Potensi Ancaman Bencana di Yogyakarta dan Sekitarnya

Pendidikan Pusaka untuk Pengurangan Risiko Bencana di Kawasan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya (Bagian 3 – dari 5 Bagian)

Pusat gempa bumi 27 Mei 2006 pukul 05.53 (waktu setempat) di Yogyakarta, Jawa, Indonesia  (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Yogyakarta_2006)

Pusat gempa bumi 27 Mei 2006 pukul 05.53 (waktu setempat) di Yogyakarta, Jawa, Indonesia (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Yogyakarta_2006)

I. Gempabumi Tahun 2006 dan Dampaknya

Pulau Jawa bagian selatan diguncang gempa bumi yang merusak sebelas wilayah kabupaten/kota di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah pada hari Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.53 pagi. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG; saat ini Badan Geologi, Klimatologi dan Geofisika – BMKG) mencatat kekuatan gempa pada 5,9 Skala Richter. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (U.S. Geological Survey) mencatat kekuatan gempa sebesar 6,3 Skala Richter pada kedalaman 10 Km. (http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/eqinthenews/2006/usneb6/). Pusat gempa terletak di daratan selatan Yogyakarta (7.962° Lintang Selatan, 110.458° Bujur Timur).  Laporan Inter Agency Standing Committee – IASC (2006) menyebutkan bahwa dua wilayah terparah adalah Kabupaten Bantul di D.I. Yogyakarta dan Kabupaten Klaten di Jawa Tengah. Gempa bumi tersebut mengakibatkan korban tewas seketika sebanyak 5.744 orang dan melukai lebih dari 45.000 orang.  Sebanyak 350.000 rumah hancur/rusak berat dan 278.000 rumah rusak sedang/ringan. Dampak gempa ini menyebabkan 1,5 juta orang tidak memiliki rumah karena rusak atau hancur. Total penduduk terdampak gempa adalah 2,7 juta jiwa, tiga kali lebih besar daripada jumlah yang tercatat pada petistiwa gempa-tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Jumlah kerusakan dan kerugian total mencapai 3,1 milyar USD, setara dengan kejadian gempa di Gujarat dan Kashmir.

Peta sebaran kerusakan bangunan akibat gempa bumi 27 Mei 2006 di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah  (Sumber: Inter Agency Standing Committee – IASC, 2006)

Peta sebaran kerusakan bangunan akibat gempa bumi 27 Mei 2006 di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah (Sumber: Inter Agency Standing Committee – IASC, 2006)

Skala kekuatan gempa bumi ini sebenarnya lebih kecil daripada beberapa gempa bumi yang pernah melanda wilayah di Jawa Tengah selatan. Namun, karena letak pusat gempa yang dangkal dan berada di daratan menyebabkan kerusakan yang lebih besar daripada gempa berskala kekuatan besar tetapi terjadi tidak di daratan. Situs Departemen Pekerjaan Umum (http://www.pu.go.id) mencatat pada tanggal 19 Juli 2005 terjadi gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter yang mengguncang Yogyakarta pada pukul 19.21. Gempa ini berpusat di Samudera Hindia pada kedalaman 33 Km pada jarak 220 Km di selatan Kota Yogyakarta. Gempa ini disebabkan oleh pergeseran lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia yang berlangsung selama lima detik. Namun, tidak ada kerusakan dan korban yang dilaporkan dalam kejadian ini.

Empat gempa bumi lainnya yang tercatat berpusat di Samudera Hindia dan pernah mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya terjadi pada tahun tanggal 19 Agustus 2004, 25 Mei 2011, 9 Juni 1992, dan 14 Maret 1981. Semuanya berskala di antara 6 – 6,5 Skala Richter. Namun, tidak terjadi kerusakan yang menimbulkan kerugian besar dan korban jiwa. Pada tanggal 23 Juli 1943 tercatat pernah terjadi gempa bumi yang berpusat di 8,6° Lintang Selatan dan 109,9° Bujur Timur. Gempa ini berkekuatan besar (tidak tercatat Skala Richternya) dan mengakibatkan 213 orang meninggal dunia, 2.096 orang luka-luka. Sekitar 2.800 rumah hancur. Getaran gempa ini dirasakan dari Surakarta hingga Garut, Jawa Barat. Gempa bumi besar sebelumnya terjadi pada tanggal 10 Juni 1867. Sejumlah 372 rumah hancur dan meewaskan 5 orang di Yogyakarta. Getaran gempa ini terasa hingga Surakarta (Solo). Kejadian ini meruntuhkan sejumlah bangunan di Taman Sari Kraton Yogyakarta, merusak Gedung Residen (Gedung Agung saat ini), dan merobohkan Tugu Pal Putih Kraton Yogyakarta.

Peta wilayah rawan gempa bumi di Indonesia (Sumber: http://esdm.go.id).

Peta wilayah rawan gempa bumi di Indonesia (Sumber: http://esdm.go.id).

Gempa bumi adalah konsekuensi logis dari fakta bahwa Pulau Jawa yang merupakan bagian dari kepulauan Indonesia berada di wilayah rawan gempa. Website Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Administrator, 2009) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan salah satu bagian wilayah di dunia yang mempunyai sistem seismotonik yang tergolong rumit dengan frekuensi kejadian gempabumi cukup tinggi. Fenomena tersebut disebabkan posisi Indonesia terletak pada wilayah tumbukan (pertemuan) 3 (tiga) buah lempeng besar berukuran benua yang secara terus menerus bergerak. Ketiga lempeng aktif tersebut adalah Hindia-Australia, Pasifik, dan Eurasia. Karenanya, gempa bumi berkekuatan lebih dari 6 Skala Richter berpeluang terjadi di wilayah selatan Pulau Jawa. Selain dapat merusak sarana dan prasarana permukiman penduduk, gempa bumi juga dapat mengubah kondisi geologi serta hidrologi secara cepat. Rekahan pada batuan dapat menyebabkan penurunan debit mata air dan intrusi air laut ke dalam air tanah. Selain akibat pergerakan lempeng, gempa bumi juga dapat disebabkan oleh aktivitas vulkanik. Namun, gempa vulkanik getarannya tidak besar dan sebarannya tidak seluas gempa tektonik.

