Dinamika Pembangunan Kawasan di Yogyakarta; Peluang atau Ancaman

Pendidikan Pusaka untuk Pengurangan Risiko Bencana di Kawasan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya (Bagian 2 – dari 5 Bagian)

Peta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Sumber: Bakosurtanal)

Peta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Sumber: Bakosurtanal)

I. Pertumbuhan Penduduk

Sejak awal Yogyakarta telah memiliki daya tarik, selain sebagai bekas ibukota kerajaan. Yogyakarta sempat menjadi ibukota Republik Indonesia pada tahun 1946 – 1950. Kota ini menjadi pusat revolusi yang mempelopori perubahan-perubahan sosial politik hingga menjalar ke seluruh Indonesia (Soemardjan, 2009). Iklim pembaharu itu terus tumbuh seiring mewujudnya kota ini sebagai kota pendidikan. Diawali dengan berdirinya Universitas Gadjah Mada pada tahun 1949, puluhan perguruan tinggi didirikan di wilayah kota dan sekitarnya. Kota Yogyakarta pun berkembang pesat dengan laju pertumbuhan penduduk 1,9%. Pada tahun 2008, penduduk kota ini berjumlah 456.915 orang. Dengan luas wilayah 32,50 km persegi, kepadatan penduduk kota ini mencapai 13.881 jiwa per km persegi (BPS Kota Yogyakarta, 2009).

Wilayah administratif Kota Yogyakarta tak mampu menampung pertumbuhan penduduk dan kegiatannya. Kawasan perkotaan pun berkembang, terutama ke arah utara,barat, dan timur yang masuk ke wilayah Kabupaten Sleman. Puluhan perguruan tinggi juga berdiri di sana yang kemudian memicu pertumbuhan kegiatan, baik di sektor barang maupun jasa. Rata-rata jumlah penduduk dari 17 kecamatan di Kabupaten Sleman adalah 61.970 jiwa per kecamatan (BPS Kabupaten Sleman, 2009). Kecamatan Depok di wilayah Kabupaten Sleman yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta sisi utara ditempati oleh 184.407 jiwa (atau sekitar 17,5% dari total penduduk Kabupaten Sleman di tahun 2009 sejumlah 1.053.500 jiwa). Sementara, tiga kecamatan lain yang berbatasan dengan Kecamatan Depok dan Kota Yogyakarta di sisi utara dan barat memiliki jumlah penduduk di atas rata-rata, yakni 87.078 jiwa (Kecamatan Ngaglik), 92.601 (Kecamatan Mlati), dan 89.293 (Kecamatan Gamping). Pertumbuhan yang terjadi di wilayah Kabupaten Sleman yang berbatasan dengan kota Yogyakarta ini cukup tinggi (lihat, http://slemankab.go.id). Pada periode tahun 2004 – 2009, pertambahan penduduk alami di Kabupaten Sleman sebanyak 23.778 jiwa. Pertambahan ini mengikuti laju pertumbuhan, yang antara tahun 2004 – 2008 berada di kisaran 1,14% – 1,30% dan di tahun 2008 menjadi 17,41%.  Penduduk Kabupaten Sleman total bertambah 168.773 orang dalam kurun waktu 2004 – 2009, dari 884.727 orang menjadi 1.053.500 orang. Hal ini didukung dengan adanya migrasi netto sebesar 28.439 orang selama lima tahun terakhir.

II. Perkembangan Kawasan Perkotaan

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi itu disebabkan antara lain oleh pertambahan kawasan hunian sebagai perkembangan dari Kota Yogyakarta. Hal itu memberikan konsekuensi pada peningkatan laju pembangunan kawasan. Keberadaan tiga perguruan tinggi negeri, puluhan perguruan tinggi swasta, dan puluhan sekolah berkualitas di Yogyakarta, Sleman, Bantul, dan sekitarnya mendorong masuknya ribuan pelajar dari luar daerah dan juga luar negeri. Predikat sebagai kota pendidikan ini menjadi magnet kunjungan utama. Magnet kunjungan lain adalah predikat Yogyakarta sebagai tujuan wisata. Tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Daerah Istimewa Yogyakarta menempati urutan keempat di Indonesia, setelah Bali, Jakarta, dan Batam. Pada tahun 2001, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai angka 180.760 orang dan wisatawan dalam negeri mencapai 1.560.868 orang. Pada tahun 2006, angka ini sempat menurun menjadi 60.708 orang wisatawan mancanegara akibat terjadinya gempa bumi. Angka kunjungan wisatawan dalam negeri juga menurun menjadi 654.502 orang.

Tahun

Wisatawan Mancanegara

Wisatawan Nusantara

Jumlah

2001

1.560.868

180.76

1.741.628

2002

1.167.877

91.799

1.259.676

2003

1.306.253

64.624

1.370.877

2004

1.696.835

103.400

1.800.235

2005

1.442.045

157.955

1.600.000

2006

654.502

60.708

715.210

Data Jumlah Wisatawan di Kota Yogyakarta Tahun 2001 – 2006
(Sumber: Bappeda Kota Yogyakarta, 2007)

Persebaran wisatawan ini hanya terkonsentrasi di tiga dari lima kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni Kota Yogyakarta  di tengah (27%), Sleman di utara (28%), dan Bantul di selatan (30%). Kabupaten Kulon Progo dan Gunungkidul mendapatkan sisanya. Hal ini dapat dipahami mengingat objek-objek wisata utama berada di ketiga kabupaten/kota tersebut, seperti kawasan Kraton dan Malioboro di Kota Yogyakarta, kompleks Candi Prambanan dan Gunungapi Merapi di Sleman, dan Pantai Parangtritis di Bantul. Lalu lintas wisatawan ini tak hanya berkutat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi juga menuju situs pusaka dunia Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah yang berjarak sekitar 40 km dari pusat kota Yogyakarta. Yogyakarta selalu menjadi pintu masuk para wisatawan, baik dalam maupun luar negeri karena terdapat akses transportasi darat dan udara yang terhubung ke banyak kota. Transportasi darat, baik jalan raya maupun kereta api, menghubungkan Yogyakarta dengan kota-kota besar di Jawa seperti Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Bandung, dan Jakarta. Transportasi udara menghubungkan Yogyakarta secara langsung dengan Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Makassar, Banjarmasin, Balikpapan, Pontianak, Batam, Medan, Singapura, dan Kuala Lumpur.

