Kenapa ROKOK tidak perlu dilestarikan?

22 01 2012

Pernyataan di bawah ini sangat khas muncul dari pihak yang memiliki kepentingan kuat dengan industri rokok.

RT @siberang ironis, padahal @adrianizulivan adalah pendukung gerakan pelestarian pusaka nusantara. Lah kok malah mau ngehancurin kretek, #savekretek

Jadi, bagaimana cara untuk menghadapi dan menanggapi pola pikir merusak seperti di atas? Sebagai sebuah landasan pikir tentang strategi kebudayaan yang baru untuk hadapi otak-otak penuh asap, sebuah catatan aku tulis di bawah ini. Read the rest of this entry »





Dampak Bencana pada Pusaka Yogyakarta

17 05 2011

Pendidikan Pusaka untuk Pengurangan Risiko Bencana di Kawasan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya (Bagian 4 – dari 5 Bagian)

 I. Pelestarian pusaka dari kacamata hukum di Indonesia dan di daerah

Konsep pelestarian (atau konservasi) pada awalnya terbatas pada pelestarian atau pengawetan monumen bersejarah. Langkah itu lazim disebut preservasi. Tujuannya adalah berupaya mengembalikan, mengawetkan, atau “membekukan” monumen tersebut persis seperti keadaan semula di masa lampau. Di Indonesia, peraturan terawal yang terkait dengan perlindungan bangunan dan artefak kuno adalah Monumenten Ordonantie Stbl. 238/1931 atau biasa disingkat M.O. 1931 dari masa pemerintahan Hindia – Belanda (Sidharta & Budihardjo, 1989). Dalam M.O. 1931, definisi monumen atau artefak yang layak dilestarikan meliputi: Read the rest of this entry »





Potensi Ancaman Bencana di Yogyakarta dan Sekitarnya

13 05 2011

Pendidikan Pusaka untuk Pengurangan Risiko Bencana di Kawasan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya (Bagian 3 – dari 5 Bagian)

Pusat gempa bumi 27 Mei 2006 pukul 05.53 (waktu setempat) di Yogyakarta, Jawa, Indonesia  (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Yogyakarta_2006)

Pusat gempa bumi 27 Mei 2006 pukul 05.53 (waktu setempat) di Yogyakarta, Jawa, Indonesia (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Yogyakarta_2006)

I. Gempabumi Tahun 2006 dan Dampaknya

Pulau Jawa bagian selatan diguncang gempa bumi yang merusak sebelas wilayah kabupaten/kota di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah pada hari Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.53 pagi. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG; saat ini Badan Geologi, Klimatologi dan Geofisika – BMKG) mencatat kekuatan gempa pada 5,9 Skala Richter. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (U.S. Geological Survey) mencatat kekuatan gempa sebesar 6,3 Skala Richter pada kedalaman 10 Km. (http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/eqinthenews/2006/usneb6/). Pusat gempa terletak di daratan selatan Yogyakarta (7.962° Lintang Selatan, 110.458° Bujur Timur).  Laporan Inter Agency Standing Committee – IASC (2006) menyebutkan bahwa dua wilayah terparah adalah Kabupaten Bantul di D.I. Yogyakarta dan Kabupaten Klaten di Jawa Tengah. Gempa bumi tersebut mengakibatkan korban tewas seketika sebanyak 5.744 orang dan melukai lebih dari 45.000 orang.  Sebanyak 350.000 rumah hancur/rusak berat dan 278.000 rumah rusak sedang/ringan. Dampak gempa ini menyebabkan 1,5 juta orang tidak memiliki rumah karena rusak atau hancur. Total penduduk terdampak gempa adalah 2,7 juta jiwa, tiga kali lebih besar daripada jumlah yang tercatat pada petistiwa gempa-tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Jumlah kerusakan dan kerugian total mencapai 3,1 milyar USD, setara dengan kejadian gempa di Gujarat dan Kashmir.