II. Erupsi Gunungapi Merapi (2006 dan 2010) dan Dampaknya

Gunungapi Merapi yang terletak di utara Yogyakarta menjadi pusat perhatian setiap empat – lima tahun sekali. Gunung api ini termasuk paling sering meletus. Ada 83 erupsi yang tercatat hingga bulan Juni 2006. Rata-rata, selang waktu erupsi Merapi terjadi antara 2 – 5 tahun (periode pendek) atau 5 – 7 tahun (periode menengah). Merapi pernah mengalami istirahat panjang lebih dari 30 tahun, terutama di masa awal keberadaannya sebagai gunungapi. Sejarah letusan gunung Merapi mulai dicatat (tertulis) sejak tahun 1768. Namun demikian sejarah kronologi letusan yang lebih rinci baru ada pada akhir abad 19. Ada kecenderungan bahwa pada abad 20 letusan lebih sering dibanding pada abad 19. Hal ini dapat terjadi karenapencatatan suatu peristiwa pada abad 20 relatif lebih rinci. Pemantauan gunungapi juga baru mulai aktif dilakukan sejak awal abad 20. Selama abad 19 terjadi sekitar 20 letusan, yang berarti interval letusan Merapi secara rata-rata lima tahun sekali (http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/).

Website Badan Geologi menerakan bahwa letusan terbesar Merapi pada abad 19 dan 20 adalah letusan pada tahun 1872. Letusan berlangsung selama lima hari dan digolongkan dalam kelas D. Suara letusan terdengar sampai Kerawang, Madura dan Bawean. Awanpanas mengalir melalui hampir semua hulu sungai yang ada di puncak Merapi, yaitu Apu, Trising, Senowo, Blongkeng, Batang, Woro, dan Gendol. Awanpanas dan material produk letusan menghancurkan seluruh desa-desa yang berada di atas ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. Tipe letusan Gunungapi Merapi termasuk dalam tipe Vulkanian lemah. Tipe Vulkanian kuat dicontohkan seperti letusan Gunungapi Vesuvius pada tahun 79. Merapi tidak berkarakter eksplosif, tetapi aliran piroklastik (yang umum disebut sebagai Awan Panas) hampir selalu terjadi pada setiap erupsinya.

Peta Kota dan Kabupaten di Sekitar Gunungapi Merapi (Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana – BNPB)

Peta Kota dan Kabupaten di Sekitar Gunungapi Merapi (Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana – BNPB)

Tubuh gunungapi ini terbagi ke dalam empat wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Magelang di Provinsi Jawa Tengah. Merapi yang menjadi sumber kehidupan ini sekaligus menjadi ancaman bagi penduduk yang tinggal di 9 kecamatan, 42 desa, dan 118 dusun yang terletak di sekitar Merapi. Letusan terakhir terjadi pada akhir Oktober – Desember 2010 lalu, yang dampaknya masih berlangsung hingga awal tahun 2011. Erupsi yang berlangsung dari tanggal 25 Oktober hingga awal Desember 2010 (http://en.wikipedia.org/wiki/2010_eruptions_of_Mount_Merapi) itu mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, 353 orang tewas akibat awan panas. Lebih dari 350.000 orang diungsikan dari wilayah yang rawan di radius 20 Km dari puncak Merapi. Seach (2010) mencatat bahwa erupsi tahun 2010 ini adalah yang terbesar dalam 100 tahun terakhir. Sebaran abu vulkanisnya menyebabkan bandara internasional Adisucipto Yogyakarta ditutup. Hujan abu vulkanik menerpa wilayah di sekitar Merapi, termasuk kota Yogyakarta yang berjarak sekitar 25 Km dari Merapi.

Peta sebaran endapan awan panas Gunungapi Merapi pada periode 1911 – 2006 (Sumber: http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/)

Peta sebaran endapan awan panas Gunungapi Merapi pada periode 1911 – 2006 (Sumber: http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/)

Erupsi besar sebelumnya terjadi pada tahun 2006. Erupsi berlangsung dari bulan April hingga Juni 2006. Lebih dari 22.000 orang dievakuasi dari wilayah rawan. Pada saat itu, aliran piroklastik menerjang ke arah selatan, ke wilayah Dusun Kali Adem di Cangkringan, Sleman, D.I. Yogyakarta dan menewaskan dua orang relawan. Letusan besar lainnya terjadi pada 22 November 1994 dan menghancurkan wilayah Dusun Turgo di Sleman, D.I. Yogyakarta dan mengakibatkan tewasnya 66 orang warga akibat terjangan awan panas yang dikenal dengan sebutan wedhus gembel (Nasir dan Wijoyono, 2009). Pada tahun 1984, terjadi luncuran awan panas sejauh 7 Km, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa (Seach, 2010).  Sari Bahagiarti (2010) menuliskan bahwa pada tahun 1972 – 1973 terjadi erupsi di Merapi, menghasilkan semburan asap hitam setinggi 3 Km dan hujan abu – kerikil. Pada tahun 1969 terjadi letusan besar dengan luncuran awan panas yang menewaskan 3 orang. Kejadian yang sama terjadi pada tahun 1961, disertai banjir lahar, yang menewaskan 6 orang. Tahun 1954, Merapi meletus dan menghasilkan awan panas, hujan abu, dan lapili, yang mengakibatkan 64 orang menjadi korban meninggal. Kejadian besar di abad yang lalu berlangsung pada tahun 1930 – 1931. Merapi meletus dengan tipe Pilinian, menghasilkan aliran lava, piroklastik, dan lahar. Sejumlah 1.369 orang meninggal dunia akibat letusan tersebut.