Maskapai

Rute Destinasi

Terminal

AirAsia

Kuala Lumpur

Internasional

Batavia Air

Balikpapan, Batam, Jakarta (Soekarno-Hatta), Medan, Pontianak, Surabaya

Domestik

Express Air

Makassar

Domestik

Garuda Indonesia

Denpasar, Jakarta (Soekarno-Hatta)

Domestik

Indonesia AirAsia

Jakarta (Soekarno-Hatta)

Domestik

Indonesia AirAsia

Singapura

Internasional

Lion Air

Balikpapan, Banjarmasin, Denpasar, Jakarta (Soekarno-Hatta). Surabaya

Domestik

Malaysia Airlines

Kuala Lumpur

Internasional

Merpati Nusantara Airlines

Bandung, Makassar

Domestik

Sriwijaya Air

Balikpapan, Jakarta (Soekarno-Hatta)

Domestik

Wings Air

Bandung, Surabaya

Domestik

Daftar maskapai dengan penerbangan langsung ke Yogyakarta (per April 2010)
(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Adisucipto_International_Airport)

Dua faktor utama, pendidikan dan wisata, menjadikan kota Yogyakarta dan perkembangannya menjadi kawasan yang maju pesat dan cenderung sibuk. Jumlah orang yang berada di kota ini pada siang hari bisa mencapai lebih dari 1 juta orang dengan kepadatan mencapai 1500 jiwa/km persegi (lihat Janiaton, 2007). Hal ini terjadi karena banyaknya pelaku komuter yang mengalir dari wilayah sub-urban di sekeliling kota Yogyakarta, seperti Sleman, Bantul, dan Gunungkidul. Banyaknya orang yang beraktivitas di wilayah perkotaan yang tak terlalu luas ini menyebabkan pembangunan beragam sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan penduduk tetap dan domisili itu. Konsekuensi lain muncul dari situasi ini adalah pertambahan sampah, limbah, dan polusi yang mengurangi kualitas lingkungan hidup (Adrisijanti, 2007). Pergeseran tradisi dan perkembangan kebutuhan penduduk memicu ancaman-ancaman perusakan dan/atau kerusakan, baik disengaja maupun tidak, terhadap pusaka alam dan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Sebagian pusaka alam dan budaya di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya memang sudah mengalami keausan karena faktor usia, sehingga rentang rusak. Namun, kerentanan ini pula yang kemudian banyak memunculkan keinginan untuk “merusak”, baik untuk kepentingan eksploitasi maupun untuk menggantikannya dengan hal yang baru.

III. Dampak Pertumbuhan dan Pembangunan pada Kawasan Pusaka

Pada tahun 1994 Kota Yogyakarta telah tergabung dalam Liga Kota-Kota Bersejarah Dunia (The League of Historical Cities) bersama kota-kota bersejarah dunia lain, seperti Kyoto, Amsterdam, Dublin, Vienna, Roma, Barcelona, Jerusalem, Accra, Kathmandu, hingga Lahore, dan Hanoi. Namun, proses pembangunan di wilayah yang berpotensi besar sebagai kawasan arkeologis ini belum mengedepankan wawasan perlindungan dan pelestarian. Dalam proses pembangunan yang terjadi sering mengakibatkan aset pusaka yang dimiliki mejadi rusak, tergusur, atau berubah fungsi (lihat, Haryono, 1995).  Perusakan dan kerusakan itu terjadi baik pada skala mikro, meso, maupun makro. Ruang pada skala mikro adalah ruang-ruang dalam rumah tinggal atau bangunan. Ruang skala meso dapat berupa daerah permukiman, seperti kampung, desa, atau kelurahan. Ruang makro adalah yang memiliki luasan terbesar dan dapat terdiri dari beberapa ruang meso, seperti sebuah kawasan kota lama dan kawasan budaya (Haryadi, 1995). Proses perubahan yang tidak diinginkan dari sudut pandang kelestarian pusaka itu terjadi secara menerus dalam beragam tingkatan ruang tersebut, baik sebelum maupun sesudah Yogyakarta tergabung dalam Liga Kota-Kota Bersejarah Dunia.

Pada skala mikro, misalnya, perubahan yang menimbulkan kerusakan pusaka budaya terjadi pada kasus Senisono di kompleks Istana Negara Republik Indonesia di Yogyakarta. Pemugaran dan pengambilalihan gedung yang pada masa pendudukan Belanda merupakan Societeit de Vereeniging oleh Sekretariat Negara pada awal tahun 1990-an itu menyebabkan ada perubahan teknis yang melanggar kaidah pelestarian pusaka budaya (Prihantoro, 1998; Wijoyono, 2009). Gedung publik yang setelah masa pendudukan Jepang berganti nama menjadi Balai Mataram, dan sempat digunakan sebagai tempat pelaksanaan Kongres Pemuda Indonesia pertama pada November 1945, ini diubah atas pesanan pemerintah pusat, sehingga tak banyak yang bisa dilakukan untuk melindunginya. Pada saat itu belum ada peraturan khusus untuk melindungi benda cagar budaya, selain Monumenten Ordonnantie Nomor 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 138) tinggalan pemerintah Hindia Belanda. Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala – SPSP Yogyakarta (saat ini Balai Pelestaraian Peninggalan Purbakala – BP3 Daerah Istimewa Yogyakarta) mengaku sudah memberikan masukan teknis terhadap renovasi  yang berlangsung, tetapi dimentahkan dalam penerapannya.

Salah satu kasus pelanggaran pelestarian lingkungan pusaka pada skala meso terjadi pada tahun 2002 ketika Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan proyek tamanisasi di beberapa ruang publik kota yang tidak mengindahkan prinsip fungsi ruang dan keaslian. Pemerintah Kota Yogyakarta membangun pot-pot raksasa  di beberapa ruas boulevard di kawasan Kotabaru dan di kawasan nol kilometer Kota Yogyakarta. Aktivis pelestarian memandang praktik itu tak sesuai dengan prinsip desain taman kota yang tepat guna dan filosofi Kota Yogyakarta. Pemerintah kota dianggap tak terbuka dalam hal perencanaan dan perancangan ruang publik kota yang mencakup ruang pusaka yang memiliki nilai ilmiah dan kebudayaan yang harus mendapatkan perlakukan khusus. Proyek tamanisasi di kawasan nol kilometer yang menyesaki ruang trotoar sebagai ruang terbuka publik itu disinyalir sebagai langkah halus pemerintah kota menyingkirkan para pedagang kaki lima yang memenuhi ruang pusat kota. Para pedagang itu mencoba menggaet keuntungan dari ribuan pelancong setiap harinya di ruang strategis di pusat kota, di ujung kawasan perbelanjaan Malioboro, tanpa izin (lihat data jumlah wisatawan di Kota Yogyakarta dalam Bapeda, 2007; antara tahun 2001 – 2006 rata-rata dikunjungi sebanyak 1.414.604 wisatawan per tahun. Sebagian besar berkunjung ke kawasan Malioboro, lebur bersama ribuan warga kota lain).

