Manajemen yang Tak Pernah Belajar

1 07 2009

Mampukah Mengubah Citra dari Universitas Gerayangane Maling?

pitku

Paruh kedua tahun 2007 lalu, dua teman menuliskan kabar kehilangan sepeda di wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) ke milis Bike2Work Yogyakarta. Ironisnya, satu dari sepeda yang hilang itu diparkir persis di samping pos satpam, dan satu lagi di depan mushola. Paruh pertama tahun 2008 juga diwarnai dengan hilangnya sepeda teman Bike2Work yang diparkir di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM. Masjid Kampus UGM juga menjadi tempat hilangnya sepeda teman. Sementara, kemudian beberapa kali aku mendengar kabar hilangnya sepeda di kompleks Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM. Sekitar lima kejadian hingga paruh awal tahun 2009 ini. Read the rest of this entry »





Aparatlah yang Harus Dididik!

5 01 2009

Langkah Taktis Mengatasi Carut-Marut Pengelolaan Pusaka 1)

What about Cultural Heritage?

Senisono mungkin bisa menjadi penanda. Pemugaran dan pengambilalihan gedung yang pada masa Belanda merupakan Societeit de Vereeniging oleh Sekretariat Negara pada awal tahun 1990an itu menjadi pemicu awal pergerakan pelestarian pusaka (heritage) oleh kalangan terpelajar formal Yogyakarta. Aksi keprihatinan atas proses teknis yang tidak mengindahkan prinsip-prinsip pelestarian cagar budaya atas gedung yang setelah masa pendudukan Jepang berganti nama menjadi Balai Mataram, dan sempat digunakan sebagai tempat pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia pertama pada November 1945, itu antara lain yang kemudian melahirkan Yogyakarta Heritage Society. Mungkin, selain oleh karena praktik itu adalah “pesanan” pusat, tak ada banyak hal yang bisa dilakukan saat itu dengan belum adanya peraturan khusus untuk perlindungan benda cagar budaya, selain Monumenten Ordonnantie Nomor 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238 ) tinggalan pemerintahan Hindia Belanda. Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Yogyakarta mengaku sudah memberikan masukan teknis terhadap renovasi yang berlangsung, tetapi dimentahkan dalam penerapannya.

Keberadaan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya pun tidak cukup mampu “menggigit” ketika terjadi perusakan situs Ratu Boko pada pertengahan dekade itu juga. Atas dasar kepentingan pemasangan sambungan kabel telekomunikasi, jalan yang diduga kuat merupakan jalan asli menuju kompleks yang hampir berusia seribu tahun itupun dibongkar. Pihak SPSP Yogyakarta pun sebenarnya hadir dalam pelaksanaan proyek. Namun, pihak pengelola proyek tetap tidak bersedia mengembalikannya ke kondisi semula karena alasan teknis pemasangan sambungan kabel telekomunikasi yang tidak dapat diubah lagi (Prihantoro, 1998). Read the rest of this entry »





Ternyata Sama Saja

13 11 2008

sama rasa sama rata sama saja

Kemarin lusa, sebuah pertemuan forum lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus pada penanggulangan bencana di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah selatan diadakan di salah satu kantor LSM. Sebelum pertemuan dimulai, yang mundur satu jam dari jadwal di undangan, beberapa teman dengan nada bercanda mengatakan, “Wah, jangan sampai karena ini kantor urusan hak asasi perempuan terus tidak bisa merokok, ya.” Para perokok pun berkumpul di teras, sambil merokok. Namun, ketika pertemuan dimulai, rokok (ter)bawa masuk. Kepulan asap rokok pun turut mengisi rapat serius yang membahas peran LSM dalam penanggulangan bencana, hingga rapat berakhir. Read the rest of this entry »





Omong Kosong Kemanusiaan, Omong Kosong Kebangsaan

15 05 2008

Saya berkata mensitir Gandhi, Gandhi berkata, “My nasionalism is humanity.”
Pidato Presiden Soekarno (1 Juni 1945)