Read the rest of this entry »





Dinamika Pembangunan Kawasan di Yogyakarta; Peluang atau Ancaman

13 05 2011

Pendidikan Pusaka untuk Pengurangan Risiko Bencana di Kawasan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya (Bagian 2 – dari 5 Bagian)

Peta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Sumber: Bakosurtanal)

Peta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Sumber: Bakosurtanal)

I. Pertumbuhan Penduduk

Sejak awal Yogyakarta telah memiliki daya tarik, selain sebagai bekas ibukota kerajaan. Yogyakarta sempat menjadi ibukota Republik Indonesia pada tahun 1946 – 1950. Kota ini menjadi pusat revolusi yang mempelopori perubahan-perubahan sosial politik hingga menjalar ke seluruh Indonesia (Soemardjan, 2009). Iklim pembaharu itu terus tumbuh seiring mewujudnya kota ini sebagai kota pendidikan. Diawali dengan berdirinya Universitas Gadjah Mada pada tahun 1949, puluhan perguruan tinggi didirikan di wilayah kota dan sekitarnya. Kota Yogyakarta pun berkembang pesat dengan laju pertumbuhan penduduk 1,9%. Pada tahun 2008, penduduk kota ini berjumlah 456.915 orang. Dengan luas wilayah 32,50 km persegi, kepadatan penduduk kota ini mencapai 13.881 jiwa per km persegi (BPS Kota Yogyakarta, 2009). Read the rest of this entry »





Pusaka Yogyakarta dan Sekitarnya

13 05 2011

Pendidikan Pusaka untuk Pengurangan Risiko Bencana di Kawasan Pusaka Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya (Bagian 1 – dari 5 Bagian)

Daerah Istimewa Yogyakarta - Indonesia

Daerah Istimewa Yogyakarta - Indonesia

Mengenal Yogyakarta tidak hanya bermula dari Kasultanan Yogyakarta. Ratusan ribu tahun sebelumnya, peradaban sudah bermula di jantung selatan Pulau Jawa ini. Pegunungan di selatan Yogyakarta yang dikenal sebagai Pegunungan Sewu mengawali sejarah peradaban. Pegunungan ini terbentuk dari proses erosi dan karstifikasi pada batuan kapur pada masa Miosen, yang kemudian mengalami pengangkatan selama masa Pleistosen Tengah (Semah, et. al., seperti yang dikutip oleh Simanjuntak, 2004). Terdapat ratusan gua yang masih aktif dan menyimpan aliran sungai bawah tanah di dalamnya, sehingga menjadi sumber air yang tak ternilai harganya bagi kawasan yang kering pada permukaannya itu. Bentang alam pegunungan karst ini telah dihuni oleh manusia purba sejak 700.000 tahun yang lalu. Mereka tinggal di ceruk dan gua di sana ketika sebagian besar wilayah di utara masih berada di bawah permukaan air. Pada beberapa ceruk, atau disebut Song dalam bahasa lokal, terdapat bukti peradaban berupa temuan fragmen kerangka manusia purba Homo sapiens (Kusuma, 2009). Sejauh ini telah ditemukan sejumlah 130 situs prasejarah di area yang membentang dari wilayah Pacitan di Jawa Timur hingga Gunungkidul di D.I. Yogyakarta ini. Situs-situs itu terdiri dari situs gua dan situs terbuka. Situs-situs ini mengandung keluasan cakupan kekayaan budaya prasejarah, mulai dari masa Paleolitik, pra-Neolitik atau Mesolitik, Neolitik, dan Paleometalik (Simanjuntak, 2004). Read the rest of this entry »





KlikJkt dan SaveJkt

7 05 2011

Dua Warna untuk Satu Kota


Belum ada setengah tahun gagasan ini dilontarkan dan didiskusikan, baik melalui tatap muka maupun dunia maya, wujudnya sudah tampak berjalan. Gagasan dari sisi konsep dan prinsip sudah diawali sejak bertahun yang lalu oleh teman-teman di Jakarta. Memasuki era jejaring sosial saat ini, gagasan itu semakin coba digali dalam banyak diskusi. Jelang akhir tahun lalu, ada rujukan yang menjadi muara gagasan, yakni sebuah sistem peta interaktif berbasis internet untuk meampung aspirasi warga atas denyut kotanya. Rujukan itu salah satunya beralamat di http://citizenmap.scmp.com/. Read the rest of this entry »





Desa Kota Lestari

3 04 2011

Rumusan Gagasan untuk Panduan Pengembangan Sistem Informasi Pengelolaan Sumber Daya Lokal