Proses pembangunan dan perubahan ruang pada skala makro dapat dilihat dari kacamata saujana; sejauh mata memandang alam dan budaya dalam kesatuan ruang dan waktu. Ada beberapa kawasan perkotaan yang terpengaruh kelestariannya akibat pertumbuhan yang tak terkendali. Terletak sangat dekat dengan pusat kota Yogyakarta, kawasan Jeron Beteng yang merupakan kawasan inti Kraton Yogyakarta adalah satu contoh kawasan pusaka yang terancam kelestariannya. Ruang yang semula digunakan sebagai kawasan permukiman para abdi dalem Kraton Yogyakarta ini sejak masa revolusi kemerdekaan Republik Indonesia telah berubah menjadi permukiman yang terpadat di kota Yogyakarta. Wilayah ini tergabung dalam satu lingkup Kecamatan Kraton. Wilayah seluas 1,40 km persegi ini dihuni oleh 22.520 jiwa (104,45 Ha dari 1,40 km persegi itu digunakan untuk permukiman). Kecamatan Kraton yang meliputi tiga wilayah kelurahan itu (Panembahan, Kadipaten, Patehan) itu pun memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi, yakni 16.086 jiwa / km2 (data tahun 2008 dalam BPS Kota Yogyakarta, 2009). Kompleks Kraton Yogyakarta yang terletak di dalam kawasan ini tidak cukup terusik karena tidak digunakan sebagai permukiman untuk umum. Namun, sebagain besar ruang lainnya dalam kawasan ini yang terbuka digunakan sebagai permukiman mendapatkan akibat perubahan yang sangat besar. Salah satunya adalah kompleks pesanggrahan kesultanan yang dibangun pada masa Hamengku Buwono I, yakni Taman Sari. Perubahan besar di sini terjadi karena telah tidak difungsikan sebagai taman sejak akhir abad XIX dan banyak yang rusak akibat gempabumi di periode yang sama. Pascarevolusi kemerdekaan, Taman Sari menjadi tempat permukiman yang sangat padat dengan beragam aktivitas di dalamnya, seperti pembuatan batik dan pasar hewan yang berpotensi limbah dan polusi. Kompleks ini pun sempat masuk dalam daftar situs pusaka dunia terancam (Endangered Heritage Sites) yang dikeluarkan oleh World Monument Fund pada tahun 2004 (http://www.wmf.org/project/tamansari-water-castle; lihat, Wijoyono, 2005).

Kawasan pusaka di kota Yogyakarta yang terancama oleh kerusakan dan perubahan adalah Kotagede. Bekas pusat kerajaan Mataram Islam ini sudah tidak digunakan kembali sebagai ibukota kerajaan sejak tahun 1648. Sultan Agung saat itu telah memindahkan ibukota Mataram Islam ke Plered, tak jauh dari Kotagede (Adrisijanti, 2000). Namun, dinamika Kotagede tak lantas mati, tetap hidup karena ada Pasar Legi Kotagede yang menjadi pusat perdagangan di Jawa Tengah selatan hingga berdirinya Kota Yogyakarta di tahun 1756 dengan Pasar Beringharjo sebagai pasar utama. Perkembangan Kotagede sebagai pusat perdagangan batik, emas, berlian, perak, dan beragam kerajinan lain di akhir abad XIX hingga masa revolusi menjadikan kawasan ini tetap ramai dan padat penduduk (lihat, Nakamura, 1983). Apalagi, Kotagede menjadi pusat kegiatan dakwah Islam dengan adanya organisasi Muhammadiyah. Dinamika kawasan yang cukup pesat di Kotagede menyebabkan perubahan yang besar. Perubahan ini terjadi antara lain oleh tindakan pengubahan fungsi tinggalan fisik oleh penduduk, kegiatan pemugaran oleh pemerintah, dan bencana alam. Pada kurun waktu 2002 – 2005, terjadi proyek pemugaran besar-besaran pada kompleks Masjid Gede Mataram dan makam kerajaan. Sayangnya, pemugaran ini dilakukan tanpa memperhatikan prosedur pemugaran arkeologis yang benar, sehingga banyak kerusakan terjadi di situs ini (Wijoyono, 2007). Ketidaktepatan penanganan dalam pemugaran yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi D.I. Yogyakarta ini juga dilakukan di beberapa titik situs lain di kawasan Kotagede, seperti tembok baluwarti Bokong Semar dan tembok cepuri Bobolan Raden Rangga. Kerusakan paling parah terjadi akibat gempabumi pada tanggal 27 Mei 2006 yang mengakibatkan kehancuran dalam skala luas. World Monument Fund pun memasukkan kawasan Kotagede sebagai situs terancam pada tahun 2008 (http://www.wmf.org/project/kotagede-heritage-district).

Pertumbuhan penduduk yang tinggi, dinamika migrasi yang pesat, dan wilayah yang tidak cukup luas menjadikan Yogyakarta dan sekitarnya menjadi wilayah yang potensial berubah dan rawan tidak lestari. Sebagai misal, jumlah kendaraan bermotor yang berpotensi di D.I. Yogyakarta sekitar 1.100.000 dengan emisi gas buang 65% tidak sesuai dengan baku mutu. Sementara, kapasitas jalan tidak bertambah secara berarti dan ruang terbuka hijau daerah perkotaan tidak memadai (Hardjowisastro, 2007). Hardjowisastro juga menuliskan bahwa alihfungsi lahan menjadi kedap air di daerah resapan air terus bertambah, terutama di Sleman. Tak ada upaya berarti untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah. Kualitas udara, tanah, dan air di wilayah perkotaan Yogyakarta pun semakin menurun. Sanitasi kota kurang memadai, sedangkan terus berlangsung pembungan limbah cair dan limbah padat/sampah ke badan air. Dinamika tersebut tentu saja mengancam kelestarian pusaka alam dan budaya yang tersebar di Yogyakarta dan sekitarnya. Tak hanya kelestarian pusaka yang berada di wilayah perkotaan saja yang terancam, tetapi juga yang berada di wilayah perbatasan dan perdesaan di sekitar Yogyakarta. Hal ini dapat terjadi akibat adanya dinamika migrasi dari desa ke kota, kota ke desa, dan dari kota Yogyakarta ke kota lain, baik di dalam dan di luar negeri. Menurut Nas (1989, dalam Nas, 2007), migrasi ini terkait dengan adanya faktor produksi kapitalis, pre-kapitalis, dan juga sektor formal maupun non-formal yang tak terbatas di perkotaan dan perdesaan. Secara organik, hubungan itu terus berlangsung, seperti yang dipaparkan oleh John Friedmann dalam pidato kuncinya di Nairobi tahun 2007 (The Wealth of Cities: Towards an Asset-based Development of Newly Urbanizing Regions; diterjemahkan oleh Marco Kusumawijaya, 2009). Oleh karena kota berada dalam satu wilayah (city-region) maka untuk mengelola kualitas kelestarian pusaka perkotaan harus selalu melihat hubungannya dengan wilayah (lihat, Wijoyono, 2011). Dalam konteks Yogyakarta, wilayah tersebut meliputi kabupaten-kabupaten yang mengelilingi kota Yogyakarta dan pusat lain (kota) yang bersebelahan atau terkait dalam proses migrasi.