Richard Hermans, Direktur Erfgoed Nederland atau The Netherlands Institute for Heritage, pun beranjak keluar. “Perlu jeda sejenak”, sebuah ungkapan yang kemudian baru dimengerti oleh rekan-rekan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia bahwa dia ingin merokok. Walaupun rapat yang mendiskusikan rencana pengembangan pendidikan heritase pekan lalu itu diadakan di sebuah ruangan semi terbuka, tapi dengan santun dia mohon izin sejenak keluar untuk merokok. Tentu saja para perokok lain yang sedari tadi gelisah menahan candu nikotinnya pun turut bergegas menyusulnya. Juga ketika makan malam berlangsung, tradisi membiasakan warga Belanda untuk menikmati cerutu atau rokok dan kopi usai makan besar. Dengan santun, mereka pun mohon izin sejenak meninggalkan meja untuk merokok. Hanya sekali mereka minta izin, dan cukup singkat saja, di sela forum diskusi yang berlangsung seharian.

rokokrokokrokok

Awal pekan ini, sebuah diskusi yang diadakan sebuah majalah seni rupa diadakan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Cukup ramai, dihadiri oleh puluhan perupa, akademisi, dan mahasiswa. Tentu saja karena membahas tema hubungan antara perupa dan kurator. Belum menginjak tengah acara, Yuswantoro Adi, seorang perupa kawakan yang saat itu menjadi salah satu pembicara, mulai menyalakan dan menghisap rokok. Tak ayal, sekaan dikomando, kepulan-kepulan asap dari sela-sela peserta diskusi yang notabene para “junior”nya pun mulai menyusul bermunculan di ruang tertutup dan ber-AC itu. Tak hanya sekali putaran, tetapi seterusnya hingga forum usai yang berlangsung selama tiga jam malam itu. Tidak tahu, mungkin lupa atas anjuran tidak merokok oleh pengelola BBY pada awal acara.

Aichi EXPO 2005, pandangan tertarik memperhatikan salah satu sudut halaman yang luas nan bersih dalam arena Expo internasional tak jauh dari Nagoya, Jepang itu. Sekedar bak sampah. Namun, tak hanya satu, ada sebelas tempat sampah untuk jenis sampah yang berbeda. Ah, mungkin saja itu hanya muncul di arena pameran. Bisa jadi. Namun, sudah menjadi pemandangan umum di Jepang, paling tidak selalu ada tiga atau empat bak untuk menampung sampah dengan jenis sampah yang berbeda. Sampah di sana biasanya dipisahkan dalam kantong tersendiri; jenis bisa dibakar, tidak bisa dibakar, plastik, dan kaleng. Tak hanya tempatnya, jadwal pengumpulannya pun sudah demikian teratur. Sedemikian tertibnya, sebuah artikel di Harian Kompas pernah mengisahkan bingungnya seorang profesor Jepang saat akan membuang sampah di Jakarta, ketika dia hanya menjumpai satu wadah untuk menampung semua sampah.

Recycle bins at Aichi Expo (Pic. Green Map, 2005) Bak Sampah di ITB (2006)

Kampus Institut Teknologi Bandung pun memiliki maksud yang sama untuk mengelola sampah. Paling tidak ada dua atau tiga tempat sampah yang berdampingan, diletakkan di seantero sudut kampus, untuk sampah basah dan sampah kering, atau sampah organik dan anorganik. Hanya ada dua kasus yang tampak, kedua bak terisi penuh dengan sampah yang tercampur atau keduanya justru kosong sama sekali. Pemilihan sampah kering dan basah dengan penyediaan bak sampah yang berbeda seperti itu pun sudah diterapkan di beberapa kota di Indonesia. Kita biasa melihatnya dalam wujud bak sampah warna jingga untuk sampah kering dan biru untuk sampah basah. Jika di luar kampus, kasus yang terjadi pada bak sampah bertambah, selain penuh sampah bercampur dan kosong sama sekali dengan sampah menumpuk di sekelilingnya, sering bak sampahnya sendiri yang justru hilang. Sebuah acara jalan-jalan bersama berhadian mobil yang digelar Partai Golongan Karya di Alun-Alun Selatan Yogyakarta pada awal Maret 2008 lalu pun membuktikan tempat sampah hanya jadi pajangan semata. Kawasan publik dan bersejarah itu ditinggalkan penuh sampah hingga hari berikutnya. Hmm, mengurus acara saja tidak becus, bagaimana bisa bermimpi mengurus negara? Read the rest of this entry »