Memikir Ulang Desa - Kota

  1. Singgih Susilo Kartono memandang desa sebagai miniatur sebuah negara. Desa memiliki rakyat, pemerintahan, wilayah, sumber daya, dan landasan ekonomi. Namun, desa selama ini selalu “diabaikan”. Pembangunan struktur sosial ekonomi dipandangnya rapuh karena bertumpu peada pembangunan struktur sosial ekonomi perkotaan. Desa yang jumlahnya banyak secara kuantitas selalu menerima paling sedikit, paling akhir, dan paling buruk atau jelek. Sementara, kota yang jumlahnya sedikit selalu menerima paling banyak, paling awal, dan paling baik. Dalam prosesnya menuju tahap modern, desa lebih banyak melakukan konsumsi daripada produksi. Dalam pada itu, Singgih memandang sektor pertanian dan kerajinan dapat memandu perubahan desa secara lebih optimal. Pertanian akan memerlukan intensifikasi teknologi dan kerajinan akan memerlukan intensifikasi tenaga kerja. Sektor kerajinan seperti yang digiatkan oleh Singgih di Desa Kandangan, Temanggung, telah mampu mengintensifkan tenaga kerja dengan teknologi tepat guna, sumber daya lokal, dan pasar eksport. Dengan model pengelolaan sumber daya secara intensif, pembangunan struktur sosial ekonomi yang berbasis desa, akan menjadikannya lebih stabil. Read the rest of this entry »




Anak-anak Penyelamat Satwa dari Kaki Merapi

29 12 2010

KANCING (Kelompok Anak Pecinta Lingkungan - Dusun Deles). dok. Lintas Merapi FM KANCING (Kelompok Anak Pecinta Lingkungan - Dusun Deles). dok. Lintas Merapi FM

Mereka berteriak kegirangan ketika beberapa kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang bergerombol di pinggir jurang hulu Kali Woro itu berebut pisang yang dilemparkan ke tepian belukar. Senin lalu (27/12), sebagian besar pepohonan dan semak di sana masih berona abu-abu atau coklat akibat terbakar sebagai dampak erupsi Gunungapi Merapi pada awal bulan November 2010. Abu vulkanik yang tak terlalu tebal menyelimuti sudah hilang tersapu oleh hujan yang cukup sering turun selama beberapa minggu terakhir. Keceriaan anak-anak Dusun Deles, kampung tertinggi di lereng tenggara Gunungapi Merapi itu menjadi warna lain dibalik nuansa suram di habitat satwa Merapi yang sudah begitu dekat dengan permukiman itu. Di balik wajah-wajah sumringah itu ada harapan yang coba dipupuk oleh warga setempat untuk anak-anak mereka. Read the rest of this entry »





RUU Cagar Budaya Miskin Perspektif Kebudayaan

7 10 2010

Cermin Lemah Pemahamaan Budaya Lembaga Negara

Tak ada hal baru, mendasar, dan kuat yang didapatkan ketika membaca Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Cagar Budaya. Dalam paparan yang disampaikan oleh tim Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (Kemenbudpar RI) dan Panitia Kerja (Panja) RUU Cagar Budaya pada Jumat (02/10/2010) lalu, disuratkan ada rencana besar yang digadang-gadang mampu mewujudkan sebuah Undang-Undang (UU) yang utuh mengatur perihal pelestarian melalui cagar budaya. Namun, alih-alih menampilkan wujudnya yang holistik, RUU ini justru terkesan sangat pragmatis. Apakah ini tanda adanya pendekatan yang kompromistis dalam penyusunannya, ataukah memang tanda belum utuhnya pemahaman konsep kebudayaan di dalam tubuh Panja dan Kemenbudpar RI? Read the rest of this entry »





Kejar Tayang RUU Cagar Budaya

4 10 2010

Pertaruhan Besar Pelestarian Pusaka Nusantara

Iring-iringan mobil berwarna hitam dengan pengawalan polisi itu memasuki halaman Dondongan. Saat itu panas terik, belum jauh beranjak dari tengah hari di akhir pekan (02/10/2010). Para penumpang mobil itu turun, hampir semuanya berbaju batik dan dinas resmi; pejabat tampaknya. Beberapa orang warga tetap asyik berkumpul di warung yang berdekatan dengan kedua bangsal di bawah naungan Wringin Sepuh. Mata mereka memperhatikan dan penuh ingin tahu, tapi tak ada yang beranjak. Sebagian lainnya hanya berdiri di balik pintu rumah-rumah kayu nan sederhana yang berderet memagari jalan menuju gapura masuk Masjid Gede Mataram Kotagede. Petugas berseragam berjaga di ujung pagar, di tepi jalan permukiman yang menghubungkan Pasar Legi Kotagede dan kampung-kampung di sebelah selatannya. Read the rest of this entry »








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.