Ada hubungan yang dapat dipelajari ketika melihat fakta tingginya dinamika kegiatan penduduk dan perubahan tata ruang di perkotaan Yogyakarta dengan keadaan wilayah di sekitarnya. Potensi pusaka Yogyakarta dapat terpengaruhi melalui proses kerusakan dan perusakan. Faktor manusia (penduduk dan pendatang) adalah faktor utama perusakan, sebagai dampak dari dinamika hidup. Penambangan batu kapur dan fosfat (lihat, Hardjowisastro, 2007;  Kusuma, 2009) di Pegunungan Sewu yang kaya dengan potensi pusaka pra-sejarah, penggalian pasir di daerah aliran sungai dan lahan permukiman di lereng Merapi (kawasan resapan air di Sleman), hingga penambangan pasir di pusaka alam Gumuk Pasir Parangtritis, dan beragam kasus lain harus dilihat keterkaitannya dengan keadaan yang terjadi antara perkotaan (sebagai konsumen sumber daya alam) dengan wilayah (sebagai produsen sumber daya alam). Kota punya peran dalam perubahan tata ruang dan eksploitasi sumber daya alam wilayah. Perusakan ini akan berdampak pada pusaka perkotaan, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui aktor manusia atau dampak lingkungan yang terjadi. Ketika dampak lingkungan atau alam terjadi dan mengakibatkan kerugian bagi penduduk maka terjadi situasi yang disebut dengan bencana.

Lingkup kejadian yang disebut sebagai bencana, menurut Undang-Undang Republik Indonesia omor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, tidak terbatas pada bencana alam. Ada tiga kategori bencana yang dapat mengancam kehidupan manusia dan mengakibatkan kerugianm, yakni bencana alam, bencana non-alam, dan bencana sosial. Bencana alam merupakan bencana yang disebabkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa alam, seperti gempabumi, tsunami, letusan gunungapi, banjir, kekeringan, angin topan/kencang, dan tanah longsor. Bencana non-alam merupakan bencana yang disebabkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa non-alam, seperti kegagalan teknologi, kegagalan modernisasi, dan wabah penyakit (yang sebenarnya merupakan unsur alam, tetapi faktor pemicunya telah banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia). Kategori bencana ketiga adalah bencana sosial, yakni bencana yang disebabkan oleh peristiwa hasil ulah manusia. Contoh bencana sosial adalah konflik sosial antar kelompok, perang, dan teror. Yogyakarta yang menjadi fokus studi ini tak luput dari potensi ancaman bencana. Dua ancaman bencana yang paling besar potensi kejadiannya adalah gempabumi dan letusan gunungapi. Kedua jenis bencana alam ini mewarnai dinamika kehidupan di wilayah Yogyakarta dan wilayah sekitarnya sejak jutaan tahun yang lalu hingga sekarang.

Disiapkan oleh

Elanto Wijoyono

  • Koordinator Program Pembangunan Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Lokal – COMBINE Resource Institution (Yogyakarta – Indonesia)
  • Koordinator Program Pendidikan Pusaka – Badan Pelestarian Pusaka Indonesia / Indonesian Heritage Trust (Jakarta – Indonesia)

untuk
International Training Course on Disaster Risk Management on Cultural Heritage 2011
UNESCO Chair Program on Cultural Heritage and Risk Management
Research Center for Disaster Mitigation of Urban Cultural Heritage, Ritesumeikan University, Kyoto, Japan

Kerangka Tulisan

I. Potensi Pusaka Yogyakarta dan sekitarnya

  1. Pusaka Alam
  2. Pusaka Budaya
  3. Pusaka Saujana

II. Dinamika Pembangunan Kawasan di Yogyakarta; Peluang atau Ancaman

  1. Pertumbuhan penduduk
  2. Perkembangan kawasan perkotaan
  3. Dampak pembangunan pada kawasan pusaka

III. Potensi Ancaman Bencana di Yogyakarta dan sekitarnya

  1. Pengalaman gempabumi 2006 dan dampaknya
  2. Pengalaman kejadian erupsi Merapi (2006, 2010 – 2011) dan dampaknya
  3. Ragam upaya penanggulangan bencana oleh para pihak

IV. Dampak Bencana pada Pusaka Yogyakarta

  1. Pelestarian pusaka dari kacamata hukum di Indonesia dan di daerah
  2. Praktik pelestarian dan penyelamatan pusaka dalam kejadian bencana di Yogyakarta
  3. Kerugian yang tak diharapkan terhadap pusaka saat bencana

V. Dinamisasi Pengetahuan Pengurangan Risiko Bencana yang Berdampak Pelestarian

  1. Menjadikan pusaka sebagai bekal/modal/bahan pendidikan kebencanaan
  2. Pembangunan apresiasi terhadap pusaka untuk pelestarian
  3. Strategi pembangunan sistem pendidikan kebencanaan dan pendidikan pusaka untuk kelestarian kehidupan

Daftar Bacaan

Peraturan / Produk Hukum

Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 11 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya.

Peraturan Walikota Yogyakarta No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Yogyakarta Tahun 2007 – 2011.

Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003. Oleh Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia dan ICOMOS Indonesia.