Maaf

14 01 2008

Tumben. Biasanya orang banyak bilang maaf-memaafkan itu ketika Lebaran menjelang. Namun, lebih tiga bulan Lebaran berlalu, orang sibuk bicara maaf. Mendadak Maaf ^^

Maaf itu diperlukan adanya ketika memang ada sesuatu yang salah (telah) terjadi. Biasanya, yang meminta maaf adalah pihak yang melakukan kesalahan. Biasanya, pula, yang memberikan maaf adalah pihak yang menjadi korban atau “teraniaya”. Pihak itu bisa individu, bisa pula kolektif.

Jika ada pihak (yang diduga kuat _ dan sayangnya memang sangat kelihatan) yang melakukan kesalahan meminta dimaafkan kesalahannya… hmm itu wajar saja.

Namun, biasanya, maaf itu tidak bisa keluar dari hati dan mulut pihak selain pihak korban atau yang “teraniaya”.

Jadi, kalau diri kita mau menyatakan memberikan maaf… eits, tahan dulu. Apakah diri kita korban? Atau adakah tanggung jawab dari diri kita yang disalahgunakan si pelaku kesalahan?

Jika jawabannya tidak… tak perlulah diri kita memberikan maaf.
Apalagi jika jangan-jangan malah diri kita juga ikut-ikutan jadi pihak yang melakukan kesalahan?

Mari serahkan hak memaafkan itu kepada pihak yang memang berhak memberikan maaf.
Jika mereka ingin tetap ada pertanggungjawaban atas kesalahan itu.. ya memang itu hak mereka untuk menuntut.
Dan.. akhirnya itu memang kewajiban yang harus ditanggung oleh si pelaku kesalahan.

Ya, biasanya sih seperti itu….

Maafkan jika saya salah

gambar tangan salaman diambil dari sini





Niat Baik untuk Borobudur itu…

31 05 2007

Catatan pendek tentang Borobudur (1)

Sebuah maha karya agung sekelas Borobudur tentunya akan mengundang perhatian banyak pihak. Tak hanya perhatian untuk sekedar mengunjunginya, tetapi juga untuk melindunginya, melestarikannya, dan juga memanfaatkannya; dalam bahasa menterengnya “dikemas untuk kemudian dijual”.

Borobudur

Semenjak ditinggalkan oleh komunitas pendukungnya, Borobudur tidak lantas sepi sendiri. Paling tidak tetap ada pemaknaan dari sejumlah masyarakat yang tentunya masih ada yang tersisa dan tetap tinggal di sekitarnya. Lalu pada akhirnya muncul perhatian dari Raffles pada awal abad 19. Jelang akhir abad tersebut dan seterusnya, hingga kini, perhatian itu terus bermunculan. Kebanyakan memang hadir dari para pemerhati asing, seperti FC Wilsen, Godfrey Philipps Baker, HN Sieburgh, WOJ Nieuwenkamp, Stutterheim, de Casparis, NJ Krom, Th. Van Erp, hingga kemunculan UNESCO setelah paruh kedua abad 20. Perhatian dari bumiputera sendiri tak kalah intensifnya, mulai dari era Kassian Chepas, Poerbatjaraka, hingga era Soekmono dan Primadi Tabrani, dan seterusnya hingga kini dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (PT TWC).

