Kota Kota Kita

19 09 2008

Kota-kota kita direncanakan dan dibangun cenderung hanya untuk dinikmati dari dalam mobil atau kendaraan bermotor serta gedung besar yang nyaman. Semuanya berjalan di atas kuasa mesin dan berjarak. Jadi, dimanakah letak habitus berperikemanusiaan bagi warga kota akan dapat mewujud?

Sejatinya ahli kota adalah sang pejalan kaki. Pejalan kaki tak hanya melihat, tetapi dia akan merasakan dan mengalami bentang kota secara nyata dan langsung; panas, hujan, kotor, bau, sentuh, beringas, dan sebagainya. Jadi, mampukah (baca: maukah) kita membangun tata perkotaan yang manusiawi.

*sedikit catatan menggugah yang teringat dari beberapa obrolan bersama kawan baik saia Marco Kusumawijaya.


Actions

Information

3 responses

22 09 2008
ngodod

persoalannya paradigmatis lo gitu ya kang…?

23 09 2008
maulana

setuju!,… kita (indonesia) sering melihat Kota dari konteks fisik yg menaungi sisi materialis saja…humanis nya “kosong”.ayo!!..bangun kembali kota kita!!

30 01 2009
humanisma

Lagi-lagi persoalannya adalah masalah komitmen. Dan ketika dihadapkan pada kondisi dilematis ini, manfaat ekologis selalu diposisikan berhadap-hadapan dengan kepentingan ekonomis. Pragmatis sekali, dan belum ada (gak mau atau gak mampu?) grand desain ataupun cetak biru yang bisa menjadi jalan tengah.
Jadi….. :-( ?

Salam humanisma

Leave a comment