Mesin Waktu Itu Cuma “Lelucon”

Tahu berapa harga pasaran seekor kambing pada tahun 1938? Berapa pula harga iklan kematian di surat kabar pada tahun 1932? Mau tahu berapa biaya untuk mengajukan satu pertanyaan konsultasi hukum kepada seorang pengacara pada tahun 1937? Kelihatannya kita harus mencarinya di laporan-laporan tertulis Pemerintah Hindia Belanda agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, kalau tak menguasai bahasa Belanda, masih ada cara lain untuk mengetahuinya. Syaratnya hanya menguasai bahasa Indonesia, beberapa dialek daerah, dan lebih baik jika bisa membaca aksara serta bahasa Jawa. Hanya itu syarat yang diperlukan untuk membaca lelucon-lelucon kuno.

Ya, lelucon. Coba simak yang di bawah ini!
“Berapa harganya advertensi kematian?”
“Setengah perak satu cm.”
“Tobat… orang yang mati tingginya 175 cm.”

Masih ada lagi yang berikut.
Pedagang ikan : “Permisi, Tuan Pengacara, saya mau bertanya, kalau anjing makan ikan apakah yang punya anjing harus mengganti harga Ikan?”
Advocaat : “ Harus mengganti!”
Pedagang ikan : “ Anjing Tuan yang memakan ikan saya.”
Advocaat : “ Baik, berapa harga ikanmu yang dimakan?”
Pedagang ikan : “ Ikan saya dimakan anjing Tuan habis satu rupiah.”
Advocaat : “ O… iya saya mesti bayar, ini uang satu rupiah.”
Pedagang ikan : “ Terima kasih, Tuan.”
Advocaat : “ Selain dari itu kamu harus membayar rekening tagihan untuk pertanyaanmu tadi dua setengah rupiah!”

Sementara, harga pasaran seekor kambing pada tahun 1938 bisa kita ketahui dari percakapan antara Semar dan Gareng, berikut bagaimana cara untuk mendapatkan laba dalam menjual kambing. Gareng datang mengadu kepada ramanya, Semar, mengenai tingkah laku Petruk, adik Gareng. Gareng dan Petruk membeli seekor kambing dan masing-masing membayar lima puluh rupiah. Namun, Petruk baru akan membayar di belakang. Gareng menurutinya karena Petruk adalah adiknya. Ketika Gareng menyuruhnya menggembalakan kambing itu, Petruk tidak mau. Setiap disuruh, ia selalu menjawab, “Karena bayar belakangan saya yang disuruh terus.” Kambingnya jadi kurang makan. Karena sudah geregetan, Gareng memutuskan menjual kambing itu ke pasar. Ia mengajak serta Si Petruk. Gareng kemudian menjelaskan bagaimana cara blantik menjual kambing, yaitu dengan cara berpura-pura sebagai pembeli untuk menaikkan harga. Petruk juga sudah tahu trik itu.

Kemudian, Petruk menunggui kambing dan Gareng menjadi blantiknya. Ketika pasar sudah mulai ramai ada seorang petani yang membutuhkan kambing betina untuk dijadikan babon. Ia menawar seratus lima puluh rupiah, lalu Gareng ikut menawar seratus tujuh puluh lima rupiah. Namun, Petruk justru berkata, “Kang Gareng, matamu itu ada di mana? Lha, kambingnya sendiri kok ditawar?” Kemudian Gareng mengedipi dan mengangguki Petruk. Petruk semakin teriak-teriak, “Eee.. sudah edan Kang Gareng ini, kok malah mengangguk-angguk dan berkedip-kedip. Orang diberi tahu kalau ini kambingnya sendiri.” Akhirnya mereka berdua pun berkelahi. Pada akhir pembicaraan, Semar bertanya siapa akhirnya yang menang. Gareng menuntaskan ceritanya bahwa pasar menjadi geger dan ia dibanting Petruk mengenai periuk orang jualan dawet. Gareng pun sudah benar-benar ikhlas sekarang.