Secara kelembagaan, perhatian terhadap Borobudur yang mutakhir sudah dimulai sejak JICA mengeluarkan masterplan pengelolaan kawasan Borobudur (1979), yang muncul dalam sistem pemintakatan yang terbagi ke dalam lima mintakat. Selanjutnya, pengelolaan Borobudur sebagai Taman Arkeologi pun diserahkan ke tangan sebuah BUMN, yaitu PT TWC Borobudur dan Prambanan (saat itu belum meliputi pengelolaan kompleks Ratu Boko) berdasarkan Keputusan Presiden No. 1 Tahun 1992. Sementara PT TWC mengelolanya dari sisi pemanfaatan wisata, Balai Konservasi Borobudur yang berkantor di dalam kompleks TWC Borobudur bertanggung jawab atas kelestarian fisik candi Buddha tersebut. Read the rest of this entry »





Mencari Bentuk Sejati Kearifan Lokal

13 04 2007

Sebuah Catatan Kecil dari Dieng

dieng1 dieng2

Hampir tidak ada perasaan istimewa sedikit pun yang muncul ketika turun dari bus dan pertama kali menginjakkan kaki di tanah kawasan Dieng. Hal itu semakin menjadi ketika melintasi taman di kawasan kompleks Candi Arjuna. Aura kawasan yang telah begitu mendunia ini muncul dalam bentuk yang jauh dari yang terbayangkan semula. Kawasan ini telah menjelma menjadi kawasan yang unik dan lucu. Kompleks percandian kuno itu bagaikan sekedar hiasan taman, keberadaannya tenggelam oleh kemunculan taman dan berbagai fasilitas lainnya. Candi Gatutkaca yang berada di ujung bagian taman bahkan lebih “merana”. Keberadaannya tepat di tepi jalan raya bisa dibilang tidak bisa mencuri perhatian sama sekali walaupun telah dihiasi dengan berbagai tanaman hias. Sementara, jika dilihat dari atas, plateau ini tampak penuh sesak dengan lahan-lahan pertanian. Keunikan kawasan ini ditutup dengan kegundulan puncak-puncak gunung yang mengelilinginya. Bahkan di puncak gunung pun ada lahan kentang! Apakah semua ini mengindikasikan sesuatu yang salah kaprah ataukah sekedar kekalutan subjektif karena terlalu banyak dijejali prinsip-prinsip idealis di bangku kuliah?

dieng12 dieng16

Taman di kawasan kompleks Candi Arjuna Dieng dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2003. Pekerjaan yang dimaksudkan sebagai pembenahan lansekap kawasan ini dipicu oleh menurunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Dieng. Pembangunan taman ini pun mendapatkan masukan langsung dari pihak Suaka Purbakala/SPSP (sekarang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala/BP3) Jawa Tengah agar tetap memperhatikan lansekap kompleks percandian. Jangan sampai penataan ini mengakibatkan kerusakan pada struktur candi dan jangan sampai pula menyebabkan kompleks percandian ini seolah-olah berdiri di tengah lapangan golf (Kompas, 22 Mei 2003). Kekhawatiran itu cukup beralasan. Terbukti, pada bulan Mei 2004 lalu, tamanisasi ini mendapat kritik dari anggota Pacipic Asia Travel Asociation (PATA) yang berkunjung ke Dieng. Jajang Agus Sonjaya yang saat ini tengah mengerjakan tesis mengenai pengelolaan situs Dieng ini menyatakan bahwa kritikan tersebut muncul karena tamanisasi Dieng yang beraksen modern itu dianggap kurang sesuai dengan lansekap candi. Read the rest of this entry »





Kotagede, Korban Konservasi Salah Kaprah

28 03 2007

Hanya tersisa kurang dari dua bulan bagi kita untuk bisa menyaksikan langsung tembok bata kuno kokoh yang mengelilingi kompleks masjid dan makam kerajaan Mataram Islam di Kotagede. Tembok bata “baru” akan segera menggantikan dinding pagar yang sudah berusia lebih dari 400 tahun itu. Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi saksi sejarah bahwa walaupun kita tidak bisa melihat kapan dan bagaimana tembok itu dibangun, tetapi kita berkesempatan melihat kapan dan bagaimana tembok itu dibongkar. Ya, dibongkar!
tembok makam tembok