Dampak letusan gunungapi seperti Merapi tidak hanya terjadi ketika erupsi berlangsung. Dampak tersebut bisa ada hingga beberapa bulan dan tahun setelah erupsi terjadi. Letusan besar yang terjadi di tahun 2010 menimbulkan dampak yang panjang hingga beberapa tahun ke depan. Okezone.com (Hendarto, 2011) mempublikasikan pernyataan resmi Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho bahwa ancaman banjir lahar pasca-erupsi akan berlangsung hingga 3 – 4 tahun ke depan. Hal ini disebabkan volume material yang dihasilkan dalam erupsi 2010 sangat besar, yakni 140 juta meter kubik. Hingga akhir April, baru 25% material yang teralirkan melalui banjir lahar hujan. Kerusakan yang diakibatkan oleh aliran banjir lahar di sungai-sungai yang berhulu di Merapi terjadi di wilayah Provinsi D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Provinsi D.I. Yogyakarta mengalami kerusakan 24 jembatan putus, 46 rumah rusak berat, 51 bendung irigasi tidak berfungsi, dan 185 hektar lahan pertanian terendam. Provinsi Jawa Tengah mengalami kerugian lebih besar. Di Kabupaten Magelang tercatat 3.452 orang mengungsi, yang tersebar di 13 lokasi di 6 kecamatan di Magelang. Kerusakan rumah mencapai 721 unit; 129 hanyut, 307 rusak berat, 129 rusak sedang, dan 156 rusak ringan. Ruas jalan nasional di Km 3 Magelang juga rusak, beserta 13 ruas jalan kabupaten, dan 7 ruas jalan desa. Ada 10 unit jembatan nasional yang rusak; 8 unit di D.I. Yogyakarta dan 2 unit di Jawa Tengah. Jumlah di atas masih bisa terus bertambah dikarenakan peristiwa bajir lahar hujan di saluruh aliran sungai yang berhulu di Merapi masih terus terjadi.

Selain kerusakan infrastruktur, erupsi Merapi juga mengubah bentang lahan di lereng Merapi. Tercatat 129 mata air di lereng Merapi tertutup material vulkanik pasca-erupsi dan banjir lahar dingin di tahun 2010 – 2011. Dari jumlah itu, termasuk mata air Umbul Wadon dan Umbul Lanang di Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, D.I. Yogyakarta. Dua mata air itu adalah sumber pasokan utama air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman dan Kota Yogyakarta. Walaupun menutup sumber air baku, tetapi material erupsi ini tidak berdampak serius pada keadaan air tanah dan sumber air di Sleman, Kota Yogyakarta, dan Bantul dalam skala luas (Prabowo, 2011). Selain mata air, Kompas  (Joewono, 2010) menuliskan bahwa 2.400 hektar hutan di Taman Nasional Gunung Merapi rusak akibat erupsi. Kerusakan hutan ini meliputi wilayah Sleman, Klaten, Boyolali, dan Magelang. Luas tersebut mencakup 33% dari keseluruhan luas hutan taman nasional yang mencapai 6.410 hektar.

III. Ragam Upaya Penanggulangan Bencana oleh Para Pihak

Kehidupan di nusantara ini memang harus bersahabat dengan bencana. Sebagai konsekuensi logis dari keletakan geografis kepulauan ini di permukaan bumi, Indonesia harus siap menghadapi beragam ancaman bencana, baik bencana alam, bencana non-alam, maupun bencana sosial. Data BNPB tahun 2008 (http://bnpb.go.id) menunjukkan telah terjadi 343 bencana di Indonesia. Banjir menempati urutan tersering, 197 kejadian (58%) selama tahun 2008. Angin topan (56 kejadian; 16%) dan tanah longsor (39 kejadian; 12%), serta banjir dan tanah longsor (22 kejadian; 7%), menempati urutan berikutnya. Gelombang pasang atau abrasi turut menyumbang 8 kejadian bencana (2%), setara dengan kejadian gempabumi dan kebakaran. Sementara, bencana akibat kegagalan teknologi terjadi 3 kali (1%), diikuti bencana kebakaran lahan dan hutan, letusan gunungapi, serta konflik/kerusuhan sosial, masing-masing 1 kejadian (0.3%). Dari kejadian yang berlangsung, bencana banjir di tahun 2008 menimbulkan kerugian kerusakan bangunan terbanyak (20.046 bangunan), disusul gempabumi, yang walaupun frekuensinya sedikit, tapi menyebabkan 8.254 bangunan rusak. Angka yang sangat tinggi tampak dari data kerusakan bangunan akibat gempa bumi yang terjadi di Indonesia di tahun 2007, sejumlah 145.595 bangunan, disusul kejadian banjir yang merusak 41.968 bangunan.

Undang-Undang tentang Penanggulangan Bencana diterbitkan pada tahun 2007 (UU RI No. 24 tahun 2007), setelah belajar dari pengalaman bencana gempa-tsunami di Aceh (2004), gempa Nias (2005), dan gempa Yogyakarta – Jawa Tengah (2006). Dalam undang-undang ini diatur bahwa dalam Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), suatu pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi secara adil dan setara akan diwujudkan. Dari tingkat nasional ini, kemudian akan dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bertugas menetapkan standardisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan Peraturan Perundang-undangan. Dari peta rawan bencana yang disusun akan ditetapkan prosedur tetap penanganan bencana (lihat, Wijoyono, 2009).

Penyelenggaran penanggulangan bencana ini, sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelanggaraan Penanggulangan Bencana, dilakukan pada tahap prabencana, saat tanggap darurat, dan pascabencana. Penyelenggaraannya di tahap sebelum terjadi bencana pun dapat dilakukan ketika dalam situasi tidak ada bencana dan dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana. Upaya-upaya yang bisa dilakukan meliputi perencanaan penanggulangan bencana, pengurangan risiko bencana, pencegahan, pemaduan dalam perencanaan pembangunan, persyaratan analisis risiko bencana, pelaksananaan dan penegakan tata ruang, pendidikan dan pelatihan, serta persyaratan teknis penanggulangan bencana. Penyusunannya akan dilakukan oleh BNPB di tingkat nasional dan oleh BPBD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Ketika dalam situasi darurat, Kepala BNPB atau Kepala BPBD akan memegang komando untuk pengerahan sumber daya manusia, peralatan, logistik, dan penyelamatan. Dalam proses penyelamatan, misalnya, Kepala BNPB dan/atau Kepala BPBD memiliki wewenangan untuk menyingkirkan dan/atau memusnahkan barang atau benda yang dapat mengganggu proses penyelamatan, hingga menutup suatu lokasi, baik milik publik maupun pribadi. Memasuki tahap rehabilitasi, pemerintah dan/atau pemerintah daerah yang terkena bencana akan menyusun rencana rehabilitasi yang didasarkan pada analisis kerusakan dan kerugian akibat bencana, dengan memperhatikan aspirasi masyarakat. Rencana rehabilitasi tersebut disusun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Kepala BNPB.