************************************************************

Majalah-majalah yang terbit pada tahun 1930 sampai 1940-an, seperti Majalah Sin Po, Star Weekly, dan sebagainya banyak yang memuat kolom-kolom lelucon. Dalam buku almanak tahunan Gids Melajoe tahun 1941 yang diterbitkan di Ambarawa, Jawa Tengah, kolom lelucon itu disebut dengan istilah Penggeli Hati. Penggeli Hati ini menjadi istilah untuk kolom cerita atau gambar yang lucu, yang biasa disebut kartun. Istilah lain yang muncul adalah Panglipur Manah, yang muncul di Majalah Kajawen yang berbahasa dan beraksara Jawa terbitan Balai Pustaka tahun 1940-an. Sementara, majalah terbitan barat mengistilahkannya dengan Keep Smilling.

Lelucon pertama di atas tentang iklan kematian adalah lelucon yang dimuat di Majalah Sin Po pada tahun 1932 dengan judul “Salah Mengerti”. Lelucon kedua, tentang pengaduan penjual ikan, di atas dimuat di Majalah Kajawen tahun 1937 dengan judul “Advocaat dan Penjual Ikan”. Sementara, cerita Gareng dan Petruk berjualan kambing dimuat dalam Almanak Jawi terbitan Balai Pustaka tahun 1938.

Lelucon-lelucon yang dimuat dalam berbagai majalah itu ditulis dengan menggunakan bahasa yang banyak dipakai pada saat itu. Lelucon dalam Majalah Kajawen terbitan tahun 1930-an saat itu ditulis dengan akasara dan bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang dipakai pun adalah bahasa halus (krama), bukan ngoko (kasar). Kadang-kadang dimasukkan pula kata-kata bahasa Belanda yang banyak dipakai pada saat itu ke dalam tulisan lelucon-lelucon itu. Bahasa Indonesia Melayu dengan ejaan lama dipakai dalam Majalah Panji Pustaka tahun 1930-an, buku-buku sekolah rakyat, serta berbagai almanak. Lelucon-lelucon yang muncul di majalah-majalah keluaran penerbit Tionghoa, Majalah Sin Po dan Star Weekly misalnya, banyak memakai bahasa Melayu dengan dialek Cina. Penggunaan bahasa-bahasa seperti ini marak pada era sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Pada masa kemerdekaan, lelucon-lelucon yang dimuat di majalah menggunakan bahasa Indonesia walaupun masih belum sempurna karena masih banyak unsur kata-kata dari bahasa daerah yang dipakai.

Lelucon-lelucon yang dimuat dalam majalah tahun 1930-an masih jarang yang disertai dengan gambar atau hanya berupa teks. Lelucon dan gambar kartun di majalah-majalah itu sendiri berasal dari dua sumber. Pertama, karya lelucon serta ilustrasi kartun, kadang dalam bentuk komik, yang dibuat oleh ilustrator majalah yang bersangkutan yang digaji perusahaan. Kedua, lelucon kiriman masyarakat umum yang kemudian digambar oleh ilustrator majalah tersebut. Pengarang cerita kiriman itu akan mendapatkan imbalan. Pengarang lelucon-lelucon itu bisa datang dari daerah yang jauh dari kantor majalah itu. Tak tanggung-tanggung, Majalah Kajawen pernah mendapatkan kiriman lelucon dari Kalimantan.

***********************************************************

Ketika membaca tulisan lelucon-lelucon atau komik lama yang masih polos dan jauh dari unsur politik serta seks ini kita seakan-akan terbawa kembali ke masa lalu dan terbayang di pikiran kita suasana sehari-hari pada saat itu. Ilustrasi yang seringkali mengiringi lelucon-lelucon itu menggambarkan orang-orang dengan pakaian, adat istiadat, serta lingkungan ketika peristiwa itu terjadi. Secara khusus ketika membaca lelucon-lelucon yang dimuat dalam majalah-majalah terbitan tahun 1930 sampai awal 1940-an, sebelum era kemerdekaan, kita bisa menambah wawasan tentang gambaran kehidupan masyarakat kebanyakan dan gaya hidup masyarakat Indis yang masih berlangsung pada saat itu.

Gambaran hidup masyarakat Indis sendiri bisa diikuti dan lebih dipahami melalui berbagai berita tertulis yang ditulis oleh para musafir, rohaniwan, peneliti alam, pejabat pemerintahan jajahan, serta karya-karya sastra Indis (Indische belletries) (Djoko Soekiman, 2000). Selain karya-karya tulis seperti itu, karya sketsa dan lukisan bisa turut memperkaya informasi yang bisa didapat mengenai hal tersebut sekaligus mengisi celah-celah kekurangan berita tertulis. Namun, sayangnya, berita-berita itu lebih banyak menceritakan kehidupan masyarakat Indis kalangan atas. Sementara, informasi mengenai gaya hidup masyarakat Indis dari kalangan bawahan, atau abdi pemerintah Hindia Belanda, dan masyarakat kebanyakan sangat sedikit.