Di sisi utara jalan Dondongan menuju gerbang utama kompleks Masjid Gedhe Mataram Kotagede kita bisa melihat papan proyek yang menjelaskan bahwa saat ini tengah berlangsung proses rehabilitasi dan konservasi kompleks masjid kerajaan periode Mataram Islam itu. Proses yang sudah berlangsung sejak tahun 2002 lalu itu saat ini sedang memfokuskan diri untuk merenovasi tembok keliling kompleks masjid dan makam. Seperti yang dimuat dalam harian Kompas Edisi Yogyakarta (18/10), penanganan yang dilakukan adalah renovasi total. Bahkan, oleh karena sudah (dianggap) mengalami kerusakan parah dan hampir ambruk, tembok pagar di Sendang Putri, Sendang Kakung, dan di sebelah barat masjid terpaksa dirubuhkan. Read the rest of this entry »





Antara Dunia Lain dan Sangkar Burung

26 03 2007

Perjalanan Memperjuangkan Hak yang Terabaikan

Pintu di sisi utara Jalan Mondorakan itu dari luar hanya tampak seperti pintu garasi dari kayu yang sudah usang. Tidak tampak ada yang menarik dari pintu itu, apa lagi yang berada di balik pintu itu. Pintu kayu lapuk tersebut terdiri dari dua daun pintu yang masing-masing lebarnya sekitar dua meter, cukup besar memang. Pada salah satu daun pintu terdapat sebuah pintu kecil, sehingga tepat jika disebut dengan pintu yang berpintu. Pintu itulah yang digunakan sebgai jalan keluar masuk ketika pintu utama ditutup.

Jika kita mencoba masuk, selepas dari pintu besar tadi terbentang jalan tanah selebar sekitar empat meter yang dibatasi oleh dinding bangunan di kedua sisinya. Jalan itu tidak panjang, sekitar lima belas meter saja, dan di ujungnya telah menanti dengan angkuhnya sebuah menara penerima/penerus sinyal salah satu operator telepon seluler berikut pagar kelilingnya yang begitu masif. Dari ujung jalan ini, untuk terus menuju ke utara harus terlebih dahulu mengitari pagar menara itu. Tepat di sisi utara pagar menara berdiri sebuah rumah tua yang jelas tidak lagi ditinggali.

Rumah tua itu saat ini letaknya memang sudah sangat terbuka. Di samping dan belakangnya langsung berbatasan dengan rumah penduduk, selain bagian depan rumah yang telah berubah menjadi menara tadi (menara itu menempati lahan bekas pendapa rumah tua itu). Namun begitu, terasa nuansa yang lain ketika mencoba mendekati rumah tua itu, apa lagi mencoba masuk ke dalamnya. Memang, menurut warga Kota Gede, rumah yang dikenal dengan nama Rumah Kanthil itu ada “penunggunya” yang dikenal dengan nama Barowo. Keangkeran rumah tua itu sudah begitu dikenal oleh warga kawasan yang sudah sangat akrab dengan organisasi Islam besar bernama Muhammadiyah itu. Read the rest of this entry »





Belajar (Di)hukum di Sekolah

21 03 2007

oye

Aku masih anak SMP yang begitu lugu. Senin pagi datang lagi, semua harus ikut upacara bendera atas nama nasionalisme (atau patriotisme?). Semua harus tertib dan sempurna. Saat upacara selesai, menyeruak Sang Guru sembari menyeret seorang siswa ke podium. Ia dimarahi di depan seluruh siswa karena tertangkap basah tidak ikut menundukkan kepala pada saat pembacaan doa. Hal itu melanggar aturan main upacara. Lho, Sang Guru kok bisa tahu? Nggak ikut menundukkan kepalakah ia?

Aku telah menjadi anak SMU yang juga masih lugu. Lagi-lagi Senin pagi datang dan semua harus ikut upacara. Usai upacara, Sang Guru menggelar razia. Bukan narkoba, sajam, atau VCD porno, tetapi sepatu. So, hampir separuh siswa didepak dari barisan akibat tidak memakai sepatu hitam. Aturan mainnya, semua harus seragam bak militer, sedangkan para guru boleh bergaya bak rombongan arisan. Read the rest of this entry »