Statuta Forum Pengurangan Risiko Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Website / Portal

Badan Geologi – Merapi. http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). http://bnpb.go.id

Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) – Indonesian Heritage Trust. http://indonesianheritage.org

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi D.I. Yogyakarta.
http://bapeda.jogjaprov.go.id/

Badan Pusat Statistik (BPS). http://www.bps.go.id

Badan Pusat Statistik Yogyakarta. http://yogyakarta.bps.go.id/

Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. http://konservasiborobudur.org/

Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi D.I. Yogyakarta. http://fprb.wordpress.com/

Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN MERAPI). http://merapi.combine.or.id

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. http://www.gunungkidulkab.go.id

Pemerintah Kabupaten Sleman. http://www.slemankab.go.id/

Pemerintah Kota Yogyakarta. http://jogjakota.go.id

Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. http://www.pemda-diy.go.id/

Program Pendidikan Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. http://pendidikanpusaka.org

United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA). http://ochaonline.un.org/indonesia/

World Historical Cities (The League of Historical Cities).
http://www.city.kyoto.jp/somu/kokusai/lhcs/eng/index.htm

World Monument Fund. http://www.wmf.org

Tulisan / Terbitan

Adishakti, Laretna T.. 2004. Tantangan dan Peluang Ekonomi dalam Pelestarian Pusaka; Yogyakarta Kota Pusaka Dunia? Artikel disampaikan dalam Diskusi Panel Pelestarian Pusaka dan Pembangunan Ekonomi pada tanggal 28 April 2004 di Yogyakarta, Indonesia.

Adishakti, Laretna T.. 2006. Revitalisasi Kawasan Pusaka Kotagede Pasca-Bencana; Peran Masyarakat dalam Proses Rekonstruksi Berkelanjutan. Artikel disampaikan dalam Lokakarya Penanganan Kawasan Pusaka Pasca-Bencana; Penguatan Masyarakat dalam Proses Rekonstruksi pada tanggal 17 – 19 Agustus 2006 di Yogyakarta, Indonesia.

Adishakti, Laretna T.. 2008. Kepekaan, Selera, dan Kreasi dalam Kelola Kota Pusaka. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka 2008 Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 23 Agustus 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.

Adishakti, Laretna T.. 2009. Documentation of Post-Disaster Traditional Houses Reconstruction Process in Kotagede Heritage District, Yogyakarta, Indonesia. Yogyakarta: Jogja Heritage Society.

Administrator. 2009. Peta Wilayah Rawan Gempabumi Indonesia. Website Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral > Geologi > Edisi Senin, 16 November 2009. Diakses pada tanggal 28 April 2011. http://esdm.go.id/berita/geologi/42-geologi/2980-peta-wilayah-rawan-gempabumi-indonesia.html

Adrisijanti, Inajati. 2000. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Yogyakarta: Jendela.

Adrisijanti, Inajati (ed.). 2003. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Adrisijanti, Inajati. 2007. Kota Yogyakarta sebagai Kawasan Pusaka Budaya; Potensi dan Permasalahannya. Artikel disampaikan dalam Diskusi Sejarah “Kota dan Perubahan Sosial dalam Perspektif Sejarah” diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada 11 – 12 April 2007 di Yogyakarta, Indonesia.

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2008. Permainan Tradisional Anak; Perspektif Antropologi Budaya. Pengantar dalam Sukirman Dharmamulya, et. al.. Permainan Tradisional Jawa; Sebuah Upaya Pelestarian. Yogyakarta: Penerbit Kepel Press.

Alvares, Eko, et.al.. 2010. Rehabilitasi Jam Gadang Bukittinggi. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka 2010 Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 23 – 26 September 2010 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Amin, Yusna M.. 2006. Melindungi dan Menata Ruang Terbuka Hijau sebagai Antisipasi Bencana dan Ekspresi Masyarakat yang Bermartabat. Artikel disampaikan dalam Seminar Intern di Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Jakarta pada 5 Juli 2006 di Jakarta.

Arnawati, Dyah. 2006. Penggambaran Ulang dan Rekonstruksi Bangsal Trajumas Kraton Yogyakarta. Artikel disampaikan dalam Semiloka Refleksi 250 Tahun Yogyakarta; Semangat Muda Membangun Kembali Pusaka Jogja Pascagempa dan untuk 250 Tahun ke Depan pada tanggal 16 September 2006 di Yogyakarta, Indonesia.

Aryandini, Woro. 2002. Wayang dan Lingkungan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Attoe, Wayne. 2001. Perlindungan Benda Bersejarah. Dalam Anthony J. Catanese dan James C. Snyder (ed.). Perencanaan Kota. Edisi Ke – 2. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman: 413 – 438.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta. 2007. Data Berbasis 9 (Sembilan) Fungsi Perencanaan Pembangunan (Basis Data). Yogyakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Kota Yogyakarta.

Badan Lingkungan Hidup Provinsi D.I. Yogyakarta. 2011. Usulan Program / Kegiatan Tahun 2012. Presentasi disampaikan dalam Forum SKPD Provinsi D.I. Yogyakarta tahun 2011 pada tanggal 30 Maret 2011 di Yogyakarta, Indonesia.

Bahagiarti, Sari. 2010. Erupsi Merapi dan Kearifan Lokal. Kompas.Com > Entertainment > Edisi Sabtu, 30 Oktober 2010. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://entertainment.kompas.com/read/2010/10/30/0440394/Erupsi.Merapi.dan.Kearifan.Lokal

Bintarto, H.S.. 1995. Keterkaitan Manusia, Ruang, dan Kebudayaan. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 1 – 4.

Boechari. 1997 – 1998. Some Consideration of the Problem of the Shift of Mataram Center of Government from Central to East Java in the 10th Century A.D. Dalam Bulletin of the National Research Centre of Archaeology of Indonesia No. 10. Cetakan ke – 2. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

BPS Kota Yogyakarta. 2009. Kota Yogyakarta dalam Angka 2009; Yogyakarta City in Figures 2009. Yogyakarta: BPS Kota Yogyakarta – BPS Statistic of Yogyakarta City.

Castells, Mauel. 1983. The City and The Grassroots. Berkeley and Los Angeles: University of California Press.

Chawari, Muhammad. 1994. Masjid Agung Kotagede; Kajian Awal terhadap Inskripsi yang Ada. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Halaman 31 – 33.

Damanik, Janianton. 2007. Sustainable Tourism in the Yogyakarta Special Region, Indonesia; Challenge and Oportunity. Artikel disampaikan dalam The EATOF Academic Symposium pada 5 – 7 Agustus 2007 di Chiang Mai, Thailand.