Menurut Djoko Soekiman, sebenarnya masih cukup banyak sumber yang luput dari perhatian penelitian sejarah, seperti berbagai bentuk karya sastra yang meliputi roman, cerita pendek, sketsa, sajak, dan pementasan cerita sandiwara yang ditulis pada masa kekuasaan kolonial di Hindia Belanda. Karya-karya sastra itu merupakan buah tangan yang langsung dari tangan pengamat sezaman. Dari karya-karya semacam ini dapat diperoleh gambaran tentang kehidupan gaya Indis melalui tulisan yang sesuai dengan yang ditangkap oleh para pengarangnya. Mereka yang hidup sezaman dengan kejadian yang terjadi di dalam masyarakatnya merupakan saksi sejarah yang penting. Gambaran gaya hidup, jalan pikiran, sepak terjang, dan sebagainya yang ia lihat, dengar, dan rasakan dapat melengkapi catatan sejarah yang tersimpan di dalam arsip. Hal ini dapat digunakan untuk mengungkapkan pengalaman-pengalaman yang masih mentah yang belum sempat diolah dalam suatu penelitian sejarah atau ilmu sosial lainnya.

Lelucon-lelucon kuno, baik dalam bentuk cerita tertulis saja, cerita tertulis dengan ilustrasi, maupun komik, sebenarnya juga memiliki potensi untuk memberi gambaran kehidupan pada masa tersebut. Komik sendiri merupakan sebuah sarana pengungkapan yang orisinil karena menggabungkan antara gambar dengan teks. Berbagai mite yang dihasilkan oleh lelucon-lelucon kuno ini seharusnya bisa menarik perhatian para sosiolog. Sebabnya, menurut Marcel Bonneff (1998), mite-mite itu merupakan cerminan suatu masyarakat sekaligus fakta yang dihasilkannya sebagai pengimbang.

Walaupun sederhana, kemampuan lelucon-lelucon kuno menjelma sebagai “mesin waktu” cukup besar nilanya. Hal ini disebabkan oleh kemampuan lelucon-lelucon kuno itu dalam merekam berbagai peristiwa dalam kehidupan masyarakat pada waktu itu; meliputi tujuh unsur budaya universal yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Kemampuan lelucon itu dalam merekam fenomena berbahasa masyarakat era Indis antara lain ditunjukkan oleh cerita lucu berjudul “Gelatik yang Mengerti Bahasa Belanda” yang dimuat dalam Gids Melajoe tahun 1929. Diceritakan bahwa pada hari Minggu, Tuan Mulyo pergi ke sawah hendak menembak burung gelatik bersama anak perempuannya yang berumur tujuh tahun, Lince. Sang bapak berpesan agar Lince tidak berkata apa pun ketika sudah sampai di tempat yang banyak burungnya agar burung-burung itu tidak terbang. Lien menurutinya. Namun, setibanya di tempat burung dan sang bapak sudah bersiap membidik seekor burung, tiba-tiba Lince berkata, “Pa, daar zijnde Glatiks!” Burung-burung pun terbanglah. Tuan Mulyo marah karena Lince tidak menuruti nasihatnya. Lince diam saja dan berkata dalam hatinya, “Hai, agaknya tahu juga gelatik itu berbahasa Belanda, kalau ia tidak mengerti bahasa Belanda tentu ia tidak akan terbang.”