Dalam upaya penanggulangan bencana, ada manajemen cluster atau bidang yang bertujuan untuk mengefektifkan koordinasi. Pada pengalaman gempa bumi 2006 di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Inter-Agency Standing Committee (IASC) menyelenggarakan sejumlah cluster sebagai bagian dalam Emergency Response Plan (ERP). Cluster tersebut meliputi emergency shelter, early recovery, livelihoods, health, water and sanitation, food and nutrition, protection, education, agriculture, logistics, emergency telecommunication, dan coordination and security. Setiap cluster tersebut akan diisi oleh lembaga-lembaga pemberi bantuan, baik lembaga pemerintah maupun non-pemerintah. Koordinasi di setiap cluster dan di keseluruhan cluster pada bencana yang mendapatkan perhatian internasional akan dikelola oleh tim dari lembaga atau badan United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa – PBB). Koordinasi ini dilakukan dalam satu kerja bersama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, yang pada tahun 2006 diperani oleh Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB; saat ini menjadi BNPB) di tingkat pusat dan Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB) di tingkat provinsi, dan Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) di tingkat kabupaten/kota.

Pada peristiwa erupsi Merapi 2010, dibentuk juga satuan cluster untuk tanggap bencana yang disebut sebagai gugus tugas. Gugus tugas ini dikelola bersama dalam sebuah forum bernama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi D.I. Yogyakarta. Forum ini adalah wujud dari amanat dalam UU RI No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana bahwa dalam pelaksanaan penanggulangan bencana harus melibatkan para pihak dalam satu wadah koordinasi, baik lembaga pemerintah maupun non-pemerintah. Dalam koordinasi di FPRB Provinsi D.I. Yogyakarta untuk menanggapi bencana erupsi Merapi, dibentuk sembilan gugus tugas, meliputi kesehatan, air-sanitasi-higienitas, media-komunikasi-manajemen informasi, pendidikan, gender-anak-disabilitas, hunian dan infrastruktur, penghidupan dan ketahanan pangan, logistik dan transportasi, serta lingkungan hidup.

Disiapkan oleh

Elanto Wijoyono

  • Koordinator Program Pembangunan Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Lokal – COMBINE Resource Institution (Yogyakarta – Indonesia)
  • Koordinator Program Pendidikan Pusaka – Badan Pelestarian Pusaka Indonesia / Indonesian Heritage Trust (Jakarta – Indonesia)

untuk
International Training Course on Disaster Risk Management on Cultural Heritage 2011
UNESCO Chair Program on Cultural Heritage and Risk Management
Research Center for Disaster Mitigation of Urban Cultural Heritage, Ritesumeikan University, Kyoto, Japan

Kerangka Tulisan

I. Potensi Pusaka Yogyakarta dan sekitarnya

  1. Pusaka Alam
  2. Pusaka Budaya
  3. Pusaka Saujana

II. Dinamika Pembangunan Kawasan di Yogyakarta; Peluang atau Ancaman

  1. Pertumbuhan penduduk
  2. Perkembangan kawasan perkotaan
  3. Dampak pembangunan pada kawasan pusaka

III. Potensi Ancaman Bencana di Yogyakarta dan sekitarnya

  1. Pengalaman gempabumi 2006 dan dampaknya
  2. Pengalaman kejadian erupsi Merapi (2006, 2010 – 2011) dan dampaknya
  3. Ragam upaya penanggulangan bencana oleh para pihak

IV. Dampak Bencana pada Pusaka Yogyakarta

  1. Pelestarian pusaka dari kacamata hukum di Indonesia dan di daerah
  2. Praktik pelestarian dan penyelamatan pusaka dalam kejadian bencana di Yogyakarta
  3. Kerugian yang tak diharapkan terhadap pusaka saat bencana

V. Dinamisasi Pengetahuan Pengurangan Risiko Bencana yang Berdampak Pelestarian

  1. Menjadikan pusaka sebagai bekal/modal/bahan pendidikan kebencanaan
  2. Pembangunan apresiasi terhadap pusaka untuk pelestarian
  3. Strategi pembangunan sistem pendidikan kebencanaan dan pendidikan pusaka untuk kelestarian kehidupan

Daftar Bacaan

Peraturan / Produk Hukum

Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 11 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya.

Peraturan Walikota Yogyakarta No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Yogyakarta Tahun 2007 – 2011.

Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003. Oleh Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia dan ICOMOS Indonesia.

Statuta Forum Pengurangan Risiko Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Website / Portal

Badan Geologi – Merapi. http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). http://bnpb.go.id

Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) – Indonesian Heritage Trust. http://indonesianheritage.org

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi D.I. Yogyakarta.
http://bapeda.jogjaprov.go.id/

Badan Pusat Statistik (BPS). http://www.bps.go.id

Badan Pusat Statistik Yogyakarta. http://yogyakarta.bps.go.id/

Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. http://konservasiborobudur.org/

Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi D.I. Yogyakarta. http://fprb.wordpress.com/

Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN MERAPI). http://merapi.combine.or.id

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. http://www.gunungkidulkab.go.id

Pemerintah Kabupaten Sleman. http://www.slemankab.go.id/

Pemerintah Kota Yogyakarta. http://jogjakota.go.id

Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. http://www.pemda-diy.go.id/

Program Pendidikan Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. http://pendidikanpusaka.org

United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA). http://ochaonline.un.org/indonesia/

World Historical Cities (The League of Historical Cities).
http://www.city.kyoto.jp/somu/kokusai/lhcs/eng/index.htm

World Monument Fund. http://www.wmf.org

Tulisan / Terbitan

Adishakti, Laretna T.. 2004. Tantangan dan Peluang Ekonomi dalam Pelestarian Pusaka; Yogyakarta Kota Pusaka Dunia? Artikel disampaikan dalam Diskusi Panel Pelestarian Pusaka dan Pembangunan Ekonomi pada tanggal 28 April 2004 di Yogyakarta, Indonesia.

Adishakti, Laretna T.. 2006. Revitalisasi Kawasan Pusaka Kotagede Pasca-Bencana; Peran Masyarakat dalam Proses Rekonstruksi Berkelanjutan. Artikel disampaikan dalam Lokakarya Penanganan Kawasan Pusaka Pasca-Bencana; Penguatan Masyarakat dalam Proses Rekonstruksi pada tanggal 17 – 19 Agustus 2006 di Yogyakarta, Indonesia.

