SAHANA dari BENCANA

20 05 2007

Ketika Teknologi Informasi Turun Membantu

Sesaat setelah tsunami melanda sedikitnya dua belas negara Asia yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, terjadilah kepanikan luar biasa. Bukan hanya karena jatuhnya banyak korban dan kerugian harta benda dalam skala yang begitu besar, tetapi juga dalam waktu singkat ada begitu banyak pihak yang datang dan ingin membantu. Lokasi bencana yang sudah porak-poranda dalam sekejap menjadi ramai; oleh para korban selamat yang mencari kerabatnya, korban selamat yang mencari pertolongan, hingga para penolong yang sibuk mencari korban untuk ditolong.

foto4.jpg foto3.jpg

Gempa bumi dahsyat yang terjadi di kedalaman lautan di antara Sumatera dan Andaman pada tanggal 26 Desember 2004 lalu itu telah menyebabkan sekitar 230.000 jiwa menjadi korban. Hampir 200.000 korban berasal dari Indonesia. Lebih dari 5 juta orang kehilangan tempat tinggal, serta akses terhadap makanan dan air. Upaya tanggap bencana hingga proses pemulihan berlangsung di setiap negara yang terkena dampak bencana. Dampak kerusakan dan kerugian luar biasa yang terjadi tentu saja menyebabkan penanganan korban dan upaya pertolongan tidak bisa dengan mudah dilakukan.

Dan siapapun datang membantu

Hati siapa yang tak tersentuh dengan kejadian maha dahsyat itu. Ya, tak terkecuali para pegiat industri teknologi informasi yang sehari-hari tak pernah lepas dari komputer di ruang kerja. Sekelompok programer dari Sri Lanka, negara yang turut terkena dampak tsunami dan sedikitnya 30.000 jiwa melayang karenanya, dalam usahanya mencari cara untuk turut membantu pun menyadari bahwa proses tanggap bencana berjalan kurang efektif. Menurut mereka yang tergabung dalam sebuah organisasi non-pemerintah bernama Lanka Software Foundation ini, upaya pertolongan yang telah berjalan masih belum terkelola dengan baik.

map.jpg

capture_04252007_222307.jpg

Read the rest of this entry »