Departemen Pekerjaan Umum. 2006. Sejarah/Kronologi Gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Website Departemen Pekerjaan Umum. Diakses pada tanggal 7 Mei 2011. http://www.pu.go.id/publik/ind/produk/info_peta/rwnbanjir/bencana2006/3334gempasejarah.htm

Diamond, Jared. 2006. Collapse; How Societies Choose to Fail or Succeed. New York: Penguin Books

Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum dan Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta. 2008. Penyusunan Kembali RTRWP DIY 2008 – 2028 (Draft Awal).

Dumarcay, Jacques. 2007. Candi Sewu dan Arsitektur Bangunan Agama Buddha di Jawa Tengah. Terjemahan Indonesia: Winarsih Arifin dan Henri Chambert-Loir. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Emiliana, et.at.. 1991/1992. Kesadaran Budaya tentang Tata Ruang pada Masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (Suatu Studi Mengenai Proses Adaptasi). Yogyakarta: Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Grehenson, Gusti. 2011. Candi Prambanan Terancam Banjir Lahar Dingin. Website Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia > Berita > Seminar – Workshop > 7 Februari 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://www.ugm.ac.id/new/id/news/candi-prambanan-terancam-banjir-lahar-dingin

Hageman, Cees, et.al.. 2010. Toolkit, Step by Step; An Approach to Heritage Education. Amsterdam; The Netherlands Institute for Heritage (Erfgoed Nederland).

Hall, Peter dan Colin Ward. 1998. Sociable Cities; The legacy of Ebenezer Howard. Chichester: John Wiley & Sons.

Han, Mhd. 2009. Ratusan Keramik dan Naskah Kuno Minang Musnah. Kompas.Com > Regional > Sumatera > Edisi Jumat, 16 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2009. http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/16/20062116/Ratusan.Keramik.dan.Naskah.Kuno.Minang.Musnah.

Hardjowirogo. 1989. Sejarah Wayang Purwa. Cetakan ke – 7. Jakarta: Balai Pustaka.

Hardjowisastro. 2007. Pembangunan Wilayah Berkelanjutan. Presentasi disampaikan dalam Seminar Nasional Pembangunan Wilayah Berbasis Lingkungan di Indonesia pada tanggal 27 Oktober 2007 di Yogyakarta, Indonesia.

Haryadi. 1995. Kemungkinan Penerapan Konsep Sistem Seting dalam Penemukenalan Penataan Ruang Kawasan. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 5 – 9.

Haryono, Timbul. 1995. Arkeologi Kawasan dan Kawasan Arkeologis; Asas Keseimbangan dalam Pemanfaatan. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 139 – 143.

Hindarto, Stefanus Yugo. 2011. Ancaman Lahar Dingin Merapi hingga 4 Tahun!. Okezone.com > News > Nusantara > Edisi Jumat, 29 April 2011. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://news.okezone.com/read/2011/04/29/340/451403/ancaman-lahar-dingin-merapi-hingga-4-tahun

Indra, Hasti Hiriati. 2008. Public Open Space Utilization; How People Perceive it in Yogyakarta. Tesis untuk mencapai derajat Master of Science pada spesialisasi Urban Planing and Management di International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation Enschede The Netherlands.

Inter Agency Standing Committee (IASC). 2006. Indonesia Earthquake 2006; Response Plan Revision. Dokumen versi 2.1. tanggal 5 Juli 2006.

Joewono, Benny N.. 2010. 2.400 Hektar Hutan Taman Merapi Hancur. Kompas.Com > Regional > Edisi Kamis, 18 November 2010. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://regional.kompas.com/read/2010/11/18/1635087/2.400.Hektar.Hutan.Taman.Merapi.Hancur

Jogja Heritage Society. 2007. Homeowner’s Conservation Manual; Kotagede Heritage District, Yogyakarta, Indonesia. Jakarta – Bangkok: UNESCO.

Jordaan, Roy (ed.). 2009. Memuji Prambanan; Bunga Rampai para Cendekiawan Belanda tentang Kompleks Percandian Loro Jonggrang. Terjemahan Indonesia: Yosef Maria Florisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia – KITLV Jakarta.

Katayose, Toshihide. 1996. Reflection on Contemporary Townscape. Fukuoka Style Vol. 13 > Special Feature > Historical Townscapes (Part 2). Terjemahan Inggris: Alikay Terry.

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia. 2008. Pidato Kuci pada acara Temu Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan tema Pelestarian Pusaka versus Pembangunan Ekonomi pada tanggal 23 Agustus 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Disampaikan oleh Deputi Menkokesra Bidang Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Sugahartatmo.

Kirmanto, Djoko. 2008. Pelestarian Kota Pusaka dalam Perspektif Penataan Ruang. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan tema Pelestarian Pusaka versus Pembangunan Ekonomi pada tanggal 23 Agustus 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.

Kubontubuh, Catrini Pratihari. 2010. Heritage Emergency Response Post Disaster in Indonesia; Recovery and Sustainability after Disaster. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka 2010 Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 23 – 26 September 2010 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Kusuma, Mawar. 2009. Melacak Manusia Purba Gunung Kidul. Kompas.Com > Sains > Edisi 11 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 26 April 2011.
http://sains.kompas.com/read/2009/10/11/15555379/melacak.manusia.purba.gunung.kidul

Kusumawijaya, Marco. 2009. Kekayaan Kota; Menuju Pembangunan Kota Berdasarkan Aset di Wilayah-wilayah yang Baru Mengalami Urbanisasi. Blog Marco Kusumawijaya; on cities and citizens > 3 Juni 2009. Diakses pada tanggal 12 Mei 2011. http://mkusumawijaya.wordpress.com/2009/06/03/kekayaan-kota-menuju-pembangunan-berdasarkan-aset-di-wilayah-wilayah-yang-baru-mengalami-urbanisasi1/

Kusen. 1995. Kompleks Ratu Boko; Latar Belakang Pemilihan Tempat Pembangunannya. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 128 – 132.

Lelono, T.M. Hari. 2005. Tradisi Ruwat Gunung Merapi pada Masa Jawa Kuno dan Perkembangannya sebagai Kearifan Lokal. Dalam Jurnal Penelitian Arkeologi Nomor 5: Bunga Rampai Religi dari Masa ke Masa. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Mudhiuddin, Andhi M.. 2009. Borobudur – Prambanan dan Candi Lainnya. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Mundardjito. 1982. Pandangan Tafonomi dalam Arkeologi; Penilaian Kembali Atas Teori dan Metode. Dalam Pertemuan Ilimiah Arkeologi II. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Halaman: 497 – 509.

Mundardjito. 1995. Kajian Kawasan; Pendekatan Strategis dalam Penelitian Arkeologi di Indonesia Dewasa Ini. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Murwanto. Tanpa tahun. Kajian Geologi Situs Danau Purba Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tidak diterbitkan.