Adishakti, Laretna T.. 2008. Kepekaan, Selera, dan Kreasi dalam Kelola Kota Pusaka. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka 2008 Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 23 Agustus 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.

Adishakti, Laretna T.. 2009. Documentation of Post-Disaster Traditional Houses Reconstruction Process in Kotagede Heritage District, Yogyakarta, Indonesia. Yogyakarta: Jogja Heritage Society.

Administrator. 2009. Peta Wilayah Rawan Gempabumi Indonesia. Website Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral > Geologi > Edisi Senin, 16 November 2009. Diakses pada tanggal 28 April 2011. http://esdm.go.id/berita/geologi/42-geologi/2980-peta-wilayah-rawan-gempabumi-indonesia.html

Adrisijanti, Inajati. 2000. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Yogyakarta: Jendela.

Adrisijanti, Inajati (ed.). 2003. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Adrisijanti, Inajati. 2007. Kota Yogyakarta sebagai Kawasan Pusaka Budaya; Potensi dan Permasalahannya. Artikel disampaikan dalam Diskusi Sejarah “Kota dan Perubahan Sosial dalam Perspektif Sejarah” diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada 11 – 12 April 2007 di Yogyakarta, Indonesia.

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2008. Permainan Tradisional Anak; Perspektif Antropologi Budaya. Pengantar dalam Sukirman Dharmamulya, et. al.. Permainan Tradisional Jawa; Sebuah Upaya Pelestarian. Yogyakarta: Penerbit Kepel Press.

Alvares, Eko, et.al.. 2010. Rehabilitasi Jam Gadang Bukittinggi. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka 2010 Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 23 – 26 September 2010 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Amin, Yusna M.. 2006. Melindungi dan Menata Ruang Terbuka Hijau sebagai Antisipasi Bencana dan Ekspresi Masyarakat yang Bermartabat. Artikel disampaikan dalam Seminar Intern di Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Jakarta pada 5 Juli 2006 di Jakarta.

Arnawati, Dyah. 2006. Penggambaran Ulang dan Rekonstruksi Bangsal Trajumas Kraton Yogyakarta. Artikel disampaikan dalam Semiloka Refleksi 250 Tahun Yogyakarta; Semangat Muda Membangun Kembali Pusaka Jogja Pascagempa dan untuk 250 Tahun ke Depan pada tanggal 16 September 2006 di Yogyakarta, Indonesia.

Aryandini, Woro. 2002. Wayang dan Lingkungan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Attoe, Wayne. 2001. Perlindungan Benda Bersejarah. Dalam Anthony J. Catanese dan James C. Snyder (ed.). Perencanaan Kota. Edisi Ke – 2. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman: 413 – 438.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta. 2007. Data Berbasis 9 (Sembilan) Fungsi Perencanaan Pembangunan (Basis Data). Yogyakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Kota Yogyakarta.

Badan Lingkungan Hidup Provinsi D.I. Yogyakarta. 2011. Usulan Program / Kegiatan Tahun 2012. Presentasi disampaikan dalam Forum SKPD Provinsi D.I. Yogyakarta tahun 2011 pada tanggal 30 Maret 2011 di Yogyakarta, Indonesia.

Bahagiarti, Sari. 2010. Erupsi Merapi dan Kearifan Lokal. Kompas.Com > Entertainment > Edisi Sabtu, 30 Oktober 2010. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://entertainment.kompas.com/read/2010/10/30/0440394/Erupsi.Merapi.dan.Kearifan.Lokal

Bintarto, H.S.. 1995. Keterkaitan Manusia, Ruang, dan Kebudayaan. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 1 – 4.

Boechari. 1997 – 1998. Some Consideration of the Problem of the Shift of Mataram Center of Government from Central to East Java in the 10th Century A.D. Dalam Bulletin of the National Research Centre of Archaeology of Indonesia No. 10. Cetakan ke – 2. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

BPS Kota Yogyakarta. 2009. Kota Yogyakarta dalam Angka 2009; Yogyakarta City in Figures 2009. Yogyakarta: BPS Kota Yogyakarta – BPS Statistic of Yogyakarta City.

Castells, Mauel. 1983. The City and The Grassroots. Berkeley and Los Angeles: University of California Press.

Chawari, Muhammad. 1994. Masjid Agung Kotagede; Kajian Awal terhadap Inskripsi yang Ada. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Halaman 31 – 33.

Damanik, Janianton. 2007. Sustainable Tourism in the Yogyakarta Special Region, Indonesia; Challenge and Oportunity. Artikel disampaikan dalam The EATOF Academic Symposium pada 5 – 7 Agustus 2007 di Chiang Mai, Thailand.

Departemen Pekerjaan Umum. 2006. Sejarah/Kronologi Gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Website Departemen Pekerjaan Umum. Diakses pada tanggal 7 Mei 2011. http://www.pu.go.id/publik/ind/produk/info_peta/rwnbanjir/bencana2006/3334gempasejarah.htm

Diamond, Jared. 2006. Collapse; How Societies Choose to Fail or Succeed. New York: Penguin Books

Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum dan Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta. 2008. Penyusunan Kembali RTRWP DIY 2008 – 2028 (Draft Awal).

Dumarcay, Jacques. 2007. Candi Sewu dan Arsitektur Bangunan Agama Buddha di Jawa Tengah. Terjemahan Indonesia: Winarsih Arifin dan Henri Chambert-Loir. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Emiliana, et.at.. 1991/1992. Kesadaran Budaya tentang Tata Ruang pada Masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (Suatu Studi Mengenai Proses Adaptasi). Yogyakarta: Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Grehenson, Gusti. 2011. Candi Prambanan Terancam Banjir Lahar Dingin. Website Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia > Berita > Seminar – Workshop > 7 Februari 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://www.ugm.ac.id/new/id/news/candi-prambanan-terancam-banjir-lahar-dingin

Hageman, Cees, et.al.. 2010. Toolkit, Step by Step; An Approach to Heritage Education. Amsterdam; The Netherlands Institute for Heritage (Erfgoed Nederland).

Hall, Peter dan Colin Ward. 1998. Sociable Cities; The legacy of Ebenezer Howard. Chichester: John Wiley & Sons.

Han, Mhd. 2009. Ratusan Keramik dan Naskah Kuno Minang Musnah. Kompas.Com > Regional > Sumatera > Edisi Jumat, 16 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2009. http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/16/20062116/Ratusan.Keramik.dan.Naskah.Kuno.Minang.Musnah.