Fenomena berbahasa tampak pula dalam lelucon berjudul “Tidak Pandai Berbahasa Belanda” yang dimuat pula dalam Gids Melajoe tahun yang sama. Ada seorang bangsa Belanda tinggi besar bertemu dengan seorang anak siswa Holandsch Inlandsche School (HIS) kelas tiga di jalan. Tuan ini senang dengan anak-anak dan menghampiri si anak seraya berkata dalam bahasa Belanda, “Hai anak manis, pandaikan engkau berbahasa Belanda?” Anak itu ketakutan memandang tuan yang tinggi besar itu. Meskipun ia dapat juga berbahasa Belanda sedikit-sedikit, tetapi karena ia khawatir kalau tuan itu nanti berkata banyak-banyak lalu ia menjawab, “Neen, Meneer! Ik kan niet Holland spreken.” Mendengar jawaban ganjil, tuan itu tertawa besar hingga seperti gemuruh kedengarannya. Anak itu setelah melihat tingkah laku dan mendengar suara tertawa tuan itu bertambah-tambahlah ketakutannya, kemudian lari pulang sekencang-kencangnya.

Informasi mengenai kehidupan dan mata pencaharian pada masa itu bisa disimak dalam lelucon berbahasa Jawa yang dimuat dalam Majalah Kajawen tahun 1937 dengan judul “Turunan” (Keturunan). Terjemahannya sebagai berikut:
A : “Mengapa Mami kalau menutup pintu atau jendela, musti dikeraskan, membuat terkejut orang.”
B : “Iya, sebab keturunan, bapaknya kan kondektur S.S. kalau membuka atau menutup pintu, kamu tahu sendiri.”

Kita tahu kalau S.S. itu singkatan dari Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Belanda. Bisa menangkap maksudnya, kan?

Lain halnya dengan lelucon berikut.
Aman : “Pak Krama, sekarang jaman listrik, jaman radio, jaman mesin terbang, pendek kata jaman cepat-cepatan, siapa yang cepat dan cekatan ya itu yang akan maju di alam modern ini, lha iya di jaman seperti ini pakaianmu kok kewar-kewer repot begitu!”
Menurutmu apa tiap hari ada hajat tayuban begitu apa? Berpakaian itu mbok ya seperti saya ini, kelihatannya gagah dan cepat.”
Krama : “Menurut orang Jawa itu ya lain, berpakaian seperti kamu itu memang cepat apalagi kalau memakai kucir, beda dengan pakaianku ini. Kalau ada keadaan bahaya tidak bisa berlari, tetapi malah memegang lipatan kain serta bersedia menantang bahaya yang akan datang tadi.”

(“Mana yang Baik”, Majalah Kajawen_berbahasa dan beraksara Jawa, 1940)

Lelucon ini menunjukkan fenomena yang biasanya hanya tersajikan sebagai data tertulis bahwa dari para birokrat pemeritah kolonial timbul dan berkembang kebudayaan baru, yaitu Kebudayaan Indis, yang merupakan suatu kebudayaan hasil jalinan yang makin erat antara dua budaya, yaitu budaya Jawa dan Belanda. Di sini seolah-olah telah terjadi pertukaran mental di antara orang Jawa dan Belanda, yaitu orang Jawa memasuki lingkungan budaya Eropa dan sebaliknya. Kesejahteraan dan meningkatnya status seseorang menuntut perubahan gaya hidup, antara lain berupa gaya hidup baru, seperti penggunaan bahasa, cara berpakaian, cara makan, kelengkapan alat perabot rumah tangga, mata pencaharian hidup, kesenian, kepercayaan/keagamaan, dan menghargai waktu.

Memang informasi yang bisa didapat secara langsung dari lelucon-lelucon itu sangat sedikit dan sederhana. Namun, dalam lelucon-lelucon itu justru kita bisa mendapatkan banyak hal yang tidak ada dalam arsip atau dokumen-dokumen sejarah resmi, yaitu terutama mengenai detil-detil suasana yang berlangsung selama peristiwa itu terjadi. Kita hanya bisa melihat data-data mati dan angka-angka statistik di dalam laporan-laporan resmi. Dalam lelucon-lelucon lama ini kita bisa melihat data-data tersebut “dipertunjukkan” sebagaimana kejadian sebenarnya dalam kehidupan.

**************************************************************************
Perkembangan lelucon-lelucon ini tumbuh seiring perkembangan surat kabar yang sejalan pula dengan fenomena budaya kota (urban culture). Karya-karya sastra marginal, seperti novel dan cerita bersambung (feuilleton), yang banyak dimuat di surat kabar dan majalah sudah muncul sejak akhir abad XIX dan berkembang luas pada awal abad XX hingga runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda. Demikian pula semestinya yang terjadi pada lelucon-lelucon itu. Karya-karya sastra marginal itu semula berkembang di Batavia dan kemudian berkembang pula di daerah-daerah. Karya-karya itu tampak jelas mengggambarkan gaya bahasa cerita dengan unsur-unsur Indis, yaitu berunsurkan budaya Eropa dan Timur (Jawa). Memang kebudayaan Indis sendiri hidup dalam situasi yang stabil dalam jangka waktu yang panjang. Hal ini terjadi sejak diterapkannya Politik Etis ± tahun 1870 yang diikuti dengan perkembangan ekonomi Hindia Belanda, sehingga tercipta ketentraman dan ketertiban.

