Mampukah Mengubah Citra dari Universitas Gerayangane Maling?

Paruh kedua tahun 2007 lalu, dua teman menuliskan kabar kehilangan sepeda di wilayah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) ke milis Bike2Work Yogyakarta. Ironisnya, satu dari sepeda yang hilang itu diparkir persis di samping pos satpam, dan satu lagi di depan mushola. Paruh pertama tahun 2008 juga diwarnai dengan hilangnya sepeda teman Bike2Work yang diparkir di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM. Masjid Kampus UGM juga menjadi tempat hilangnya sepeda teman. Sementara, kemudian beberapa kali aku mendengar kabar hilangnya sepeda di kompleks Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM. Sekitar lima kejadian hingga paruh awal tahun 2009 ini.
Sampai kini, aku belum melihat ada perubahan manajemen yang lebih baik untuk pengamanan parkir sepeda. Tak pernah ada tiket parkir untuk sepeda. Apalagi rak parkir yang aman untuk sepeda, sama sekali tidak. Petugas parkir acuh dengan sepeda, tak pernah menanyai dan memperhatikan. Petugas parkir kampus hanya bertugas selama jam kerja pagi – sore. Jelang malam, selalu ada kekosongan waktu sebelum petugas jaga malam datang, yang itupun tak sering menengok kembali tempat parkir. Waktu ideal yang bisa dimanfaatkan oleh mata-mata jeli si tangan panjang.
Ketika terjadi kehilangan sepeda, satuan pengaman (satpam) kampus UGM tak banyak bisa membantu. Biasanya mereka hanya menerima laporan lisan, tanpa dicatat, apalagi dilanjutkan dengan pencarian. Satpam yang berwenang di kompleks, seperti di Fakultas Teknik UGM, biasanya melemparkan tanggung jawab ke petugas parkir di masing-masing jurusan. Polisi di pos Jalan Kaliurang dan Bundaran UGM pun tak banyak membantu karena berdalih urusannya di lalu lintas. Polisi di Kepolisian Sektor Bulaksumur pun hanya rajin mencatat, dan kemudian menyarankan lapor ke Kepolisian Sektor Mlati jika kejadiannya di wilayah barat Jalan Kaliurang. Tak ada tindakan di lapangan untuk sepeda. Sangat panjang jalan yang harus ditempuh, menghabiskan waktu, sementara tak ada perkembangan positif atas barang yang hilang.
Sangat rapuh jika kemudian kita menggantungkan keselamatan dan keamanan aset, atau bahkan diri kita, kepada orang-orang yang bekerja dengan dedikasi tak penuh. Rangkaian kejadian hanya diingat sebagai data, yang tak pernah dijadikan informasi untuk mengambil keputusan perbaikan manajemen keamanan yang lebih baik. Bahkan, di Jurusan Arsitektur dan Perencanaan FT UGM, tempat segala rencana dan studi pengelolaan wilayah – kawasan dibangun. Ya, yang sekaligus menjadi tempat hilangnya sepedaku pada hari Senin, 29 Juni 2009 sore yang lalu. (*)
ada satu bintang di sana, tak kulihat bintang yang lain















turut berduka cita ya mas udah kehilangan sepeda. ALhamdulillah sampe sekarang saya belum kehilangan sepeda. Semoga saya bisa makin mawas diri. Tapi apa sepeda-sepeda itu ndak digembok? Gimana motif pencuriannya? Nuwun.
Sepedaku aku kunci ke sebuah kursi yg sudah dijebol ketika aku datang lagi.
Keamanan tampaknya selalu jadi tanggung jawab sendiri. Tak banyak yg bs diharapkan dari manajemen keamanan yg ada.
Pesanku, selalu bawa sedekat mungkin sepeda temen2 ketika bergiat di kampus. Jangan hiraukan omelan atau perintah petugas satpam atau petugas kebersihan kalau kita bawa sepeda masuk kompleks atau ruangan. Mereka tidak akan mau dan mampu menanggung dampak jika terjadi kerusakan dan kehilangan. Lalu, kuncikan sepeda temen2 ke benda yang tak terpindahkan, seperti pagar atau tiang besi. Kunci dobel sangat disarankan. Jangan lupa juga catat nomor rangka sepeda temen-temen.
Salam,
Kita harus dorongkan secara sungguh-sungguh bahwa dalam Perda Parkir di Kabupaten/Kota harus menerakan bahwa parkir sepeda harus dengan tiket/karcis. Tiket parkir menandakan ada pemantauan dan pengamanan; ada petugas parkir yang memeriksa.
Perda parkir Kota Yogyakarta yang baru kapan akan dibereskan dengan SERIUS?
Jangan menunggu orang kapok naik sepeda dan beralih ke sepeda motor sang pembunuh massal?
yup. apapun speda kita. itu tanggung jawab kita.
setuju banget sama joyo: ABAIKAN OMELAN ORANG KALAU MEREKA MARAH KITA BAWA SEPEDA MASUK KE DALAM RUANG YG SEDEKAT MUNGKIN DENGAN TEMPAT KITA KARENA MEREKA TIDAK MAU TANGGUNG JAWAB KALAU SESUATU TERJADI DENGAN SEPEDA KITA.
sepeda itu barang yang bs mudah dibeli dan dibuat lagi
Aku sangat kecewa karena hal ini sudah terjadi berulang kali, tanpa ada upaya SERIUS untuk memperbaiki atau menguranginya. Apalagi itu terjadi di lingkungan kampus. Ini KONYOL!
Sementara, uang pajak atau uang kuliah kita digunakan untuk membayar upah orang2 berseragam yang tak mau tahu apa yang terjadi di dalam wilayah kewenangannya.
Kampus harus bisa menjamin keamanan aset orang-orang yang datang membayar untuk menuntut ilmu, atau orang-orang yang datang untuk menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk perkembangan ilmu itu sendiri. Jaminan atas keamanan dan keselamatan itu bisa diadakan. Jika belum ada, maka bisa diperjuangkan.
Peristiwa buruk yang terjadi setelah ada upaya maksimal untuk mitigasinya jelas jauh lebih baik daripada peristiwa buruk yang terjadi berulangkali akibat tidak ada upaya apapun!
Kapan kita bs serius mengurusi peripekehidupan warga perkotaan?
Semoga kita tidak sepayah itu seterusnya.
tetep semangat Joy,…
Turut berbela sungkawa, Mas.
Wah jadi takut bawa sepeda ke kampus nih T_T
Tetap Semangat Bos!!
mas joy..smoga dirimu sgera mendapat ganti speda yg lbih oke…
ikut beduka prens…
dua kata: mafia sepeda.
wadoh aps banget sepdeanya hilng
smangadhh 0m..
smangadhh beli sepeda baru
aq ga minta traktir lg deh :p
ikot berduka semoga besok lagi aman
wah memang payah kemanannya, atau memang sudah diincar nih…