proses pemetaan partisipatoris menuntut keterlibatan komunitas lokal yang kawasannya dipetahijaukan. Tahapan partisipatoris ini akan menjadi ideal ketika inisiatif pengerjaannya juga muncul dari mereka, termasuk hingga penyebarluasan data dan informasi hasil pemetaan tersebut. Sekaligus dalam prosesnya juga bisa turut melibatkan para pihak pemangku kepentingan (stakeholders) di kawasan itu.
Namun, proses seperti itu bisa pula menyeruak sebagai kegiatan yang dilakukan oleh kelompok yang terbatas. Hal itu bisa tampak seperti ketika proses pembuatan peta hijau itu digelar sebagai sebuah proyek universitas. Secara resmi, pembuatan peta hijau bisa dilakukan dalam rangka proyek kampus, misalnya dengan memasukkan kegiatan pemetahijauan ke dalam bagian dari mata kuliah tertentu. Dalam kasus proses pemetaan ini, dosen dan mahasiswa akan menjadi pihak utama pelaksana. Read the rest of this entry »


ada satu bintang di sana, tak kulihat bintang yang lain















Celetuk