Hardjowirogo. 1989. Sejarah Wayang Purwa. Cetakan ke – 7. Jakarta: Balai Pustaka.

Hardjowisastro. 2007. Pembangunan Wilayah Berkelanjutan. Presentasi disampaikan dalam Seminar Nasional Pembangunan Wilayah Berbasis Lingkungan di Indonesia pada tanggal 27 Oktober 2007 di Yogyakarta, Indonesia.

Haryadi. 1995. Kemungkinan Penerapan Konsep Sistem Seting dalam Penemukenalan Penataan Ruang Kawasan. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 5 – 9.

Haryono, Timbul. 1995. Arkeologi Kawasan dan Kawasan Arkeologis; Asas Keseimbangan dalam Pemanfaatan. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 139 – 143.

Hindarto, Stefanus Yugo. 2011. Ancaman Lahar Dingin Merapi hingga 4 Tahun!. Okezone.com > News > Nusantara > Edisi Jumat, 29 April 2011. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://news.okezone.com/read/2011/04/29/340/451403/ancaman-lahar-dingin-merapi-hingga-4-tahun

Indra, Hasti Hiriati. 2008. Public Open Space Utilization; How People Perceive it in Yogyakarta. Tesis untuk mencapai derajat Master of Science pada spesialisasi Urban Planing and Management di International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation Enschede The Netherlands.

Inter Agency Standing Committee (IASC). 2006. Indonesia Earthquake 2006; Response Plan Revision. Dokumen versi 2.1. tanggal 5 Juli 2006.

Joewono, Benny N.. 2010. 2.400 Hektar Hutan Taman Merapi Hancur. Kompas.Com > Regional > Edisi Kamis, 18 November 2010. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://regional.kompas.com/read/2010/11/18/1635087/2.400.Hektar.Hutan.Taman.Merapi.Hancur

Jogja Heritage Society. 2007. Homeowner’s Conservation Manual; Kotagede Heritage District, Yogyakarta, Indonesia. Jakarta – Bangkok: UNESCO.

Jordaan, Roy (ed.). 2009. Memuji Prambanan; Bunga Rampai para Cendekiawan Belanda tentang Kompleks Percandian Loro Jonggrang. Terjemahan Indonesia: Yosef Maria Florisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia – KITLV Jakarta.

Katayose, Toshihide. 1996. Reflection on Contemporary Townscape. Fukuoka Style Vol. 13 > Special Feature > Historical Townscapes (Part 2). Terjemahan Inggris: Alikay Terry.

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia. 2008. Pidato Kuci pada acara Temu Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan tema Pelestarian Pusaka versus Pembangunan Ekonomi pada tanggal 23 Agustus 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Disampaikan oleh Deputi Menkokesra Bidang Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Sugahartatmo.

Kirmanto, Djoko. 2008. Pelestarian Kota Pusaka dalam Perspektif Penataan Ruang. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan tema Pelestarian Pusaka versus Pembangunan Ekonomi pada tanggal 23 Agustus 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.

Kubontubuh, Catrini Pratihari. 2010. Heritage Emergency Response Post Disaster in Indonesia; Recovery and Sustainability after Disaster. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka 2010 Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 23 – 26 September 2010 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Kusuma, Mawar. 2009. Melacak Manusia Purba Gunung Kidul. Kompas.Com > Sains > Edisi 11 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 26 April 2011.
http://sains.kompas.com/read/2009/10/11/15555379/melacak.manusia.purba.gunung.kidul

Kusumawijaya, Marco. 2009. Kekayaan Kota; Menuju Pembangunan Kota Berdasarkan Aset di Wilayah-wilayah yang Baru Mengalami Urbanisasi. Blog Marco Kusumawijaya; on cities and citizens > 3 Juni 2009. Diakses pada tanggal 12 Mei 2011. http://mkusumawijaya.wordpress.com/2009/06/03/kekayaan-kota-menuju-pembangunan-berdasarkan-aset-di-wilayah-wilayah-yang-baru-mengalami-urbanisasi1/

Kusen. 1995. Kompleks Ratu Boko; Latar Belakang Pemilihan Tempat Pembangunannya. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 128 – 132.

Lelono, T.M. Hari. 2005. Tradisi Ruwat Gunung Merapi pada Masa Jawa Kuno dan Perkembangannya sebagai Kearifan Lokal. Dalam Jurnal Penelitian Arkeologi Nomor 5: Bunga Rampai Religi dari Masa ke Masa. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Mudhiuddin, Andhi M.. 2009. Borobudur – Prambanan dan Candi Lainnya. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Mundardjito. 1982. Pandangan Tafonomi dalam Arkeologi; Penilaian Kembali Atas Teori dan Metode. Dalam Pertemuan Ilimiah Arkeologi II. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Halaman: 497 – 509.

Mundardjito. 1995. Kajian Kawasan; Pendekatan Strategis dalam Penelitian Arkeologi di Indonesia Dewasa Ini. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Murwanto. Tanpa tahun. Kajian Geologi Situs Danau Purba Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tidak diterbitkan.

Murwanto, et.al.. 2004. Borobudur Monument (Java, Indonesia) Stood by a Natural Lake; Chronostratigraphic Evidence and Historical Implications. The Holocene 14, 3 (2004). Halaman: 459 – 463.

Murwanto, Helmy dan Sutikno. 2007. The Ancient Lake Environment in the Borobudur Area Central Java. Artikel disampaikan dalam 1st International Symposium on Borobudur Landscape Heritage 2007 pada tanggal 20 April 2007 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia.

Nakamura, Mitsuo. 1983. Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nas, P.J.M. 1989. Kota dan Desa di Indonesia; Sebuah Pandangan Skeptis. Dalam P.J.M. Nas, e.t.al.. 2007. Kota-Kota di Indonesia; Bunga Rampai. Diterjemahkan oleh Nin Bakdisoemanto, et.a.. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman: 586 – 601.

Nasir, Akhmad dan Elanto Wijoyono (ed). 2009. Mengudara Menjawab Ancaman; Geliat Radio Komunitas dalam Penanggulangan Bencana. Yogyakarta: COMBINE Resource Institution.