Tampaknya sudah seharusnya lelucon-lelucon dalam berbagai bentuknya ini harus didudukkan bukan sekedar sebagai cerita lucu yang menghibur, tetapi juga sebagai suatu dokumen. Di sini kita melihat (lahirnya) bentuk pengungkapan yang lain, yang tampaknya kurang mengandung nilai-nilai seni atau bahkan nilai kesejarahan. Tinggal bagaimana langkah selanjutnya untuk membedah isi karya-karya lelucon itu dari sudut semiotik, linguistik, hingga sejarah, dan arkeologi untuk membantu melengkapi gambaran kehidupan masyarakat pada masa lalu tersebut.

Dari lelucon-lelucon kuno itu pula bisa dikatakan bahwa apa yang terjadi pada masa lalu, mengenai gaya hidup, kebodohan, kelicikan, kecerdikan, dan berbagai sifat manusia lainnya, agaknya tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh masyarakat masa kini, sebagaimana yang ditulis oleh Hermanu dalam pengantar Penggeli Hati II, kumpulan lelucon kuno yang diterbitkan pada saat pameran karya gambar dan teks lelucon kuno di Bentara Budaya Yogyakarta awal tahun 2005 ini. Lelucon-lelucon yang muncul pada setiap zaman akan selalu memberikan gambaran mengenai kehidupan dan jiwa zamannya. Hal itulah yang membuat lelucon-lelucon itu bisa menjadi sebuah “mesin waktu”. Hebatnya, ada saja karakter-karakter bangsa ini yang selalu sama dari waktu ke waktu Tidak percaya? Simak saja lelucon dari Almanak Jawi tahun 1954 yang berjudul “Tutur” (Nasihat) ini.
Burhan : “Le, kamu yang rajin bekerja, ya!”
Bureng : “Iya, seperti Kakak.”
Burhan : “Bagaimana?”
Bureng : “Kalau bangun kesiangan, kalau sudah bangun ngobrol dan minum kopi!”
Burhan : “Itu jangan ditiru, aku ini kan pegawai negeri, tahu?”

—————————————————————

Anatomi Lelucon Kuno

Lelucon merupakan suatu energi budaya yang memiliki kandungan pengertian sangat rumit. Darminto M. Sudarmo menyatakan bahwa lelucon yang muncul karena persinggungan budaya, bahasa, bahkan simbol-simbol religi, lelucon karena kenaifan atau kejujuran, karena salah perhitungan, dan sebagainya adalah fakta yang membuktikan bahwa efek kelucuan bisa dicapai dengan banyak sekali jurus. Dampak dari lelucon bermacam-macam, bisa senyum, bisa pula ketawa; bahkan sekadar gelitik inspirasi atau rangsangan intelektual.

Dalam pengertian paling dasar, lelucon terjadi karena dua sebab, yaitu tak sengaja dan disengaja. Lelucon tak sengaja adalah semua kejadian faktual lucu yang berkaitan dengan tokoh atau peristiwa. Sebaliknya, lelucon sengaja merupakan hasil kreasi manusia dan bisa digolongkan sebagai buah karya budayumat manusia.

Ilmu lelucon mengenal suatu “jurus” atau “senjata” yang sering digunakan sebagai pilihan oleh para kreator atau pemakai lelucon sebagai alat untuk mengungkapkan eksprsinya. Masih menurut Darminto M. Sudarmo, jurus yang digunakan kreator lelucon bisa saja berlainan atau sama, tetapi setiap kreator biasanya berusaha mencapai stilisasi yang khas dan pas untuknya. Dari sinilah muncul beberapa macam jenis lelucon yang masing-masing memiliki anatomi ang berbeda. Ruang tempat proses kratif lelucon dilahirkan pun bisa dikenalkan dari anatomi lelucon ini.