Murwanto, et.al.. 2004. Borobudur Monument (Java, Indonesia) Stood by a Natural Lake; Chronostratigraphic Evidence and Historical Implications. The Holocene 14, 3 (2004). Halaman: 459 – 463.

Murwanto, Helmy dan Sutikno. 2007. The Ancient Lake Environment in the Borobudur Area Central Java. Artikel disampaikan dalam 1st International Symposium on Borobudur Landscape Heritage 2007 pada tanggal 20 April 2007 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia.

Nakamura, Mitsuo. 1983. Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nas, P.J.M. 1989. Kota dan Desa di Indonesia; Sebuah Pandangan Skeptis. Dalam P.J.M. Nas, e.t.al.. 2007. Kota-Kota di Indonesia; Bunga Rampai. Diterjemahkan oleh Nin Bakdisoemanto, et.a.. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman: 586 – 601.

Nasir, Akhmad dan Elanto Wijoyono (ed). 2009. Mengudara Menjawab Ancaman; Geliat Radio Komunitas dalam Penanggulangan Bencana. Yogyakarta: COMBINE Resource Institution.

Nitihaminoto, Goenadi. 1997. Pembangunan Kompleks Candi Prambanan: Tinjauan atas Lapisan Tanah. Dalam Cinandi; Persembahan Alumni Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada kepada Prof. Dr. H. R. Soekmono. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Halaman 113 – 117.

Prabowo. 2011. 192 Mata Air di Merapi Tertimbun Material Vulkanik. Okezone.com > News > Nusantara > Edisi Jumat, 25 Maret 2011. Diakses pada tanggal 10 Mei 2011. http://news.okezone.com/read/2011/03/25/340/438654/192-mata-air-di-merapi-tertimbun-material-vulkanik

Prasodjo, Tjahjono. 2000. Pendekatan Partisipatoris dalam Pengelolaan Sumberdaya Arkeologis dan Kemungkinan Penerapannya di Kawasan Arkeologis Gunungkidul. Artikel disampaikan dalam Seminar PTKA Gunungkidul 2000 pada tanggal 12 – 13 April 2000 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Prihantoro, Fahmi. 1998. Konflik Sektoral dalam Usaha Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Cagar Budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Penelitian Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Princeton Council. 2011. Indonesians Appeal to UNESCO to Save Fabled Temples from Volcano (ARTINFO). Princeton Council on World Affairs > World > Arts. http://www.princetoncouncil.org/world-news/arts/4116-indonesians-appeal-to-unesco-to-save-fabled-temples-from-volcano-artinfo.html

Purnomohadi, Ning. 2006. Konservasi Alam dan Pusaka (Lansekap) Alami; Sebuah Catatan Ringkas. Artikel disampaikan dalam Temu Pusaka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tanggal 17 – 19 Agustus 2006 di Yogyakarta, Indonesia.

Rahmi, Dwita H. dan Titi Handayani. 2009. Pedoman Pelestarian Pasca-Bencana Kawasan Pusaka Kotagede, Yogyakarta, Indonesia. Yogyakarta: Jogja Heritage Society.

Rangkuti, Nurhadi. 1995. Candi dan Konteksnya; Tinjauan Arkeologi Ruang. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 37 – 42.

Rhoevique. 2009. Geologi dan Geomorfologi Gunung Sewu. Blog rhoe_pangea06 > 5 April 2009. Diakses pada tanggal 26 April 2011. http://viq-pangea.blogspot.com/2009/04/geologi-dan-geomorfologi-gunung-sewu.html

Rinintya, Enrica et.al.. 2011. Progress Report Damaged Assessment Mission on Mount Merapi Volcano Area. Presentasi disampaikan dalam Diskusi Penilaian Cepat Pusaka Rusak Merapi pada tanggal 20 April 2011 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia.

Riyanto, Sugeng. 1995. Geografi (Kesejarahan) dan Arsitektur (Lansekap) sebagai Ilmu Bantu Arkeologi (Sebuah Uraian Singkat). Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 118 – 122.

Ronald, Arya dan Djoko Dwiyanto. 2000. Pengaturan dan Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya; Sosialisasi Rancangan Perda KCB. Artikel disampaikan dalam Forum Pertimbangan Pelestarian Lingkungan Budaya Provinsi D.I. Yogyakarta pada tanggal 30 Agustus 2000 di Yogyakarta, Indonesia.

Santoso, Jo. 2008. Arsitektur Kota Jawa; Kosmos, Kultur, dan Kuasa. Jakarta: Centropolis – Magister Teknik Perencanaan Universitas Tarumanegara.

Saptono, Hariadi. 2010. Memperkuat “Jembatan” Maridjan – Surono. Kompas.Com > Nasional > Edisi 20 Desember 2010. Diakses pada tanggal 28 April 2011. http://nasional.kompas.com/read/2010/12/20/13101523/Memperkuat.Jembatan.MaridjanSurono

Seach, John. 2010. Merapi Volcano. Volcano Live. Diakses pada tanggal 9 Mei 2011. http://www.volcanolive.com/merapi.html

Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia; Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Setianingsih, Rita Margaretha. 1998. Dua Batu Berhias dari Ruas Sungai Opak; Data Tambahan Pembangunan Percandian Prambanan. Berkala Arkeologi Tahun XVIII Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 17 – 29.

Setiawan, Bobi B.. 2004. Pelestarian Pusaka Budaya dan Pentingya Peran Serta Masyarakat. Artikel disampaikan dalam Sarasehan Perlindungan Bangunan dan Kawasan Pusaka sebagai Aset Utama Pariwisata di Yogyakarta pada tanggal 30 Desember 2004 di Yogyakarta, Indonesia.

Setyastuti, Ari. 2007. Pencagarbudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Artikel disampaikan dalam Sarasehan Sosialisasi Benda Cagar Budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 11 September 2007 di Yogyakarta, Indonesia.

Sidharta dan Eko Budihardjo. 1989. Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Simanjuntak, Truman. 2004. New Insight on the Prehistoric Chronology of Gunung Sewu, Java, Indonesia. Modern Quartenary Research South East Asia 18. Leiden: A.A. Balkema. Halaman: 9 – 30.

Sindhunata dan Hermanu. t.t.. Pawukon. Yogyakarta: Bentara Budaya Yogyakarta.

Soemardjan, Selo. 2009. Perubahan Sosial di Yogyakarta. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Komunitas Bambu.