Nitihaminoto, Goenadi. 1997. Pembangunan Kompleks Candi Prambanan: Tinjauan atas Lapisan Tanah. Dalam Cinandi; Persembahan Alumni Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada kepada Prof. Dr. H. R. Soekmono. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Halaman 113 – 117.

Prabowo. 2011. 192 Mata Air di Merapi Tertimbun Material Vulkanik. Okezone.com > News > Nusantara > Edisi Jumat, 25 Maret 2011. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://news.okezone.com/read/2011/03/25/340/438654/192-mata-air-di-merapi-tertimbun-material-vulkanik

Prasodjo, Tjahjono. 2000. Pendekatan Partisipatoris dalam Pengelolaan Sumberdaya Arkeologis dan Kemungkinan Penerapannya di Kawasan Arkeologis Gunungkidul. Artikel disampaikan dalam Seminar PTKA Gunungkidul 2000 pada tanggal 12 – 13 April 2000 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Prihantoro, Fahmi. 1998. Konflik Sektoral dalam Usaha Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Cagar Budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Penelitian Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Princeton Council. 2011. Indonesians Appeal to UNESCO to Save Fabled Temples from Volcano (ARTINFO). Princeton Council on World Affairs > World > Arts. http://www.princetoncouncil.org/world-news/arts/4116-indonesians-appeal-to-unesco-to-save-fabled-temples-from-volcano-artinfo.html

Purnomohadi, Ning. 2006. Konservasi Alam dan Pusaka (Lansekap) Alami; Sebuah Catatan Ringkas. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 17 – 19 Agustus 2006 di Yogyakarta, Indonesia.

Rahmi, Dwita H. dan Titi Handayani. 2009. Pedoman Pelestarian Pasca-Bencana Kawasan Pusaka Kotagede, Yogyakarta, Indonesia. Yogyakarta: Jogja Heritage Society.

Rangkuti, Nurhadi. 1995. Candi dan Konteksnya; Tinjauan Arkeologi Ruang. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 37 – 42.

Rhoevique. 2009. Geologi dan Geomorfologi Gunung Sewu. Blog rhoe_pangea06 > 5 April 2009. Diakses pada tanggal 26 April 2011. http://viq-pangea.blogspot.com/2009/04/geologi-dan-geomorfologi-gunung-sewu.html

Rinintya, Enrica et.al.. 2011. Progress Report Damaged Assessment Mission on Mount Merapi Volcano Area. Presentasi disampaikan dalam Diskusi Penilaian Cepat Pusaka Rusak Merapi pada tanggal 20 April 2011 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia.

Riyanto, Sugeng. 1995. Geografi (Kesejarahan) dan Arsitektur (Lansekap) sebagai Ilmu Bantu Arkeologi (Sebuah Uraian Singkat). Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 118 – 122.

Ronald, Arya dan Djoko Dwiyanto. 2000. Pengaturan dan Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya; Sosialisasi Rancangan Perda KCB. Artikel disampaikan dalam Forum Pertimbangan Pelestarian Lingkungan Budaya Provinsi D.I. Yogyakarta pada tanggal 30 Agustus 2000 di Yogyakarta, Indonesia.

Santoso, Jo. 2008. Arsitektur Kota Jawa; Kosmos, Kultur, dan Kuasa. Jakarta: Centropolis – Magister Teknik Perencanaan Universitas Tarumanegara.

Saptono, Hariadi. 2010. Memperkuat “Jembatan” Maridjan – Surono. Kompas.Com > Nasional > Edisi 20 Desember 2010. Diakses pada tanggal 28 April 2011. http://nasional.kompas.com/read/2010/12/20/13101523/Memperkuat.Jembatan.MaridjanSurono

Seach, John. 2010. Merapi Volcano. Volcano Live. Diakses pada tanggal 9 Mei 2011. http://www.volcanolive.com/merapi.html

Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia; Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Setianingsih, Rita Margaretha. 1998. Dua Batu Berhias dari Ruas Sungai Opak; Data Tambahan Pembangunan Percandian Prambanan. Berkala Arkeologi Tahun XVIII Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 17 – 29.

Setiawan, Bobi B.. 2004. Pelestarian Pusaka Budaya dan Pentingya Peran Serta Masyarakat. Artikel disampaikan dalam Sarasehan Perlindungan Bangunan dan Kawasan Pusaka sebagai Aset Utama Pariwisata di Yogyakarta pada tanggal 30 Desember 2004 di Yogyakarta, Indonesia.

Setyastuti, Ari. 2007. Pencagarbudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Artikel disampaikan dalam Sarasehan Sosialisasi Benda Cagar Budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 11 September 2007 di Yogyakarta, Indonesia.

Sidharta dan Eko Budihardjo. 1989. Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Simanjuntak, Truman. 2004. New Insight on the Prehistoric Chronology of Gunung Sewu, Java, Indonesia. Modern Quartenary Research South East Asia 18. Leiden: A.A. Balkema. Halaman: 9 – 30.

Sindhunata dan Hermanu. t.t.. Pawukon. Yogyakarta: Bentara Budaya Yogyakarta.

Soemardjan, Selo. 2009. Perubahan Sosial di Yogyakarta. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Komunitas Bambu.

Soeroso, Amiluhur. 2007. Conservation of the Borobudur Cultural Landscape. Artikel disampaikan dalam 1st International Symposium on Borobudur Landscape Heritage 2007 pada tanggal 20 April 2007 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia.

Soeroso, Amiluhur. 2007. Penilaian Kawasan Pusaka Borobudur dalam Kerangka Perspektif Multiatribut Ekonomi Lingkugan dan Implikasinya terhadap Kebijakan Manajemen Ekowisata. Disertasi dalam Ilmu Lingkungan pada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sojaya, Jajang Agus. 2005. Cermin Retak Pengelolaan Benda Cagar Budaya. Kedaulatan Rakyat > Rubrik Opini > Edisi 17 Juni 2005. Yogyakarta: Kedaulatan Rakyat. Halaman: 10.

Subroto, Ph.. 1995. Pola-Pola Zonal Situs-Situs Arkeologi. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 133 – 138.

Sudarmadji. 2008. Pembangunan Berkelanjutan, Lingkungan Hidup dan Otonomi Daerah. Website Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada > Artikel > Edisi 4 Juni 2008. Diakses pada tanggal 27 April 2011. http://geo.ugm.ac.id/archives/125

Sulistyanto, Bambang. 1994. Kalang, Tinjauan Historis – Antropologis. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Halaman 109 – 114.