Bagaimana dengan lelucon kuno, yang berasal dari masa lalu? Memang belum ada penelitian yang khusus membedah anatomi lelucon kuno. Tak ada salahnya jika usaha pembedahan itu dimulai di sini dengan merujuk pada kategorisasi anatomi lelucon Darminto M. Sudarmo. Toh walaupun merupakan lelucon kuno, tetapi tetap saja itu merupakan hasil karya budaya umat manusia yang bisa kita telaah.

****************************

Pertama, guyon parikena. Isi leluconnya bersifat nakal, agak menyindir, tapi tidak terlalu tajam, bahkan cenderung sopan. Lelucon seperti ini dilakukan oleh bawahan kepada atasan atau orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati atau kepada pihak lain yang belum akrab benar. Ada juga yang menjuluki lelucon model ini sebagai lelucon persuasif dan berbau feodalisme. Kita bisa lihat lelucon semacam ini dalam lelucon berjudul “Rumah Makan Bagus” yang dimuat dalam Majalah Sin Po spesial tahun 1931.
“ Jongos, ini teh bau minyak tanah!”
“Salah Tuan, kopi di sini bau minyak tanah, tapi teh cuma bau benzin!”

Kedua, satire. Sama-sama menyidir atau mengkritik, tapi muatan ejekannya lebih dominan. Bila tak pandai-pandai memainkannya, jurus ini bisa sangat membebani dan sangat tidak mengenakkan. Beberapa karikatur (political cartoon) di media barat punya kecenderungan yang kuat ke arah ini. Simak lelucon berjudul “Singsot” yang dimuat dalam Majalah Kajawen tahun 1937 berikut ini!
Carik : “Mbok jangan bersiul saja!”
Abdi : “ Apakah Ndara Tuan marah?”
Carik : “Ach.. tentu saja, bersiul itu kalau untuk orang Belanda kurang ajar!”
Abdi : “Apa iya? Sebetulnya kalau saya bersiul kan Ndara Tuan malah senang sebab dibayar sedikit sudah senang.”

Ketiga, sinisme. Kecenderungan lelucon ini adalah memandang rendah pihak lain, misalnya tak ada yang benar atau kebaikan apa pun dari pihak lain dan selalu meragukan sifat-sifat baik yang ada pada manusia. Lelucon ini lebih banyak digunakan pada situasi konfrontatif. Tujuannya, membuat lawan atau pihak lain mati kutu; bahkan cemar reputasinya! Hal itu tampak dalam lelucon berjudul “Wales-walesan” (balas-balasan) yang dimuat dalam Majalah Kajawen tahun 1941.
Pak Pece yang buta bertemu dengan Pak Punuk yang bungkuk. Memang sudah lama mereka saling bermusuhan.
Pak Pece : “E, nuk-nuk.. pagi-pagi kok sudah mengangkat beban, apa tidak berat?”
Pak Punuk : “Orang mengajak baikan saja kok memakai dahwen. Kamu itu sudah siang begini jendelamu kok belum kamu buka?”

Keempat, pelesetan. Orang Barat menyebutnya imitation and parody. Di Indonesia, seringkali juga disebut parodi. Isinya memelesetkan segala sesuatu yang telah mapan atau populer. Dalam makna politis, cara ini menjadi semacam alat eskapisme dari kesumpekan keadaan. Terobosannya lewat pintu tak terduga dan ini cukup mengejutkan. Salah satu macam pelesetan muncul dalam lelucon di Majalah Star terbitan tahun 1952.
Guru : “ Cung, singkatan dari apa PP dan K itu?”
Kuncung : “ Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan.”
Guru : “Betul, dan ST singkatan dari kata apa?”
Kuncung : “Sekolah Teknik.”
Guru : “Dan PBB?”
Kuncung : “ Persatuan Buruh Becak.”

Kelima, slapstick. Lelucon kasar dan banal; orang terjengkang, kepala dipukul dengan tongkat, pantat dislomot seterika panas. Lelucon ini sangat efektif untuk memancing tawa masyarakat dari latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi tertentu. Beberapa film kartun untuk konsumsi anak-anak banyak yang menampilkan lelucon model ini. Si bebek atau kelinci dilempari benda oleh musuh dan masuk ke mulutnya. Benda itu ternyata granat, lalu meledak! Tubuh mereka berantakan, tetapi tak lama kemudian mereka pulih lagi dan balas menyerang lawan. Lelucon berjudul “Tetangga Manis” yang dimuat dalam Majalah Sin Po tahun 1932 mengandung unsur slapstisk juga. Lihat saja gambar berikut!
“Nyonya Smith, terima kasih buat telor yang kau beri pinjam kemarin kepadaku!”

Keenam, olah logika. Lelucon bergaya analisis ini sering disinggung oleh Arthur Koestler dalam teori bisosiatifnya. Lelucon ini banyak digemari oleh masyarakat tertentu, terutama dari kalangan terdidik. Ada contoh kecil dari lelucon berjudul “Ilmu Bumi” yang dimuat dalam Majalah Kajawen tahun 1940.
Guru : “Simin, di mana yang banyak menghasilkan emas?”
Simin : “ Di Afrika, yaitu di Transepal dan Oranyeprinst.”
Guru : “ Betul-betul, sekarang di mana kamu Sarijo, di Amerika yang banyak emasnya?”
Sarijo : “ Di California.”
Guru : “ Betul, sekarang Suroto, di sini mana yang banyak emasnya?”
Suroto : “ Di … Pegadaian.”

Ketujuh, analogi. Model lelucon yang menyasarkan ke dunia Antah-berantah untuk mencapai persamaan-persamaan dengan kondisi atau situasi yang ingin di-“bidik”. Cerita “Dua Orang Kikir” yang dimuat dalam Majalah Pacitan I tahun 1951 merupakan lelucon bertipe analogi. Diceritakan bahwa di negeri Kupah ada seseorang yang sangat kikir. Ia mendengar bahwa ada orang yang lebih kikir di Negeri Balsora. Ia lalu pergi menemuinya. Setelah bertemu, ia berkata bahwa ia ingin belajar cara menjadi sangat kikir. Orang Balsora mengiyakan permintaannya dengan mengajaknya berbelanja ke pasar. Mereka menuju kios penjual roti. Orang Balsora lalu bertanya apakah di situ dijual roti yang enak. Si penjual menjawab bahwa ada roti yang empuk seperti mentega. Orang Balsora lalu berkata bahwa dengan demikian mentega lebih baik daripada roti dan memutuskan untuk membeli mentega saja. Di kios penjual mentega, ia bertanya apakah ada mentega yang baik. Si penjual menjawab bahwa ada mentega yang enak dan bening seperti minyak selat. Mendengar itu, Orang Balsora lalu memutuskan untuk membeli minyak selat saja yang lebih enak dan mahal. Mereka menuju kios penjual minyak selat. Lalu ia itu bertanya apakah ada minyak selat yang baik. Si penjual menjawab bahwa ada minyak selat yang baik, bening seperti air. Mendengar itu, Orang Balsora berkata kepada orang Kupah bahwa minyak selat kalah baik dengan air. Ia punya air satu gentong di rumah. Sampai di rumah, tamu jauh dari Kupah itu akhirnya hanya disuguhi “Anggur Cap Senggot” alias air sumur mentah.

Kedelapan, unggul-pecundang. Model seperti ini sering disebut teori superioritas-interioritas. Lelucon yang muncul dari perasaan diri unggul karena melihat cacat, kesalahan, kebodohan, kemalangan pihak lain. Apresian dari kelompok penggemar lelucon ini tega tertawa terpingkal-pingkal melihat orang pincang, tangan buntung, orang buta, orang terbelakang, orang sial, orang malang, dan lain-lain. Lelucon di Majalah Kajawen tahun 1940 berjudul “Kusir Pinter” memperjelas hal ini. Diceritakan bahwa ada seorang sudagar yang akan berkunjung ke rumah temannya di Tegalganda naik kereta. Hari sudah sore ketika sampai di perempatan jalan. Di pinggir jalan ada sebuah tiang petunjuk arah dengan empat buah papan terbentang menunjuk ke arah setiap jalan. Saudagar tadi memerintahkan kusirnya untuk berhenti. Oleh karena sudah mulai gelap, tulisan tadi tidak begitu jelas terbaca. Ia menyuruh kusirnya turun untuk melihat dengan teliti papan itu ke mana arah ke Tegalganda. Kusir turun, lama tidak kembali. Saudagar tidak sabar dan turun menuju tiang penunjuk arah. Namun, ia sudah disambut oleh kusirnya sambil memikul tiang penunjuk tadi. Ia berkata, “Bendara, karena hari sudah gelap, saya tidak bisa membaca. Tiangnya saja saya bongkar. Silakan untuk dibaca sendiri.”

Sebenarnya masih ada beberapa tipe lelucon lainnya. Namun, tampaknya tipe-tipe lelucon tersebut masih belum muncul pada lelucon-lelucon kuno tersebut. Tipe lelucon itu antara lain tipe lelucon surealisme. Lengkapnya adalah magic and surrealism. Lelucon model ini mengenai dunia nirlogika dan melompat dari makna-makna yang sudah disepakati. Ada pula lelucon kelam, sering juga disebut black humor atau sick joke. Isinya soal malapetaka, kengerian, sadisme, dan kebrutalan, seperti lelucon tentang orang yang dipenggal kepalanya, bunuh diri, pemerkosaan, dan sejenisnya. Selanjutnya, lelucon seks. Dalam hal ini bukan seks dalam arti gender atau jenis kelamin, tetapi seks yang mengandung makna menjurus ke porno-pornoan atau bahkan full porno. Lelucon jenis ini banyak beredar di kalangan terbatas, seperti di kantor-kantor. Antar teman, atau antar komunitas.

Ada pula lelucon bertipe eksperimental, yang seperti halnya cabang seni lain, misalnya teater, musik, tari, dan lukis, lelucon dalam berbagai ekspresinya juga mengenal eksperimentasi, yakni upaya menggeliat dari ruang-ruang yang sudah ada. Munculnya kartun instalasi, yang mendekonstruksi benda-benda dan difungsikan dalam makna yang baru atau film kartun animasi The Cosmic Eye karya Faith Hubley yang ke posmo-posmoan, mengindikasikan adanya perjalanan dan upaya eksplorasi di bidang lelucon dengan menggunakan media apa pun.

Tipe-tipe lelucon tersebut memang muncul seiring dengan perjalanan pemikiran menuju arah postmodernisme. Berbeda dengan lelucon-lelucon dari awal abad XX hingga pertengahan abad XX yang masih cukup polos dan tidak mengumbar joke-joke yang berbau politik, kekerasan, dan seks.

Namun, sebenarnya masih ada tipe-tipe lelucon yang mungkin sudah muncul pula pada masa-masa itu, tetapi tidak terlalu tampak dalam lelucon yang terkemas dalam bentuk cerita lelucon (tertulis) atau komik. Lelucon tersebut antara lain lelucon yang bertipe olah estetika. Lelucon model ini lebih banyak bisa dinikmati di dunia panggung pertunjukan, pameran, atau paket audio visual. Isi tayangan mungkin tak terlalu menggigit, tetapi pengemasannya sangat mengesankan dan mengejutkan. Film animasi Fantasia karya Walt Disney termasuk salah satu contoh betapa estetika menjadi salah satu pertaruhan kredibilitas kesenimanan Disney. Lelucon seperti ini bisa dipastikan sering muncul dalam pertunjukkan-pertunjukkan sandiwara tradisional, seperti wayang, ketoprak, ludruk, atau lenong.

Ada lelucon yang bertipe apologisme. Lelucon model ini semacam senjata yang bukan untuk melucu, tetapi justru untuk berlindung di balik lelucon. Menurut Darminto M. Sudarmo, hal itu merupakan suatu upaya pembenaran yang tergolong “pengecut” karena tidak berdaya mempertanggungjawabkan lontaran, pernyataan, atau perbuatannya yang ternyata tak memiliki dasar/argumen. Untuk menetralisasikan, karena biasanya enggan mengakui kesalahan, ia lalu berkilah, “Ah, itu ‘kan cuma guyon. Cuma lelucon”. Apakah masa lalu mengenal lelucon semacam ini?
Tulisan ini telah dimuat di Majalah ARTEFAK Edisi XXVII Tahun 2005
(diterbitkan oleh Himpunan Mahasiswa Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

3 thoughts on “Mesin Waktu Itu Cuma “Lelucon”

  1. Zeinmuf sing paling ganteng dewek sejagad raya

    wakakakakak lucu bro…
    dan jelas ini lelucon cerdas….
    kerennnn…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s