Soeroso, Amiluhur. 2007. Conservation of the Borobudur Cultural Landscape. Artikel disampaikan dalam 1st International Symposium on Borobudur Landscape Heritage 2007 pada tanggal 20 April 2007 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia.

Soeroso, Amiluhur. 2007. Penilaian Kawasan Pusaka Borobudur dalam Kerangka Perspektif Multiatribut Ekonomi Lingkugan dan Implikasinya terhadap Kebijakan Manajemen Ekowisata. Disertasi dalam Ilmu Lingkungan pada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sojaya, Jajang Agus. 2005. Cermin Retak Pengelolaan Benda Cagar Budaya. Kedaulatan Rakyat > Rubrik Opini > Edisi 17 Juni 2005. Yogyakarta: Kedaulatan Rakyat. Halaman: 10.

Subroto, Ph.. 1995. Pola-Pola Zonal Situs-Situs Arkeologi. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus 1995. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 133 – 138.

Sudarmadji. 2008. Pembangunan Berkelanjutan, Lingkungan Hidup dan Otonomi Daerah. Website Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada > Artikel > Edisi 4 Juni 2008. Diakses pada tanggal 27 April 2011. http://geo.ugm.ac.id/archives/125

Sulistyanto, Bambang. 1994. Kalang, Tinjauan Historis – Antropologis. Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Halaman 109 – 114.

Sumardjo, Jacob. 2002. Arkeologi Budaya Indonesia; Pelacakan Hermenutis-Historis terhadap Artefak-Artefak Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Qalam.

Suryo, Djoko. 2005. Penduduk dan Perkembangan Kota Yogyakarta 1900 – 1990. Dalam Freek Colombijn, et.al. (ed.). Kota Lama, Kota Baru; Sejarah Kota-Kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Halaman 30 – 44.

Swasono, Sri-Edi. 2004. Kebersamaan dan Asas Kekeluargaan sebagai Pusaka Saujana Indonesia; Dimensi Sosial-Kultural Ilmu Ekonomi. Artikel disampaikan dalam Diskusi Panel Pelestarian Pusaka dan Pembangunan Ekonomi pada tanggal 28 April 2004 di Yogyakarta, Indonesia.

The Jakarta Post. 2011. 30 Temples Still Burried by Merapi’s Previous Eruptions. The Jakarta Post > National > 5 Januari 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://www.thejakartapost.com/news/2011/01/05/30-temples-still-buried-merapi%E2%80%99s-previous-eruptions.html

The Jakarta Post. 2011. Lahar Threat Looms above Prambanan. The Jakarta Post > Archipelago > 22 Maret 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://www.thejakartapost.com/news/2011/03/22/lahar-threat-looms-above-prambanan.html-0

Tjahjono, Baskoro D. dan Widiyanto. 1994. Lwah Inalih Haken, Arti Kiasan atau Sebenarnya? Dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Halama 47 – 51.

Tjahjono, Baskoro Daru. 1998. Penetapan Sima dalam Konteks Perluasan Wilayah pada Masa Mataram Kuna; Kajian Berdasarkan Prasasti-Prasasti Balitung (899 – 910 M). dalam Berkala Arkeologi Tahun XVIII Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman: 40 – 51.

Utomo, Gito. Tanpa tahun. Mengembangkan Materi Heritage/Pusaka ke dalam Pendidikan Sekolah Dasar. Tidak diterbitkan.

Wijoyono, Elanto (ed.). 2003. Revitalisasi – Preservasi Masjid Mataram Kotagede dan Masjid Gede Kauman. Laporan penelitian untuk mata kuliah Arsitektur Indonesia di Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Wijoyono, Elanto. 2005. Taman Sari “Baru”, (Mencoba) Bukan Sekedar Polesan. Majalah Artefak Edisi XVII Tahun 2005. Yogyakarta: Himpunan Mahasiswa Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Wijoyono, Elanto. 2007. Kotagede, Korban Konservasi Salah Kaprah. Blog Tidak Beranjak Mencari Celak ke Langit > 28 Maret 2007. Diakses pada tanggal 2 Mei 2011. http://elantowow.wordpress.com/2007/03/28/kotagede-korban-konservasi-salah-kaprah

Wijoyono, Elanto. 2006. Geliat Kerajinan Batik Imogiri Pascagempa. Buletin Kombinasi Edisi 16/Juni 2006. Yogyakarta: COMBINE Resource Institution. Halaman 20 – 21.
http://elantowow.wordpress.com/2007/03/16/geliat-kerajinan-batik-imogiri-pascagempa/

Wijoyono, Elanto. 2009a. Aparatlah yang Harus Dididik; Langkah Taktis Mengatasi Carut-Marut Pengelolaan Pusaka. Artikel disampaikan dalam Seminar Nasional Carut-Marut Pengelolaan Warisan Budaya Indonesia pada tanggal 13 Juni 2009 di Yogyakarta, Indonesia.

Wijoyono, Elanto. 2009b. Penyelamatan Pusaka Pascabencana; Upaya Menanamkan Isu Pelestarian dalam Pengurangan Risiko Bencana. Blog Tidak Beranjak Mencari Celak ke Langit > 22 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 27 April 2011.
http://elantowow.wordpress.com/2009/10/22/penyelamatan-pusaka-pascabencana/

Wijoyono, Elanto dan Laretna T. Adishakti. 2010. Pendidikan Pusaka untuk Anak; Membangun Strategi Pelestarian Pusaka melalui Jalur Sekolah. Artikel disampaikan dalam Seminar Internasional Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia pada tanggal 23 Januari 2010 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Wijoyono, Elanto. 2011. Desa Kota Lestari. Blog Tidak Beranjak Mencari Celah ke Langit > 3 April 2011. Diakses pada tanggal 12 Mei 2011. http://elantowow.wordpress.com/2011/04/03/desa-kota-lestari/

Winarni. 2006. Kajian Perubahan Ruang Kawasan World Cultural Heritage Candi Borobudur. Tesis untuk mencapai derajat S-2 pada Program Studi Magister Perencanaan Kota dan Daerah Jurusan Ilmu-Ilmu Teknik Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Wkm/Pra/Egi/Gal. 2011. Kali Putih, dari Sana Semuanya Bermula. Kompas.Com > Regional > Jawa > 29 Januari 2011. Diakses pada tanggal 29 April 2011. http://regional.kompas.com/read/2011/01/29/04325245/Kali.Putih.dari.Sana.Semuanya.Bermula

Yudoseputro, Wiyoso. 2008. Jejak-Jejak Tradisi Bahasa Rupa Indonesia Lama. Jakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s