Sumardjo, Jacob. 2002. Arkeologi Budaya Indonesia; Pelacakan Hermenutis-Historis terhadap Artefak-Artefak Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Qalam.

Suryo, Djoko. 2005. Penduduk dan Perkembangan Kota Yogyakarta 1900 – 1990. Dalam Freek Colombijn, et.al. (ed.). Kota Lama, Kota Baru; Sejarah Kota-Kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Halaman 30 – 44.

Swasono, Sri-Edi. 2004. Kebersamaan dan Asas Kekeluargaan sebagai Pusaka Saujana Indonesia; Dimensi Sosial-Kultural Ilmu Ekonomi. Artikel disampaikan dalam Diskusi Panel Pelestarian Pusaka dan Pembangunan Ekonomi pada tanggal 28 April 2004 di Yogyakarta, Indonesia.

The Jakarta Post. 2011. 30 Temples Still Burried by Merapi’s Previous Eruptions. The Jakarta Post > National > 5 Januari 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://www.thejakartapost.com/news/2011/01/05/30-temples-still-buried-merapi%E2%80%99s-previous-eruptions.html

The Jakarta Post. 2011. Lahar Threat Looms above Prambanan. The Jakarta Post > Archipelago > 22 Maret 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://www.thejakartapost.com/news/2011/03/22/lahar-threat-looms-above-prambanan.html-0

Tjahjono, Baskoro D. dan Widiyanto. 1994. Lwah Inalih Haken, Arti Kiasan atau Sebenarnya? Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Halama 47 – 51.

Tjahjono, Baskoro Daru. 1998. Penetapan Sima dalam Konteks Perluasan Wilayah pada Masa Mataram Kuna; Kajian Berdasarkan Prasasti-Prasasti Balitung (899 – 910 M). dalam Berkala Arkeologi Tahun XVIII Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 40 – 51.

Utomo, Gito. Tanpa tahun. Mengembangkan Materi Heritage/Pusaka ke dalam Pendidikan Sekolah Dasar. Tidak diterbitkan.

Wijoyono, Elanto (ed.). 2003. Revitalisasi – Preservasi Masjid Mataram Kotagede dan Masjid Gede Kauman. Laporan penelitian untuk mata kuliah Arsitektur Indonesia di Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Wijoyono, Elanto. 2005. Taman Sari “Baru”, (Mencoba) Bukan Sekedar Polesan. Majalah Artefak Edisi XVII Tahun 2005. Yogyakarta: Himpunan Mahasiswa Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Wijoyono, Elanto. 2007. Kotagede, Korban Konservasi Salah Kaprah. Blog Tidak Beranjak Mencari Celak ke Langit > 28 Maret 2007. Diakses pada tanggal 2 Mei 2011. http://elantowow.wordpress.com/2007/03/28/kotagede-korban-konservasi-salah-kaprah

Wijoyono, Elanto. 2006. Geliat Kerajinan Batik Imogiri Pascagempa. Buletin Kombinasi Edisi 16/Juni 2006. Yogyakarta: COMBINE Resource Institution. Halaman 20 – 21.
http://elantowow.wordpress.com/2007/03/16/geliat-kerajinan-batik-imogiri-pascagempa/

Wijoyono, Elanto. 2009a. Aparatlah yang Harus Dididik; Langkah Taktis Mengatasi Carut-Marut Pengelolaan Pusaka. Artikel disampaikan dalam Seminar Nasional Carut-Marut Pengelolaan Warisan Budaya Indonesia pada tanggal 13 Juni 2009 di Yogyakarta, Indonesia.

Wijoyono, Elanto. 2009b. Penyelamatan Pusaka Pascabencana; Upaya Menanamkan Isu Pelestarian dalam Pengurangan Risiko Bencana. Blog Tidak Beranjak Mencari Celak ke Langit > 22 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 27 April 2011.
http://elantowow.wordpress.com/2009/10/22/penyelamatan-pusaka-pascabencana/

Wijoyono, Elanto dan Laretna T. Adishakti. 2010. Pendidikan Pusaka untuk Anak; Membangun Strategi Pelestarian Pusaka melalui Jalur Sekolah. Artikel disampaikan dalam Seminar Internasional Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia pada tanggal 23 Januari 2010 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Wijoyono, Elanto. 2011. Desa Kota Lestari. Blog Tidak Beranjak Mencari Celah ke Langit > 3 April 2011. Diakses pada tanggal 12 Mei 2011. http://elantowow.wordpress.com/2011/04/03/desa-kota-lestari/

Winarni. 2006. Kajian Perubahan Ruang Kawasan World Cultural Heritage Candi Borobudur. Tesis untuk mencapai derajat S-2 pada Program Studi Magister Perencanaan Kota dan Daerah Jurusan Ilmu-Ilmu Teknik Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Wkm/Pra/Egi/Gal. 2011. Kali Putih, dari Sana Semuanya Bermula. Kompas.Com > Regional > Jawa > 29 Januari 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://regional.kompas.com/read/2011/01/29/04325245/Kali.Putih.dari.Sana.Semuanya.Bermula

Yudoseputro, Wiyoso. 2008. Jejak-Jejak Tradisi Bahasa Rupa Indonesia Lama. Jakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia.

About these ads

masih mahasiswa, staf NGO, pegiat gerakan, anak mamah dan papah yang lahir, tumbuh, dan besar di yogyakarta, indonesia...

Tagged with: , , , , , , , , , ,
Posted in kelola buana, kelola pusaka, kelola risiko bencana
2 comments on “Potensi Ancaman Bencana di Yogyakarta dan Sekitarnya
  1. Siti ismianti says:

    trima kasih,berkat informasinya saya bisa menyelesaikan tulisan saya dengan mudah

  2. Tulisannya sangat BAGUS dan BERMANFAAT,
    SUKSES SELALU.

    Dari:
    Alif Group (Car’ n Motor cycle Rental)
    http://rentalmobilyogyakarta.blogdetik.com/
    0274 – 6959 520 (Flexi), 0274 – 743 4961 (Flexi), 0878 6053 4593 (XL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Penerjemah
Penengok
  • 139,841 hits
Penjejak

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,328 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,328 other followers

%d bloggers like this: